Cerpen #45: (Tanpa judul)

Kring! Bel sekolah nyaring berbunyi menandakan bahwa kegiatan belajar mengajar telah selesai. Di hari selasa yang terik ini, jam pulang sekolah SMA Jaya Gayatri berbeda dari jam pulang pada  biasanya. Ini dikarenakan sekolah kedatangan orang-orang yang mengadakan penyuluhan dan seminar tentang bahayanya sampah dan cara mengolah sampah yang baik dan benar. Lumayan banyak siswa-siswi yang terkejut kagum saat Penyaji seminar menunjukkan benda-benda hasil daur ulang sampah, tapi tidak sedikit juga yang tidak tertarik pada seminar itu dan memilih untuk tidak mendengarkan, salah satunya adalah siswa yang saat ini menduduki kelas 11 bernama Ardiyanto yang akrab dipanggil Ardi oleh teman-temannya.

Seperti biasa, setiap pulang sekolah tempat parkir motor selalu penuh dengan siswa-siswi sekolah. Ardi adalah salah satu siswa yang memenuhi tempat parkir itu, Ia berjalan di parkiran untuk mencari letak motornya terparkir.

“Oi, Di!” Ardi menoleh ke belakang saat mendengar ada yang memanggil namanya

“Kenapa Can?” Perkenalkan Chandra, teman Ardi dari kelas 10. Kata teman-temannya, Chandra adalah orang yang penyabar karena selalu sabar akan kekeraskepalaan Ardi.

“Tadi tidur pulas banget lo, gue liat-liat”

“Hahahah, iya. Habisnya bosan orangnya banyak ngomong,  mending gue tidur, kan?” jawab Ardi sambil menutup mulutnya yang sedang menguap

“Parah!! Orang materinya penting gitu..”

“Iya penting, tapi dari SD juga udah dikasih tau tuh kalau sampah gini gini gini, kita harus gitu gitu gitu. Bayangin, apa gak bosan?” Seperti yang sudah dibilang tadi, Ardi memang keras kepala. Ardi juga bukanlah anak yang suka menjaga kebersihan, dia sering buang sampah sembarangan apalagi saat mengendarai motor, kamarnya pun seperti kapal pecah walaupun sudah kena omel oleh Ibunya, tapi tetap tidak pernah dibersihkan juga.

“Ya tapi kan seenggaknya–Hah! yaudahlah.. Ngomong-ngomong lo balik sekolah main gak? Tadi diajakin main sama David dan kawan-kawan tuh”

“Gak dulu deh hari ini, gue  mau tidur. Tadi malam habis namatin game yang baru gue  beli hehehe”

“Hadeh, yaudah deh nanti gue  sampein ke David sama yang lain. Dah! Hati-hati lo di jalan!!” Chandra pun melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan parkiran.

“Yo! Duluan ya” setelah menemukan motornya, Ardi bersiap-siap untuk mengendarai motornya. Sebelum memakai helm, kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan milik Ardi terjadi, Ia membuang bungkus plastik makanan yang habis dibeli di kantin.

Motor sudah sampai di pekarangan rumah, Ardi sampai dengan selamat. Karena sudah sangat mengantuk, Ardi melepaskan asal sepatu dan kaus kakinya lalu menaruhnya asal dan langsung bergegas ke kamar.

“Tumben langsung pulang kamu, Di” celoteh Ibunya Ardi sembari menonton TV di ruang tengah

“Iya bu, ngantuk” jawab Ardi singkat

“Kamu sih tadi malam begadang kayak lagi ngeronda aj—Kebiasaan sepatu sama kaus kaki ga ditaruh di tempatnya, beresin cepet!” Omel Ibunya Ardi karena melihat sepatu dan kaus kaki yang berantakan di teras

“Iya-iya nanti Ardi beresin” jawab Ardi dengan malas yang langsung jalan bergegas masuk ke kamar dan merebahkan diri di kasur tanpa mengganti seragam sekolahnya yang penuh keringat, Ardi pun terlelap.

 

Setelah tidur yang nyenyak, Ardi pun bangun dengan perasaan tidak enak. Ardi merasa yang aneh dengan alas tidurnya, hidungnya mencium aroma-aroma yang tidak sedap, dan Ardi merasakan suhu udara di dalam kamarnya naik. Untuk mengecek akan apa yang terjadi, Ardi pun mencoba untuk membuka matanya yang masih ingin terpejam itu dan betapa terkejutnya Ardi melihat kondisi kamarnya yang sangat….kotor.

Tidak, kamar Ardi memang biasa kotor, tapi yang membuat Ardi terkejut adalah  semua benda di dalam kamar Ardi berubah menjadi sampah. Meja belajar yang tadinya terbuat dari kayu pahat berubah menjadi sampah yang berbentuk meja, begitu pula dengan kursi, lemari, kasur, dan lain-lain.

“Apa-apaan ini?!” gerutu Ardi. Ardi pikir dia sedang dikerjai oleh teman atau keluarganya, tapi ini sama sekali kelewatan. Karena frustasi, Ardi memilih untuk keluar dari kamar dan menanyakan tentang keadaan kamarnya yang aneh itu kepada Ibu. Ardi pun keluar dari kamar berharap menemukan Ibu, tapi naasnya yang ditemukan oleh Ardi hanyalah ruang tengah yang penuh akan sampah, sama kondisinya dengan kamar Ardi. Sampah berbentuk sofa, sampah berbentuk TV, sampah berbentuk perabotan rumah lainnya.

Ardi sudah mengelilingi rumahnya yang penuh sampah itu kurang lebih tiga menit tapi tidak menemukan siapa-siapa. Ardi menengok ke sampah yang berbentuk jam dinding menunjukkan pukul 4 sore, jam segini biasanya Ibu sedang belanja bahan-bahan makan malam di pasar. Karena tidak tahan dengan bau yang ada di rumahnya Ardi pun keluar rumah untuk menghirup udara segar, namun nyatanya udara dan aroma sampah di luar lebih semerbak dan menyengat.

“Ini mah neraka!” teriak Ardi, dia pikir hanya rumahnya yang penuh dengan sampah tapi rumah tetangga pun juga terbuat dari sampah, gazebo bambu tempat biasa Ardi bermain gaple dengan tetangga tersusun dari sampah, semuanya sampah.

“Oi, Di!” Ardi menoleh ke arah asal suara yang familiar itu berada, itu Chandra.

“Lu dicariin anak-anak tadi, tumben katanya kok gak main. Makanya gue  samperin” lanjut Chandra “Weh! Kok lo gak pakai masker sih? Hadeh, nih pake! Untung gue  bawa masker cadangan” Chandra masih lanjut berbicara tanpa jeda.

“Di, lo kenapa dah? nyawa belum terkumpul apa gimana? linglung gitu muka lo hahaha”

“Ini apaan, Chan?” akhirnya Ardi merespon semua celotehan Chandra

“Apanya yang apaan?” tanya Chandra bingung.

“Ini semua…Kenapa semuanya jadi sampah gini?”

Setelah satu kalimat itu keluar dari mulut Ardi ada jeda hening dalam beberapa detik, sambil menunggu Chandra menjawab pertanyaannya Ardi mengenakkan masker yang tadi diberikan agar aroma yang tidak mengenakan bisa sedikit terhalang.

“Hahahahahahahahha sumpah!” tawa kencang Chandra memecahkan keheningan “sumpah, gue baru tau lu selucu ini, Di!”

“Hah? Apasih?!”

“Lu tuh kayak orang di film-film yang habis melakukan perjalanan waktu ke masa depan pakai mesin waktu terus kaget dan linglung gitu hahaha, kata gue  mah lo mending ambil kelas akting!”

Jawaban Chandra membuat Ardi semakin frustasi sedangkan Ardi sedang dilanda kebingungan dan butuh jawaban dari semua kejadian yang dialami saat ini. Apa maksud dari ini semua? Kenapa semuanya sampah? Kenapa Chandra bersikap seolah tidak ada apa-apa? Kenapa Chandra bersikap seolah ini semua adalah hal yang normal?

“Oke! Sekarang anggap aja gue  memang orang yang habis dari perjalanan ke masa lalu ke masa sekarang pakai mesin waktu, gue  gatau apa-apa tentang ini semua, kenapa semuanya sampah dan gue mau lo jawab pertanyaan gue  selayaknya orang pada zaman sekarang, orang pada zaman sampah ini.” Jelas Ardi panjang lebar.

“Wow, oke oke. Saya akan menjawabnya dengan jelas dan sesingkat mungkin, Pak.”

jawab Chandra sambil berandai-andai sebagai orang yang sedang ditanya oleh reporter

 

“Selamat datang di Buskin100!!! Kalau anda bingung, Buskin100 adalah istilah yang dikeluarkan oleh pemerintah pada, kira-kira beberapa ratus tahun lalu untuk mendefinisikan keadaan pada seratus tahun belakangan  ini. Berawal dari jumlah sampah yang tidak terkendali sampai pencobaan pendauran dan pembakaran sampah yang berkali-kali gagal, pemerintah mengambil keputusan untuk menjadikan sampah sebagai benda untuk hidup sehari-hari. Kita hidup berdampingan dengan sampah, oh ya! di era Buskin100 ini kita tidak menganggap sampah sebagai ‘sampah’ melainkan menganggap sampah sebagai bahan pelengkap. Sampah sekarang diperjualbelikan dimana-mana. Sampah dibeli oleh para pengusaha furniture untuk membuat perabotan rumah, digunakan oleh kuli bangunan sebagai alat ganti semen, batu bata, dan bahan-bahan untuk membangun rumah lainnya. Bahkan fashion era Buskin100 ini semua desainer sudah menggunakan sampah sebagai bahan dasar pembuatan sandang mereka”

“Tunggu sebentar! ini semua bohong kan? Kau hanya membual kan?” potong Ardi yang tidak kuat mendengar semua hal yang dikatakan oleh Chandra

“Untuk apa saya berbohong wahai Bapak Penjelajah, semuanya berdaur ulang, dan kita hidup dari sampah sekarang. Pada tahap ini, saya tidak yakin kita bisa bertahan hidup tanpa sampah, sumber daya alam kita sekarang hanya sampah.”

“Ini semua neraka, Chan!”

“Orang-orang dulu juga bilang seperti itu pada awalnya. Tapi kan kalau dipikir-pikir lagi, manusialah yang menciptakan neraka ini. Sekarang neraka yang dulu mereka ciptakan menjadi rumah bagi kita yang sekarang. Ayolah, Di! Anak-anak sudah menunggu kita untuk main”

“Tidak, tidak…Chan..” Ardi tercengang selama beberapa menit mencoba mencerna apa yang diceritakan oleh Chandra.

“Hadeh, mandi dulu sana biar waras sedikit. Gue duluan ya, nanti gue  samper lagi!” Chandra pun meninggalkan Ardi yang masih tersesat di pikirannya sendiri.

Setelah berdiri diam selama beberapa menit Ardi melihat sosok yang daritadi Ia cari-cari, Ibu.

“Ngapain coba kamu Di berdiri disini kayak patung aja, ayo masuk, nih Ibu udah beli makanan buat makan nanti”

“Makan apa, bu?” jawab Ardi datar

“Nih kesukaan kamu Di” ujar Ibu yang menyodorkan isi plastik belanjaan yang dibelinya dari pasar, di dalamnya ada banyak potongan-potongan ayam yang menurut Ardi warnanya aneh

“Kok warnanya gitu, bu?”

“Oh iya, di pasar cuma ada ayam organik tadi. Tapi ayam organiknya Mpok Ida enak kok! Tenang aja”

“Ayam organik? ……dari sampah organik maksudnya?”

“Aduhhh! kamu ini kok banyak tanya, ya iyalah dari apalagi coba, cepet masuk terus makan!”

Sampah organik…sampah basah…sayur-sayuran, buah-buah yang membusuk

Ardi pun jatuh pingsan setelah mendengar jawaban dari ibunya.

 

Kring! Alarm ponsel Ardi berbunyi, Ardi pun terbangun dari tidurnya. Tubuhnya dan seragam sekolahnya basah diguyur oleh keringat, Ardi mengecek keadaan ruangan kamarnya, normal. Ardi mengecek jam dinding yang menunjukkan pukul enam sore, normal. Semuanya normal, tadi hanya mimpi, neraka tadi hanya mimpi! 

“Ardi!!! Bangun!! Bentar lagi Maghrib” teriak Ibu Ardi sembari membuka pintu kamar Ardi “Kebiasaan kan itu seragam bukannya ditaruh dulu di tempat pakaian kotor! Cepet ganti terus kamu makan! Begadang terus situ!”

“…Makan apa, bu?” tanya Ardi gemeteran

“Makan ayamnya Mpok Ida lah kesukaan kamu itu! Tinggal makan pakai segala nanya lagi” mendengar jawaban dari ibu, Ardi sekali lagi jatuh pingsan, tapi kali ini pingsan sungguhan.

Pagi hari, di saat ibu sedang siap-siap untuk berangkat senam pagi di lapangan dekat rumah dengan ibu-ibu lainnya, betapa terkejutnya ibu saat melihat putranya, Ardi membersihkan kamar dan membereskan rak sepatu yang kemarin berantakan.

“Heh, habis pingsan kemarin otakmu gak kenapa-kenapa kan? Kepalamu sakit gak? Kok tumben bebersih” tanya sarkas ibu

“Aku gak bebersih berisik, aku bebersih bawel, gimana sih?” jawab malas Ardi

“Hehehe, kaget aja ibu mah. Ya udah kalau bisa mah bersihin satu rumah ya sekalian, ibu mau senam dulu. Dadah!”

“Iya..”

Saat bebersih, Ardi mengingat akan mimpinya kemarin. Mengerikan, Ardi masih mau hidup dengan bersih dan normal seperti sekarang. Walau hanya mimpi, tapi mimpi itu membuat Ardi menjadi anak yang rajin membersihkan diri dan lingkungan sekitarnya sekarang, Ardi mulai berhenti membuat sampah sembarangan, Ardi mulai mengikuti kerja bakti yang diadakan oleh RT di tempat tinggalnya berada.

Ardi sekarang mengerti bahwa satu tindakan kecil yang dilakukan orang akan berdampak besar di kemudian hari, Ardi menginginkan dampak yang baik untuk orang lain dan orang-orang yang disayanginya, dan Ardi mengerti dampak baik di kemudian hari akan datang jika semua tindakan dimulai dari diri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *