Cerpen #54: “Aku Seorang Peramal”

Belum pukul tujuh pagi, pendar cahaya matahari memaksaku untuk bangun. Astaga, aku akan terlambat. Segera kuraih handuk lalu mengguyurkan air ke tubuh dengan asal, lantas meraih tas kerja dan mengisi perut, sarapan.

Di ruang makan, hanya ada beberapa piring lauk pauk dan sedikit nasi. Ibu pemilik indekos ini memasaknya. Ia menyambutku ramah. “Jatah makanan sekarang ibu kurangi, Syam. Harga bahan makanan pokok meroket, banyak petani gagal panen. Bisa-bisa iuran kos juga naik.” Ia bergurau, tetapi serius soal kenaikan harga bahan makanan.

Aku mengunyah nasi uduk secepat kilat, hanya menanggapi Bu Cece dengan senyuman getir. Kalau sampai tagihan kosku naik, bisa-bisa aku jadi gelandangan di kota yang sangat besar ini. Baru hendak memakai sepatu hitam yang mengkilat, Bu Cece merangkul pundakku, seperti biasa setiap hari dimulai. “Hari ini bagaimana cuacanya? Baju cucian ibu sudah segunung. Kalau hujan, nanti saja jemurnya.”

“Belum tahu, Bu.” Aku mengangkat bahu, Bu Cece tertunduk lesu.

Dengan langkah berkejaran aku meraih trans yang hampir pergi meninggalkan halte, bergegas menuju kantorku. Aku mendongak, merutuki dirgantara. Sudah sebulan bumi ini disengat matahari. Penghuni kos selalu melampiaskan kekesalan mereka padaku, bilang bahwa aku tidak bekerja dengan benar.

Ya, sebab aku seorang peramal.

Bukan, bukan. Aku bukan wanita bermata hitam yang memakai selendang dan perhiasan lalu mengelilingi bola ajaib dengan kedua tangan. Bukan peramal yang bisa memprediksi masa depanmu, bukan pula menentukan kapan kau akan meninggal. Berkutat dengan layar monitor yang menyajikan gambar bumi yang berwarna-warni, aku peramal cuaca. Dan kini pekerjaanku sedang tidak baik-baik saja.

Bus trans melaju perlahan, membelah jalanan yang padat. Asap kendaraan, proyek pembangunan dan penebangan hutan menjadi makanan sehari-hari. Anak-anak muda yang bolos nampak santai berlesehan sembari mengepulkan asap rokok. Aktivitas pertambangan semakin membuat negeri ini kaya, namun tidak ada yang tahu. Gadis SMA di sebelahku mengibaskan kipasnya yang bergambar selebriti Korea, kemejanya terbuka satu kancing. Jam masih menunjukkan pukul 8.30, suhu sudah sepanas omongan tetangga.

Tidak hanya itu, wanita tua yang duduk di bangku paling ujung memakai kacamata dan topi seperti Ratu Elizabeth. Rambutnya putih, mulutnya maju mundur merutuki pemerintah yang menaikkan harga bahan makanan pokok.

Sekitar sembilan puluh meter dari kantor, sopir trans menginjak rem. Aku segera memakai masker, melindungi diri. Tidak—bukan karena virus kemarin sore yang membantai dunia, tetapi udara di sini bisa membuatku cuti dan membuat tugas pentingku terbengkalai. Asap hitam, warga membakar sampah, aku melewatinya dengan berlari kencang.

Karena tugasku memang sangat penting.

“Syamsuddin! Beraninya kau telat saat kita harus membahas masalah ini. Lihat, meeting telah berakhir. Kau, berkumpul dengan hama lainnya dan temui aku di ruang kerjaku. Paham?!”

Aku mencengkeram tali tasku. Ya, keingintahuanku yang tak tertahan sejak kecil menceburkan diriku menuju BMKG1 lebih tepatnya di Stasiun Klimatologi, dan menjadi kebanggaan Ibu yang tak terkira harganya. Namun, hari ini aku terpaksa duduk di meja hijau, entah kenapa Kepala Koordinator hari ini nampak sensitif. Mungkin habis bertengkar dengan istrinya.

“Dihukum juga?” Suara berat memecah lamunanku. Ruangan ini dipenuhi layar yang menunjukkan gambar analisis cuaca.

Astaga, itu Surya—teman lamaku. Ternyata dia menjadi Sub Koordinator Informasi Gas Rumah Kaca. Rambut ikalnya mengembang, hidung mancungnya kembang kempis, menatap gadis berseragam putih rapi yang menggigit jari karena grogi.

Cih. Harusnya aku tidak dihukum bersama dua berandalan ini. Aku staf yang baik, Pak. Tadi kucing saya ngompol di baju, makanya saya lambat.” Arev—Sub Koordinator Bidang Informasi Iklim melipat tangannya, membuang muka dari Surya dan aku. Pak Kepala Koordinator menyuruh kami masuk ke ruangannya, tubuh gagahnya berjalan perlahan menyuruh kami mengekori.

Aku menggenggam erat tanganku sendiri. Dua temanku tak peduli. Kami duduk berhadapan dengan Pak Kepala, menatap matanya yang tajam menghunus segala ketakutanku. Apa aku akan dipecat? Atau posisiku akan tergeser?

“Permisi, Pak. Bisa nyalakan AC?” Surya bertanya santai, seolah dialah bosnya.

Pak Kepala mengembus napas panjang, sudah biasa ia meladeni Surya. “AC sudah dinyalakan. Hanya saja, suhunya memang tidak biasa lagi. Nah, inilah yang ingin saya bicarakan dengan kalian, sebagai hukuman.

Segera cari tahu tentang keanehan ini, dalam waktu satu minggu. Jika tidak, kemarau akan menggila dan masyarakat bisa mengamuk. Kalian tahulah, perangai manusia di sini. Mengerti?”

Aku mengangguk. Sudah jelas, bukan? Dalam kurun waktu terakhir, tidak ada hujan yang membasahi kota, bahkan di seluruh penjuru negeri. Ini masalah serius. Tetapi, apa benar ini hukuman? Apakah sesulit itu?

“Keanehan macam apa, Pak?” tanya Surya memutar tangkai kursinya, menghadap Pak Kepala yang sudah lenyap meninggalkan sorot mata yang menyeramkan.

Aku, Surya dan Arev saling bertatapan, seolah berdiskusi dalam diam lantas bergegas meninggalkan ruangan sepi itu, berlari kencang menuju ruangan Koordinator Analisis dan Proyeksi Perubahan Iklim—ruang kerjaku. Di sana banyak data-data yang kukumpulkan untuk memecahkan misteri ini. Napasku tersengal, menyalakan monitor lebar yang menyajikan warna-warni persebaran kondisi cuaca terkini.

“Kau sudah melapor analisis cuaca hari ini?” Arev membongkar berkas-berkas yang telah kususun dengan susah payah. Dasar wanita, selalu tega menyakiti perasaan lelaki.

Aku menggeleng, mungkin karena itulah Pak Kepala murka padaku. Betapa tidak, sudah beberapa kali peringatan dini yang kami laporkan, awan dan hujan menolak datang. September kering, tidak ada setitik pun air yang jatuh dari awan kelabu.

Ke mana perginya hujan?

Surya yang tadinya bercanda berubah serius. Ia membawa catatan kecil lalu hilir mudik bertanya-tanya pada staf di seluruh sudut ruangan. Sebagai seorang pengamat perubahan iklim, kami harus selalu up to date dengan kondisi lingkungan sekitar.

Aku lebih suka menyebutnya misi daripada hukuman. Kami seperti agen rahasia negara yang menyelidiki kasus kejahatan, tetapi kupikir misi kami lebih keren. Menyelamatkan negara dari kemarau berkepanjangan.

“Syam! Kenapa melamun?! Cepatlah bergerak. Kita harus punya rencana. Lihatlah.” Arev mengoceh sembari memainkan jarinya di atas keyboard komputer, mengamati laporan terkini dari Actinograph Bimetal2. Aku menatap layar komputer, menghela napas panjang. Matahari benar-benar ingin membakar kami.

Arev menatapku lamat-lamat. Dia sungguh mencintai pekerjaan ini. Surya yang tengah mencatat di buku kecilnya datang mendekat. Aku benar-benar malu bergandengan dengan dua teman yang heboh ini sebab semua orang melihatku dengan tatapan sinis. “Kita harus berpencar. Aku akan pantau terus dari sini. Kalian observasi-lah. Kita butuh data terbaru.” Arev kembali tenggelam dengan komputer, mengabaikan kami.

Surya dan aku bersitatap, lalu segera ke lapangan luar untuk observasi. Matahari masih bersinar terik di atas kepala, tidak ada awan yang berani menghalangi. Masih pagi, tetapi kerah seragam putihku sudah basah oleh keringat. Surya menyindirku, padahal ketiak bajunya juga basah.

Aku meraih alat peralatan Klimatologi yang bentuknya seperti globe, tetapi sangat berat. Campbel Stokes, untuk mengetahui lama penyinaran matahari. “Lihat pias lengkungnya, Syam. Boleh jadi sinar matahari tahun terakhir ini lebih lama dari sebelumnya.” Surya mengoceh sembari memegang buku catatannya, menyuruhku menyiapkan alat.

Benda itu bergerak mengikuti kemauan alam. “Piasnya panjang!” Aku berseru, sembari menyeka dahi yang basah bermandikan keringat. Surya mencatat.

“Kita tidak bisa terpaku pada alat-alat ini saja, Syam. Kita harus turun ke masyarakat. Jadi agen rahasia,” Surya menyeringai, kami sepemikiran.

Hari kedua misi pencarian hujan, matahari lagi-lagi membuatku berkeringat tanpa harus berolahrga. Sebelum terlambat pergi, ponselku berdenging nyaring.

“Syam! Kau harus kemari! Astaga! Cepatlah!” Kelopak mataku yang masih lengket terbelalak lebar, suara serak Surya menyambar terlinga.

Aku tak suka ia memberi informasi setengah-setengah, apalagi nyawaku masih belum terkumpul. “Di mana?!”

Kota dipenuhi kendaraan bermotor, mengepulkan gas CO3 ke udara. Masker yang melekat di wajahku kini sudah menjadi teman yang tidak terpisahkan. Aku menyapu seluruh keramaian dengan pemandangan yang bergetar samar karena radiasi matahari. Surya nampak berdiri kaku di memandang alat-alat berat yang menggusur hutan untuk dijadikan pabrik dan permukiman.

Surya mengenakan kacamata hitam dan topi, mendalami peran. “Kau lihat, Syam! Kemarin aku berkunjung ke rumah bibiku, nelayan setempat menambang Timah tiada habisnya. Sahabatku di eropa sana bilang, kutub utara mencair dan bersiaplah untuk tenggelam. Kini, hutan penghasil oksigen malah dibunuh. Tak tahukah mereka bagaimana kabar atmosfer kita yang menua?” omelnya setengah fakta, sisanya mengarang.

“Kau benar. Aku lelah memakai masker bodoh ini. Kita butuh udara segar, air jernih. Aku harus bicara dengan mereka.”

Namun, aku merasa tidak asing dengan nama perusahaan swasta yang begitu meraup banyak keuntungan dengan mengorbankan kesehatan udara di sini. Seorang pria tua bertubuh gemuk, memakai penutup kepala khas pekerja bangunan menoleh padaku.

“Syam? Kau ingin menemui ayahmu?”

Astaga, aku segera menarik Surya dan pergi dari neraka ini. Lima tahun lamanya, aku sengaja terus meninggalkan rumah karena perseteruanku dengan ayah. Hingga kini, aku dan dirinya berseberangan pandangan. Dia manusia serakah yang menguntungkan diri sendiri dan teman sekelompoknya. Kegiatan industri yang ia lakukan bisa membolongi lapisan ozon4. Jika tahu, Surya mungkin akan segera menimpuk ayahku dengan buku catatannya. Dia membenci orang bodoh.

Sepanjang jalan menuju stasiun Klimatologi, aku hanya diam menanggapi protes dari Surya. Ia merasa penyamarannya sia-sia. “Kenapa malah pergi, Syam? Kegiatan industri dan alih fungsi lahan paling banyak dilakukan oleh perusahaan itu. Kita harus memperingati mereka,” protes Surya menyeimbangkan langkahnya dengan langkahku. Aku hanya mengerutkan dahi, gelisah.

Kini kami telah tiba di ruang kerja Arev. Sudah lima hari kami meninjau ulang kegiatan-kegiatan masyarakat yang sudah jelas sekali—memengaruhi kondisi iklim. Penelitian kondisi atmosfer juga sudah dilakukan dengan baik. Aku bersyukur bekerja di ruangan tertutup, terlindungi dari panas matahari yag bisa saja berbahaya. AC dinyalakan dengan suhu terendah. Sepanjang sejarah, September hingga Desember sepi. Tidak ada bunga yang bermekaran atau bahkan embun yang menghiasi ujung daun di pohon lembab pada pagi hari.

Arev nampak buruk. Matanya seperti panda, rambutnya acak-acakan. Tak kusangka ada Kuntilanak yang bekerja di BMKG. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul 12 tengah hari. Di internet, jutaan kicauan memprotes krisis iklim yang terjadi di Indonesia. Mereka menantikan peringatan dari kami.

Wow, Rev. Kau butuh istirahat.” Surya berhenti mengomeliku, menatap Arev lamat-lamat. Ia memberikan laporan penyebab perubahan iklim yang tengah terjadi pada Arev. Kami berdua yang mengerjakannya.

Arev mengucek kedua matanya. Sepertinya dia bergadang semalaman untuk memberikan informasi iklim terbaik. “Ini masalah serius. Tidak ada kebijakan pemerintah yang bisa menghentikannya. Bapak dan ibuku petani. Aku bisa merasakannya sendiri,” ujarnya serius, sembari beranjak ingin menyerahkan laporan yang harus segera disebarluaskan.

Untuk kesekian kalinya, aku dan Surya saling melempar pandang. Arev benar. Sumur tua yang menjadi sumber kehidupan di kos Bu Cece itu mulai mengering, mau mandi saja semakin susah. Jika Indonesia yang iklim tropis saja sepanas ini, bagaimana dengan negara iklim kering? Kelaparan, bencana alam, aku tak bisa membayangkannya.

“Kau tahu, Syam. Adikku mahasiswa sok keren berencana untuk memprotes kenaikan harga bahan makanan pokok, tetapi takut legam karena terik matahari. Setidaknya itu mencegah satu dari sepuluh kerusakan.” Surya mengembalikan senyumanku.

Arev kembali dalam hitungan menit. “Hoi, kita dipanggil lagi.”

Aku menepuk dahi. Pak Kepala Koordinator nampak puas dengan hasil yang kami berikan. Kini presenter tengah rekaman untuk memberikan peringatan dini tentang keadaan cuaca terkini. Layar-layar monitor menampilkan berita yang tak kalah panas dengan cuaca hari ini, hari nanti.

WASPADA SENGATAN SUHU PANAS

PENINGKATAN SUHU HARIAN

 

“Kalian bertiga. Kita sedang mengalami peningkatan suhu besar-besaran. Ini karena—“

“Benar, Pak. Ini karena gerak semu matahari dan peralihan musim dari kemarau menuju penghujan. Tapi—“

“Surya. Kamu memotong pembicaraan bapak. Kamu mau dihukum lagi? Baik. Tugas kalian tidak hanya sampai di sini. Percuma memberi peringatan kalau masih saja ada manusia serakah yang malah meningkatkan emisi gas rumah kaca. Bapak minta kalian untuk menghentikanya. Arev, kamu boleh istirahat. Biar dua berandal ini yang kerjakan.”

Baiklah. Misi kami yang sebenarnya baru saja dimulai.

***

Sebelum melewati batas waktu yang diberikan Pak Kepala—seminggu—aku dan Surya berencana untuk menyelesaikan masalah penebangan hutan yang membuat energi kotor. Ya. Perusahaan ayahku.

“Pergilah sebelum pukul 7, Syam. Seperti yang kau katakan, kita harus berlindung dari panas yang menyengat.” Bu Cece menghentikan langkahku. Ia asyik bersantai di bawah sofa empuk sembari memakai perawatan wajah. “Ibu harus banyak-banyak perawatan kulit supaya tidak legam. Kau juga, Syam. Pakailah sunscreen atau payung.”

Aku tersenyum hangat. Bu Cece memang sangat perhatian. Tetapi aku hanya memakai masker, tak sempat melindungi diri sendiri karena yang akan aku lindungi adalah bumi. Bumi yang semakin panas.

Surya menungguku di warung es campur. Sepertinya cuaca panas menguntungkan penjual minuman dingin di setiap pinggiran jalan. Dua mangkuk es serut yang disiram sirup pandan dan ditemani taburan lain membangun energi kami untuk menjalankan misi.

Sayangnya, kami tak bisa berlama-lama. Batuk melanda orang-orang, juga sesak napas. Surya memainkan sendok, memulai rencana. “Sekarang, kau harus memberitahuku. Kenapa kita lari saat melihat pekerja di proyek penebangan hutan itu?”

Aku menegak sesendok es. Tak apalah kuceritakan rahasia ini pada sahabatku. “Jadi sejak SMA, aku baru tahu kalau Ayahku pemilik perusahaan itu. Mereka mengeksploitasi sumber daya alam habis-habisan. Makanya—“

“KEBAKARAN!!!”

Tiba-tiba saja siang yang panas itu memercikkan api yang menjilat, membakar habis sebuah toko kelontong. Orang-orang tunggang langgang berlari, menyelamatkan diri dan panik. Ceritaku terpaksa harus tertunda, juga semangkuk es doger yang belum kuhabiskan.

Aku dengan cepat menarik tangan Surya yang menantikan kelanjutan kisahku. Lokasi toko kelontong itu hanya beberapa meter dari jejeran penjual gerobak. Pinggiran kota kini ramai, mobil pemadam kebakaran masih belum datang dan tidak ada yang bisa dilakukan selain berlari, menghindari api yang sudah memakan satu manusia—manusia yang lalai dengan peringatan alam.

“Api ini datangnya dari hutan?” Terdengar bisik-bisik warga yang berdiskusi di tengah kepanikan.

“Bukan. BMKG sudah memperingatkan. Cuaca panas bisa—“

Arev! Dia sudah bergerak cepat mengantisipasi keadaan. Surya melongo, belum pernah ia merasakan api sebesar ini. “Surya! Kita harus menghentikan penebangan itu sekarang!” Aku menggenggam lengan Surya yang kusut.

“Bagaimana? Bukankah ayah kau akan murka? Dia membencimu, ‘kan?” Surya mengenakan helm, tergesa-gesa mengikuti gerakanku yang cepat. Sirene mobil pemadam kebakaran berdenging nyaring, menyingkirkan kendaraan-kendaraan yang merepotkan. Kami forecaster5, bukan tim SAR atau pemadam kebakaran.

Aku menjatuhkan bokong di jok motor Surya. Menepuk-nepuk pundaknya—meminta untuk segera menancap gas. “Kau tidak sadar? Arev sudah memberi sinyal. Teman-teman kita sudah berusaha mencegah perbuatan buruk masyarakat. Kini masalahnya ada di perusahaan ayahku. Kita ke sana!”

Surya menarik gas dengan kuat. Motor vespa tua ini melaju kencang, melawan panasnya baskara. “Jadi kau akan bicara padanya?” tanya Surya mengalahkan gerung mesin vespa.

“Tidak.”

Ayah, kita bertemu lagi. Aku melirik jam tangan, pukul 14. 15, waktu terganas matahari. Dengan seragam dinas biasa, aku memberanikan diri menyelinap di sela-sela kesibukan manusia serakah ini. Surya mengerti, berlagak seperti penyusup handal. Hanya saja, baju putih kami ini mempersulit penyusupan.

“Jadi, kita akan menyusup dan menculik ayahmu?” Surya berbisik, mengikat tas selempangnya yang mengganggu.

“Tidak.”

“Lalu apa, Syam?! Tebakanku selalu salah.”

Aku mengacungkan telunjuk, menyuruh Surya bungkam. Kini kami menelusuri kawasan hutan, mengintip pekerja yang asyik menikmati waktu istirahat. Aku tidak melihat ayahku. Dia pasti sibuk menghitung keuntungan dan memperkaya diri.

“Ayah membuat lapangan pekerjaan! Kalau tidak ada perusahaan itu, banyak orang menganggur!” 

“Tapi Ayah harus mengaturnya sebaik mungkin. Sumber daya akan habis suatu saat, Yah.” 

“Tahu apa kau? Diamlah. Kalau bukan karena ini kau juga tak akan sekolah, lalu menjadi peramal cuaca omong kosong itu.” 

Aku menggelengkan kepala, mengusir jauh-jauh dialog singkat yang membuat benci berkepanjangan ini. Seorang pekerja tengah mengisap batang tembakau yang sudah memendek, lalu meletakkannya sembarangan. Aku menyuruh Surya mengumpulkannya.

“Kau sudah gila? Mau apa kau, Syam?!” Lagi-lagi Sub Koordinator Informasi Gas Rumah Kaca itu protes. Tetapi mau tak mau ia mengikuti perintahku.

Aku meraih asbak, mengumpulkan puntung rokok—benda kecil yang sangat kubenci—dan rerantingan pohon yang kering, sama keringnya dengan tenggorokanku yang mungkin dehidrasi. Penyakit batuk mengincar pernapasanku.

“Syam? Jangan bilang kau…”

Semua bahan-bahan sudah kusiapkan. Aku melempar semuanya pada dahan pohon yang dekat dengan para pekerja. Seperti minyak tanah yang membakar kayu bakar, hutan itu berubah menjadi lautan api. Surya menengadahkan kepalanya, menilik pada awan yang menyingkirkan matahari.

“Sepertinya atmosfer sudah lumayan pulih, Syam. Lihat, daur air kembali berjalan lancar,” ujarnya terharu, memperkirakan cuaca.

Ya. Arev dan teman-teman di stasiun telah memberikan kabar terbaru—bukan kabar gembira.

Kini hutan yang dirusak itu telah terbakar. Api menari-nari, mengusir pekerja yang lari terbirit-birit meninggalkan lahan. Hawa panasnya tiba hingga ke permukiman, tetapi itu tak akan lama sebab aku adalah peramal—bisa menentukan nasib orang. Surya takjub dengan rencanaku. Ini belum selesai. Kabar terbakarnya hutan menyebar luas. Kami kembali ke stasiun Klimatologi, sebelum pemadam kebakaran atau petugas lainnya menyelidiki kasus yang tak terduga ini, lalu menangkap aku dan Surya.

Forecaster BMKG menyulut api Karhutla, terpampang lebar di televisi. Itu tidak lucu. Maka kami harus bergegas.

“Syam! Astaga! Kami merisaukanmu!” Arev menyambut kedatangan kami. Staf yang lain juga menyaksikan, menerka-nerka apa yang akan terjadi.

Surya merengut, “Kau tidak merisaukanku?”

Arev terkekeh, menepuk-nepuk pundak Surya lantas kembali memantau kondisi. Presenter sudah merekam informasi perubahan cuaca. Suhu panas akan segera berakhir dan diganti dengan cuaca ekstrem—angin kencang, petir, hujan lebat atau bahkan bisa menyebabkan bencana alam lainnya. Masyarakat diminta untuk waspada.

“Jadi, kau sengaja membuat perusahaan itu bersalah, lalu penebangan hutan akan dilarang? Mengingat curah hujan akan meredam kebakaran?” Pak Kepala datang, menarik kesimpulan dari skenario yang kubuat—tentunya dengan bantuan Surya.

Aku penasaran dengan reaksi beliau. Akankah ia terkejut? Memuji kecerdikanku? Entahlah. Raut wajahnya selalu tak bisa ditebak. Ah, bukan masalah. Yang penting ia mengerti rencanaku.

Benar saja. Kami berebutan menuju jendela, bahkan keluar ruangan, menantikan awan kelabu yang akhirnya memutuskan untuk datang, membawa air kehidupan yang selalu didambakan. Petir menyalak-nyalak, angin meniup pepohonan dan rumah-rumah kecil. Suhu menurun drastis, ini seperti sihir. Rintikan hujan kecil terdengar, lalu kian lama kian lebat, mengairi sawah, mengisi sumur yang kering, membantu Damkar mematikan api kebakaran. Memang bukan hujan yang damai, tetapi ini wajib disyukuri. Kami tak terlambat memperingatkan masyarakat. Untungnya, hanya ada korban kebakaran. Bukan korban cuaca ekstrem.

Kami berseru-seru takjub, mengucap syukur. Arev yang paling bahagia, sebab orang tuanya bisa memetik hasil panen lagi. Ruangan itu ricuh, melupakan petir yang garang menyambar. Aku melirik berita terkini, kepala perusahaan—ayahku—sudah diadili di meja hijau. Semua kegiatan industry mereka resmi dihentikan. Aku tersenyum simpul, menjabat tangan Surya dan Arev. Misi hukuman kami selesai. Lain kali, aku akan lebih banyak mengambil tindakan. Sebab hidup ini manusia yang menggerakkan. Bukan hujan, bukan pula sengatan cahaya mentari.

Aku seorang peramal, dan aku menyelamatkan orang banyak. Tetapi, ada satu hal yang mengganjal benakku. Wajah Surya yang masih mengenakan kacamata hitam membuatku teringat sesuatu. “Oh iya. Es campur tadi sudah kau bayar?”

 

***

1: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika

2: Alat pengukur/pencatat secara automatis Intensitas Radiasi Matahari

3: Karbon monoksida, gas yang bisa menyebabkan efek rumah kaca

4: Molekul gas yang menyerap radiasi matahari

5: Prakirawan cuaca

One thought on “Cerpen #54: “Aku Seorang Peramal”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *