Cerpen #53: “BUMI”

Ketika seorang anak dengan otak yang cerdas menggambarkan dunia masa depan. Tadinya hanya sebagai gurauan semata namun terjadi dalam kejapan mata. Tekhnologi serba canggih sedang dirancang untuk memudahkan manusia di kehidupan mendatang. Hari ini banyak orang berlomba-lomba menciptakan hal-hal hebat yang tadinya hanya angan dan kini impian menjadi kenyataan.

Buku berjudul “Bring Back To Green Earth” menjadi perbincangan seluruh kota. Di mana buku tersebut menceritakan kehidupan di 100 tahun mendatang jika krisis iklim tidak terjadi. Tidak ada pembangunan besar-besaran ataupun mengubah daerah resapan air menjadi gedung bertingkat. Semua orang mengkritik buku yang dikarang anak berumur sebelas tahun itu. Anak yang namanya tiba-tiba memenuhi laman twitter akibat terbitan bukunya dengan penjualan buku terlaris dalam 1 jam pertama setelah rilis.

Beberapa ilmuan memojokkan buku yang mengatakan jika seluruh ilmuan mementingkan uang maka bumi akan kandas dalam lautan lepas. Bumi merasa panas karena tekhnologi yang mereka ciptakan membuat bumi menjadi sesak napas. Jika hal ini terjadi, maka bumi tidak lagi mampu menopang segala pengetahuan hebat dan akan menenggelamkannya bersama dengan ilmu-ilmu luar biasa yang sedang dikembangkan.

Austin Albeer. Anak laki-laki berkacamata itu memandangi layar laptopnya. Wajahnya sendu akibat trendingnya buku pertama karangannya itu.

“Tidak perlu takut dengan mereka yang meruntuhkan pendapatmu, buku itu hanya ungkapan kekesalanmu pada mereka yang terus mengeksploitasi ilmu pengetahuan yang semakin maju tanpa memikirkan efek pada bumimu.” Seorang pria paruh baya itu menepuk perlahan putra bungsunya itu.

“Mereka membeli bukuku tapi mereka mengkritikku, aku sedang menyampaikan pendapatku dalam buku itu tapi mereka memojokkanku karena umurku yang masih sebelas tahun, Ayah.”

Dunia masa depan yang keras dengan tuntutan dari beragam pihak, semua orang di masa ini menjadi sukses dalam sepersekian detik. Di dunia ini seakan-akan tidak ada kemiskinan dan kebodohan. Mereka berusaha untuk menjadikan bumi sebagai impian semua orang. Mobil yang tadinya hanya berjalan di jalur darat kini bisa terbang, surat izin mengemudi menggunakan scan iris mata dan pesawat tidak lagi ada. Travel ke luar angkasa menjadi budaya dan juga salah satu bentuk pariwisata yang terus dikembangkan. Bahkan daya tarik luar negeri mengalahkan tour antar planet yang segera diresmikan.

Austin memandang salah satu akun yang mendukungnya. Akun dengan nama ‘dream future’ 

‘Jika seseorang menyebutmu sok tahu di dunia luar biasa ini, maka mereka salah besar. Ternyata kaulah generasi penyelamat bumi. Bukan hanya manusia yang memanusiakan, tapi bumi juga harus dijaga agar dapat memeluk manusia di dalamnya. Para ilmuan itu hebat dengan karyanya, tapi mereka melupakan sesuatu yang sangat penting. Bukumu mengingatkan mereka yang buta dengan pundi-pundi harta. Jika bumi benar-benar menolak dihuni maka kita akan tenggelam bersamanya.’

Austin mengembangkan senyumnya, dia tidak peduli berapa juta orang yang sedang memojokkannya dia hanya perlu satu orang yang mendukungnya.

Tidak lama setelah buku itu rilis dan menjadi perbincangan hangat seluruh penduduk negeri dan mendapatkan perhatian khusus dari presiden. Hari itu Austin diundang ke istana dan berdialog dengan presiden yang sekaligus ketua ilmuan yang sedang melakukan pengembangan tekhnologi besar-besaran itu.

“Bagaimana tanggapanmu terhadap tekhnologi jet pariwisata luar angkasa kita?”

“Sesuatu yang kau buat semuanya merugikan bumi pak, tidak ada yang menguntungkannya, kau tentu sudah membaca di dalam bukuku kan? Kenapa kau bertanya jika sudah tahu jawabannya?”

“Aku rasa salah menggunakan tekhnologi pil ilmuan untuk anak sekolah dasar, hal ini terjadi padamu. Apakah kau mengonsumsi sesuai dengan anjuran?”

“Pilmu sama sekali tidak aku sentuh, meskipun itu yang mengikis kebodohan menciptakan manusia yang sama bengisnya dengan pemimpinku.”

Presiden terdiam. Dia menatap anak laki-laki itu.

“Apa solusimu dari semua itu, jika aku salah maka aku butuh kebenaran.”

“Apa kau akan mendengarkan anak kecil ini?”

“Akan aku pertimbangkan.”

“Emisi gas karbon yang kau timbulkan dari seluruh tekhnologi yang kau kembangkan hanya menguntungkan satu pihak, hanya manusia yang untung karena perubahan besar-besaranmu itu, aku tahu di dunia ini tidak ada orang bodoh semua orang berlomba-lomba untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa, semakin mereka pintar maka ada banyak hal yang mereka pikirkan untuk diwujudkan, awalnya itu ‘tidak mungkin’ tapi semua menjadi ‘bisa jadi’ karena apapun yang ‘tidak bisa’ akan menjadi ‘bisa’ di zaman ini.”

Setelah perdebatan sengit antara anak sekolah dasar dengan ketua ilmuan, akhirnya mereka seimbang. Tidak ada yang kalah dari perdebatan itu. Mereka sama-sama unggul dengan inovasinya masing-masing.

Austin menginginkan untuk mengefektifkan reduce, reuse, recyle diseluruh lapisan masyarakat. Tidak ada pembuangan akhir yang menggunung karena seluruh limbah akan dijadikan sumber energi lain, bukan membuat tekhnologi tapi memanfaatkan pembuangan sisa dari masyarakat untuk menciptakan tekhnologi baru. Membatasi pembelian, aktivitas pengemasan, transportasi, dan produksi barang. Mereka akan memproduksi jika membutuhkan, bukan untuk dibeli tapi saling tukar menukar untuk meminimalkan kerja pabrik yang memproduksi.

”Hentikan pembangunan gedung bertingkat, lakukan penanaman dalam skala besar, kau tidak butuh uang untuk mensejahterakan wargamu. Mereka sudah hidup dengan sangat sejahtera dengan tekhnologimu. Jadi, kali ini bukan wargamu yang kau selamatkan. Melainkan tempat wargamu tinggal. Bumi.”

“Kau juga tidak perlu mempersempit lautan hanya untuk mencarikan mereka tempat tinggal, kau punya tekhnologi rumah digital yang bisa mengakomodasi seluruh kebutuhan wargamu dalam satu scan iris mata, dalam satu lingkungan kau bahkan bisa mensejahterakan seribu warga.”

Presiden kini kalah telak, dia memang menciptakan beragam tekhnologi dengan tujuan untuk memanusiakan manusia, tapi dia melupakan sesuatu yaitu memelihara tempat tinggal manusia. Jika bumi tidak ingin ditinggali, maka tetap saja manusia tidak akan abadi. Memang benar tidak ada manusia yang abadi, namun tekhnologi masa kini membuat mereka sedikit berumur lebih panjang dari seharusnya karena perkembangan zaman yang luar biasa hebatnya. Tidak perlu bersusah payah melakukan sesuatu, dengan satu tombol yang bermakna banyak.

Bumi. Dia tidak bisa menangis karena bengisnya penghuninya. Dia hanya bisa koyah setiap kali merasa lelah. Di zaman ini semua bisa diprediksi, meskipun bencana alam tetap terjadi, tapi kehidupan manusia tetap aman dalam jangkauan tekhnologi. Tapi, bumi juga bisa pasrah, jika tidak ada bibir yang siap menyuarakan haknya maka dia akan runtuh tanpa aba-aba. Sekarang bukan mengenai memanusiakan manusia, tapi menjaga buminya manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *