Cerpen #58: “Pohon Eden”

Sudah puluhan hari kabut menutup desa kecil itu. Asap tebal itu berasal dari sisa pembakaran pohon-pohon—yang dibabat secara liar—selama berbulan-bulan sebelumnya, sehingga  membuat hutan menjadi gundul. Akhirnya, kehidupan bagai mimpi buruk yang mengerikan dan menampilkan wajah bopeng penuh luka dari setiap rekah tanah gersang, kubangan air coklat beracun, dan kurangnya sumber pangan bagi setiap yang hidup. Penyakit pun berbiak dengan subur di antara pemukiman penduduk. Kematian bisa setiap saat datang menjemput dengan mengetuk pintu, lantas merenggut nyawa si pemiliki rumah tanpa permisi.

Kesedihan tidak lagi dimaknai sebagai sesuatu yang khusus. Karena setelah kabut tebal membekap desa, kemuraman adalah hal lumrah. Beberapa hari lalu misalnya, tujuh orang penduduk desa mati mengenaskan. Masing-masing dada mereka bengkak dengan rona membiru. Mereka terserang radang paru-paru yang parah karena udara bersih yang minim. Juga tak tertinggal beberapa bocah malang dengan bola mata memerah karena infeksi terkena asap. Lambat-laun, gairah hidup penduduk menyusut. Mereka seolah hanya menunggu sang nasib mengakhiri kesialan,  atau melenggang mulus saat sang petaka menyeret ke dasar liang lahat yang dingin.

Penduduk memang telah berpangku tangan atas musibah ini. Mereka seolah menutup kuping dan mulut. Mereka sadar bahwa semua kekacaun ini berawal dari kebiasaan yang acap membabat alam dengan berutal; hingga merusak iklam dan cuaca. Musibah diawali dari musim kemarau panjang, kekeringan, dan disusul kebakaran hutan. Dan kini hanya penyesalan semata yang diemban atas dosa-dosa, dan kelaliman dari perbutan mereka. Pun sering mendengung di hati mereka: Hanya keajaiaban yang dapat menyudahi pagebhruk dahsyat ini. Alam telah mengutuk dan menjejalkan kenyataan sebagai relaitas paling absud yang harus mereka hadapi.

Setiap hari warga terus mengulang-ulang kemalangan yang sama; menangisi sesuatu yang akhirnya menjadi lumrah dan biasa. Harapan pun mungkin sudah habis di desa yang telah dikutuk itu. Penduduk tak memerdulikan bantuan dari orang-orang luar. Karena bagi mereka, semua itu tiada guna. Mati pula simpati mereka di hati. Penduduk acap membiarkan begitu saja orang-orang yang sekarat di tepi jalan. Setelah mati pun bahkan tak banyak orang yang mau mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan itu. Maka tak heran, selain asap yang tebal, bau busuk juga mengawang di sana.

Beberapa hari lalu asap kelabu kembali merenggut korban. Seorang pria tua tak dikenal datang kepayahan. Wajahnya yang asing membuat penduduk tak hirau. Ketika tubuh pria tua yang renta menggelepar selama beberapa hari di tepi jalan, hingga tiada seorang yang mau yang mungurusnya, sosok asing itu dibiarkan membusuk bersama pakaian yang lusuh, celana koyak, dan sepasang sandalnya yang telah buruk rupa. Akan tetapi sosok itu seperti diberi keajaiban oleh Tuhan. Ia bangkit kembali dari kematiannya memasuki hari kelima. Bahkan pria tua yang semula hanya dianggap sebagai musafir tersesat berhasil merebut perhatian warga dengan selorohnya yang tak masuk akal.

“Aku mendapat perintah untuk menanam pohon ini?” Katanya nyaring. “Pohon ini adalah pemberian Tuhan dari Eden untuk kita. Siapa yang bersedia menjaganya?”

Pria tua itu dengan keranjingan berteriak-teriak kepada masyarakat desa. Ia mengaku bertemu sebuah cahaya putih menyilaukan ketika mati selama beberapa hari. Syahdan sosok cahaya yang ditemui pria tua itu juga memberikan sebuah tunas pohon kecil yang nyaris layu. Namun, penduduk desa yang telah kehilangan harapan hanya membiarkan begitu saja kata-kata si pria tua. Di benak penduduk desa: Semua hal itu sudah tidak ada gunanya.

Suara sengau itu mengabur diterpa kabut dan terik cahaya mentari.

“Pohon ini adalah Pohon Langit,” lanjut pria tua lagi tak jengah menyakinkan penduduk. “Pohon yang akan memberikan harapan baru untuk hidup kita kelak.”

Tetap sama. Tidak ada seorang pun yang menaruh perhatian pada si pria tua. Orang-orang desa memang telah putus harap atas kutukan yang menimpa desa; kutukan yang tak mungkin terampuni; sebuah dosa dari kebejatan hidup yang telah warga lakukan puluhan tahun karena bertindak sewena-wenan terhadap alam.

“Pohon ini berasal dari Langit,” dengus berat si pria tua masih bersemangat. “Pohon yang telah diberkati oleh Tuhan untuk menolong kita.”

Warga desa benar-benar tidak lagi mempunyai angan untuk kembali membayangkan kehidupan normal seperti dahulu. Di kepala mereka hanya ada kemuraman semata yang sudah tidak dapat lagi tertolong selain Tuhan turun langsung menyelamatkan.

***

Karena tidak ada yang membatunya, si pria tua akhirnya menanam dan merawat seorang diri  pohon yang didapatkannya dari kematiannya itu. Bagai seorang ayah, si pria tua mengasuh tunas pohon yang semakin hari terus layu tersebut. Ia begitu tekun merawatnya, hingga melupakan dirinya. Si pria tampak benar-benar mencurahkan seluruh kasih sayang yang dimilikinya untuk tunas pohon layu itu. Ia bahkan tidak segan mengorbankan tubuhnya untuk menghalangi tunas pohon dari cercah cuaca yang sudah menjadi rusak karena kerusakan alam.

Berbulan-bulan si pria tua menjaga pohon di tanah lapang-gersang tersebut. Tapi ketulusan hati pria tua menjaga tunas pohon mendapatkan tanggapan lain dari warga. Bukanya mendapat dukungan, penduduk desa malah menggunjingkan dan mengganggapnya sebagai pria bodoh. Apalagi setelah segala kenyataan yang tampak dari hujan yang tidak pernah datang lagi, tanah kering yang lebih mirip gurun, serta aliran air yang telah menghilang dari tubuh sungai. Belum lagi udara kotor dan cahaya matahari yang sangat sedikit didapatkan dari si pohon. Fakta-fakta bahwa kehidupan penduduk desa hanya tingga sang maut datang merenggut nyawa mereka semua, telah mematahkan semangat mereka.

“Pria dan pohon itu tidak akan bertahan lama,” kata seorang penduduk bertubuh kurus. “Pasti akan layu dan mati bersama harapannya.”

Tapi sekali lagi keajaiban seperti dilimpahkan kepada pria tua dan pohon itu. Tunas pohon yang dahulu layu, kembali subur. Bahkan terus tumbuh di atas tanah rekah kering desa, dan semakin kokoh batang-batangnya menyeruak. Pun tidak ada enam bulan berlalu, pohon itu tumbuh rindang menjadi penyejuk desa. Terlihat ganjil memang sebatang pohon itu di tengah desa yang gersang itu. Hanya berkat pohon itu, asap pekat mulai mengurang. Dahan dan daun pohon itu bagai menyerap asap beracun yang mengawang bebas meracuni warga.

“Dari mana kau dapat pohon ini?” Tanya seorang penduduk suatu ketika karena penasaran. “Kenapa pohon itu dapat tumbuh di tempat yang tandus?”

“Sudah aku katakan: Pohon ini berbeda. Pohon ini langsung diberikan oleh Tuhan,” kata pria tua itu singkat.

“Kau berbohong!” Orang itu marah tidak  percaya.

Namun sekali lagi di luar batas nalar warga, pohon itu seperti memiliki caranya  untuk terus hidup. Pohon itu memiliki takdir yang tidak dapat ditebak penduduk. Pohon itu tumbuh semakin tinggi dan kokoh. Penduduk pun tambah terheran-heran. Bahkan karena keasriannya, hewan–hewan yang dahulu menghilang kini muncul bermain di sana. Selain itu juga di sekitar pohon itu tumbuh bunga-bunga dengan warna indah. Desa bagai terlahir kembali.

***

Sudah beberapa bulan berlalu ketika keajaiban demi keajaiaban terjadi pada pohon itu. Namun warga masih menganggap kalau semua keajabain itu kebetulan semata. Semuanya pasti akan kembali musnah dan lebur bersama keputusasaan yang telah melekat di hati warga. Warga sudah lama percaya kalau Tuhan telah meninggalkan mereka. Tetapi pria itu tiada jemu meyakinkan bahwa harapan masih selalu ada bagi mereka yang mengusahakannya. Tuhan pun selalu bersama orang-orang malang.

“Tanamlah biji pohon ini di rumahmu,” Pria tua membujuk seorang warga yang ditemuinya di jalan untuk menanam biji pohon tersebut. “Kau tidak perlu menyiramnya dengan air. Cukup merawatnya dengan kasih serta cintamu yang tulus.”

“Maksudmu?” Warga itu mengernyit.

“Kau hanya cukup menyayanginya saja. Tidak usah menyiramnya. Biji ini akan tumbuh dengan sendirinya.”

“Tapi bukankah setiap tanaman membutuhkan air agar dapat terus hidup?”

“Pohon ini berbeda. Pohon ini berasal dari langit.”

“Langit?”

“Betul! Sebuah tempat yang dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang,” pria itu tua menengadah seraya pandangnya melesat lurus entah ke mana. “Di sana setiap yang hidup tidak akan pernah merasa lapar karena kasih dan cinta telah mengenyangkannya.”

Pria yang ditemuinya di jalan itu akhirnya membawa pulang, syahdan menanamnya di halaman rumah. Setiap pagi dan sore, pria itu menyiramnya dengan kasih serta cinta—dan tanpa segayung air seperti yang dikatakan si pria musafir. Biji pohon itu pun mulai tumbuh. Ia tercengang ketika tunas muda pohon tersebut semakin besar setiap harinya. Pohon itu pun tumbuh lebih cepat dari yang seharusnya. Kini di kampung telah tumbuh dua pohon besar. Asap semakin menipis dihisap pohon-pohon tersebut.

Pria itu kembali mendatangi si musafir pemberi pohon langit.

“Biji yang kau berikan kepadaku dahulu sudah tumbuh.”

“Syukurlah! Kalau telah berbuah ambilah bijinya, dan berikan kepada setiap penduduk desa,”  katanya tersenyum. “Jangan lupa sayangilah pohon itu seperti kalian menyanyangi diri kalian sendiri.”

Seperti apa yang dikatakan si musafir, pria kampung itu mulai memberikan setiap rumah satu biji pohon untuk ditanam. Berduyun-duyun warga menanamnya, lalu menyiraminya dengan cinta dan kasih sayang. Setiap hari—setiap waktu—tunas-tunas pohon itu terus tumbuh dan membawa harapan. Asap menghilang. Desa menjadi sejuk.

***

Warga percaya kini bahwa keajabaian selalu ada bagi yang meyakininya. Berbondong-bondong warga mendatangi si pria tua musafir ke pohon yang dahulu di tanamnya. Mereka bermaksud ingin mengucapkan terimaksih, serta permohonan maaf. Tetapi  si musafir sudah menghilang. Di bawah pohon itu hanya ada sesosok rangka dengan pakaian yang sering digunakan pria tua itu.

“Ke mana pria itu pergi?” Warga panik.  “Siapa sosok itu sebenarnya?”

Mendadak warga ingat kalau sosok itu pernah mati; lantas hidup lagi. Apakah kini ia kembali mati? Hati warga terus bertanya-tanya tentang sosok itu. Juga warga dihantui rasa bersalah karena telah membunuh harapan; yang sebenarnya tak pernah mati karena Tuhan selalu bersama seorang yang tertimpa petaka. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *