Cerpen #49: “Suara Alam dan Legenda”

Suara alarm berbunyi menandakan pagi telah tiba. Kubuka mataku dan kuhirup udara segar diluar. Dengan keadaan masih setengah sadar kubuat teh untuk memulai hari ini dan meminumnya di halaman depan rumah. Semilir angin pagi dan indahnya pegunungan membuat ku semangat untuk memulai hari. Tapi terdengar alarm lagi dan kini berbunyi lebih keras. Kubuka mataku dan sadar, itu semua hanyalah mimpi. Kubuat lagi teh ku namun kali ini aku tidak bermimpi. Aku keluar rumah dan banyak truk pengangkut pasir lewat di depan rumah. Ya itu adalah truk dari penambangan pasir di dekat rumah.

Oh iya namaku Bagas. Umurku 21 tahun dan aku adalah seorang mahasiswa jurusan desain komunikasi visual di salah satu universitas swasta di daerah tempat tinggalku. Saat ini aku sedang liburan sehingga aku meluangkan waktuku untuk pergi ke rumah kakekku di desa. Untuk sesaat aku ingin mengistirahatkan jiwa dan ragaku dari carut marutnya kehidupan kota. Tapi sepertinya kondisi disini sekarang sama saja. Aku lahir pada tanggal 3 Agustus 2122 dan sekarang adalah tahun 2143.

Kembali ke truk, jadi truk-truk pasir ini menganggkut pasir dari penambangan pasir di dekat rumah kakekku. Debu dari penambangan itu sudah cukup membuat tanaman-tanaman di sekitar tambang menjadi abu-abu karena tertutup debu pasir. Ditambah dengan truk yang 24 jam pasti ada yang datang atau pergi semakin menjadikan tempat ini panas dengan asap dan polusi. Kuurungkan niatku untuk minum teh diluar dan aku memilih masuk rumah dan menonton televisi. Aku suka menonton televisi di rumah kakekku karena disini ada tv tabung. Tv jenis ini menurutku unik karena aku bosan dengan tv jaman sekarang yang tipis semua. Kebetulan sekali berita di tv sedang memberitakan tentang banjir di kota tempat tinggalku. Kuhela nafas dan memaklumi hal itu karena kotaku sering sekali banjir, untung saja rumahku dua lantai jadi barang-barang penting bisa diletakkan di lantai 2, namun tetap saja setelah banjir ada agenda bersih-bersih rumah yang siap menantiku saat aku pulang liburan.

Aku merencanakan pergi ke rumah kakekku sebenarnya ada alasan lain. karena di tempat ini ada sebuah bukit yang tak terlalu tinggi namun cukup tinggi untuk didaki. Terpikirlah ide untuk melakukan sebuah pendakian kesana. Sudah kubawa barang-barangku dan sore ini aku merencanakan untuk melakukan pendakian. Lebih tepatnya aku start siang karena aku ingin menikmati sunset. “Gas, kakek keluar dulu ya beli sarapan.” Kata kakekku yang tiba-tiba datang. “Oke kek tapi belikan nasi kuning dong” Jawabku. “Oke siap” kata kakekku. Kubaca koran dan terlihat di headline halaman, kasus bencana alam dimana-mana. Sejujurnya dengan semua keadaan ini aku tidak terkejut. Bencana alam akhir-akhir ini marak terjadi. Mungkin bumi sudah lelah dengan pengrusakan yang manusia buat. Atau ini cara Tuhan untuk mengingatkan manusia serakah yang hanya ingin mencari keuntungan saja.

Siang hari telah tiba, aku bergegas berangkat setelah semua persiapan selesai. Tak lupa aku berpamitan dengan kakekku agar dapat uang saku eh maksudnya agar dapat doa restu agar selamat dan tiada halangan yang berarti. Kuberjalan diiringi truk pasir yang kadang ada-ada saja lewat. Sampai di gerbang pendakian aku sedikit terkejut, bukan karena tiket masuknya mahal namun karena tempat ini seperti tidak terurus sama sekali. Ada satu pendopo disini yang sepertinya dulu digunakan untuk tempat istirahat bagi para pendaki, namun saat ini tidak lebih seperti tempat uji nyali. Bangunannya tak terawat, sarang laba-laba dimana mana, dan pastinya sampah juga berserakan. Kuberjalan menuju tempat itu karena penasaran, dan ternyata disana ada vandal bertuliskan save the earth. Ya sebenarnya ada banyak vandal namun vandal yang satu ini menurutku cukup unik. Sebuah gambar bumi dengan tangan menadah dan tulisan save the earth menjadikan vandal ini berbeda dengan vandal lain yang kebanyakan hanya tulisan ejekan atau tulisan tanpa makna saja. Mengingat waktu semakin sore maka aku bergeas melanjutkan perjalananku. Tak seperti dugaanku, ternyata tempat ini tidak “Seindah” yang kubayangkan. Gersang itu adalah kata yang cocok untuk menggambarkan keadaan disini. Aku lumayan memaklumi itu karena tempat ini juga sudah tidak diurus dan masuk sini saja tidak bayar. Jadi tidak jadi apalah yang penting nanti dipuncak. Sepanjang perjalanan aku melihat banyak truk yang menganggkut pasir di  jalan bukit sebelah. Aku lumayan penasaran ketika melihat mobil box yang lewat disana. Tidak hanya satu, setidaknya aku melihat 5 mobil box yang entah dengan tujuan apa datang kemari. Akhirnya aku sampai diatas. Hmmm ternyata memang tidak seperti yang dibayangkan. Aku melihat tambang pasir disini yang ternyata lebih besar dari dugaanku, di sisi lain ada tempat yang sudah kering kerontang dan hangus terbakar. Ya tidak salah, sepertinya memang beberapa waktu yang lalu ada yang sengaja membakar sedikit kawasan ini. Memang jauh dari ekspektasiku yang kuharap bisa santai menikmati sore seperti bocah senja. Alih-alih santai aku justru kecewa dengan apa yang kudapat. Cape dan penat yang tidak terbayarkan dan melihat tempat-tempat ini yang semakin membuat diri ini tidak nyaman. Tiba-tiba saja ada dentuman keras. “Dummmm” aku terjatuh dan mencoba berdiri lagi. Dentuman itu terjadi sekali namun cukup untuk membuat ku was-was. Setelah kurasa cukup aku memutuskan untuk turun. Tentunya aku tidak ingin terlalu malam karena aku sedang tidak ingin melakukan uji nyali di pendopo tempat awal pendakian. Ditengah perjalanan pulang aku melihat sebuah cahaya yang cukup terang dan ternyata itu berasal dari tempat yang terlihat seperti kubah. Aku penasaran dan kuamati lagi tempat itu, ternyata disana tempat mobil box yang tadi aku lihat. Tempat itu terlihat seperti pabrik. Rasa penasaranku muncul, untuk apa ada pabrik di dekat gunung berapi. Yasudahlah nanti aku akan mencoba bertanya kepada kakek. Dan aku kembali melanjutkan perjalannku. Waktu menunjukan pukul 6 sore dan jalanan sudah gelap. Aku menghidupkan senterku untuk penerangan. Tak lupa aku menhidupkan gps yang bisa memanduku ke arah awal tempatku berangkat tadi. Untuk masalah perlengkapan aku pasti siap. Apalagi ini adalah alat-alat “Wajib” untuk mendaki sekarang. Akhirnya aku sampai di pendopo tadi dan benar saja tempat ini benar-benar membuat bulu kuduk menjadi berdiri. Kulanjutkan perjalannku dan akhirnya aku sudah sampai di jalan aspal. Aku berjalan dan rumah kakekku sudah terlihat di depan.

Masuk ke rumah kemudian membersihkan diri adalah hal pertama yang kulakukan. Bau rebusan ayam dan seduhan kopi hitam benar-benar menjadi obat penenang pada malam itu. Kakekku selalu bisa membuat santapan yang mantap. Segera setelah mandi aku makan bersama kakekku dan setelah itu aku masuk kamar dan beristirahat.

Pagi telah tiba, kubuka mataku dan kutatap langit-langit kamar ku. Apa yang sedang terjadi disini, itulah pertanyaan yang kuulang sembari memainkan bola kecil ditanganku. Dentuman kemarin terus saja berputar di kepalaku. Apakah mungkin akan ada erupsi sebentar lagi. Tok-tok-tok suara ketukan kakek pada pintu kamarku membuyarkan lamunanku. Aku bangun dan segera membuka pintu. Kakekku menawariku untuk sarapan, aku pun langsung turun dan bergegas untuk mencuci muka kemudian sarapan. Aku bercerita kepada kakekku tentang kejadian kemarin. Tentang dentuman yang kudengar dan juga pabrik yang kulihat kemarin. Kakekku menjawab kalau disini memang sering terjadi dentuman misterius. Kata kakekku dulu disini ada legenda tentang seekor monster. Katanya kalau terjadi dentuman tandanya si monster sedang marah. Kakekku langsung tertawa, membuyarkan aku yang sedang serius mendengarkan. “Sudahlah, itu Cuma cerita dongeng saja, gausa dipikir serius.” Kata kakekku. “Yee kakek malah bercanda, aku aja serius merhatiin.” Tambahku. “Iya-iya maap-maap, tapi kalau dentuman itu memang sering terjadi. Pernah ada peneliti yang meneliti, namun masih belum jelas suara apa itu.” Kata kakekku. “Oh iya kek, kalau pabrik di sebelah barat bukit itu pabrik apa ya kek?” Tanyaku. “Kakek kurang tau tapi itu sedikit dirahasiakan, katanya itu perusahaan penelitian atau gimana kakek juga kurang tahu.” Jawab kakekku. “Kamu jangan main kesana bahaya nanti bisa kena masalah.” Tambah kakekku. “Masa rahasia kek, ini kan daerah kita masa kita ndak tau apa yang mereka lakukan disini.” Jawabku setelah merasa kita wajib tau apa yang sedang terjadi. “Hanya beberapa orang saja yang tau, itupun paling kalau ditanya juga ga jawab. Dulu kakek juga kaya kamu, tapi lama kelamaan yaudah lah.” Jawab kakekku. “Kakek mau berangkat dulu ya, udah siang. Kamu nanti kalau keluar jangan lupa kunci pintu.” Kata kakekku sembari bangkit dari kursi menuju ke kamarnya untuk berangkat bekerja. “Baik kek.” Jawabku. Kakekku bekerja sebagai petani. Mengerjakan lahan sawah yang tidak terlalu besar menjadikannya bisa melakukan ini seorang diri. Kata kakekku disini dulu banyak petani, namun setelah ada tambang pasir banyak orang lebih memilih jadi kuli disana karena bayaran yang lebih besar daripada keuntungan mereka sebagai petani. Mendengar jawaban kakekku aku jadi semakin penasaran dengan tempat apa sebenarnya itu. Aku mencoba menunggu salah satu mobil box itu lewat. Lama sekali kutunggu hingga akhirnya lewat. Namun, sayang tidak ada tanda-tanda nama dari perusahaan ataupun petunjuk untuk membawa jalan terang. Aku mencoba cara lain dengan membuka internet, aku cari-cari namun hasilnya juga nihil. Aku kemudian ingat pernah membawa binocular yang aku bawa dari kota. Binocular ini adalah varian terbaru dan salah satu model paling canggih saat ini. Salah satu equippment untuk mendaki gunung. Ya aku memang suka mengoleksi benda utilitas seperti itu. Aku terfikirkan ide untuk kembali mendaki bukit dan melihat dari atas. Namun sepertinya tidak hari ini karena aku masih capek.

Karena bosan dirumah akhirnya aku memutuskan untuk keluar rumah membawa sekuter model lama di garasi kakek. Kudorong sekuter itu keluar dan kukendarai. Saat dijalan aku lupa membawa masker. Betapa banyaknya asap dan debu dari truk pasir akhirnya membuatku berputar balik untuk mengambil masker. Kulihat jalan sepanjang desa dan aku benar-benar melihat banyak perbedaan dari foto di album lawas milik kakek. Kata kakekku dulu desa ini hijau dan asri. Apalagi jalan-jalan yang rusak karena dilalui truk besar membuatku semakin tidak nyaman. Aku berhenti di salah satu mini market untuk membeli makanan, sebenarnya tidak ada rencana tapi yasudahlah buat cemilan dirumah. Didekat minimarket itu ada tempat seperti gazebo, namun benar-benar kotor. Tempat ini penuh dengan puntung rokok dan botol-botol minuman keras. Aku masuk dan kondisi minimarket ini nampaknya juga kurang baik, karena seperti tidak terawat. Barang-barang memenuhi tempat ini. Setelah lumayan kesusahan mencari aku pun melanjutkan perjalananku. Aku teringat kemarin melihat hutan habis terbakar dan aku pun ingin melihatnya secara langsung. Saat tiba disana ternyata tempat itu lebih parah dari yang kulihat dari atas bukit. Aku tidak tahu mengapa tempat itu bisa terbakar. aku mencoba mengelilingi tempat itu. Semua habis terbakar. tidak ada kehidupan. Seketika ada ide untuk pergi ke pabrik kemarin, mengingat lokasinya yang sangat dekat dengan tempat itu. Tapi rencana itu harus urung aku lakukan lantaran bensin ku habis. Yaudah akupun pulang sambil mengisi bensin di jalan. Harga bensin sekarang sangat mahal. Menurut berita yang aku ikuti kabarnya minyak bumi sekarang sedang langka. Para peneliti berlomba-lomba untuk menciptakan energi baru. Beberapa juga ada yang meneliti tentang alat transportasi berbasis listrik. Akan tetapi sepertinya masih dibutuhkan waktu lama untuk hal itu. Aku jadi ingin pindah ke Planet Mars. Di tahun ini manusia sudah bisa mengembangkan peradaban di Planet Mars. Akan tetapi biaya untuk bisa tinggal disana juga sangat mahal. “Dummmmm” dentuman itu terdengar lagi. Karena kemarin sudah mendengarnya dan setelah mendengar cerita kakek aku tidak terlalu terkejut lagi. Masih setengah jalan tiba-tiba hujan turun. Cukup deras dan memaksaku untuk berteduh karena lupa membawa jas hujan. Semakin sore hujan tidak reda. Dengan nyali akupun gas lagi motor kakekku. Yang kutakutkan sebenarnya adalah motor ini mogok sebelum sampai ketempatnya. Tetapi untungnya aku bisa sampai rumah, ternyata kakek sudah dirumah. Aku langsung mandi dan berganti pakaian. Setelah itu terdengar suara longsoran tanah. Dan ternyata bukit yang kemarin aku daki longsor. Aku melihatnya dari jendela. Aku jadi lumayan takut malam itu. Tapi untungnya kakek menenangkanku. Dia meyakinkan kalau kita aman. Aku merasa liburan ini tidak terasa seperti liburan, bahkan mungkin lebih enak aku di kota saja menghabiskan waktuku bermain game dikamar, dengan AC dan jaringan internet, aku bisa menghabiskan hari tanpa khawatir ini itu. Sedangkan disini kalau malam dinginnya bukan main, aku sampai memakai jaket dan selimut untuk tidur. Sedangkan kalau siang panasnya ga karuan. Perbedaan malam dan siang disini memang begitu ekstrim. Kata kakekku dulu saat ia masih kecil tidak ada perbedaan yang ekstrim. Perbedaan suhu ini muncul 10 tahun terakhir. Kata kakekku jaman sudah berubah. Aku pun masuk ke kamarku dan mencoba untuk tidur.

Suara radio kakek membangunkanku dari tidurku. Segera aku menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Tak lupa juga kusantap sarapan yang sudah disiapkan kakek. Setelah selesai semua aku kembali ke kamarku dan mengamati longsoran bukit kemarin. Rasa penasaranku mendorongku untuk datang kesana. Awalnya aku agak ragu, namun akhirnya aku meyakinkan diri dan berangkat. Kukayuh sepeda kakek dan langsung berangkat. Aku tak ingin menggunakan sekuter kakek lagi karena aku takut nanti akan kehujanan lagi. Sesampainya di lokasi ada beberapa orang disana. Untung saja dari kejadian kemarin tidak ada korban jiwa. Maklum saja karena tempat ini jauh dari pemukiman warga. Tekstur tanah yang kurang kokoh, hutan yang gundul serta curah hujan tinggi diduga menjadi penyebab dari longsor ini. Aku penasaran dan melihat-lihat sekitar bukit itu. Pendopo ngeri yang kemarin aku lihat sekarang sudah rusak karena sebagian terkena longsoran bukit. Aku melanjutkan langkahku dan kudapati sebuah batu yang kemarin tidak aku lihat. Aku berasumsi kalau batu ini pasti kemarin tertimbun tanah dan sekarang karena longsor maka batu ini jadi muncul ke permukaan. Besar dan lonjong adalah gambaran umum dari batu itu. Terdapat motif seperti tulisan kuno pada batu itu. Aku tak tahu tulisan apa itu namun sepertinya ini bukan batu biasa. Mungkin lebih tepatnya seperti prasasti. Tak tunggu waktu lama aku segera menuju ke orang-orang tadi untuk bertanya. Kata salah seorang disana mungkin ini memang batu prasasti karena tempat ini ada sebuah cerita legenda. Aku mencoba bertanya tentang legenda apa itu dan orang itu kurang tahu. Ia berkata kalau legenda itu sudah tidak ada yang tahu. Kalaupun ada pasti sudah berbeda cerita. Jujur saja sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan legenda setelah kemarin cerita kakek, jadi aku tinggalkan saja batu itu. Orang-orang tadi sepertinya berusaha memindahkan batu itu ke tempat yang lebih layak. Akupun pulang ke rumah kembali. Sesampainya di rumah udara panas dan gerah adalah suasana yang tersaji siang itu. Kunyalakan hp ku dan kudapati banyak notifikasi masuk, aku buka satu persatu sambil menghabiskan hari secara malas siang itu. Seketika aku ingat pabrik itu. Dan aku sadar aku tidak bisa lagi meneropong karena bukit itu telah longsor.

Truk dari tambang tak henti-hentinya membuat suara bising. Siang ini begitu banyak truk yang lalu lalang menjadikan diriku tidak bisa menghabiskan waktu siangku untuk tidur siang. Aku bangun dengan rambut berantakan dan beranjak ke kamar mandi. Tiba-tiba saja panggilan alam memanggilku dan aku tidak bisa lagi menahannya lebih lama. Setelah semua hutang alam kutunaikan rasa lega akhirnya datang. Dari semingguan disini baru ini rasa lega yang kurasakan. Aku membuka laptopku dan mencoba melihat beberapa project kuliah ku untuk semester depan. Rasa malas menghampiriku dan memenangkan hatiku. Seketika aku tutup file tadi dan mulai membuka media sosial. Untuk sekedar mengisi kebosanan dan mengalihkan pikiran. Hawa panas disini lama-lama tidak tertahankan. Aku keluar dan berusaha mencari udara segar. Kudapati sebuah toko kelontong kecil yang kebetulan juga menjual makanan ringan. Aku datang dan memesan beberapa menu makanan. Sembari makanan kuhabiskan aku menyempatkan diri untuk mengobrol dengan pemilik toko. Kucoba mencari informasi mengenai pabrik, namun hasilnya juga ia tidak tahu. Hanya saja ia pernah dengar kalau katanya itu bukan pabrik, melainkan seperti penelitian tambang atau apalah itu. Kabarnya mereka sedang melakukan pengeboran di dalam sana. Namun, ia sama sekali tidak dapat memastikan info itu. Setelah selesai makan aku berterima kasih padanya dan kembali ke rumah kakek. Info yang masih abu-abu dari pedagang tadi jujur saja membuka sedikit tabir bagiku. Menurutku dari pengamatan yang kulakukan sejauh ini sepertinya cukup masuk akal jika mereka melakukan pengeboran.

Sore hari tiba dan kali ini truk-truk tambang benar-benar membuatku geram. Pasalnya terjadi kemacetan dan membuat udara disini menjadi penuh polusi. Akhirnya setelah mengambil nafas cukup panjang aku berusaha untuk bersabar. Sepertinya ini lebih tepat dibilang ujian daripada liburan. Merasa semakin gerah akhirnya aku memutuskan untuk mandi. Akan tetapi saat kunyalakan air dari keran tidak menyala. Ini ketiga kalinya aku ingin menyalakan air tapi tidak menyala. Akhirnya dengan kepasrahan kuurungkan niatku untuk mandi. Aku duduk dan teringat kalau dikota saja aku kesusahan air untuk mandi. Bahkan sekarang air seperti barang mewah. Apalagi sekarang hanya di desa. Yah apa boleh buat. Meskipun terkadang di kota ada kalanya kami justru kelebihan air. Yak tepat sekali saat banjr yang kumaksud. Aku menjelajahi sudut rumah kakek dan kudapati sebuah buku. Buku itu terlihat usang dan sudah lama. Bahkan masih menggunakan ejaan jadoel. Kubaca dan ceritanya lumayan menarik. Judul dari buku ini adalah Dentuman Alam. Ada dari cerita buku ini mirip seperti legenda yang kemarin diceritakan kakek. Katanya kalau ada dentuman tandanya monsternya sedang marah. Aku membaca sambil menahan tawa. Katanya dulu ada seorang manusia yang memonopoli pertanian disana. Sampai-sampai meluaskan sawahnya sampai ke berbagai wilayah. Namun sayang sang penjaga alam tidak merestuinya. Dan berujung pada murkanya sang penjaga alam. Hingga seluruh pertanian orang tadi hancur. Kuletakkan kembali buku itu dan kubuka ponselku sembari melihat notifikasi. Alangkah terkejutnya aku ternyata suhu disitu sangat panas. Saat itu saja mencapai 37 derajat celcius. Kuhela nafas dan mencoba memaklumi keadaan.

Esok pagi tiba dan mentari mulai menampakkan sinarnya. Kusambut pagi ini dengan suka cita meskipun suasana disini masih sama saja. Bahkan semakin hari rasanya truk semakin banyak, selain itu mulai muncul kebisingan alat-alat tambang yang sempat membuat aku terjaga di malam hari. Kulakukan aktifitas pagi seperti biasanya dan tak lupa aku membaca koran pagi itu. Tak bosan-bosan berita koran selalu mengabarkan tentang bencana alam. Kuhela nafas sembari menyantap hidangan pagi yang disiapkan kakek. Kalau urusan masak memasak kakekku andalannya. Setelah semua selesai aku berjalan-jalan disekitar desa. Kutemukan sebuah bangunan yang ternyata adalah sebuah toko makanan. Toko ini sepi dan hanya ada satu orang saja dimana dia sepertinya adalah pemilik toko. Kuhampiri dia dan aku mulai ngobrol dengan dia. Namnya Pak Praja dan dia adalah seorang bapak-bapak separuh baya. Tak terasa kami sudah mengobrol tentang banyak hal. Orangnya asik serta ramah menjadikan pembicaraan ini sangat menarik. Ternyata yang dia jual disini adalah kari ayam. Tak pernah tahu maka kucobalah makan. Aku juga bertanya sebelum berjualan ini ia bekerja sebagai apa. Alangkah terkejutnya aku ternyata dulu dia bekerja di pabrik yang misterius itu. Tak tunggu lama akupun bertanya-tanya tentang pabrik itu. Kata dia pabrik itu sedang mengeksploitasi sebuah batu mulia yang sangat langka. Upah dari ia bekerja di pabrik itu juga tidak tanggung-tanggung. Akupun menjadi bingung kenapa ia memutuskan untuk resign. Dia menjelaskan kalau bekerja disana benar-benar melelahkan. Selain itu menurutnya apa yang orang-orang disana lakukan sudah berlebihan. Mereka mengeksploitasi tempat itu secara habis-habisan. Bahkan kata dia keuntungan dari pabrik itu sangat tinggi. Wajar saja yang mereka gali disana adalah barang langka. Ia berkata mereka disana menggunakan semacam alat bor besar. Dimana bahan bakar dari bor itu adalah hasil olahan minyak bumi. Kata dia polusi yang dihasilkan juga membuat daerah sekitar sini menjadi panas. Kata dia meskipun dapat upah yang besar namun ia merasa apa yang mereka lakukan disana berlebihan. Oleh karena itu dia keluar dari pabrik itu. Makanan telah habis kusantap dan aku izin berpamitan padanya.

Sekarang semuanya mulai masuk akal. Ternyata pabrik itu hanyalah orang-orang berbisnis yang ingin mengeksploitasi alam secara berlebihan. Mereka hanya mengejar keuntungan belaka tanpa memerhatikan lingkungan sekitar mereka. Apalagi sekarang Negara mulai memberlakukan kebijakan yang menguntungkan investor. Dimana AMDAL mulai tidak lagi diperlukan dalam pendirian sebuah tambang. Aku mencoba browsing dan membuka mengenai batu mulia apa yang sebenarnya mereka gali. Setelah mengingat dari kata bapak tadi akhirnya aku menemukannya. Dan benar saja bukan hanya langka lagi. Batu ini hanya ada disini dan satu-satunya. Ditemukan sekitar 5 tahun lalu dan setelah melalui penelitian selama 3 tahun akhirnya mereka mulai menambang dan menjadikan itu sebagai sebuah kegiatan usaha penambangan.

Esok harinya suara ketukan palu memukul paku membuyarkan aku dari mimpiku. Kubuka mataku dan kulihat kamarku. Sembari merapikan rambut aku berdiri dan bergegas ke kamar mandi untuk membuang sisa metabolisme. Selesai menunaikan hajatku aku berjalan ke kamar makan untuk menyiapkan secangkir teh untuk memulai hari. Tiba-tiba wushhhh sebuah angin cukup kencang bertiup dan berhasil membuka pintu depan dan membantingnya. Membuat diriku yang saat itu masih setengah sadar menjadi sadar sepenuhnya. Dan angin bertiup lagi dan lagi. Aku keluar menuju pintu dan melihat beberapa motor di parkiran dekat rumah sudah bergelimpangan dengan rapi di aspal jalan. Tidak biasanya terjadi angin sekencang ini. “Ah badai lagi dong.” Gumamku. Setelah itu terdengar lagi suara dentuman yang biasanya terjadi. Entah hanya perasaanku saja atau kali ini terasa lebih keras. Dan terdengar lagi dan lagi hingga 5 kali. Setelah mendengar cerita Bapak Praja, aku berasumsi kalau suara itu datangnya dari pabrik. Wajar saja karena biasanya orang-orang melakukan pengeboman untuk memperluas area tambang. “Kalau seperti ini rasanya sudah keterlaluan sih penambang itu.” kesalku karena merasa dirugikan atas adanya penambangan yang terjadi. Kembali aku ambil teh yang sudah jadi aku buat sambil meminumnya didepan TV. Sesekali aku membuka ponselku untuk membalas pesan dari temanku. Suara pintu terbuka dan kakek datang. Kakek terlihat sangat panik dan gelisah. “Ada apa kek?” tanyaku. “Ingat dengan pabrik yang kemarin kamu tanyakan?” tanya kakekku. “Ehem iya aku ingat, ada apa memangnya.” Balasku. “Tanah samping pabrik itu ambles dan menciptakan sebuah lubang yang besar.” Jawab kakekku. Aku langsung terkejut dan asumsiku pasti benar kalau dentuman ini pasti ulah tambang itu. Segera kutinggalkan TV dan kukayuh sepeda menuju ke tempat itu karena penasaran. Banyak orang sudah berkerumun disana dan benar saja lubang itu sangat besar, bahkan bagian dasar dari lubang itu tidak terlihat. “Sukurin tau rasa lu, mentang-mentang cari duit gali tambang sembarangan.” Gumamku. Beberapa unit kendaraan yang sepertinya adalah pihak berwajib datang dan segera mengamankan lokasi itu. Merasa sudah tidak ada yang penting disana beberapa orang mulai meninggalkan lokasi itu. karena sudah cukup puas juga akhirnya aku juga bergegas pulang. Saat dijalan angin kencang masih saja bertiup dan aku hampir beberapa kali kesusahan mengendalikan sepedaku. Saat ditengah jalan tiba-tiba ada gempa terjadi. Meskipun Cuma sebentar gempa itu sukses membuat ku jatuh dari sepeda. Tidak ada kerusakan berarti dari gempa itu karena memang cuma sebentar meskipun terasa cukup kuat. Sesampainya dirumah kulanjutkan lagi menonton TV. Tiba-tiba saja gempa terjadi lagi. Segera aku dan kakekku keluar dari rumah. Lagi-lagi gempa kali ini cuma sebentar. Saat diluar aku melihat ke sisi selatan dan awan hujan sudah terlihat. Tak butuh waktu lama tiba-tiba terjadi sebuah badai. Banyak kebocoran di rumah kakek sehingga mau tidak mau aku membantunya menaruh ember di setiap tempat kebocoran. Badai ini semakin lama bukannya semakin reda akan tetapi malah semakin gila. Kulihat dari jendela dan kudapati beberapa pohon-pohon tumbang karena badai. Saat itu kilat juga menyambar-nyambar bahkan nyala listrik pun langsung padam. Tiba tiba saja GUBBRAKKK. Sebuah pohon menimpa garasi milik kakek dan sukses membuat bangunannya ikut rubuh sebagian. Kakek keluar dan berusaha mengamankan motornya, kakek tahu betul kalau kehujanan seperti ini pasti motornya bakalan rusak. Ditengah tengah badai aku mencoba membuat coklat panas sembari menenangkan diri. Aku dan kakek berbincang-bincang di ruang makan sembari badai mengamuk diluar. Kakek bercerita tentang banyak hal. Dan cerita kakek jujur saja sangat menarik. Waktu berlalu dan badai masih saja berlangsung. Ini sudah jam 7 malam dan aku berusaha untuk menghangatkan diri dengan jaket dan selimut. Listrik masih juga belum menyala dan hal itu berlanjut semalaman. Esok paginya badai telah berakhir. Aku keluar dari rumah dan kulihat kondisi sudah porak poranda dimana-mana. Bukit-bukit di sekitar rumah beberapa ada yang longsor, pohon-pohon tumbang, serta pada beberapa bagian kota air masih menggenang.

Beberapa jam berlalu dan sepertinya langit kembali menunjukkan kalau akan terjadi badai lagi. Angin kembali bertiup kencang dan suasana semakin mencekam. Setelah selesai memindahkan barang dari garasi kakek yang kemarin berlubang karena tertimpa pohon, aku segera masuk ke dalam rumah. Kulihat dari jendela kamarku dan terlihat sekali sepertinya alam akan mengamuk lagi. DUARRRR sebuah kilatan petir menyambar lubang di samping pabrik. Seketika saja langsung terjadi hujan badai yang sangat dahsyat. Lebih dahsyat dari kemarin. Saking dahsyatnya beberapa rumah sampai roboh terkena amukannya. Firasatku mulai tidak enak. Segera aku berlari turun dan mencari kakek dimana. Kutemukan kakek dan segera aku berfikir bagaimana cara menyelamtkan diri. Belum selesai aku menemukan cara untuk lari tiba-tiba saja terdengar suara yang sangat aneh. Suara itu seperti suara gema. WRAHHHHHH suara itu terdengar lagi dan lagi. Membuat diriku semakin panik dan bingung sejadi-jadinya. Akhirnya dengan nekat aku ajak kakek naik motor dan bergegas pergi dari tempat itu. Badai terus mengguyur dan aku sudah tidak peduli lagi, ini pasti akan ada sesuatu yang buruk. DUMMMMM DUMMMM suara dentuman terdengar lagi disertai dengan getaran tanah yang sukses membuat aku dan kakekku jatuh dari motor. Untungnya kami tidak apa-apa. Banyak orang berlarian kesana kemari, mereka panik sejadi-jadinya. Tak pikir panjang aku juga langsung mengajak kakek untuk lari. Tak tahu arah aku tidak peduli yang penting aku berlari menjauh dari tempat itu. Aku tak menghiraukan lagi barang-barangku atau apalah itu. Aku ingin menyelamatkan diri. Tiba tiba terjadi gempa yang sangat kuat. Sontak hal itu membuat kami semua yang sedang berlarian menyelamatkan diri terjatuh. Tanah kemudian membentuk sebuah retakan dan saling bertemu di area sekitar pabrik. Menciptakan sebuah kubangan besar yang siap menelan apa saja kedalam sana. Pabrik yang semula kokoh berdiri akhirnya lenyap ditelan bumi. Tak berjenjang lama gunung berapi tiba-tiba saja bergetar. Gunung mulai erupsi dan memuntahkan segala isinya. Aku berlari bersama kakek tak tahu arah dan tujuan. Dengan satu keyakinan pasti untuk melarikan diri. Saat tengah berlari aku melihat sepeda motor yang masih ada kuncinya yang sedang tergelatak di tengah jalan. Tak pikir panjang segera kuambil dan kuajak kakek menggonceng. Kutarik gas nya dan segera menuju arah yang berlawanan dari gunung itu. Gunung terus terusan memuntahkan lava dan menerbangkan batu batu dari dalam kawah ke angkasa. Menciptakan seolah-olah seperti hujan meteor. Batu batu api itu jatuh ke segala arah. Dengan keyakinan yang ada aku terus berusaha menghindar dan menuju ke tempat aman. Langkah kami harus terhenti di tengah jalan lantaran jalanan sudah hancur. Memaksa kami mengambil jalan memutar yang mau tidak mau harus berjalan kaki atau berlari. Aku terus berlari dan semua perasaan sudah campur aduk. Aku hanya ingin selamat. Tiba -tiba suara dentuman terdengar dan kali ini bukan hanya dentuman. Tanah yang kami injak ikut bergetar sehingga membuat kami terjatuh. Dari dalam kubangan dekat pabrik kemudian muncul batu yang menyerupai tangan ke angkasa. Batu itu sangat besar dan dihiasi oleh permata yang selama ini ditambang. Menghunus tinggi ke angkasa, dan memecah lebatnya badai. Kemudian menjatuhkan diri menghancurkan segala sesuatu yang tertimpanya. Saat itu juga aku sadar mulai dari dentuman, buku cerita di rumah kakek dan batu prasasti kuno semua itu berhubungan. Dan kini aku melihat sendiri legenda itu benar adanya. Ia hadir karena “Dibangunkan” oleh ketamakan manusia. TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *