Cerpen #51: “TANAH ADAT DALAM PERGOLAKAN EKONOMI”

AKU MELANGKAHKAN KAKI keluar dari kamar menuju ruang tengah tempat dimana keluarga berkumpul. Ruang tengah di penuhi ukiran-ukiran dari berbagai jenis binatang, tulang kepala binatang  dan tanduknya yang di gantung di langit-langit rumah ada pula daun-daun yang sudah mengering melambangkan kekuatan suku. Dari sini aku bisa mencium rokok yang mengeluarkan bau yang khas dari daun talas yang dikeringkan. Aku melihat para tetua suku dan seluruh anggota suku sudah berkumpul di ruang tengah, ditemani kopi panas yang masih mengepul sambil merokok, Aku melihat bapak menyambut kepala Dusun yang baru saja datang. Para istri-istri juga ikut berkumpul. Mereka sibuk menyajikan minum dan makanan di sudut ruangan, termasuk mamak yang sedang memotong kue bolu. Bapak adalah kepala suku dari suku kami. Semua permasalahan internal atau eksternal akan diselesaikan di rumah kami, yang kami sebut sebagai Uma Sabeu (rumah besar). Jika dilihat dari usia bapak bukanlah yang tertua di suku kami, namun untuk memilih kepala suku bukan persoalan usia, bukan? Bapak menjadi kepala suku bukanlah dipilih secara formal tetapi itu terjadi secara alami, alam yang akan memilihnya dan secara otomatis anggota suku mengikutinya.

Mamak melambaikan tangan padaku untuk mendekat. Aku segera berjalan ke arah mamak melewati bapak-bapak sambil membungkuk.

“Apa mak?,” tanyaku.

“Pergi ke rumah om Aman Gegeh. Katakan padanya semua orang sudah berkumpul di rumah. Tinggal menunggu om saja.” Ucap mamak berbisik. Tidak menunggu jawabannku. “Lewat pintu dapur jalannya kak.” Ucap mamak lagi.

“Iya mak.”

Aku kembali ke kamar mengambil payung dan senter. Di luar tampaknya sedang geremis. Sepanjang jalan terlihat gelap tanpa penerangan jalan hanya lampu togok yang menerangi beberapa rumah penduduk. Meskipun baru menunjukkan pukul sembilan malam suasananya sudah mulai sepi. Di kampung memang begitu, hari biasa tak terlalu ramai. Penduduk kebanyakan lebih memilih menginap di ladang dari pada bolak-balik pergi pagi pulang malam. Karena rata-rata pekerjaan masyarakat setempat adalah berladang coklat dan pinang.

Tak lama kemudian aku sampai di rumah om Aman Gegeh, aku melihat pintu rumah om Aman Gegeh tertutup tapi lampu togok masih menyalah di luar. Aku mengetuk pintu pelan. “Siapa?” Terdengar suara perempuan menyahut dari dalam, aku yakin itu pasti istrinya omku.

“Aku nte. Atiuk.” Jawabku. Tak lama pintu terbuka.

“Disuruh panggil Om ya?”

“Ia nte”

“Masuk dulu kak. Om masih makan, ayo makan sekalian kak.”

“Kakak udah makan nte.”

“Ya sudah, bilang aja ke bapak untuk lanjut. Bentar lagi om nyusul ya.” Ucap om dari dalam.

“Iya om. Kakak duluan nte.”

Aku pamit dan berjalan pelan menuruni tangga. Hujan mulai menderas, aku melepas sandal swallowku dan berjalan pelan karena takut tergelincir. Beberapa orang menyapa dari rumah mereka dan mengingatkan untuk hati-hati berjalan karena jalan licin.

RUANGAN TAMPAK HENING. Aku melihat bapak sudah berbicara, semuanya mendengar dengan seksama. Aku mendekat ke mamak sambil berbisik kalau omku sedang makan malam, sebentar lagi akan datang. Mamak mengangguk pelan tanpa lepas pandangannya dari bapak yang sedang menjelaskan persoalan tanah adat. Mengawali pembicaraan bapak mengatakan bahwa jantung kehidupan suku berada pada alam, sumber ekonomi juga berasal dari alam, bukan hanya suku kami namun seluruh masyarakat di sini bergantung hidup kepada alam. Selama bertahun-tahun yang lalu masyarakat terus bekerja sama melindungi dan melawan ekploitasi hutan dan tanah adat mereka dari Negara. Sekarang kabar terbaru dari kepala dusun akhirnya pemerintah memberikan izin Hutan Tanaman Industri (HTI) kepada perusahaan. Seluruh masyarakat termasuk bapak selaku kepala suku dari suku kami menilai bahwa  pemerintah secara sepihak memberikan izin kepada perusahaan di atas tanah adat kami. Padahal sebelumnya bapak serta kepala suku dari suku-suku lain secara terang-terangan menolah HTI tersebut. Namun setelah beberapa pekan pasca penolakan dari masyarakat setempat pemerintah malah sebaliknya. Bukannya mendengar penolakan masyarakat malah memberikan surat izin HTI.

Bapak menyebutkan bahwa pemerintah memberi izin HTI dengan luas konsesi 19.876,59 hektar tanah akan ditanami Kaliandra (Calliandra Calothyrsus). Dari 19.876,59 hektar tanah termasuk tanah dari suku kami yang luasnya sekitar 100 hektar. Perusahaan mengatakan keuntungan  menanam Kaliandra (Calliandra Calothyrsus) untuk produksi kayu energi antara lain pemanenannya yang cara memangkas cabang-cabangnya yang dapat dilakukan secara berulang sehingga tidak perlu menanam pohon baru setelah pemangkasan. Bapak juga menilai akan ada dampak lingkungan yang dihasilkan ketika perusahaan mulai beroperasi. Dampaknya akan  sama besar dengan luas tanah tersebut bahkan sangat mungkin dampaknya lebih besar dari yang diperkirakan.  Bapak berhenti berbicara meneguk kopi di depannya dan menyalakan korek api untuk membakar rokoknya kemudian melanjutkan penjelasannya.

“Kita tidak akan membahas secara keseluruhan dari tanah-tanah itu. Kita hanya membahas tanah kita yang 100 hektar didalamnya. HTI memiliki izin pertama dari pemerintah selama 60 tahun kemudian dapat diperpanjang hingga 40 tahun lamanya. 100 hektar tanah milik kita di dalamnya terdapat berbagai macam tumbuhan dan hewan. Di sana pula seluruh anggota suku kita menggantungkan kehidupannya. Dari mulai bahan makanan hingga obat-obatan bahkan ekonomi kita bergantung di tanah itu. Jika kita memberikan izin kepada perusahaan untuk membangun di atas tanah adat kita, maka kita perlu mempertanyakan kapan kita dapat mengolah tanah kita kembali? Tahun keberapa? Apakah kita mempunyai kekuatan yang cukup untuk memintak tanah kita kembali? Tanah yang mana lagi kita akan bergantung untuk hidup? Di samping itu kita juga tidak tau apakah Kalindra (Calliandra Calothyrsus) tidak akan merusak tanah. Sebab jika Kaliandra (Calliandra Calothyrsus) merusak tanah maka kita tak akan bisa menanam tanaman lainnya. Jadi bagaimana menurut saudara-saudara sekalian tentang hal tersebut?” Bapak menyudahi penjelasannya dan memberikan kesempatan kepada anggota suku lainnya memberikan pendapat. Aku melihat bapak menyandarkan punggungnya di tembok dengan santai lalu menghisap rokoknya dengan tenang.

“Saya justru setuju dengan pemerintah. Jika kita ingin maju maka harus menerima perubahan dan bukankah itu juga kabar baik untuk seluruh masyarakat? Perusahaan bahkan membuka lahan pekerjaan untuk kita semua. Mereka hanya menyewa, bukan? Kita menjadi untung berlipat. Selain mereka menyewa tanah, mereka juga akan membayar kerugian tanaman kita yang ada di dalamnya.” Kata om Aman Pulelegat. Suasana yang tadinya tenang mendadak ricuh, seluruh anggota suku saling ingin mengeluarkan pendapatnya. Bapak sekali lagi duduk dengan tegak memberi isyarat agar suasana menjadi tenang kembali.

“Saya juga sependapat dengan Aman Pulelegat. Sudah saatnya kita menerima perubahan. Jika kita menolak HTI maka pertumbuhan ekonomi kita juga tidak akan berubah, begitu saja dari tahun ketahun. Kita semua tau bahwa tuntutan kebutuhan pokok jauh di atas dari penghasilan yang kita peroleh dari  hasil menanam coklat dan pinang. Belum lagi biaya pendidikan anak-anak kita yang sekolah. Pendidikan yang layak juga untuk mencerdaskan generasi masa depan. Jika kita tak cukup biaya bagaimana mungkin generasi mendatang bisa menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi.” Kata om Aman reureubaga yang ikut menyetujui adanya HTI. Namun lain halnya dengan om aman Keihkei, om Aman Keihkei malah tidak menyetujui adanya HTI dan menolaknya.

“Saya menolak adanya HTI tidak peduli apakah itu untuk perubahan, meningkatkan ekonomi atau bahkan untuk mensejahterakan kita dari kemiskinan! Saya tetap menolak adanya HTI. Bukankah selama ini juga tanpa adanya HTI kita bisa hidup dan tidak mengemis di jalanan? Lalu mengapa kita memimpikan sebuah perubahan yang belum perna kita tau bagaimana ujung pangkalnya!”

“Iya saya juga menolak adanya HTI. Ini bukan soal perubahan atau peningkatan taraf hidup tapi ini soal generasi kita yang akan datang. Jika kita menyewakan tanah kita selama 60 tahun itupun jika tidak diperpanjang. Maka generasi kita yang akan datang anak cucu kita di tanah yang mana mereka akan bergantung? Apakah ada jaminan dari perusahaan bahwa mereka akan menjadi karyawan? Tidak ada! Perusahaan tidak menjamin hal yang demikian. Usia kita saat ini tak lagi muda, kita tidak akan tau apa yang akan terjadi selama 60 tahun mendatang. Lalu apakah kita akan menelantarkan generasi kita dengan sengaja?” Om Aman Gegeh menambahkan pernyataan om Aman Keihkei.

“Kita punya banyak tanah, bukan 100 hektar itu saja. Kita buka lahan di tanah kita yang lain. Bukankah itu peluang bagi kita untuk meningkatkan ekonomi? Inilah salah satu alasan mengapa sampai saat ini daerah kita tetap tertinggal dan terbelakang karena kebanyakan dari kita tidak mau menerima perubahan. Coba kita berkaca dengan daerah lainnya. Daerah mereka maju karena mau mengambil langkah berani untuk menerima perubahan.” Kata om Aman Pulelegat.

“Berfikir itu jangan terlalu dangkal. Jika kita akan menyewakan tanah kita dengan maksud untuk meningkatkan perekonomian kita. Maka pemikiran itu keliru, karena tidak akan ada yang menjamin ekonomi kita akan membaik dengan menyewakan tanah adat kita. Ini juga bukan masalah maju atau tidak maju suatu daerah. Tapi tentang kehidupan anak cucu kita yang akan datang. Lihat pula dampak yang akan terjadi. Memang benar kita mempunyai banyak tanah. Tapi tanah 100 hektar itu ada berjuta-juta atau bahkan lebih makhluk yang hidup di dalamnya. Perusahaan akan membabat habis apapun yang tumbuh di sana dan otomatis mereka akan membunuh semua makhluk hidup di sana. Apakah akan ada pemindahan hewan yang hidup pada 100 hektar tanah itu ke tanah yang lain? Apakah akan ada pemindahan tumbuhan yang hidup di tanah 100 hektar itu ke tanah yang lain?” Tanya om aman Gegeh. Om Aman Gegeh lanjut mengatakan.

“Perusahaan tidak akan peduli dan tidak mau tau semua jenis apapun yang ada di dalam tanah itu. perusahaan hanya akan tau bahwa mereka akan menamam Kaliandra (Calliandra Calothyrsus) dan meraup keuntungan dari itu.”

“Meskipun kita menolak, belum tentu juga suku lain menolaknya. Dan walaupun kita menolak akan adanya HTI tanah kita tetap kena dampak karena letaknya di jalur mobilitas perusahaan sehingga diterobos. Bukankah itu hal yang sama?” Om aman Pulelegat membalas ucapan om Aman Gegeh.

Aku yakin peredebatan ini tidak akan selesai malam ini, melihat setiap orang mempertahankan argumen masing-masing. Aku melirik bapak, dari tadi bapak tak menolak juga tak mengizinkan. Aku yakin bapak sudah punya persiapan matang melihat dari gerak-geriknya yang sangat santai tak termakan emosi seperti yang anggota suku lainnya.

“Kerugian tanaman yang terkena karena aktivitas perusahaan kita bicarakan kepada pemerintah dan itu tidak sebesar kerugian jika kita menyewakan tanah kita seluas 100 hektar selama 60 tahun paling cepat. Kita harus berfikir panjang untuk menyewakan tanah kita. Saya sangat yakin uang yang kita dapatkan dari kerugian dan penyewahan tanah adat tak akan bertahan selama 60 tahun. Selain itu adanya HTI sangat memungkinkan akan terjadinya kerusakan fungsi hutan yang mengakitbatkan terjadinya krisis iklim. Sangat memugkinkan itu terjadi setelah perusahaan melakukan pembabatan hutan secara besar-besaran. Kita akan melihat pemandangan yang tak lazim seperti longsor, banjir, dan kemarau yang berkepanjangan. Setelah semua itu terjadi lantas siapa yang pantas kita salahkan? Siapa yang harus bertanggung jawab? Dan siapa pula yang akan merasakan dampaknya? Kita juga harus mengkaji hal ini sebelum kita setuju akan adanya HTI!” Balas om Aman Gegeh agak emosi. “Saya ada usul. Jika memang sebagian anggota suku tetap setuju menyewakan tanah adat kita untuk ditanami Kaliandra (Calliandra Calothyrsus) maka sudah sepantasnya kita harus rapat untuk membicarakan pembagian tanah kita!” Ucap om Aman Gegeh dengan lantang.

Suasana mendadak ricuh dari yang semula tegang. Semua orang tidak setuju saran om Aman Gegeh yang terakhir. Anggota suku tak percaya bahwa om Aman Gegeh akan memberi saran untuk membagi tanah adat. Siapapun tau membagi tanah adat dalam sebuah suku sama halnya kehancuran dalam sebuah suku atau keluarga besar suku. Sekali lagi aku melirik bapak, bapak tampak sama tetap tenang. Sedangkan kepala Dusun di sampingnya berusaha mengingatkan agar anggota suku menahan emosinya masing-masing. Bapak melirik jam dinding, akupun ikut melihat jam dipergelangan tanganku. Sudah pukul dua dini hari, aku yakin beliau akan mengakhiri pertemuan malam ini. Membicarakan permasalahan  tanah adat tak akan selesai dalam satu kali rapat atau dua kali. Karena persoalan tanah adat menyangkut seluruh anggota suku. Keputusan bukan milik kepala suku tapi milik seluruh anggota suku. Sedangkan kepala suku hanya berperan sebagai juru bicara atas keputusan musyawarah seluruh anggota suku.

 

“KAPAN LAGI RAPAT?” Tanya mamak kepada bapak yang sedang membersihkan Bar Sinso. “Mungkin seminggu lagi.” Ucap bapak tanpa mengahlikan pandangan dari pekerjaannya. Bapak menoleh padaku lalu bertanya, “Menurut kakak, apakah perlu tanah adat kita disewakan untuk dijadikan HTI? Iyaa…agar kakak bisa sekolah tinggi.” Aku menelan ludah, aku tak menyangka bapak akan memberikan pertanyaan yang menohok. Aku menjawab dengan nada bercanda, “Tidak perlu disewakan pak. Kita masih punya banyak hal lain yang bisa di jual untuk biaya pendidikan. Seperti tanduk rusa kesayangan bapak itu, lagi pula tanduk rusa itu terlalu banyak. Takutnya tali tak kuat menahan beban sebanyak itu. Kakak rasa tanduk itu cukup diminati para pelancong.” Bapak geleng-geleng kepala.

“Kakak tau? Berpuluh-puluh tahun yang lalu di sini perna ada perusahaan kayu. Perusahaan kayu mengeksploitasi tanah adat kita, perusahaan kayu menebang pohon di hutan habis-habisan. Hingga beberapa tahun kemudian hampir seluruh hutan tak ada lagi pohon yang besar mengakibatkan tanah adat kita menjadi tandus. Setelah itu perusahaan berhenti beroperasi. Perusahaan berhenti beroperasi bukan karena bangkrut tetapi karena tak ada lagi pohon yang ditebang.”

“Sampai seperti itu?” Tanyaku kepada bapak. Bapak menggeleng.

“Lebih dari itu. Dan lucunya kami tak menjadi kaya dari penyewahan tanah itu. Alam seakan murka pada kami. Setelah pembabatan hutan, tiba saatnya musim hujan yang panjang yang di ikuti banjir dan longsor. Setelah musim hujan berakhir musim kemarau yang panjang ikut berpartisipasi menghukum kami. Kami susah mendapatkan air bersih. Hewan-hewan yang hidup di hutan ikut merasakan dampaknya dengan banyaknya kami menemukan bangkai hewan-hewan. Alam seakan kehilangan kepercayaan kepada kami. Kami harus menunggu hutan itu kembali lebat selama bertahun-tahun. Kami tau bahwa kami membutuhkan pohon yang besar dan cukup umur untuk di jadikan papan rumah, untuk di jadikan sampan dan hal lainnya. Pada akhirnya akibatnya dari keserakahan kami, kami harus menunggu puluhan tahun agar pohon yang baru tumbuh  menjadi dewasa dan layak untuk di tebang.”

“Apakah artinya bapak juga tidak akan setuju adanya HTI?”

“Iya! Bapak tidak akan perna setuju meskipun akan dibayar milyaran rupiah. Kita harus belajar dari kesalahan di masa lalu dan dampak yang di hasilkan. Atas nama perusahaan dampak negatif itu berada pada nomor sekian yang pertama adalah keuntungan yang besar. Jika kita izinkan sangat berkemungkinan terjadi krisis iklim dan generasi mendatang akan menjadi budak diatas tanahnya sendiri.”

Aku tersenyum dan lega setelah mendengar penjelasan bapak. Semalam aku sempat takut dibuat bapak, karena bapak nampak santai dan tak emosi. Meskipun om Aman Gegeh memberi saran atas pembagian tanah adat, aku yakin bapak punya solusinya. Setidaknya kepala suku berada di pihak yang menolak HTI.

4 thoughts on “Cerpen #51: “TANAH ADAT DALAM PERGOLAKAN EKONOMI”

  1. Tulisan yang sangat bagus n menarik untuk dibaca bagi kalangan yang haus dengan ilmu adat n budaya dimentawai….
    Saran perjuangakan sslalu tanah adat kita…
    Sukses selalu bagi penulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *