Cerpen #60: “Dialog Dengan Seekor Spons Laut”

“Tahun berapa sekarang?”

Emma seakan mendengar seekor spons laut bertanya padanya.

Spons malang itu tersangkut di ekman grab nya, saat Emma, seorang ekolog berusia 33 tahun, sedang mencoba mengambil sedimen dasar laut di sekitar Kepulauan Kedu, Indonesia bagian Selatan.

“2121,” secara imajinatif, Emma menjawab, “Sudah seratus tahun sejak para ilmuwan dunia mengingatkan bahaya perubahan iklim.”

Dilepasnya si spons dari cengkeraman grab nya. Diamatinya hewan berbentuk gumpalan kuning itu. Permukaannya nyaris menyerupai beludru, namun, basah, licin dan lunak. Jika dipenyokkan, spons ini tidak kembali ke bentuk semula.

Cepat-cepat Emma memotretnya sambil menekan tombol kecil di headset nirkabel yang sedang dia pakai. Dia menghubungi Narendra yang sedang berjaga di markas riset terdekat. Emma melaporkan bahwa ada spons berukuran sebesar telapak tangan tersangkut di Ekman grabnya.

Narendra terheran-heran. Lelaki berusia 43 tahun itu mengoperasikan komputer dua layar di ruang kerjanya. Dia melihat foto-foto si spons yang barusan Emma kirimkan.

“Aneh,” kata Narendra pada Emma lewat saluran telpon, “Aku belum pernah lihat spons yang kayak gini. Nanti fotonya aku kirim aja ke tim ekologi laut buat diidentifikasi. Bisa tolong kirim koordinatnya sekalian, Emma?”

Emma mengoperasikan arloji-pintarnya. Sebuah cahaya muncul membentuk layar cahaya di depan muka, dan dia memeriksa peta.

“7°19’05.6″ Lintang Selatan, 110°01’09.9″ Bujur Timur. Wilayah ini dulu adalah kaki gunung bernama Gunung Sindoro. Nama wilayah administratifnya di masa lampau adalah Provinsi Jawa Tengah, yang mulai tenggelam sekitar tahun 2088. Berarti 33 tahun yang lalu.”

“Laporan diterima. Terimakasih, Emma.”

Sambungan diputus. Emma kembali mengamati si spons yang sudah mulai layu. Jade, asistennya yang tadi sibuk menata botol-botol berisi sedimen di ujung kapal, datang mendekat.

Diserahkannya si spons kepada gadis itu, “Tolong ini ditaruh di tong air,” katanya.

“Ini apa?” Jade mendadak geli. Dari dekat, spons itu benar-benar berbentuk gumpalan kuning yang licin. Permukaannya mengingatkan dia pada lapisan beludru kursi antik di museum. Namun alih-alih bernuansa vintage, permukaan beludru si spons ini terlihat menjijikkan dan berlendir.

“Bentuknya mirip spesies Axinella badungensis,” terang Emma, “Tapi kayaknya ada bagian yang patah. Narendra udah menghubungi tim ekologi laut buat identifikasi.”

“Ini mau kita bawa pulang?”

“Iya! Jarang loh kita nemu spons! Aku kira spons atau terumbu karang udah punah gara-gara global warming.”

Jade menerima gumpalan itu sambil mengernyit. Dia cepat-cepat membawanya ke tong berisi air laut yang tadi digunakan untuk mengayak sedimen pasir.

Emma tertawa kecil melihat rekannya itu menggeliat geli. “Aku belum pernah nyentuh hewan kayak gitu!” keluh Jade.

“Tapi pernah lihat di buku kan gambarnya?” goda Emma, “Dia nggak bakal gigit kamu kok!”

“Iya sih. Zaman sekarang apa sih nggak bisa dilihat di buku? Malah kayaknya semua hewan-hewan cuma bisa kita lihat di buku deh!”

Tawa Emma mereda dengan canggung. Dia berpura-pura tidak mendengar ucapan terakhir Jade dan kembali mengatur Ekman-grabnya, berniat menyelesaikan pekerjaan mengumpulkan sedimen yang masih tersisa.

Matanya menatap pengeruk berat yang terbuat dari logam itu. Ini adalah hari ke-23 dia diterjunkan ke Kepulauan Kedu ini untuk penelitian Ekologi. Dia dan sekitar 20-an ilmuwan diutus oleh Lembaga Sains Republik untuk melaporkan keadaan di kepulauan ini. Dia satu tim dengan Jade, ditugasnya mengambil dan menganalisa sedimen di sini.

Perairan Kepulauan Kedu sangat indah. Di pertengahan tahun seperti ini, ombaknya tidak terlalu ganas, dan airnya cukup jernih. Dia bahkan sangat beruntung bisa bertemu dengan seekor spons. Suhu bumi yang terus memanas selama 100 tahun terakhir sudah memunahkan banyak penghuni terumbu karang, termasuk koral dan spons. Hanya koral dan spons tangguh-lah yang masih bisa bertahan. Bahkan terkadang mereka percaya bahwa hanya koral dan spons mutan-lah yang bisa bertahan.

Namun kemudian mata Emma meredup parah saat dia menyebutkan sebaris kalimat yang sangat perih. “Nama wilayah administratifnya di masa lampau adalah…”

Ya, dulu tempat ini adalah wilayah daratan. Punya nama, punya peradaban, dan punya pemerintahan. Ada ladang tempat bertani, pabrik-pabrik manufaktur, juga ada sekolah-sekolah tempat anak-anak belajar dan bermain.

Manusialah yang menenggelamkannya.

Sesungguhnya, sekarang, tahun 2121, bukanlah tahun yang cantik. Peradaban manusia kini sudah tergerus habis-habisan oleh bencana bertubi yang pada akhirnya gagal mereka taklukkan. Gempa, tsunami, kebakaran hutan tahunan, dan tentu saja, menggilanya gas rumah kaca.

Memuncaknya kadar gas rumah kaca menyebabkan suhu bumi meninggi, menyentuh batas yang bisa dibayangkan para ilmuwan. Pemanasan global melemparkan planet ini kembali ke zaman Jurasik, dimana kutub utara dan kutub selatan adalah wilayah hangat tanpa es, dan wilayah khatulistiwa panas membara.

Es-es itu kini sudah meleleh habis. Airnya bagaikan air mata yang menangisi peradaban manusia.

Emma menjengukkan wajah ke air yang beriak. Meski air lautnya terlalu jernih untuk membentuk pantulan wajah, tapi secara imajinatif, Emma seperti bisa melihat refleksi wajahnya yang bulat dan berkulit kemerahan. Hidungnya sangat tinggi, dan telinganya besar. Rambutnya yang tipis dan diikat pun dihembus angin, nyaris memberontak dari cincin logam yang mengikatnya.

Dia bertanya-tanya, ada berapa banyak spons lagi di bawah sana. Ingin sekali dirinya menyapa, “Hai, Axinella badungensis. Perkenalkan, aku Homo sapien fortis.”

Dampak yang paling signifikan dari tenggelamnya dunia ini bukan hanya kerusakan alam yang tak bisa dihindari, tetapi juga punahnya Homo sapiens sapiens, sang manusia modern. Jadi, saat aktivitas antropologis mulai tak terkendali, pabrik-pabrik berdiri, kendaraan merajalela, pohon-pohon dihabisi, dan suhu bumi mulai meninggi, banyak manusia yang tidak bisa bertahan.

Penyakit aneh mulai timbul akibat melonjaknya suhu tiap tahunnya. Virus baru bermutasi, dan bakteri yang dulu terjebak di lapisan es atau perut bumi menghambur tanpa permisi. Hanya dalam tempo beberapa puluh tahun, Homo sapiens sapiens dinyatakan telah berada di ujung tanduk.

Yang bisa bertahan dari perubahan iklim yang ekstrim hanyalah segelintir generasi yang –entah karena beruntung atau karena bermutasi– dinyatakan tahan terhadap panas. Segelintir populasi manusia ini dianugerahi nama baru : Homo sapiens fortis. Versi lebih kuat dari Homo sapiens sapiens yang pernah menghuni bumi.

Bentuk fisik mereka berbeda. Tubuh mereka lebih kecil, adaptasi agar mereka lebih bisa menghemat energi. Pigmen kulit cokelat mereka yang tak goyah digerogoti UV matahari. Pembuluh darah mereka juga samar-samar terlihat di bawah kulit, siap untuk mengeluarkan kelebihan panas tubuh. Begitu pula dengan telinga lebar dan Rambut tipis yang benar-benar membantu mereka mendinginkan badan. Mereka juga kebal beberapa macam penyakit, dan punya ginjal yang jauh lebih efisien untuk konservasi air. Nyaris setara ginjal tikus Jerboa yang tahan tak minum selama bertahun-tahun.

Perdebatan tentu saja terjadi saat ilmuwan menyatakan bahwa Homo sapiens fotis ini berbeda dari Homo sapiens sapiens. 

Evolusi biasanya terjadi dalam waktu jutaan tahun! Mana mungkin dalam beberapa puluh tahun saja sub-spesies manusia bisa terbentuk! Bahkan beberapa ilmuwan menyatakan Homo sapiens fortis adalah spesies baru.

Tapi Emma percaya, evolusi kilat –atau mungkin lebih tepatnya revolusi– itu bisa terjadi. Otak imajinatifnya langsung membayangkan ada dua ekor spons laut yang tengah saling bicara di bawah sana. Emma memberi nama mereka Axinella satu dan Axinella dua.

Axinella satu telah hidup sejak zaman es. Dia mengatakan bahwa bumi memang perlahan mulai memanas secara alami. Butuh waktu jutaan tahun untuk membuat bumi mengalami pemanasan global. Tapi Axinella dua berkata, bahwa pemanasan global ini bisa menjadi jauh lebih singkat daripada yang mereka duga.

Axinella satu tak percaya. Axinella dua tetap pada pendiriannya. Kedua spons ini sama sekali tidak tahu, bahwa di atas daratan sana, ada primata yang baru saja mengevolusikan kecerdasan melebihi makhluk lain di dunia. Nama primata itu adalah manusia, yang dengan tangan dan otak cerdasnya, membuktikan apa kata si Axinella dua.

Axinella satu dan Axinella dua ini seperti manusia, yang percaya evolusi harus terjadi dalam waktu yang sangat lama. Namun pada akhirnya, alam selalu lebih canggih dalam menyiapkan kejutan.

Homo sapiens sapiens di tiap benua memang terus berkurang dengan laju yang memprihatinkan. Mereka sakit, mati, lalu hilang. Terkuburkan di antara tanah yang dulu mereka cemari. Membusuk di bawah tanggul-tanggul pohon yang dulu mereka gunduli. Terdekomposisi, menjadi metana yang melayang ke udara yang dulu mereka penuhi dengan polusi.

Lalu Homo sapiens fortis –seperti Emma dan Jade– berdiri di atas perahu yang melayang di atas kuburan-kuburan itu, membaca buku elektronik di gawai-gawai mutakhir mereka, tentang sejarah dunia, tentang kiamat yang telah terjadi, tentang masuknya manusia ke era baru dimana manusia yang tersisa hanyalah 1-2% yang paling kuat.

“Emma!” panggil Jade, membuyarkan lamunan Emma soal percakapan dua ekor spons dan soal kepunahan manusia di kepalanya.

Jade berseru, “Ada pesan dari Narendra!”

“Apa katanya?”

“Orang-orang di headquarter melapor, katanya di wilayah ini ada potensi badai. Kita diminta pulang sekarang!”

Emma mengangguk. Mereka segera mengemudikan kapal itu ke arah yang ditunjukkan GPS, yaitu ke arah Timur Laut. Kapal itu bergerak dengan kecepatan tinggi melewati gugusan kepulauan yang nampak sengsara. Pohon-pohon di sana sudah menguning, bahwa beberapa hanya tersisa rangka batang dan dahannya saja. Dari kejauhan, terlihat puncak pulau-pulau kecil menyembul, dan saat Emma meneropongnya, pulau-pulau itu pun tak kalah sengsara.

“Kenapa sih pulau-pulau di sini kelihatannya ada banyak dan formasinya melingkar?” Jade bertanya, “Padahal kan ini bukan atoll.”

“Menurut buku, wilayah ini dulunya adalah tanah depresi!” kata Emma, setengah berteriak untuk bersaing dengan suara riak.

Jade baru lulus kuliah, wajar dia punya banyak pertanyaan dan sangat aktif. Emma, yang sudah hampir sepuluh tahun malang melintang sebagai ekolog, tidak pernah keberatan menerangkap apapun padanya, “Kamu pernah membaca buku geografi lama?”

“Iya, dong! Aku suka banget belajar geografi lama. Tempat ini katanya dulu wilayah pegunungan ya?” Jade antusias.

“Pulau itu, dulunya namanya Gunung Sindoro!” Emma menunjuk pulau besar yang paling dekat. “Laut tempat kita ini, dulunya bagian kaki gunung itu. Gunung Sindoro sudah tenggelam setengahnya. Nah pulau yang ada di sana itu,” Emma menunjuk sebuah pulau yang nampak dari kejauhan, “Dulunya Gunung Sumbing. Kalau kamu ke sana, masih kelihatan ada kawahnya. Dan pulau-pulau ini, adalah punggung-punggung gunung dan bukit yang ada di sekitar.”

Jade menyimak.

Emma melanjutnya, “Agak jauh di sana, ada pulau kecil-kecil bekas rangkaian pegunungan yang namanya pegunungan Ungaran! Di masa lalu, rangkaian pegunungan ini mengepung sebuah wilayah yang tanahnya lebih rendah, yang disebut tanah depresi. Makanya sekilas kalau kita lihat, pulau-pulaunya seperti melingkar dan mengepung perairan di tengahnya. Mirip atoll. Padahal ini bukan atoll.”

Emma membetulkan posisi kemudinya, lalu melanjutkan, “Pemetaan wilayah ini sebenarnya belum selesai karena ternyata banyak pulau dan timbul tenggelam saat pasang-surut. Apalagi kalau kita ke Selatan terus, kita masuk ke wilayah Samudra Hindia. Ombak Hindia itu ngeri loh! Bisa mempengaruhi daerah sini juga.”

“Dimengerti!” Jade menyahut, “Eh, Emma! Emma! Ada pesan dari Narendra! Pesan darurat dari bagian meteorologi, ada badai yang bergerak cepat dari arah Tenggara! Mereka ngirim rute kapal baru buat kita!”

“Dimengerti!” Emma segera mengendalikan kapalnya menjauh. Dia memeriksa rute baru di GPS nya sambil terus mempertahankan kecepatan kapal. Meski kapal ini kecil, mirip kapal bermesin antar pulau biasa, namun kapal ini sebenarnya canggih. Peralatan keselamatan dan navigasinya sudah mantap.

Angin mendadak berhembus tak enak, dan gelombang tiba-tiba terasa lebih kencang, membuat Emma mengernyit.

Kenaikan suhu bumi seabad terakhir membuat lautan menghangat, dan memicu lahirnya badai-badai yang lebih tidak bisa diprediksi. Bukan tak bisa diprediksi kemunculannya, namun tak bisa diprediksi kecepatannya.

Publik kerap kali membuat video candaan di internet, menayangkan seorang reporter yang tengah berkata “Badai diperkirakan akan muncul…” dan tiba-tiba seluruh studio dihantam oleh badai yang diperkirakan tersebut. Ya, secepat itu kadang-kadang badai menghantam. Itu adalah candaan yang miris karena akurat.

Terdengar derak dari ujung headphone Emma. Operator headquarters mengirimkan instruksi, yang langsung dilaksanakan oleh Emma.

“Jade, back up!” seru Emma.

“Siap!”

Jade dengan sigap juga mengambil kotak berpelindung di bagian belakang dan mengevakuasi seluruh sampel mereka. Diletakkannya penanda GPS di dalam kotak anti air itu, sebagai antisipasi, jika nanti kapal hancur atau mereka mati, data ilmu pengetahuan yang mereka kumpulkan tetap bisa ditemukan. Jade juga mengeluarkan peralatan keselamatan darurat, sementara kapal terus melaju dengan kecepatan tinggi, membuat air di tong si spons laut tadi terguncang dengan gemericik yang keras.

Biasanya perintah back up tidak akan dikeluarkan apabila belum terlalu mendesak, tapi sepertinya Emma sedikit panik. Jade yang paham betul perangai seniornya ini tak berkomentar apa-apa dan segera menyiapkan semua yang diperlukan. Meski Emma adalah tipikal wanita yang banyak melamun, jika dihadapkan dengan situasi darurat, dia bisa menjadi pemimpin yang hebat.

Angin menghempas wajah Emma yang tengah berusaha mengendalikan kapal. Dia terus berkomunikasi dengan Narendra sambil terus memacu kecepatan. Jade sampai harus berpegangan pada tiang sambil menjaga keseimbangan. Dari kejauhan, dia melihat gumpalan awan keruh. Ujungnya seakan menyentuh horizon.

“Bener-bener deh!” Jade mengeluh pelan, “Aku baru sekali ini ke wilayah bekas pulau Jawa, langsung ketemu badai!”

Emma berdecak mendengar sekilas keluhan itu. “Kalau kamu mau jadi ekolog, taruhannya emang nyawa!” dia berseru, “Apalagi di planet yang ekosistemnya sudah carut marut kayak gini!”

Kapal terus melaju. Angin semakin terasa tak enak. Sementara Emma menyipitkan mata, memandang jauh ke depan dengan gigi mengatup rapat. Ombak terasa lebih tidak bersahabat, dan mata Emma mulai kosong.

Semuanya terasa melambat.

“Tahun berapa sekarang,” Emma seakan mendengar seekor spons laut bertanya padanya.

Spons laut yang diam di tong airnya, atau yang masih hidup di bawah sana. Yang sama-sama bertahan dari kerasnya kejutan-kejutan alam.

“2121,” Secara imajinatif Emma menjawab, “Ini bukan tahun yang cantik. Ini tahun yang pelik.”

“Emma!” Jade berseru.

Emma bangun dari lamunannya dan menoleh sedikit, melihat gumpalan kelabu itu semakin besar. Dan sebuah angin yang tak terprediksi arahnya berhembus kencang dari salah satu sisi kapal, menggoyahkan kendali Emma.

Ombak yang mendadak meninggi, kapalnya oleng. Jade berteriak, “Emmaaa!”

Emma merapatkan giginya. Lehernya menegang parah selagi berusaha keras menahan kemudi, “Errrrrhhhhh!!!!!”

OoO

Emma terjerembab di dasar kapal penyelamat. Tubuhnya basah kuyup. Napasnya terengah-engah. Lengannya langsung ditarik Narendra. “Kamu aman sekarang, Em,” kata laki-laki itu. Suaranya berat dan berwibawa.

Emma dan Jade belum sempat masuk ke inti badai, tetapi angin yang cukup ganas nyaris menggulingkan kapal bermesin mereka. Beruntung, headquarter sudah mengirimkan tim penyelamat. Kapal mereka tertutup dan lebih aman dipakai untuk menerobos badai. Teknologi kapal penyelamat sekarang jauh lebih maju daripada di masa lampau, karena di saat dunia sudah memanas, dan badai bisa jadi ancaman kapan saja, kapal ini menjadi satu-satunya tempat berlindung.

Jade –yang sama basah kuyupnya– melapor, “Kotak sampelnya jatuh ke air. Tapi aku udah pasang tracker dan pemberat.”

“Iya, nanti kita bisa cari lagi kotak itu. Semoga nggak kebawa arus terlalu jauh,” Narendra menjawab.

“Tapi aku bisa bawa ini…” Jade menegakkan tubuh. Dia memeluk gumpalan kuning berlendir itu. Emma terkejut.

“Kita jarang kan nemu Spons laut?” Kata Jade, “Mungkin ini pertanda baik bahwa ekosistem sudah mulai bangkit lagi.”

Spons itu barangkali sudah mati, karena sudah berbau seperti bangkai. Tapi Jade masih memeluknya, lalu menyerahkan si spons kepada Narendra.

Narendra tersenyum kecil. “Kerja bagus, tim Kedu-481,” katanya, menyebut tim Emma.

Headquarter tidak terlalu ramai saat Emma dan Jade dievakuasi. Ruangan itu berbentuk segi empat setinggi tiga lantai dengan fasilitas penelitian yang luar biasa. Letaknya ada di sebuah pulau berpasir yang terletak jauh di bagian Timur kepulauan Kedu, di tempat yang dulu merupakan wilayah administratif dari Provinsi Jawa Timur.

Kemudian, di hari berikutnya, Emma diberitahu bahwa kotak sampel sedimen yang jatuh ke laut sudah ditemukan. Emma memakai jas laboratoriumnya dan masuk ke laboratorium ekologi untuk ikut memeriksa sampelnya. Jade sedang duduk di depan layar, memeriksa sedimen dengan mikroskop. Citra dari mikroskop langsung terlihat di layar raksasa di depannya.

“Emma,” kata Jade, “Di kepulauan Kedu ternyata dulunya hutan lebat, tapi sudah tercemar plastik. Di sedimen ini banyak banget fosil polen tumbuhan, dan sedikit jejak mikroplastik.”

Emma mengangguk. “Teruskan!” katanya sambil duduk di samping Jade.

“Oh, ya, Emma,” Mata Jade beralih dari mikroskop, “Spons yang kemarin sudah diidentifikasi sama tim kelautan. Dia genus Axinella, tapi ternyata secara molekuler, dia sudah bermutasi, jadi beda sama spons Axinella lain. Katanya mau dikasih nama ilmiah yang beda nanti. Narendra mengusulkan nama Axinella keduensis, dari nama Kepulauan Kedu.”

Emma mengangguk. Dia melihat foto spons itu di layar. Gumpalan kuning tak beraturan dan menjijikkan. Tak bergerak, juga tak punya organ yang bisa dibedakan.

Lalu dia menoleh sebentar ke luar jendela, melihat pucuk-pucuk pohon yang patah akibat badai kemarin. Sementara termometer di dinding menunjukkan angka 50 dalam skala celcius.

Secara imajinatif, Emma berbicara kepada si spons, “Sekarang tahun 2121. Ini tahun yang pelik. Alam sudah rusak. Kami semua berusaha bertahan hidup di sini, sama seperti kalian di bawah laut sana. Terimakasih sudah menemani kami dalam badai kemarin. Kalian adalah secercah harapan bahwa ekosistem laut ini telah pulih kembali. Kami janji akan berusaha melindungi habitat kalian. Kebodohan manusia di masa lalu takkan kami ulangi, supaya planet ini bisa menjadi lebih baik. Terimakasih Axinella keduensis –semoga nama itu di-acc ya!. Salam dariku, Homo sapiens fortis…

5 thoughts on “Cerpen #60: “Dialog Dengan Seekor Spons Laut”

  1. Wah bagus banget ceritanya, ide yang digunakan sangat unik. Ceritanya pakai latar 100 tahun ke depan dan ada kejadian kejadian saintifik yang gak terpikirkan, baguss banget

  2. Cerpenya menarik si punya alur cerita dan karakter yang unik, komedi dan drama yang menjadi satu bahkan dengan membacanya saja sudah mengingatkan saya pada kartun masa kecil saya. Rekomendasi cerpen buat kalian yang ingin mengisi waktu untuk bersantai dan ingin refreshing/istirahat, terutama untuk para anak remaja dan anak2 (ketimbang maen ML dan toxic lebih baik baca ginian saja)

  3. Cerita fiksi ilmiah yg futuristik. Menariknya, berseting lokalitas. Justru ini bisa menjadi kewaspadaan bagi para pemangku kepentingan. Gunung, hutan, sungai, laut dan manusia, bisa menjadi tidak bersinergi, jika terlambat mengantisipasi.
    Spons AXINELLA KEDUENSIS, penamaan tepat terkait perlunya kewaspadaan tadi. Sebuah pabrik tidak semata perkara kebutuhan perut para pekerjanya. Persoalan investasi juga tidak semudah tanda tangan yang digoreskan. Perlu keterlibatan ilmuwan di dalamnya.
    Cerpen ini telah memberikan LONCENG PERINGATAN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *