Cerpen #50: “Bumiku yang Malang”

Bumi tahun 2222

 

Ini masih dipengawal bulan Januari. Namun musim kemarau sepertinya masih sangat betah memancarkan kilauan terik matahari yang bisa dibilang cukup menyengat untuk hari sepagi ini. Efek krisis iklim memang bukan main. Bumi kini tersa semakin panas bahkan semilir angin yang berhembus pun membawa hawa panas bukannya sejuk seperti yang seharusnya.

Keadaan yang semakin parah ini membuat pemerintah bergerak memutar otak untuk menyelamatkan tempat bertahan hidup. Semua peraturan berubah berubah drastis tidak ada lagi kendaraan berlalu lalang dengan bebas, semua masyarakat dilarang memiliki kendaraan pribadi hanya ada bua umum sebagai alat transportasi. Ini dilakukan untuk mengurangi efek gas rumah kaca yang dihasilkan kendaraan yang tentunya juga berdampak bagi kesehatan bumi. Cukup berdampak positif namun juga sedikit merepotkan bagi anak-anak sekolah diperdesaan yang jarak sekolahnya lumayan jauh.

Yeji sampai harus berkali-kali menyeka keringat diantara goesan sepeda ditambah beban sang adik diboncengan belangan serta jarak rumah yang cukup jauh membuat bulir-bulir keringat mengucur cukup deras.

“Huff akhirnya sampai juga” gadis bermata sipit itu menyeka keringatnya kasar. Air yang selalu ia bawa diminumnya dengan rakus. Baru setelah itu memicingkan mata menatap sang adik yang menyengir tanpa dosa.

“Gak usah senyum-senyum! kamu berat tau! besok-besok kalau sepedamu rusak lagi kakak gak mau kasih boncengan, biarin aja kamu jalan kaki!” ucapnya dengan emosi yang meluap-luap.

Riki-sang adik justru tersenyum lebar matanya sampai menyipit lucu dengan senyum kotak yang berkali-kali lipat menambah kesan lucu pada anak sekolah dasar itu.

“Nanti kita gentian aja goesnya biar kakak gak capek hehe”.

Halah gantian katanya. Perbandinagn tubuh mereka saja cukup jauh mana bisa adiknya itu membonceng tubuh bongsornya. Yeji menghela nafas merasa bodoh juga mengeluh. Disini ia sebagai kakak dan tugas sekecil ini memang seharusnya menjadi tugasnya sebagai yang lebih tua.

“Gak usah badan kayak lidi begitu mau sok-sokan bonceng yang ada mental nanti. Udah sekarang kamu masuk nanti pulangnya sama Wawan”.

Wawan itu tetangga mereka. Anaknya rajin datang pagi-pagi buta hanya demi membaca buku di perpustakaan berbeda sekali dengan Riki yang kebo. Kesekolah selalu memakai sepeda tunggal yang sama sekali tidak ada tempat untuk mengangkut orang lain. Jelas saja Riki protes tidak terima.

“Bonceng depan kan bisa sih dek. Kakak nanti ada kerja kelompok kalau ditungguin bisa sampe malem. Emang kamu mau nunggu? Kalo mau ya udah tungguin aja gak papa”.

“Ih gak mau!” protes Riki anak itu melotot menyuarakan ketidaksetujuannya dan Yeji ikut melotot membalas si adik tidak mau kalah. Aksi melotot itu akhirnya berhenti beberapa menit kemudian dengan Riki yang mencak-mencak.

“Yaudah aku ikut Wawan!” putus Riki lalu berbalik pergi tak menghiraukan Yeji yang berteriak karena tak sempat mencium tangan sang kakak untuk berpamitan.

“Dasar sontoloyo!” umpat Yeji.

Gadis itu kemudian berlalu pergi lanjut menggoes sepeda kearah sekolahnya ssendiri. Jaraknya hanya beberapa meter dari sekolah si adik. Namun tetap sajahawa panas benar-benar tak bersahabat. Setiap goesan rasanya mampu membuat keringat Yeji mengucur layaknya air hujan.

“Yeji nyontek PR Fisika dong”. Kata itu adalah sambutan pertama saat Yeji baru selangkah memasuki kelas. Merotasikan mata malas Yeji menyerahan ipad berukuran sedang mliknya yang disambut bahagia ole Lia teman sebangku Yeji.

TIdak ada yang menggunakan buku di jaman ini. Seluruh siswa diwajibkan menggunakan alat elektronik sebagai media belajar. Semua dikarenakan produksi kertas yang sudah diberhentikan bebrapa tahun lalu. Kertas hanya diproduksi seperlunya seperti mencetak beberapa buku pelajaran penting atau tentang ilmu-ilmu lain yang akan dipelajari oleh siswa. Penyebab utama kebijakan itu berlaku karena pohon-pohon yang semakin berkurang setiap tahunnya. Demi mrnyelamatkan sumber utama penghasil oksigen bagi kehidupan manusia pemerintah mengeluarkan undang-undang tentang perpohonan. Yeji cukup menyayangkan yang satu ini. Dirinya juga ingin merasakan bagaimana rasanya menggores tulisan diatas kertas. Sepertinya cukup menyenangkan Yeji sering melihat di internet manusia-manusia jaman dulu sering menggores bahkan menggambar dilembaran kotak polos bernama kertas. Dirinya juga bisa sih tapi diatas layar bukan diatas kertas seperti yang ia bayangkan.

“Psstt ji kamu tau gak sih?”.

Senggolan dilengannya mampu menyadarkan Yeji dari angan-angan. Menoleh pada Lia yang menyuarakan pertanyaan ah tidak notasi bicara gadis itu lebih terdengar seperti ajakan menggibah.

“Apa?” ucap Yeji setengah hati.

“Aku denger-denger gosip dari anak OSIS katanya sekolah kita mau diliburin lohhh”.

“Lah kok?! Kenapa emangnya?” kini Yeji menaruh atensi penuh pada teman sebangkunya itu. Merasa tertarik dengan topik yang dibahas.

“Ck Yeji mah gak perlu dijelasin pun udah jelas alasannya. Kamu tau sendiri kan keadaan desa kita giamana?” Lia berujar mals. Pekerjaan menyalin tugasnya ia jeda sejenak.

“Semua guru gak mau ambill resiko. Lagipula ini tuh putusan dari kepala desa” lanjutnya.

Seprah itu kah keadaan desanya? Yeji memang mengetahui jika desa terpencilnya itu sudah terkena dampak kemarau dari beberapa bulan lalu. Namun ia tidak mengira jika dampaknya akan separah ini.

Yeji meringis “terus kerja kelompok kita gimana? Gak jadi dong”.

“Entah.Kalau ssekolah mulai besok diliburinnya berarti gak jadi” balas Lia acuh tak acuh. Gadis itu mana peduli sih tentang tugas justru ia akan menjadi yang paling semangat jika tugasnya tidak jadi.

Bel berbunyi kemudian. Keadaan kelas yang semula ricuh menjadi senyap seketika. Guru tiba dan tanpa basa-basi memberi pengumuman sama persis seperti yang Lia katakana sebelumnya. Sekolah mereka diliburkan selama beberapa minggu dan mungkin akan kembali semula jika keadaan sudah lebih mrmungkinkan nantinya. Kemudian guru tersebut berbalik pergi setelah mengucapkan sekolah akan dibubarkan pukul delapan, mungkin skitar tiga puluh menit dari sekarang.

“Tau gitu gak usah buru-buru nyalin tugas tadi” gerutu Lia. Yeji tertawa dan memilih membaca artikel dari pada mendengar gerutuan tidak penting Lia.

***

Yeji tinggal disebuah desa dipinggiran kota Malang. Desa terpencil yang jauh dari hiruk-piruk perkotaan. Bisa dibilang desa tempat ia tinggal merupakan desa pedalaman karena saking terpencilnya desa itu.

Beberapa bulan lalu kemarau menryerang desa tempat ia singgah. Panas dan kekeringan sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Awalnya masyarakat masih bersikap santai dan menjalani hari seperti biasa. Namun setelah berbulan-bulan berlalu keadaan semakin parah. Mtahari semakin menunjukkan terik yang begitu menyengat seakan tak membiarkan hujan menetes sedikitpun di desa mereka ini. Kekeringan pun terjadi. Beberapa sumber mata air mati mengharuskan masyarakat menghemat air dan menggunakannya untuk keperluan penting saja, Seperti hanya untuk minum dan mencuci piring. Untuk urusan lainnya mereka lakukan di danau dekat perbatasan yang sebenarnya keadaannya tak jauh berbeda. Danau itu juga sekarat dan hampir mati.

Baru kali ini Yeji merasa hisupnya yang suda serba kekurangan menjadi lebih menderita lagi. Entah apa yang dilakukan manusia dimasa lalu hingga kini justru ia yang merasakan dampaknya. Tak pernahkah memikirkan segala sesuatu itu memiliki dampak. Atau justru mereka telah mengetahuinya tapi tetap memilih abai? sungguh jahat sekali mereka. Jika saja  time televeller benar-benar ada ingin sekali Yeji melompat ke masa lalu dan berteriak sekencang-kencangnyapada mereka-mereka yang tak memiliki hati untuk lebih menyayangi bumi demi kehidupan yang lebih baik bagi penerus mereka selanjutnya. Mengatakan betapa menderitanya hidup diantara hawa panas dan dingin yang tak menentu.

Terhitung sudah sebulan semenjak masa sekolah libur diumumkan.Hari-hari Yeji berjalan seperti biasa taka da yang berubah kecuali keadaan desa yang semakin memprihatinkan. Mungkin akan terdengar dramatis tapi Yeji benar-benar merasa kepanasan setiap saat entah itu pagi hari, siang maupun malam semuanya sama. Hanya hawa panas yang ia rasakan.

Yeah welcome to the hell dude

Ibu juga pernah mengatakan jika para warga juga selalu mengeluh tentang keadaan desa mereka. Nasib mereka yang berada diambang kehancuran. Kemarau berkepanjangan ini membuat beberapa tumbuan-yang sebenarnya mati-matian mereka rawat ditengah keadaan sekarat ini-harus mati. Pun termasuk tumbuhan sumber pangan. Para petani lebih memilih mengkonsumsi hasil panen mereka sendiri. Maka bukan hal aneh lagi jika meja makan selalu terisi dengan hidangan makanan laut hampir setiap harinya.

Hari ini ibu mengajak Yeji untuk berpanen tanaman hidroponik mereka dikebun dekat balai desa. Kebun milik bersama yang dibagi sama rata untuk keperluan pribadi para warga desa yang keseluruhan hak nya benar-benar jatuh pada pemiliknya itu sendiri. Para warga dibebaskan melakukan apapun pada kebun mereka itu dan ibu lebih memilih menggunakan kebun untuk menanam bahan pangan bukan hanya ibu saja sih tapi hampir keseluruhan warga juga melakukan hal yang sama.

“Bukannya masih belum waktunya panen ya bu?” setelah menahan mulutnya yang gatal untuk bertanya akhirnya kata itu terlontar juga. Bukan apa-apa tapi Yeji ingat betul mereka baru mulai menanam sekitar beberapa minggu lalu.

Ibu menghela nafas “Mau gimsns lagi. Di pasar udah gak ada lagi yang jual bahan makanan semuanya milih buat konsumsi hasil mereka sendiri. Desa kita udah bener-bener kekeringan satu-satunya bahan pangan kita sekarang ya inin sayur dari kebun sendiri itupun sayuran hidroponik”.

Oh kalau soal itu Yeji sudah tau. Mungkin ibu bosan memakan ikan laut makanya memanen sayuran yang belum matang pun jadi. Ternyata masalah yang diakibatkan kekeringan belum ada ujungnya. Yeji jadi ikut menghela nafas “Tapi kita gak bisa terus-terusan ngandelin tanaman hidroponik kan bu. Ibu tau sendiri kalau tanaman hidroponik itu sumber utamanya air sedangkan air aja sekarang udah mulai susah dicari”.

“Ibu jugs gak tau nak kita tunggu aja. Bapak juga lagi diskusi sama kepala desa sama warga desa juga buat cari jalan keluar masalah desa kita ini. Moga aja ada kabar baik”.

Ya semoga Yeji mengaminkan dalam hati.

Ibu menutup pintu daaan menguncinya kemudian. Sedangkan Yeji membuntuti sang ibu layaknya anak itik. Berjalan berdampingan menelusuri jalan setapak dengan pemandangan yang sama sekali tidak berubah. Gersang, kering, dan tanah retak dimana-mana. Pemandangan yang sungguh amat sangat membosankan.

“Riki kemana? Biasanya mondar mandir gak jelas didepan tv kenapa sekarang sama sekali gak kelihatan?” Suara ibu memecahkan keheningan yang terjadi.

“Tadi izinnya mau main kerumah Wawan katanya bang Jefri buat kincir angin didepan rumahnya”.

Yeji ingat tadi pagi-pagi sekali adiknya itu berteriak meminta izin padanya. Adiknya bahkan belum memakai pkaianya dengan benar tapi sudah ngacir karena takut ketinggalan katanya.

“Ngapain buat kincir angin?” ibu bertanya bingung.

“Katanya buat kipas bu maklum cuaca kan panas banget gini lumayanlah lah buat ngadem”

“Terus adekmu mau numpang ngadem gitu? astaga ada-ada aja adekmu kak” ibu geleng-geleng tak habis dengan putra bungsunya. Yeji hanya mengendikkan bahu sudah terlampau biasa dengan tinggkah si adik.

“YEJIIII”

Teriakan super nyarimg itu menghentikan langkah keduanya. Diseberang Lia melambai-lambai penuh semangat dengan seorang remaja disamping gadis itu yang tentnya Yeji juga mengenalnya. Lia menarik Naresh menhamoiri tempat Yeji dan ibunya berdiri.

“Hallo budhe mau kekebun ya?” Tanya Lia basa-basi. Entah kapam Lia berpindah tempat gadis itu kini sudah menggandeng lengan Yeji.

“Mau main kerumah Yeji tapi Yeji nya mau ikut kekebun yaudah kita ikut aja kalau gitu”

Ibu hanya mengangguk-anggukkan kepala mengerti, mengizinkan keduanya ikut toh tidak ada ruginya. Lumayan juga kan mendapat bantuan secara gratis.

Mereka akhirnya berjalan beriringan. Lia bercelote banyak hal dan Naresh ikut menimpali. Sebenarnya keduanya itu sama saja sama-sama cerewet hanya Yeji yang normal disini entah bagaimana bisa Yeji betah berteman dengan mereka.

Sesampainya dikebun ibu memilih memisahkan diri dari kawanan pra remaja. Meninggalkan Yeji dan kedua temannya dibagian tanaman tomat dan terong. Pekerjaan mereka cukup mudah toh disini memang belum waktunya panen jadi sayur yang menurutnya sudah layak makan ia petik.

“Sebenernya aku kabur dari rumah” bisik Lia tiba-tiba.

Yeji menautkan alis bingung dengan perkataan teman sablenanya satu ini

“Tadi pagi-pagi banget rumah udah rame. Pas aku liat ternyata banyak bapa-bapak kumpul didepan rumah kayaknya sih lagi rapat tentang sesuatu. Aku dirumah kalo rame gak fokus nonton jadi kabur deh rencananya mau ngajak kamu main kerumah Juna dia punya ikan cupang baru katanya nemu pas lagi mandi di danau kemaren” jelas Lia panjang lebar.

Ayah Lia-Pak Sudirman merupakan kepala desa jadi wajar jika rumahnya selalu menjadi tempat berkumpulnya warga. Yeji memperpendek jarak mereka dan ikut berbisik-bisik ingin menanyakan sesuatu.

“Kamu tau gak li mereka ngomongin apa?” Yeji penasaran mungkin saja bapak-bapak itu sudah menemukan solusinya kan? Jadi dirinya tidak akan tersiksa lagi. Menurut Yeji tinggal disini sama degan tersiksa bukannya tidak bersyukur tapi hey bersifat realistis jua diperlukan bukan.

“Manaku tau kan aku udah bilang aku langsung kabur”.

PLUKK

Timpukan seikat bayam menghentikan aksi bisik-bisik mereka. Serempak keduanya menolehkan kepala melihat Naresh berdiri sambil menaikturunkan alisnya dengan ekspresi yang begitu menyebalkan.

Belum juga mereka membalas satu-satunya lelaki diantara mereka itu tiba-tiba saja berteriak “BUDHE ANAK GADIS LAGI NGOMONGIN COWOK KATANYA MEREKA MAU LIAT ROTI SOBEKNYA BANG JEFRIPAS MANDI!! MARAHIN AJA BUDHE MARAHIN”.

Aksi saling menjambak oun tak terelakkan dengan Naresh sebagai korban. Salah sendiri memancing maung bangun. Cowok itu mengaduh  dan berteriak meminta pertolongan yang untungnya ibu bergerak cepat memisahkan mereka bertiga. Mereka berhasil dipisahkan namun kedua gadis itu masih tidak rela terlihat dari picingan tajam keduanya.

“Udah heh ini sayurannya bawa. Kita pulang udah sore juga”.

Pada akhirnya mereka serempak menganggukkan kepala. Menuruti perkataan ibu dan mulai berjalan pulang. Naresh memimpin didepan bersama ibu sedagkan kedua gadis yang masih menyimpan dendam dibelakang. Mereka berdua masih menatap memicing kearah Naresh.Yeji meyenggol Lia disebelahnya dan memamerkan apa yang baru saja ia temui. Keduanya lantas tersenyum, berjalan mengendap-endap kemudian melemparkan benda kecil belendir kepada Naresh secara tiba-tiba.

“Woahhhhhhh ulet keketttt” Naresh lompat-lompat macam gadis, lelaki itu berlari sambil teriak-teriak tidak jelas.

Yeji puas tertawa akan kehebohan Naresh. Padahal hewan yang mereka lemparkan itu siput kecil hijau tapi Naresh dengan bodohnya berteriak ulat keket. Mereka terus berlari meninggalkan ibu dibelakang sana tidak peduki hawa panas sudah mulai tersa membakar tubuh.

Diperempatan jalan Naresh tiba-tiba berhenti Yeji dan Lia pun mau tak mau ikut berhenti. Ikut mendongak melihat arah pandang Naresh. Kepulan asap hitam bergerumbul diatas langit. Kepulannya cukup banyak. Banyak warga berlarian menuju dimana asal asap tersebut muncul. Ketiganya tertegun menyadari sesuatu. Saling melirik lalu ikut berlari bersama warga lain.

Ladang yang sebelumnya dipenuhi pohon-pohon yang mengerik berubah menjadi lautan api. Si jago merah berkobar melahap hampir seluruh bagian lading. Banyak warga berlarian mengambil beberapa timba air dari danau yang tentunya jaraknya tak bisa dibilang dekat. Hanya itu satu-satunya sumber air yang masih bertahan jarak sejauh apapun tetap warga tempuh untuk menghentikan api yang semakin berkobar. Tubuh Yeji melemas melihat pemandangan yang kini tersaji dihadapannya langsung. Otaknya masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Keadaan benar-benar kacau. Warga berhamburan dan saling berteriak satu sama lain begitupula ibunya yang entah sejak kapan sudah ikut bergabung bersama warga lainnya. Tubuhnya seakan kaku untuk bergerak, semua terjadi terlampau tiba-tiba. Ia hanya mengagguk saja kala ibunya berteriak meyuruhnya pulang dan menjemput sang adik.Berjalan bersama kedua temannya yang juga sama-sama masih bingung akan keadaan yang terjadi.

Hey ini terlalu cepat bukankah mereka baru saja berlarian layaknya anak SD namun kenapa keadaan tiba-tiba berubah menyeramkan begini.

***

Yeji kira kekurangan pangan akan menjadi hal terakhir penderitaan yang menimpa kehidupannya. Namun kebakaran yang tiba-tiba terjadi mematahkan asumsinya tersebut. Kepulan asap masih terlihat begitu pekat. Yeji mengintip lewat jendela dengan perasaan harap-harap cemas. Disampingnya Riki sudah tertidur lelap, anak itu mungkin lelah karena terlalu banyak bermain. Dan Yeji sedikit beryukur tentang itu.

 

Jari-jari lentiknya ia gigit kebiasaan buruk jika ia terlampau gugup. Perasaannya tak tenang sedari tadi apalagi melihat kepulan asap yang seakan tak mau menghilang. Ibu dan ayahnya masih disana membantu para warga menghentikkan si jago merah. Butuh waktu baginya untuk untuk memahami keadaan yang kini tengah berlagsung.

 

Yeji tidak tahu pasti apa penyebab utama kebakaran tiba-tiba itu terjadi. Akan tetapi melihat dri kejadian yang menimpa desanya akhir-akhir ini Yeji menebak pasti tak akan jauh-jauh dari dampak kemarau berkepanjangan yang menimpa desa. Terlebih cuaca hari ini memang begitu panas lebih panas dari hari-hari sebelumnya. Mungkin gelombang panas itulah penyebab utama kebakaran terjadi.

 

Otak pintar Yeji jadi berpikiran kemana-mana. Krisis air, krisis makanan ditambah kejadian sore tadi. Bukannkah sudah cukup menjadi alasan jikalau desa tempatnya bernaung ini sudah tidak bisa dipertahankan? Namun segala kenangan yang diciptakan disini sedikit mengusik pemikirannya. Mau bagaimanapun ia tumbuh dan besar dalam desa ini jadi ada sedikit rasa tidak rela jika segala pemikiran buruk yang sempat hinggap benar-benar akan menjadi kenyataan.Yeji menggeleng rebut. Tidak meskipun yeji mengharapkan hidup tenang bukan berarti ia ingin desa ini tak terselamatkan. Ia menghela nafas mencoba menghilangkan pemikiran buruknya. Menatap daun pintu berharap ayah dan ibunya datang membawa kabar baik.

Yeji tersentak kaget kala pintu yang ditunggu terbuka secara kasar. Naresh muncul dengan nafas terengah-engah.

“Cepet ambil barang kamu terus kita keluar dari sini!!” ujar pemuda itu panik

Yeji jadi ikutan panik “Kenapa!!?”

“Gak ada waktu Yeji!!” bentak pemuda itu.

Pada akhrinya Yeji mengikuti apa yang dikatakan pemuda yang beberapa bulan lebih muda darinya itu. Mengambil ponsel dan dompet miliknya dan milik kedua orangtuanya. Didepan pintu Naresh menunggu dengan Riki yang sudah berada dalalm gendongan pemuda itu. Wajah paniknya masihnya belum luntur. Yeji jadi ingin menangis saja rasanya karena merasa menjadi satu-satunya orang yang tidak mengetahui apapun.Tanpa aba-aba Naresh menarik Yeji dan membawanya berlari. Mau tak mau Yeji mengikuti langkah Naresh.

“Apinya gak bisa dipadamin sumber air terlalu jauh. Warga udah nyerah sekarang aja api nya udah mulai menjalar kerumah-rumah warga. Rumah Jeno jadi rumah pertama yang habis dilalap api” jelas Naresh disela-sela larinya

Yeji terkesiap kedua manik kembarnya menatap kepulan asap diujung jalan. Naresh benar Yeji bisa melihat sedikit kobaran api disana. Mungkin sebentar lagi akan terus merambat dan rumahnya juga akan ikut terbakar. Disaat seperti ini Yeji sudah tidak bisa berfikir positif.desanya mungkin akan benar-benar hancur dalan hitungan menit kedepan. Pemikiran itu mampu membuat air matanya mengalir tanpa diminta.

Diujung perbatasan ayah dan ibu langsung berlari menghampiri dan memeluknya erat. Keadaan mereka kacau kaos yang mereka gunakan basah dan penuh dengan debu hitam. Tak jauh berbeda dengan keadaan warga lainnya. Beberapa dari mereka duduk bersimpuh menatap nanar desa mereka yang perlahan dilalap api. Yeji menoleh mencari keberadaan Lia. Ia menemukan Lia tengah menatapnya sesegukan.

“Yeji rumah kita ji hikss”.

Iya Yeji mengerti. Tangannya mengusap-usap lembut punggung Lia yang bergetar, hilang sudah pemikiran positif yang coba ia tanamkan dalam kepalanya. Meskipun sudah memprediksi hal ini tapi kenapa rasanya tetap sakit melihat secara langsung tempatnya tumbuh benar-benar hancur. Sama persis seperti pemikiran buruk yang mati-matian ia singkirkan. Tempat ini pada akhirnya memang harus ditinggalkan. Seluruh warga meneteskan air mata seirama dengan kobaran api. Yeji semakin mengeratkan pelukannya pada Lia. Tak apa jika memang seperti ini pada akhirnya ia hanya berharap semoga kedepannya kehidupan indahlah yang akan senantiasa menyambutnya dimasa depan.

“Terus desa mama beneran mati gitu?” Yeji menhentikan bacaannya sejenak. Melirik putri kecilnya yang menatap penuh penasaran kearahnya. Senyuman Yeji merekah akan respon sang putri.

“Hu’um kebakarannya gede banget. Baru bisa berhenti karena bantuan dari desa sebelah yang manggil pemadam kebakaran”.

Tangannya tergerak mengelus surai kelam sang putri. Mengelusnya perlahan dengan penuh kasih sayang “Jadi dari cerita mama sekarang kakak tau kan apa yang harus kakak lakuin?”.

Yena mengangguk “Aku harus bersyukur udah diberi tempat tinggal yang jauh lebih baik dibandingin desa mama”.

“Heh kok gitu kata-katanya”. Yeji tetawa

“Loh bener kan?” jawab Yena seraya memiringkan kepalanya. Ia merasa tidak ada yang salah dengan pendapatnya itu.

“Iya-iya kakak bener. Lagi kakak harus bisa jaga alam tempat tinggal kakak sendiri jangan kabur terus kalau disuruh ikut pelestarian alam disekolah. Kakak harus bersyukur bisa tinggal ditempat yang alamnya masih bisa dibilang terjaga, kakak jadi gak usah repot-repot buat rawatnya. Kakak gak mau kan nanti jadi senasib sama mama”.

Yena mengangguk dengan wajah yang ditekuk mungkin kesal karena diberi wejangan oleh sang mama “Iya-iya nanti kalau perlu aku bantuin om Riki mungut sampah sekalian”

Lagi Yeji tertawa. Ia tau betul tabiat anaknya seperti apa. Anak itu mana mungkin mau bersentuhan dengan barang kotor tapi jika bukan sekarang kapan lagi ia akan memberi pelajaran pada anaknya tentang pentingnya alam? Tidak ada gunanya juga terus-menerus   menyalahkan manusia dimasa lalu yang diperlakukan saat ini adalah kesadaran diri meraka sendiri. Kesadaran untuk tidak melakukan hal yang sama dengan para manusia masa lalu dan lebih menyayangi bumi mereka.

Yeji bangkit tangannya yang terulur disambut senyuman bahagiaputrinya “Kapan-kapan deh mama ajak kamu lihat desa mama. Sekarang kamu bantu mama masak dulu bentar lagi mungkin papa pulang”

“Okeyyy mamaaaa” jawab Yena dengan anggukannya yang lucu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *