Cerpen #59: (Tanpa Judul)

Dua manusia berlari-lari di antara kepul asap. Sinar matahari tak dapat menembus bayang hitam. Satu diantara mereka terjungkal, jatuh berdebum di tanah yang keras nan gersang. Ia terbatuk-batuk, setengah wajahnya tak terlihat oleh masker yang dikenakan. Satu lagi segera berlutut, matanya memancarkan kekhawatiran.

 

“Bertahanlah, Fasya. Kita sebentar lagi sampai.”

 

Fasya, yang baru saja terjatuh, mengangguk pelan. Ia berdiri lagi, berjalan dengan tertatih-tatih. Baru beberapa meter, ia kembali terjatuh.

 

“Aku tidak bisa, Arkan. Kepalaku semakin sakit, napaspun mulai payah. Sia-sia kau datang kemari. Masker ini tak cukup membantu, sudah terlambat. Keadaan semakin parah setahun terakhir. Polusi udara dan tingkat gas berbahaya semakin menjadi-jadi. Aku sudah terkontaminasi, tidak akan bisa selamat bagaimanapun upayamu memaksanya.” Fasya berkata patah-patah. Napasnya tersengal.

 

“Kau bisa! Aku tahu kau bisa melakukannya. Kita hanya perlu ke kubah kaca tempatku tinggal dan kau akan segera mendapat pertolongan. Bertahanlah sedikit lagi.” Arkan bersikeras. Ia menatap ke depan. Tidak mampu, kabut asap menutupi jangkauan pandangannya. Jangankan berpuluh meter, radius empat langkah saja sudah buram.

 

Fasya batuk semakin keras. Parah sekali. Arkan menatap cemas, akhirnya memutuskan melakukan sesuatu. Ia berjongkok di depan Fasya, mengangkat tubuh lunglai gadis itu naik ke punggungnya. Arkan berdiri tegap, memperbaiki maskernya sekejap, lalu kembali berjalan sambil menggendong Fasya. Jam tangan yang merangkap sebagai kompas miliknya berkedip-kedip menunjukkan arah. Mereka tidak akan tersesat diantara selimut udara kotor ini.

 

“Arkan, kenapa kau jauh-jauh keluar dari kubah kaca itu hanya untuk menolongku?” gumam Fasya, antara sadar atau tidak.

 

Arkan terdiam sejenak sebelum menjawab, “Ini untuk membalas budi. Apa kau ingat beberapa tahun lalu? Saat keadaan luar belum separah ini. Aku pernah menyelinap keluar dari kubah kaca. Nyaris tersesat. Kau muncul saat itu, mengantarkanku pada para penjaga pintu kubah. Bertahun-tahun kemudian aku mencarimu, menelusuri catatan orang-orang yang tidak dapat dan tidak diperbolehkan tinggal di kubah kaca. Aku mencari informasi dari berbagai tempat, melakukan observasi. Menemukanmu.”

 

“Bagaimana rumah kaca itu? Apa yang ada di dalamnya hingga disebut-sebut sebagai surga diantara kiamat bumi ini?” Fasya terbatuk lagi, lebih lama.

 

Arkan menunggu batuk Fasya reda, melangkah lebih cepat lagi. “Kubah kaca tak ubahnya bagai penjara. Tapi memang benar, itu secuil surga yang tersisa. Udaranya bersih, pohon-pohon kembali dibudidayakan. Rumah-rumah asri, dan perairan lancar jernih. Kehidupan berlangsung amat tentram. Fasilitas lengkap.”

 

“Terdengar luar biasa. Kau beruntung berada disana. Keluargamu pastilah cukup berada untuk ikut pengungsian itu.”

 

Arkan kali ini tidak menjawab. Fokusnya adalah berjalan semakin cepat, lebih cepat lagi, dan harus lebih bersegera. Fasya mulai menarik napas panjang-panjang. Tiap tarikan selalu diiringi suara keras, gadis itu amat kepayahan.

 

“Keluargaku tidak mampu saat itu. Program pengungsian itu di luar jangkauan keuangan kami. Biayanya mahal betul. Kudengar kubah kaca seperti ini hanya ada satu di tiap-tiap negara. Saat itu kami tidak peduli, menganggap itu sebagai proyek macam-macam untuk bergaya para kaum borjuis. Saat itu keadaan luar belum separah ini. Aku akhirnya mengerti, Arkan. Tahun-tahun setelahnya berjalan mengerikan. Pabrik-pabrik berbahan bakar batubara seperti jamur di musim hujan, ada dimana-mana. Mereka menyokong kehidupan di dalam kubah itu. Tapi pembakarannya menjadi polusi, hinggap dimana-mana. Mencemari udara sekitar. Bapakku terenggut oleh bronkitis. Adikku terserang penyakit saluran pernapasan. Mereka tidak tertolong. Dokter-dokter berada di kubah itu.”

 

Fasya menarik napas lagi, batuknya kambuh. Arkan memegang Fasya lebih erat. Gadis itu semakin melemah. Tubuhnya kian lunglai. “Arkan, apa kau pernah menjumpai pabrik di dalam kubah kaca itu?” tanya Fasya setelah beberapa saat.

 

“Ada.”

 

“Bagaimana mereka mengolah limbahnya?” Kepala Fasya berada di pundak Arkan, menarik napas lagi.

 

“Mereka tidak mengolahnya. Semua limbahnya dibuang ke luar kubah kaca. Limbah gas, padat, cair. Mereka tidak peduli.” Arkan menjawab sambil meringis. Wajahnya menunjukkan rasa bersalah. “Fasya? Kau mendengarku?”

 

Fasya bergerak sedikit. Arkan tahu, setidaknya gadis itu masih sadar. “Nyaman sekali,” gumam Fasya.

 

Fasya tiba-tiba tertawa, sebenarnya sulit memastikannya. Suaranya serak dan kadang diselingi batuk dan helaan napas. “Manusia amat lucu, bukan begitu? Mereka mengambil sesuatu dari alam. Bahan-bahan. Lalu mereka mengolahnya, kemudian dengan baik hati mereka mengembalikannya ke alam. Namun, mereka lupa. Manusia itu makhluk yang payah, hasil kerjanya senantiasa buruk. Hadiah pada alam justru membawa kehancuran. Mereka lalu menyelamatkan diri, bahkan tega meninggalkan yang lain.”

 

“Kau jangan terlalu banyak berbicara,  Fasya. Perhatikan kondisimu,” sela Arkan, memotong tawa Fasya.

 

“Arkan… Apa kau bersedia melakukan ini lagi? Pada orang lain? Sangat banyak orang-orang sepertiku yang berjuang. Mereka di luar juga dalam kepayahan. Apa kau bisa menolong mereka juga?” Fasya tidak mendengarkan nasihat Arkan.

 

Arkan tidak segera menjawab. Ia diam membisu, terus berjalan cepat. Fasya di punggungnya amat ringan.

“Jawablah, Arkan. Apa kau bersedia melakukannya? Aku tahu kau berbeda dengan mereka. Kalau tidak, kau tidak akan pernah kemari. Susah payah menggendongku hanya karena bantuan beberapa tahun lalu. Tolong, Arkan. Bantu mereka juga.” Bulir air mata membasahi pundak Arkan. Fasya kembali batuk-batuk, semakin payah sebab dicampur isakan. Tarikan napasnya juga makin memberat.

 

“Arkan, kumohon….”

 

“Baik, baik! Berhentilah menangis! Atur napasmu dengan baik. Kau akan kuselamatkan lebih dahulu. Sebab itu, kau harus bertahan!” Mata Arkan panas. Ia berseru keras agar suaranya tidak terdengar bergetar.

 

“Janji?” Fasya bernapas sangat cepat dan tidak teratur. Dadanya kembang kempis.

 

“Janji! Aku, Arkan berjanji untuk menolong orang dari luar kubah ini! Semua, semuanya!” Arkan berteriak.

 

Fasya tersenyum. Matanya tertutup. Napasnya mulai teratur lagi. Ia berkata lirih, “Terima kasih… terima kasih… sungguh. Terima kasih.”

 

“Berjanjilah juga untuk bertahan, Fasya!” bentak Arkan. Air matanya sudah meleleh, membuat pengap masker semakin panas. Kepala Fasya tersandar lemah. Gadis itu mengiyakan pelan, masih sadar.

 

“Hanya beberapa meter lagi. Kita akan segera sampai. Setelah ini, kau akan mendapat pertolongan cepat. Kau akan kubawa menikmati dunia dalam kubah itu. Bukankah itu terdengar menyenangkan? Kau harus bertahan sebentar saja lagi. Setelahnya, aku juga akan segera menunaikan janjiku. Aku akan membantu orang lain yang masih di luar sana. Aku akan….” Arkan tidak mampu meneruskan. Ia terisak. Arkan nyaris berlari, ia tidak lagi memedulikan kaki lelahnya. Arkan memaksa terus melangkah.

 

“Fasyaaa…!” Arkan berteriak keras, lebih untuk menyemangati dirinya. Ia bisa melihat kubah itu. Kubah itu lebih terang, terlihat di antara gelap udara hitam ini. Kubah kaca itu semakin dekat, Arkan berlari semakin cepat. Pintu masuknya sudah terlihat.

 

“Sedikit lagi, Fasya… sedikit saja lagi.”

 

“Berhenti disana!” Dua orang berpakaian hitam-hitam khas penjaga menghadang langkah Arkan. Setelah dekat, baru terlihat pos-pos penjaga di sisi pintu masuk kubah. Ramai sekali oleh para penjaga yang masing-masing menyandang senapan panjang.

 

“Jangan menghalangiku, panggil dokter pos penjaga! Aku orang dalam. Ambil ini cepat!” Arkan berseru-seru. Melempar kartu yang cepat dirogohnya dari kantung celananya. Satu penjaga memungutnya, mengangguk angguk begitu membaca identitas. “Tunggu apalagi? Panggil dokter!”

 

Penjaga satunya segera sigap berlari, menuju salah satu pos. Arkan menurunkan Fasya dari punggungnya. Menggendongnya lagi dengan lebih baik di depan. Tubuh Fasya terkulai. Ia sudah tidak sadarkan diri. Arkan baru akan menuju pos yang tadi dimasuki satu pengawal sebelum teman penjaga tadi menghalanginya lagi. “Apa?!” Arkan berteriak berang.

 

“Tuan Arkan. Anda tidak bisa sembarangan membawa seseorang masuk, dia bisa saja telah terkontaminasi,” jelas si pengawal.

 

“Jangan menghalangiku!” Arkan berontak, ia masih kukuh berjalan cepat.

 

“Siapa yang membutuhkan pertolongan?” Seseorang berseru. Baru keluar dari pos. Di belakangnya, pengawal tadi mengikuti. Pakaiannya putih-putih khas, kontras dengan pakaian pengawal.

 

Arkan menoleh cemas. “Sebelah sini. Segera!”

 

Arkan tidak lagi menghiraukan pengawal tadi, ia berjalan cepat ke arah dokter berpakaian putih-putih itu. Segera tubuh Fasya diturunkan lagi. Arkan membuat posisi kepala Fasya ditopang tangannya. “Segeralah, Dokter!”

 

Dokter itu mengangguk, lantas segera memeriksa. Baru sebentar melihat, dokter itu menghela napas panjang. Menggeleng kaku. “Aku tidak bisa menolongnya.”

 

“Apa maksudmu? Apa kau tidak peduli lagi dengan nyawa manusia, hah? Apa susahnya menolong orang lain? Dia membutuhkan bantuanmu. Biar aku yang membayar biayanya. Lakukan saja apapun untuk menyelamatkannya!” Arkan menatap tajam.

 

Dokter itu masih menggeleng. “Tidak bisa.”

 

“Dokter! Kau….”

 

“Aku tidak bisa melakukan apapun! Dia sudah tiada! Gadis ini sudah meninggal! Beberapa menit lalu. Aku tidak bisa melakukan apapun pada orang tak bernyawa.” Dokter itu balas membentak.

 

Arkan tertegun. Sebentar kemudian menggeleng sambil tertawa keras. “Tidak! Itu tidak mungkin! Dia sudah berjanji padaku untuk bertahan. Dia sudah berjuang. Kau jangan cari alasan!”

 

“Lihat dengan jelas! Tubuhnya telah kaku. Jemarinya dingin. Tak perlu periksa nadi pun kau tahu kondisinya.”

 

Arkan menggeleng lagi. Tawanya semakin sumbang. Ia menatap lamat-lamat wajah Fasya. Memegang jari-jarinya yang tidak lagi dihangati darah. Dokter itu benar. “Kau… tidak mungkin. Kau sudah berjanji.”

 

Arkan terisak. Memeluk erat tubuh tak bernyawa Fasya. Arkan menghabiskan tenaga yang tersisa dengan meraung perih. “Maaf…. Maafkan aku. Maaf sudah datang terlambat. Maaf tidak bisa segera menyelamatkanmu. Maaf untuk limbah-limbah itu. Maaf untuk segalanya.”

 

“Dengarkan, nak. Gadis ini harus segera dimakamkan. Dia harus dimakamkan di luar kubah. Atau kau ingin mengurusnya, memasukkannya di pemakaman dalam? Kau segeralah lepas agar bisa menyelesaikan semuanya.” Dokter itu menepuk bahu Arkan. Ia jelas tidak mengetahui apapun, tapi sedikit mengerti yang telah terjadi.

 

Arkan butuh waktu beberapa saat lagi, sebelum tangisnya benar-benar berhenti. Ia lalu mendongak, menatap dokter itu, lalu dua pengawal yang masih berdiri tegap.

 

“Kumohon. Uruskan dia untukku. Aku akan segera menggantinya dengan apapun. Ada yang harus kulakukan sebelum malam menjelang nanti.”

 

Pengawal dan dokter saling berpandangan. Dokter itu lalu dengan bijak mengangguk menyanggupi. “Aku akan membantumu sebisaku. Tapi kau akan kemana kalau aku boleh tahu? Tidak mungkin kau akan menembus udara mengerikan di luar sana, bukan?”

 

Arkan beranjak berdiri, menyusut hidung. “Aku melakukan lebih dari itu. Aku telah berjanji. Kau bersiagalah disini. Akan ada lebih banyak orang yang membutuhkan bantuan medis segera. Aku akan menunaikan janjiku, membawa orang-orang seperti dirinya. Kali ini aku akan menyelamatkan mereka. Sebab itu aku harus bergegas.”

 

Dokter dan pengawal itu tidak bisa melakukan apapun saat Arkan melewati mereka, masuk ke dalam pos, membawa lebih banyak masker. Arkan lanjut berjalan. Menembus kabut asap mengerikan, hilang dari pandangan sang dokter dan para pengawal. Arkan mengetatkan gigi, mengepalkan tangan. “Aku akan menyelamatkan bumi. Aku akan memulai perubahan. Pohon-pohon tidak akan hanya tumbuh di dalam kubah kaca sialan itu. Ia akan menumbuhi bumi ini lagi. Hanya satu langkah kecil saja. Hanya satu harapan saja. Aku akan melakukannya!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *