Cerpen #56: “Alam Yang Semakin Terkikis dan & Oknum–oknum semakin Egois”

Alamku sangatlah indah tiada taranya. Cantik, asri, hijau, subur dan makmur. Bahkan kurasa, seluruh kata-kata indah yang ada di dunia ini tidak akan mampu untuk menggambarkan betapa cantiknya alam yang kumiliki.

Namaku Isnan Sayid Maulana biasa orang memanggilku Isnan. Aku merupakan seorang anggota Pramuka di sekolahku, dan aku tinggal di tanah Kalimantan yang sangat indah. Dengan segala kekayaan flora dan fauna yang ada, aku bangga menjadi anak Kalimantan. Kau ingin apa? Emas, nikel, sawit, karet, semuanya ada. Akan tetapi dari tahun ke tahun semua itu mulai dirampas oleh oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab yang hanya memikirkan kekuasaan semata dan memikirkan dampaknya.

Disore Hari

 

Aku melihat bapak tengah membaca koran dengan serius. Entah apa yang ia baca, aku pun tak tahu. Aku mendekati bapa dan ikut duduk di sampingnya. Aku terus memperhatikannya yang seolah tak terusik dengan kehadiranku di sampingnya.

“Bapak, baca apa? Serius banget kelihatannya.” Tanyaku sembari berusaha melihat apa yang tengah ia baca.

“Ini loh nak, bapa lagi baca koran. Di koran ini katanya, Kalimantan akan kehilangan hampir 75% hutan dalam kurun waktu tiga puluh tahun. Bapa khawatir, bagaimana ke depannya keadaan alam kita.” Terang bapaku dengan khawatir.

“Tadi di sekolah ada teman Isnan juga yang bilang, katanya ‘Ada proyek pemerintah untuk membangun kawasan hunian baru. Semacam tempat tinggal mewah dengan berbagai macam gedung dan fasilitasnya nanti mewah-mewah. Dan itu memerlukan lahan luas. Makanya hutan banyak dikeruk.’ Begitu pa”.

“Astaga, proyek proyek proyek! Apa yang ada di dalam pikiran mereka itu hanyalah proyek? Berapa banyak lagi alam yang ingin dirusak? Orang-orang seperti mereka itu tidak pernah betul- betul menggunakan otaknya dengan benar! Untuk apa punya ilmu setinggi langit kalau rasa kepedulian terhadap alam hanya serendah tanah. Padahal dari zaman nenek moyang dahulu, kita semua hidup berdampingan dengan alam, makan pun alam yang menyediakan.

” Aku hanya terdiam mendengar seluruh ucapannya yang mengandung banyak sekali amarah. Aku tahu betul bahwa bapaku tengah geram. Bagaimana tidak, bapak merupakan seorang ketua kelompok pencinta alam. Darinya lah aku belajar tentang indahnya alam dan bagaimana cara menjaganya dan melestarikannya.

“Bapak. Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk menjaga alam warisan leluhur ini pa?” Tanyaku padanya.

“Halangi mereka apapun caranya. Suka tidak suka, ini tanah kita. Siapa mereka berani mengambil alam milik kita?”

“Kapan? Jika nanti-nanti, alam akan segera habis.”

 

“Secepatnya nak, pasti akan kita lindungi. Besok bapa akan bicara dengan warga yang lain.” Ucap bapak dengan penuh keyakinan.

Bapak menepuk pundak ku, dan menatapku dalam. Kemudian ia berkata. “Dengarkan ucapan bapak ini nak. Kelak kalau kamu sudah menjadi orang berilmu tinggi jangan pernah mengkhianati alam. Cintailah selalu alam ini seperti alam yang mencinta kita. Alam tidak akan pernah mengkhianati kita nak, kita lah yang mengkhianatinya.” Ucapnya dengan penuh keseriusan. Aku pun berjanji akan selalu melindungi alamku ini.

Keesokan harinya, di sekolah. Aku melihat teman-temanku telah bergerombol pagi – pagi. Aku pun menghampiri mereka.

“Eh, lagi pada ngomongin apa sih?” Tanyaku penasaran.

 

“Itu loh, yang kemarin kita bahas. Proyek pembangunan hunian baru di Kalimantan yang bakal membabat habis hutan-hutan.” Jawab Meylin, salah satu temanku.

Aku pun tertarik dengan perbincangan pagi ini. Tumben sekali mereka membicarakan hal serius. Biasanya hanya hal-hal tak penting.

“Terus katanya, bukan cuman kawasan hunian. Tapi sebesar 2,2 juta hektar hutan, akan dialihkan menjadi perkebunan kelapa sawit!” Ucap Jordan.

Seketika kami langsung riuh tidak terima.

 

“Tenang dulu. Ada buktinya nggak? Jangan nyebar hoax.” Sanggah Lastri salah satu temanku juga. “Enak aja hoax, aku punya buktinya ya!” Balas Jordan tidak terima.

Jordan menunjukkan berita yang menyatakan bahwa ada wacana sekitar 2,2 juta hektar hutan di Kalimantan akan dijadikan perkebunan kelapa sawit milik negara.

“Kalau hutan digantikan perkebunan kelapa sawit, bukannya akan menghilangkan tempat tinggal satwa di sana?” Cetus Meylin.

“Kan ada hutan lindung.” Balas Deo.

 

“Tapi hutan lindung kita juga tidak banyak. Nantinya akan kalah dengan kawasan industri baru. “Kalau bapa aku sih berencana memprotes aksi tersebut ke gubernur.” Ucapku.

“Halah, palingan mereka gak bakal ngederin. Orang kecil mana bisa melawan orang besar.” Gita menimpali ucapanku.

Guru yang datang sukses menghentikan perbincangan pagi kami. Sepulang sekolah aku melihat bapak yang tengah beradu mulut dengan seorang pria dengan setelan rapi di depan rumah kami. Bapa mengusir pria tersebut tanpa ingin mendengarkan ucapan pria tersebut lebih lama lagi. Tak lama setelah pria tersebut pergi, aku menghampiri bapak.

“Siapa pa?”

 

“Halah, kacungnya orang berduit.” “Ngapain kesini pak?” ucap ku sambil berjalan masuk ke rumah. “Ck, nawarin duit. Mau gak ngejual tanah kita ke mereka.”

“Tanah? Tanah yang di mana pa?” Tanyaku setengah terkejut.

 

“Itu, yang di dekat kebun sayur pak Ahmed.” Balas bapa sambil menyesap kopi dinginnya. “Hah? Jangan pa, jangan! Jangan dijual. Itu kan warisan dari bue ² dan tambi².”

“Iya. Gak mungkin bapa jual. Sudah banyak kenangan bapa di tanah itu. Uang masih bisa bapa cari, tapi kenangan di sana bagaimana? Apa masih bisa bapa cari lagi? Gak kan.”

“Bener pa, apa lagi sungai kecil di dekat sana. Juan suka main di sana pa. Kalau di jual nanti gak bisa ke sana lagi.”

Bapa pun menyetujui ucapanku

 

Tiga pekan kemudian, bapa beserta warga yang lain mendatangi tempat yang menjadi proyek pembangunan. Di sana, hutan-hutan mulai dibabat. Pohon tumbang ada di mana-mana. Warga pun melakukan aksi demonstrasi di depan kantor gubernur. Gubernur keluar. Namun, kalian tahu apa yang dikatakannya?

“Haduh, kalian ini. Kalian mau uang berapa? Sebut saja. Nanti saya kasihkan. Tapi jangan ribut- ribut lagi ya.

” Warga jelas tambah geram. Bukan uang yang mereka inginkan. Namun, hak-hak mereka lah yang mereka inginkan. Selama berminggu-minggu bapak dan masyarakat yang lain berdemo di depan kantor gubernur. Namun, tidak dihiraukan. Sampai suatu ketika, perkelahian antar warga dan aparat tidak dapat terelakkan. Warga ada yang dipukuli dan sebagainya. Beberapa dari mereka yang memiliki pekerjaan di bawah pemerintah diancam akan diberhentikan jika masih bandel mengikuti demo. Bapak yang mengepalai aksi protes itu pun harus menerima sakit yang teramat dalam.

Bapak, ia ditembak secara sengaja dibagian pinggul oleh aparat bodoh yang terbutakan oleh uang.

 

Kami telah melaporkan kepada pihak yang berwajib. Namun, apa daya kami. Mereka sama- sama orang berpangkat. Mereka tentunya membela sesama mereka dengan alasan pembelaan diri karena bapaku seorang tokoh yang memimpin jalanya aksi tersebut. Masyarakat lain yang tidak terima akan hal tersebut pernah memberitahukan kepada pemerintah pusat. Kasus ini pun ditangani. Namun, hanya kasus bapak yang ditangani. Bapa dibiayai pengobatannya. Akan tetapi bapa tidak dapat sembuh total. Bapa menjadi tidak bisa bergerak leluasa karena ada beberapa tolang pinggulnya yang retak pada akhirnya. Masyarakat marah. Apa lagi aku sebagai anaknya. Aku jelas tidak terima.

Bagaimana dengan proyek tersebut? Apakah dihentikan pemerintah pusat? Jelas tidak! Karena hal tersebut memang telah diatur oleh mereka. Mereka berkata bahwa proyek tersebut akan menjadi suatu keuntungan bagi masyarakat Kalimantan kedepannya. Apakah benar menjadi keuntungan kami? Aku rasa hanya keuntungan bagi kantong mereka saja. Dan pada akhirnya, proyek yang sebenarnya menjadi bom waktu itu terus berjalan.

Sebagian masyarakat yang merasa sia-sia memilih untuk menyerah. Sebagian menjual tanah mereka kepada mereka. Sebagian lagi memilih ikut menjadi pekerja proyek tersebut karena iming-iming honor yang besar.

Enam tahun kemudian, satu persatu kawasan mal, dan apartemen bermunculan menggantikan hutan tempat biasanya satwa endemik bermain dan hidup. Bahkan kini, mereka terancam punah akibat tempat tinggal mereka dirampas. Bagaimana tidak? Hutan, kalau tidak dibakar ya ditebang. Belum lagi 2,2 juta hektar kebun kelapa sawit seperti kata Jordan dahulu terealisasikan. Bahkan kurasa lebih dari 2,2 juta hektar. Sungguh, korban sebenarnya dari kerusakan alam adalah para satwa tak berdosa. Selain pembangunan kawasan mal dan apartemen, ekploitasi batu bara juga emas secara besar-besaran pun terjadi. Akibatnya, air sungai yang biasa digunakan warga sekitar untuk mengairi sawah kini tercemar, dan ikan-ikan di sungai pun banyak yang mati keracunan.

Astaga, akan jadi apa alamku ini? Kelak pada waktunya alam beserta seluruh keindahannya hanyalah dongeng untuk anak cucu kita tanpa biaya mereka nikmati. Aku takut, sungguh takut. Bagaimana jika kelak anak cucu kita bertanya “Hutan itu seperti apa?” atau “Sungai yang jernih itu seperti apa?” Oh Tuhan, itu akan menjadi mimpi terburuk sepanjang masa, kumohon Tuhan,

Akibat mereka yang mengkhianati alam. Orang-orang tak bersalah menjadi korbannya. Tak ada lagi alam yang asri nan indah. Tak ada lagi satwa yang hidup bebas di alamnya. Tak ada lagi hijau alamku. Tuhan, kapan kah ini akan berakhir? Kini hanya tersisa aku dan duka alam yang dikhianati. Tamat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *