Cerpen #57: (Tanpa Judul)

Tampak seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun keluar dari sebuah ruangan dengan kepala menunduk. Sedikit frustasi. Terlihat dari cara jalannya yang lunglai tak bersemangat dan raut wajahnya lesu. Jika diperhatikan lebih teliti, ia memegang tumpukan kertas yang akrab disebut skripsi. Tumpukan kertas itu tak jarang membuat banyak orang mengutuki diri karena gagal berkali-kali. Revisi.

Akrab dipanggil dengan sebutan Arash ketika di kampus. Tapi kalau di rumah biasa Ibu Bapak memanggilnya Abang. Atau Tole, panggil adik laki-laki yang menjadi musuh terbesarnya di rumah dengan begitu sopan. Kini sedang duduk di halte sambil meratapi sumber frustasinya.

 

“Kenapa? Revisi lagi? Mana sini aku mau lihat.” Nandini, teman seangkatan beda program studi dengan santai merampas skripsi dari tangan Arash yang sudah tidak bersemangat untuk menanggapi. “Hebat. Coretannya berkurang empat dari yang terakhir. Berarti kamu ada kemajuan. Terus kenapa murung?”

 

Dengan satu hembusan nafas malas dan panjang “Siapa sih yang senang revisi terus?”

 

“Ya enggak ada. Tapikan setidaknya kamu paham. Emang apasih yang dikejar sampai sebegitunya? Masih sisa satu tahun lagi, pelan-pelan pasti bisa kok.”

 

Mencerna dengan baik setiap kata yang terdengar. Pikiran yang selama ini gaduh mulai paham bahwa ini semua bagian dari proses. Intinya harus tetap bersyukur karena skripsi tak semudah kata. Tak ada suara yang terdengar berikutnya, hanya suara sedikit kendaraan yang berlalu lalang. Diikuti oleh teriknya sinar matahari yang memancar. Bahkan rasanya ketika terkena kulit akan terasa menyelekit.

“Akhir-akhir ini panasnya kelewatan ya, Rash.”

“Iya, sampai perlu pikir dua kali kalau mau keluar.”

“Tapi enggak heran sih, banyak pohon yang ditebang liar, dibakar untuk bangun lahan. Dari manusia kembali ke manusia. Ya enggak?”

“Iya.” Jawab Arash, lalu bangkit dari tempat duduk berjalan menuju tempat sampah yang  abai. Iya, pasalnya tak berjalan sesuai fungsinya. Mengutip beberapa kertas dan plastik yang berserakan. Memasukkannya sesuai dengan jenis sampah apakah itu. “Enggak tahu harus pakai bahasa dan cara apa lagi untuk kasih tahu nya. Terus-terusan dilakuin, padahal udah tahu sendiri rasanya kayak gimana.”

 

Buanglah sampah pada tempatnya. Adalah kalimat yang sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga. Maknanya bukan hanya sekedar rangkaian kata biasa, tapi istimewa. Walaupun begitu masih saja ada yang acuh tak acuh. Bagaimana dengan berbagai peringatan lain yang berdampak besar? Seperti jangan tebang pohon sembarangan, stop pemanasan global, hemat energi dan masih banyak lainnya.

Pepatah sedia payung sebelum hujan tak terdengar serius ditelinga para manusia. Nantinya bila nasi sudah menjadi bubur barulah akan menyesal.

Tindakan sekecil apa pun akan berdampak besar jika dilakukan terus-menerus. Kepedulian terhadap alam akan menjauhkan kita dari bencana.

 

Assalamu’alaikum, abang pulang…”

 

Kini Arash berada di rumah. Baru saja sampai. Setelah tadi menaiki bus disambung dengan angkutan umum bernomor 67. Memang ada hari di mana ia lebih memilih untuk tidak menaiki kendaraan pribadi dengan alasan suka terlibat interaksi langsung. Orang-orang yang setiap hari ditemui memiliki kesan tersendiri, baginya perbedaan itu yang membuatnya bisa berpikir dari sudut pandang yang berbeda. Di dalam kepalanya bisa ada seratus pertanyaan yang muncul di setiap kejadian.

 

Waa’laikumussalam. Kamu lagi – kamu lagi, bosan aing lihatnya. Naha cepat baliknya?”

 

Sejujurnya yang diharapkan Arash saat pertama kali sampai di rumah itu melihat wajah Ibu Bapak. Tapi apalah daya kalau yang dilihatnya titisan Titan. Adik yang bernama Andre itu baru menginjak kelas dua di sekolah menegah pertama tapi tingginya sudah melewati Arash. Ia banyak mewarisi gen bapak dari segi fisik, Arash mengakui itu.

 

“Kepo banget jadi orang, heran.”

 

Hirup mah ulah loba gaya tapi kudu loba duit.”

(Hidup itu jangan banyak gaya tapi banyak uang)

 

Ulah sok puitis, maneh. Ibu Bapak di mana?”

(Jangan sok puitis, kamu)

 

“Di kebun, Le.”

 

Pertama kali yang ia lakukan saat sampai yaitu mandi. Selain menghilangkan penat dan mendatangkan kesegaran, mandi juga akan lebih mudah membuat rasa kantuk dan tidur menjadi lebih lelap. Karena pada dasarnya akan memperlambat beberapa kerja tubuh, seperti nafas, detak jantung dan metabolisme. Sirkulasi darah membaik serta ketegangan dalam tubuh diminimalkan. Ketika bangun perasaan akan lebih santai.

 

Kurang dari lima belas menit, hujan datang dengan deras bak menyapu jalanan ditambah angin yang berhembus tak mau kalah hebat. Melihat keluar jendela langit sudah gelap. Petir dan kilat juga mendominasi menyambar ke sana-kemari dengan jeda yang singkat. Suara derasnya hujan menyelimuti tidur Arash yang sedikit merasa kedinginan.

“Padahal tadi panas matahari teriknya minta ampun, sekarang malah hujan. Tapi alhamdulillah bisa sampai rumah sebelum hujan.” ucapnya sebelum benar-benar terlelap dalam mimpi.

 

Sore harinya rumah baru terasa ramai dan lengkap. Ada Ibu yang tak henti-hentinya sibuk di dapur membuat cemilan. Jangan remehkan harumnya masakan Ibu, bahkan sejauh sepuluh meter dari rumah masih akan tercium aroma masakan yang terbawa angin. Andre yang sedang duduk sambil menonton televisi dan juga Bapak yang masih berada di dalam kamar mandi.

“Nonton berita bisa kali.”

 

“Gosok gigi dulu baru ngomong bisa kali, hahahaa.”

 

“Asem.”

 

Jenis saudara yang kalau di satukan bertengkar dan kalau dijauhkan saling cari. Rasa gengsi yang sudah mendarah daging di antara keduanya.

 

“Suhu udara semakin panas. Musim hujan dan kemarau yang tidak lagi menentu. Serta cuaca ekstrem seperti hujan badai yang belum pernah terjadi sebelumnya sudah melanda Indonesia. Masalah-masalah itu, yang diyakini sebagai dampak perubahan iklim. Banyak terumbu karang di bawah laut mengalami pemutihan atau coral bleaching. Alasan dibalik ini lagi-lagi adalah perubahan iklim, karena ketika suhu air laut itu semakin tinggi kemudian zooxanthella yang menempel di terumbu karang jadi tidak betah dan pergi sehingga menyebabkan terumbu karang itu berada di ujung kematian. Indonesia yang juga merupakan konsumen terbesar dari peralatan elektronik.” Siaran berita Bbc news Indonesia, perubahan iklim. 

 

“Perubahan iklim akan menambah konflik global. Kelaparan dimana-mana, kualitas air menurun.”

 

“Beberapa pulau di Indonesia terancam tenggelam.” 

 

“Beberapa negara terancam jatuh miskin karena krisis iklim.”

 

Arash terus-menerus mengganti siaran berita televisi. Namun, hampir seluruh isinya mengenai perubahan iklim. Jika diingat mungkin sudah lebih dari seminggu ini berita krisis iklim dan dampak-dampaknya terus menghiasi layar kaca. Mulai dari pendapat para ahli dan tokoh yang memegang peran penting, sampai beberapa akibatnya yang sudah mulai dirasakan. Bukan hanya di negara tercinta Indonesia saja yang mengalami tapi seluruh dunia. Bahkan dalam sidang umum PBB para pemimpin dunia tak luput membahas tentang iklim.

 

Ancaman seram yang saat ini sedang menakuti dunia. Jika terus-menerus dibiarkan, bukan jadi tak mungkin kondisi bumi semakin memburuk. Bahkan menjadi tak layak tinggal.

 

Berbagai isu serta konspirasi banyak bermunculan. Salah satunya pindah dan membangun koloni di planet tetangga, Mars. Alasannya selain karena bumi sudah terlalu banyak menampung manusia yang normalnya hanya mampu mencapai 9 milyar saja. Dilain itu lahan kosong dan sumber daya alam yang kian menipis. Jangan lupakan banyaknya sampah dan polusi yang tercipta setiap harinya.

Kembali lagi, kemungkinan untuk pindah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

 

Maka dari itu melestarikan bumi sangatlah penting demi menjaga berbagai spesies makhluk hidup nantinya.

 

“Dari tahun ke tahun krisis iklim jadi masalah besar bagi suatu negara.” Bapak yang baru saja keluar dari kamar mandi membuka suara. Berjalan ke arah dapur meminta Ibu untuk membuatkan secangkir kopi hitam Sidikalang, kesukaannya Bapak. Lalu pergi menuju pekarangan rumah. Di sana terdapat kursi bambu panjang yang sudah dipercantik dengan warna hijau pilihan Ibu.

Melihat itu Arash juga tak mau kalah, meminta Ibu membuatkannya secangkir kopi tambahan dan duduk bersama Bapak di luar sana.

 

Suasana sekitar masih basah sisa hujan. Beberapa lubang di jalanan menampung air. Bau yang khas sehabis hujan juga menemani di antara kesegaran tanaman yang berdiri tegak. Salah satunya Aglomena jenis Suksom kebanggaan Ibu yang kemarin baru saja tumbuh tunas. Tampak jelas raut wajah bahagia Ibu ketika mengetahui si merah cantiknya itu telah bertumbuh.

 

“Menurut Bapak apa jadinya bumi kita nanti?” tanya Arash penasaran.

 

“Bapak kurang tahu pasti. Tapi ibaratnya manusia yang tidak mungkin sama setelah sepuluh tahun ke depan, bumi juga pastinya akan seperti itu.”

 

Seperti kali terakhir Arash dan Bapak duduk di sini dengan suasana yang persis sama. Bedanya waktu itu mereka bercerita tentang masa kecil. Arash sempat bertanya tentang kesempatan mengubah masa lalu karena Arash sendiri sangatlah ingin kembali dan memperbaiki apa yang menurut dia salah. Tapi Bapak justru berkeinginan sebaliknya. Bapak bilang “Masa lalu yang membentuk diri kita yang sekarang ini. Perihal perbaiki toh kita hidup dimasa sekarang, perbaiki apa yang masih bisa diperbaiki. Sadar akan kesalahan berarti satu langkah maju dalam proses menjadi lebih baik. Naon anu kejantenan, kejantenan.” Apa yang sudah terjadi, terjadilah. Apa yang masih bisa diperbaiki, perbaikilah. Tidak ada gunanya menyesal, semua sudah jalannya.

Begitu juga seharusnya konsep tentang menjaga dan melestarikan isi bumi. Fokus membenahi hal yang terancam rusak.

Tapi ketika mengingat hari itu, juga akan teringat ucapan Andre yang mengolok-olok Arash karena terkesan cupu dimatanya. “Be better man from you brand new life, Le” Kata Andre berpadu dengan logat Sunda nya. Keluarga mereka asli orang Kediri, Surabaya. Tapi karena tinggal didaerah yang mayoritasnya berbahasa sunda secara otodidak paham sendiri. Apalagi setelah film Dilan menjadi trend dipasaran.

 

“Penyebab semua ini apa sudah pasti manusia ya, Pak?”

 

“Sembilan puluh persennya diperburuk sama manusia.”

 

“Sisanya?”

 

“Siklus.”

 

Mendengar jawaban Bapak Arash kebingungan, jelas terlihat dari wajahnya yang penuh tanda tanya. Detik itu juga rasa bingung bak sinyal di dalam hutan belantara. Hilang timbul. Pisang goreng dibaluri dengan tepung roti ditambah sedikit vanili, gula dan garam menimbulkan aroma yang luar biasa dibawa Ibu di atas nampan bersama dua gelas kopi hitam sesuai pesanan dan segelas teh yang sepertinya untuk Ibu.

“Kamu tahu Gurun Shara, Bang?”

 

“Tahu, Bu.”

 

“Gurun Sahara yang luasnya hampir lima kali luas daratan negara kita sendiri dulunya itu subur. Penuh dengan hutan hijau. Alasannya Karena ada perubahan putaran bumi dengan tarikan benda-benda ditata surya. Bukan hanya sekali tapi berangsur-angsur setiap berapa juta tahun sekali. Siklus alam namanya. Begitu juga perubahan lain yang terjadi di bumi kita ini. Kalau saja manusia tidak memperburuk keadaan mungkin saja apa yang kita rasakan sekarang akan terjadi ribuan atau jutaan tahun yang akan mendatang. Tetap pasti terjadi, sih. Yang membedakannya cepat atau lambat.”

 

Ibu ikut duduk. Dari sudut pandang Arash kedua orang tuanya adalah sosok yang hebat. Segala pertanyaan apapun yang muncul dan diutarakan pasti terjawab setelahnya. Katanya sewaktu pacaran dulu mereka berdua sering membicarakan hal-hal seperti itu. Yang paling panjang membahas tentang bumi itu bulat atau datar. Kecanggihan teknologi sekarang juga dimanfaatkan dengan baik, kasarnya mereka bukan orang kolot.

“Berarti masih ada harapan?”

 

“Jawab, Bu.” Sahut Bapak mengalihkan kepada Ibu.

 

“Berbicara tanpa bertindak enggak akan menghasilkan apapun. Harapan jelas masih ada.”

 

Jika saja bumi bisa berekspresi dengan leluasa, bukan jadi tidak mungkin dia akan mengamuk sejadi-jadinya. Bagaimana bisa, sudah dikasih tempat tinggal seistimewa ini tapi masih saja tidak merawatnya dengan baik. Kalau saja bumi bisa menangis, sekarang kita semua akan tergenang hanyut tak tentu arah.

Bumi juga pastinya punya perasaan. Antar sesama yang punya perasaan sebaiknya saling menjaga satu sama lain. Kita pastinya akan merasa tidak senang jika ada sesuatu yang menyakiti atau menyinggung perasaan kita. Hal yang kita lakukan tidak jauh dari rasa dendam ingin membalas dan marah serta tangis yang terpendam. Bagaimana jika bumi bertindak seperti itu ?

Saling menghargai, itu penting.

 

Betapa baiknya bumi. Dan betapa sabarnya Tuhan, melihat apa yang telah Ia buat tidak dijaga dengan baik. Sekali lagi harus banyak bersyukur karena telah diberikan begitu banyak kesempatan. Semuanya atas izin Allah Swt.

 

“Peran pemerintah gimana ya?”

 

“Menurut kamu gimana?” Bapak bertanya balik.

 

“Bagus. Tapi memang harus ditingkatkan lagi.”

 

“Kenapa?”

 

“Segala sesuatu memang harus terus menerus meningkat setiap waktunya, kan?”

 

“TOLE TOLEE…LE TOLE.” Terdengar suara teriakan Andre si titisan Titan dari dalam rumah. Percakapan terjeda. Andre muncul dari balik pintu. “Minta hotspot, dong hehehee.”

 

Ibu Bapak sudah tidak heran dengan sikap anaknya yang satu ini. Berkali-kali di nasehati agar bisa bersikap lebih sopan sedikit kepada abangnya, namun tampaknya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Untungnya tidak ada keluhan dari sekolah maupun tetangga.

“Andre, calik didieu sakedap.” Bapak menyuruhnya untuk duduk.

 

“Wih, ada hihang hoheng nih.”

 

“Pisang goreng.”

 

“Kalo panas kan ngomongnya jadi hihang hoheng.”

 

Tawa terdengar setelahnya. Setelah dipikir-pikir ada benarnya juga.

 

“Bapak mau tanya, menurut Andre peran pemerintah gimana dalam tanggapi masalah?”

 

“Menurut Andre, nih ya. Sejauh ini sadar kalau dampaknya kian menjadi itu sudah langkah besar. Kita mah bisanya ngomong terus, coba bayangin gimana jadi orang yang terus-terusan dituntut dan dihakimi? Susah, enggak gampang. Jadi pemerintah berat. Lihat deh, kalau kepalanya enggak ubanan pasti botak. Sudah cepat tanggap tapi memang belum optimal. Coba dilakuinnya konsisten, tegas sama adil. Sudah bakalan tentram damai bisa santai kayak dipantai.”

 

Ketiganya hanya geleng-geleng kepala sambil merekahkan senyuman kecil.

 

“Nah, benar itu. Menghakimi soal mudah tapi bertanggung jawab itu sulit.” Ibu menambahkan.

 

“Selain itu kita sebagai masyarakat atau istilahnya orang awam bukan berarti tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi lepas tangan. Harus sama-sama bergandengan tangan, punya tujuan yang utuh demi kenyamanan bersama. Contohnya kalian berdua sebagai generasi muda. Ini waktu emas kalian.” Sambung Bapak sambil menyeruput secangkir kopi.

 

Sejauh ini memang pemerintah sudah berupaya. Dengan mengikuti dan mengadakan berbagai pertemuan, melakukan penelitian, mengkaji segala hipotesis dan masih banyak lainnya. Tinggal bagaimana kita semua menanggapi dan mengikuti aturan yang diarahkan. Bukan malah berteriak berbangga diri berkata aturan dibuat untuk dilanggar. Itu perkataan orang aneh, yang apatis. Generasi muda memiliki peran penting  untuk mengajak, memberitahu dan menerapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan informasi atas hidup yang lebih baik lagi kedepannya. Kalau-kalau seandainya masyarakat tidak percaya lagi kepada pemerintah, maka generasi muda yang harus segera bertindak. Apalagi banyak sekali anak muda yang mempunyai ide cemerlang, keahlian dan wawasan yang luas. Akan berguna nantinya untuk menambah pengalaman dan pastinya melihat anak cucu yang akan datang dimasa depan.

 

Semuanya berhenti sejenak, menikmati suguhan yang telah disiapkan Ibu. Pisang goreng habis dalam sekejap mata. Andre sempat protes karena dia tidak kebagian dibuatkan minuman oleh Ibu, tapi Arash dengan tegas memperingatkannya untuk tidak terlalu manja.

“Jadi bagaimana ya keadaan bumi 100 tahun yang akan datang?”

 

“Kalau masalah ini masih terus berlanjut dan belum bisa teratasi. Mungkin saja bumi jadi tempat yang mengerikan. Panas, hujan, angin kencang, banjir, kekeringan dan bencana lainnya akan tidak asing lagi terdengar ditelinga. Lama-kelamaan bumi jadi tidak layak dihuni. Antara berakhir dengan meleleh akibat panasnya atau tenggelam dimakan air yang meningkat drastis.”

 

“Seram….. Mulai sekarang kalau Andre lihat ada kawan yang buang sampah sembarangan bakalan Andre jitak kepalanya, sih. Hahahaa”

 

“Iya mulai dari hal kecil itu juga sudah bagus. Nah kalau kamu Bang, gunain media sosial untuk berbagi informasi dana saling mengingatkan. Ajak kawan-kawan kamu untuk buat kegiatan melestarikan alam. Hemat penggunaan energi, jangan berlebihan.”

 

“Ingat ini semua masih pendapat Bapak Ibu semata saja. Selebihnya cari informasi lagi yang lebih legkap dan terpercaya.” Pernyataan Bapak disetujui dengan anggukan oleh Arash dan Andre.

 

Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Sekarang ini kita dapat mendengar satu dua kabar mengenai bahan pangan yang gagal panen. Bongkahan es di Kutub Utara dan selatan yang kian mencair, sehingga menyebabkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca yang membuat lapisan ozon menipis dan berlubang. Perkiraan cuaca yang berubah-ubah setiap waktunya. Berbagai peristiwa aneh yang masih sulit dijelaskan tak jarang muncul. Bencana alam dimana-mana. Kita sebagai makhluk hidup yang paling mencapai titik kesempurnaan harusnya sudah sadar akan hal itu. Jangan lagi lengah. Atau bahkan disengaja.

 

Hal mengerikan yang pastinya tak terbayangkan. Dimana kita semua harus siap-siap merelakan segala kenangan yang pernah kita rasakan selama dibumi. Amit-amit. Lalu sambil menangis dan berkata ‘selamat tinggal bumiku’. Kata maaf tidak akan ada artinya. Atau jangan-jangan kita semua tidak akan sempat mengucapkannya.

 

Mari melestarikan alam agar kedepannya kita semua bisa hidup dengan nyaman. Jangan sampai karena kesalahan kita makhluk hidup lain yang ikut-ikutan terancam. Sayangi bumi. Lakukan sesuatu yang bermanfaat. Kalau tidak setuju, jadilah pribadi yang tidak merusak. Itu sudah lebih dari cukup. Stop merusak alam, stop pemanasan global, stop perubahan iklim.

 

7 thoughts on “Cerpen #57: (Tanpa Judul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *