Cerpen #47: “Lelaki-Lelaki Pewarna Taman”

Warga Gang Mufakat gempar. Gunawan seorang pengusaha armada bus antarkota yang tinggal di kompleks elit di perbatasan kota, ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa oleh warga. Jasadnya mengapung di Sungai Ilung, yang mengalir tidak jauh di belakang Taman Batuah. Sungai Ilung merupakan pecahan kecil dari Sungai Martapura yang mengalir di belakang rumah warga Gang Mufakat. Sampai hari ini, kematian tragis Gunawan menimbulkan teka-teki yang belum terjawabkan bagi keluarganya dan warga Gang Mufakat. Penyebab kematiannya masih dalam penyelidikan pihak yang berwajib hingga kini. Banyak yang mendoakan, misteri kematian lelaki yang dikarunia tiga anak itu lekas terkuak.

Terkait kasus itu, maka Samsiarlah orang yang pertama kali diciduk oleh polisi. Karena terakhir kalinya, korban terlihat bersama Samsiar. Dampak dari itu banyak yang berkata, taman kecil di depan gang tidak akan terawat lagi jika Samsiar lama ditahan. Tidak sedikit pula yang memprediksi beraneka tanaman buah dan bunga di taman rawa-rawa itu kemungkinan akan layu dan mati apabila Samsiar ditangkap. Karena di tangannyalah, lahan berawa-rawa yang ditumbuhi semak belukar menjadi sebuah taman yang indah dan cantik. Beraneka macam tanaman buah seperti sirsak, jambu air, jambu biji, sawo, mangga, dan belimbing tumbuh subur dan rindang. Lebih empat puluh macam tanaman hias, baik yang berbunga atau tanaman yang berdaun cantik turut memperelok taman itu. Di antara tanaman hias itu, ada pula yang ditanam dalam pot. Entah apa alasan Samsiar, mengapa ia memberi nama taman itu yaitu Taman Batuah.

Untuk semakin mempercantik Taman Batuah, Samsiar membuat tiga buah gazebo sebagai tempat bersantai bagi warga yang ingin bersantai. Rawa-rawa yang dibersihkannya, sehingga berubah  menjadi kolam yang cantik, yang di dalamya tumbuh subur teratai putih dan teratai merah. Semua tanaman buah ditanam dengan jarak tepat. Begitu pula dengan tanaman hias, ditata rapi pula sehingga sedap dipandang mata. Anak-anak juga senang dan betah bermain di Taman Batuah.

Menyulap lahan yang ditanami rerumputan liar menjadi sebuah taman yang eksotis, tentunya membuat Samsiar merogoh kocek yang tidak sedikit. Tetapi demi hobi dan kesenangannya, Samsiar tidak mempermasalahkannya. Samsiar juga tak segan-segan membelikan bibit-bibit tanaman untuk warga di Gang Mufakat supaya mereka juga senang bertanam di pekarangan rumah masing-masing. Sehingga tidak mengherankan sejak kehadiran Samsiar,  Gang Mufakat menjadi gang yang hijau dan rindang.

Samsiar juga tak bosan-bosannya mengkampanyekan pengurangan penggunaan plastik kepada warga yang berkunjung di taman. Ia juga tak malu, memunguti sampah-sampah plastik di sepanjang gang dan di sungai.

Kalau Samsiar rela mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya untuk Taman Batuah, bagaimana dengan keadaan di pekarangan rumahnya? Wah, tak perlu dipertanyakan. Rumah  Samsiar yang berbentuk minimalis dengan pekarangan yang cukup luas tampak seperti istana mungil di tengah-tengah taman bunga. Tidak sejengkal tanah pun terlewatkan, tanpa ditumbuhi tanaman. Ia sangat tekun dan telaten merawat semua tanamannya.

Dua hari yang lalu. Samsiar tampak duduk termenung di sebongkah batu di sudut taman. Hampir seharian, ia hanya berdiam diri. Warna wajahnya keruh. Ia memegang gunting taman. Tetapi hanya dipegangnya saja. Serok dan sapu lidinya masih tergeletak, di tempat yang sama. Tatapannya layu, menyapu ke arah orang yang berlalu lalang di jalan raya. Beberapa anak kecil yang bermain di taman itu, tak dihiraukannya. Padahal biasanya, sambil merawat tanamannya, Samsiar menemani mereka bermain atau bergurau. Apakah gerangan sehingga lelaki yang menyukai gangan kalakai dan iwak papuyu babanam itu, bersedih?

Beberapa hari yang lalu, Gunawan menemui Samsiar di taman. Ia memarkir mobilnya di tepi jalan, tak jauh dari taman. Beberapa saat kemudian, tampak keduanya terlibat dalam pembicaraan yang serius. Tidak ada senyum dan tawa yang tercipta di antara kedua lelaki itu, kala itu.

“Kau yang menanam benihnya. Mengapa aku yang memikul akibatnya ?” Tanya Samsiar tidak terima.

“Hanya kamu yang dapat menolongku. Kau duda. Siapa saja tidak akan mempermasalahkan jika kau menikah lagi,” timpal tamu Samsiar.

Samsiar mendengus. Ia memukul-mukulkan cetoknya ke tanah.

“Aku hanya memintamu menikahi Juwita secara agama. Setelah anak yang dikandunginya lahir, kau boleh menceraikannya. Segala biaya pernikahan dan biaya hidup Juwita dan anaknya, aku yang menanggung.”

“Maaf, aku tidak bisa menolongmu!” Samsiar berdiri dari duduknya.

“Dua puluh juta!”

Wajah Samsiar memerah.”Aku memang pegawai rendahan, tapi aku tak rela menggadai kehormmatan!”

“Tiga puluh juta.”

“Pulanglah Gunawan. Cobalah berterus terang kepada istrimu tentang apa yang telah kau lakukan terhadap Juwita.” Samsiar mulai berjalan dengan maksud meninggalkan Gunawan.

“Jika kau tidak peduli, maka dampak buruk  akan  menimpa  bisnisku.  Begitu pula dengan keluargaku, mereka akan malu!” Suara Gunawan meninggi.

“Mereka akan malu karena kau tidak sebaik yang mereka kira.” Samsiar tersenyum sinis.

“Terserah apa katamu. Aku tidak akan berkelit. Tetapi, demi persahabatan kita, tolonglah aku!”

“Justru karena kau adalah sahabatku, maka aku tidak mau memenuhi keinginanmu. Jika aku  menikahi Juwita, maka aku tidak berbeda dengan dirimu.”

“Apakah kau lupa, akulah yang membuatmu bekerja di tempatmu sekarang sehingga kau bisa hidup berkecukupan.” Ungkap Gunawan datar.

Samsiar terkejut. Seketika jantung Samsiar berdebar kencang. Wajahnya bagai baru saja ditampar.  Ia menatap Gunawan dengan tajam.

“Aku tahu kau seorang yang pandai membalas budi.” Gunawan tersenyum kecil. Ditepuknya  pundak kanan Samsiar tiga kali. Setelah itu, ia berpaling meninggalkan Samsiar yang tak sepatah pun berkata.

***

“Om Sam, Nindy dan Oline dapat tugas dari guru di sekolah. Kami diminta mewawancarai seorang aktivis lingkungan,” kata Nindy setelah ia dipersilakan oleh Samsiar duduk di rerumputan taman, di bawah rindangnya pohon belimbing.

“Saya bukan aktivis lingkungan.” Samsiar tertawa lepas, sambil membenarkan maskernya yang sedikit melorot ke bawah hidung.

“Tetapi banyak yang bilang, Om adalah pecinta lingkungan.” Timpal Oline ragu.

“Oke, oke jangan loyo begitu. Om akan menuruti apa yang kalian inginkan. Coba katakan apa yang bisa Om bantu?”

Kedua siswi sekolah menengah pertama itu saling pandang, dan berbarengan mengangguk. Nindy dan Oline merupakan anak kompleks di seberang Taman Batuah.

“Begini Om, Nindy mau bertanya. Apakah Om setuju bahwa dunia sekarang terjadi krisis iklim?”

“Saya sangat setuju. Saat ini krisis iklim dialami masyarakat di seluruh dunia. Hal ini disebabkan adanya perubahan iklim. Perubahan iklim terjadi ketika suhu rata-rata bumi meningkat dalam jangka waktu yang lama. Meningkatnya suhu bumi dalam jangka yang lama disebabkan gas rumah kaca yang terjebak di stratosfer. Gas rumah kaca merupakan dampak kegiatan manusia yang melepaskan emisi ke udara. Dampak dari perubahan iklim ini sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup manusia, baik sama sekarang maupun di masa yang akan datang. Di antaranya, kondisi tempat tinggal, ketersediaan pangan, kesehatan, keselamatan hidup dan bahkan keamanan negara. Menurut buku yang saya baca, perubahan atau krisis ini terjadi lebih cepat dari yang dicemaskan oleh banyak pihak.”

“Apa dampak signifikan yang dirasakan dunia saat ini?” Tanya Oline sambil memungut bungkus permennya yang terjatuh.

Samsiar tak langsung menjawab. Ia manggut-manggut sambil menggaruk-garuk dagunya yang tertutup masker. Samsiar mengubah posisi duduknya, kemudian berkata,“Tidak ada sudut dunia yang kebal dari konsekuensi perubahan iklim yang sangat menghancurkan ini. Dampaknya beragam mulai dari meningkatnya suhu memicu degradasi lingkungan, bencana alam, cuaca ekstrem, kerawanan pangan dan air, gangguan ekonomi. Selain itu, permukaan laut naik, kutub mencair, criosfer mencair, terumbu karang mati, lautan menjadi asam, dan hutan terbakar.”

“Sekarang giliran Nindy yang bertanya lagi, Om. Apa cara sederhana yang dapat kita lakukan untuk mengantisipasi meluasnya dampak krisis iklim?”

“Secara sederhana, hal-hal yang bisa kita lakukan adalah dengan gerakan 3R (Reuse, Reduce dan Recyle). Kita harus berusaha untuk tidak menggunakan plastik. Misalnya cara sederhana saja, membawa botol minum sendiri dan membawa piring sendiri ketika mau makan ketika sedang berpergian, ke sekolah atau ke mana saja.”

“Indonesia dinyatakan sebagai negara pengambil kebijakan yang harus bertanggung jawab atas …?” Pertanyaan Oline terhenti.

“Selamat sore, mohon maaf jika menggangu!” Gunawan tiba-tiba muncul di depan meraka dengan masker berwarna kuning cerah.

Oline dan Nindy memandang heran ke arah Gunawan. Tetapi mereka akhirnya tersenyum, ketika Samsiar mengangguk-angguk ke arah mereka.

“Nak Nindy dan Oline, wawancaranya kita lanjutkan  nanti sore ya,” Samsiar tersenyum. Lelaki yang memiliki seorang putra seumuran dengan Nindy dan Oline itu,  lalu menyerahkan dua bibit lidah buaya kepada kedua siswi yang pernah menjuarai  cerdas cermat IPA itu.

Setelah Nindy dan Oline menjauh, barulah Samsiar mempersilakan Gunawan duduk di dekatnya.

“Aku sudah menentukan hari dan tanggal pernikahanmu dengan Juwita. Semua keperluan acara yang sakral ini, aku yang mengurusnya.” Gunawan tersenyum sumringah.

Samsiar hanya tersenyum kecil. Ia mengangguk-angguk tanpa menoleh ke arah temannya sejak smp itu.

“Oh iya, Juwita bersedia kau boyong di rumahmu yang mungil dan asri itu.”

Samsiar tidak menimpali ucapan Gunawan. Ia berdiri dari duduknya. Lalu merogoh sesuatu ke dalam saku kanan celananya. Selembar lipatan kertas. Sambil mengipas-ngipaskan lipatan kertas itu, Samsiar tersenyum ke arah Gunawan. Ia membuka lipatan kertas itu dengan perlahan, lalu menyerahkannya kepada Gunawan. Dahi Gunawan tampak berkerut. Tetapi, Gunawan lekas-lekas menelusuri setiap kata-kata yang tertulis di kertas itu.

“Apa yang kau lakukan ini sangat tidak masuk akal. Kau benar-benar gila!”  Gunawan tidak senang.

Samsiar tertawa lepas. Ia berdiri dari dudukya, lalu berpaling ke arah Gunawan yang masih tampak tidak percaya.

“Kau tidak bisa lagi memaksaku menikahi Juwita.”

“Jalan berpikirmu sudah rusak. Kau pertaruhkan pekerjaanmu agar dapat berkelit dari permintaanku.”

“Keputusanku berhenti bekerja sudah kupikirkan masak-masak. Aku memang sejak lama ingin berhenti bekerja. Aku tipe orang yang tidak suka berlama-lama duduk di ruang kerja. Surat pengajuan pemberhentianku sudah disetujui oleh atasanku dua hari yang lalu.”

Gunawan terdiam. Ia menatap Samsiar dengan ekspresi tegang. Sementara, Samsiar mengulum senyum.

“Mulai sekarang, selesaikanlah masalahmu sendiri. Aku tahu kau dapat mengatasinya dengan baik.”

Gunawan mendekati Samsiar dua langkah. Kedua lelaki seumuran itu saling bertatapan. Samsiar tersenyum kemudian memasang lagi maskernya.

“Tunggu saja apa yang akan kulakukan terhadapmu. Kau akan menyesal nanti!” Ancam Gunawan.  Sesaat kemudian, Gunawan telah hilang dari hadapan Samsiar.

***

Pagi ini, Samsiar kembali melakukan tugas rutinnya. Ia menyiangi rumput-rumput liar yang mulai tumbuh di antara tanaman bunga. Ia juga menyapu daun-daun kering yang berguguran.  Walau tertutup masker, wajah Samsiar terlihat sumringah. Kepulangan Samsiar kemarin, disambut hangat oleh warga Gang Batuah. Lelaki yang sudah menduda kurang lebih lima tahu itu terbukti tidak bersalah. Di saat Samsiar tengah menyiangi rerumputan liar taman, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara lembut seseorang.

“Permisi Bang.”

Samsiar terperangah. Di depannya sudah berdiri seorang perempuan muda. Rambutnya yang ikal mayang bergerai ditiup angin. Ia memakai kerudung, tetapi cuma dililitkannya  di lehernya. Jantung Samsiar tiba-tiba  berdetak kencang. Ia seakan-akan telah mengenal perempuan yang kini ada di hadapannya. Gaun panjang warna hitam keabu-abuan yang dipakainya, tidak bisa menyembunyikan perutnya yang besar.

“Maaf mengganggu kegiatan Abang. Saya Juwita.”

Samsiar mengangguk pelan dengan jantung masih berdebar-debar. Samsiar kemudian mempersilakan Juwita duduk di salah satu kursi di sudut taman.

“Maksud kedatangan Juwita ke sini, Juwita cuma ingin mengatakan bahwa pernikahan antara kita dibatalkan saja. Rencana yang diatur oleh Mas Gunawan tidak perlu kita laksanakan. Tak seharusnya abang ikut memikul tanggung jawab atas kesalahan kami.”

Samsiar terdiam. Samsiar tak kuasa menatap Juwita. Meskipun nada bicara Juwita terdengar lembut, walaupun Juwita terlihat tenang tetapi Samsiar tahu, duka yang merundung perempuan muda ini begitu dalam.

“Kepergian Mas Gunawan, membuat Juwita belajar untuk kuat.” Juwita menyibak rambutnya ke belakang yang tertiup angin. Walau tertutup masker, kecantikan wajahnya tetap terpancar.

“Bila lahir nanti, bayi ini akan Juwita beri nama Batuah, sesuai permintaan ayahnya.”

Samsiar mengangkat kedua bahunya. Samsiar sama sekali tidak menduga. Tetapi selanjutnya Samsiar mengangguk-angguk tanda setuju.

“Sebenarnya tujuan Mas Gunawan ke rumah abang, malam itu untuk mengatakan hal sama. Tetapi takdir berkata lain. Ayah dari anak kami ini justru menjemput maut di sungai itu.” Suara lembut Juwita berubah serak.

Samsiar terkejut. ia tidak menduga

“Jika Batuah sudah lahir akan kujaga ia hingga akhir hayatku seperti aku merawat taman ini. Akan kukasihi Batuah seperti anakku sendiri dengan segenap kasih, sehingga kelak  ia tumbuh dan kembang, lalu menebarkan manfaat bagi sesama seperti taman ini.”

Sesaat Samsiar dan Juwita tak saling berkata. Keduanya sama-sama melempar pandang ke arah pengguna jalan raya yang berlalu lalang.

“Sering-seringlah berkunjung ke taman ini. Bagi Juwita, indahnya taman ini karena  persahabatan  antara saya dan Gunawan. Di taman ini, Gunawan mengenalkan dirimu dan anakmu yang sebentar lagi akan lahir, pastinya ia turut pula mewarnai taman ini.”

Ketika Juwita berpamitan pulang, tanpa diduga sama sekali oleh Samsiar, Juwita mengucapkan kata-kata yang sangat memecut perasaan Samsiar.

“Kemarin Kak Kumala menemui Juwita. Kak Kumala berserta ketiga anak Bang Gunawan berkenan menerima Juwita dan anak dalam kandungan ini sebagai bagian dari keluarga mereka.”

Gerimis mengiringi kepulangan Juwita. Samsiar buru-buru berteduh di pondok taman. Lagi, Samsiar dihujam rasa bersalah. Ia salah dalam menilai Gunawan. Ternyata Gunawan tidak seburuk seperti yang ia duga selama ini. Gunawan ternyata lelaki yang sangat bertanggung jawab.

***

Tabir kematian Gunawan telah terkuak. Gunawan mengalami kecelakaan murni. Luka memar di bagian belakang kepala Gunawan bukan karena mengalami kekerasan fisik. Gunawan tergelincir ketika melewati titian kayu di pinggiran Sungai Ilung. Ia berniat bertandang ke rumah Samsiar, tetapi melewati jalan pintas. Di saat tergelincir, Gunawan tidak dapat menjaga kesimbangan tubuhnya. Ia terjatuh ke sungai.  Malang tak dapat dihindar, mujur tak dapat diraih. Bagian belakang kepala Gunawan membentur sebuah  tonggak ulin, yang tertancap di sungai.

Tetapi apa yang sebenarnya menimpa Gunawan hingga  menemui ajalnya. Tak seorang pun mengetahui secara pasti. Memang malam itu Gunawan bermaksud menjumpai Samsiar lagi. Tetapi ia mengambil jalan memutar, melewati titian kayu yang sepi di pinggiran sungai karena seorang warga Gang Mufakat tengah mengadakan acara syukuran. Para undangan yang berhadir cukup banyak sehingga tuan rumah sampai menggelar tikar di badan gang. Setelah Gunawan tiba di pekarangan belakang rumah Samsiar, ia dibuat terkejut. Ia melihat seseorang tengah mengendap-endap di samping rumah Samsiar. Gunawan melihat gelagat yang yang mencurigakan pada orang yang bercadar ala ninja itu. Benar saja, ternyata orang itu seperti mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Gunawan membungkukkan badannya di antara rimbunnya tetanaman bunga, karena orang berperawakan kecil itu sedang menoleh ke kanan dan ke kiri.  Selanjutnya, apa yang dilakukan oleh orang itu sama sekali tidak diduga oleh Gunawan. orang itu menyalakan api. Dalam remang-remang lampu taman rumah Samsiar yang redup,  orang bercadar itu juga menyiramkan sesuatu di dinding rumah. Menyadari  bahaya yang akan ditebar oleh orang itu, spontan saja Gunawan berteriak. “Hei hentikan perbuatanmu yang konyol itu!”

Sontak saja orang bercadar itu terkejut. Ia berpaling ke arah Gunawan. Tanpa membuang waktu, orang  yang baru saja akan menyulut api ke dinding rumah Samsiar yang terbuat dari kayu itu langsung mengambil langkah seribu.

Tersulut jiwa kelelakiannya, Gunawan tidak mau membiarkan saja orang itu kabur. Gunawan mengejarnya. Orang itu berlari ke arah titian kayu di pinggir sungai.  Tetapi setelah tiba di titian kayu yang tidak ada penerangannya,  Gunawan kehilangan jejak. Gunawan menghentikan pengejarannya. Sejenak Gunawan berdiri sambil mengatur pernapasannya. Gunawan sedikit terengah-engah. Pandangannya menyapu ke segala arah.

Namun, Gunawan tidak menduga. Orang yang dikejarnya itu tiba-tiba muncul di sampingnya. Rupanya ia bersembunyi di balik semak belukar, tidak jauh dari tempat Gunawan berdiri. Gunawan tak bisa mengelak, ketika orang  itu mendorongnya ke sungai. Tak pelak lagi, Gunawan pun jatuh ke sungai.  Gunawan merasakan bagian belakang kepalanya membentur benda yang keras. Gunawan mengaduh dalam diam. Air sungai yang sedang surut membuat tubuhnya  terbenam dalam air berlumpur. Gunawan tak kuasa bangkit. Ia merasakan segenap kekuatannya, menyusut. Rasa sakit di kepalanya, membuat pandangannya berkunang-kunang, lalu begitu gelap.

***

 

Glosarium mini :

Batuah : (dalam bahasa Banjar) orang yang bisa membawa dirinya di masyarakat, memberi manfaat kepada orang lain, dapat memberi teladan

gangan :  (dalam bahasa Banjar) sayur berkuah atau ditumis

kalakay : (dalam bahasa Banjar) rumputan yang tumbuh di tanah gambut daunnya merah dan dapat disayur

iwak : (dalam bahasa Banjar) ikan

papuyu : (dalam bahasa Banjar) salah satu jenis ikan air tawar/payau sejenis betok

babanam : (dalam bahasa Banjar) dibakar

ulin : kayu besi khas Kalimantan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *