Cerpen #43: “Jika Kita Tak Kunjung Berbenah”

Bumi, 19 Oktober 2121

Hamparan padang tandus menjadi pemandangan wajar abad ini. Gersang sesak polusi asap pabrik, kendaraan, dan kebakaran hutan guna pembukaan lahan industri. Miris. Tanpa dilengkapi lahan terbuka hijau, semua orang bersaing mendapatkan oksigen dalam setiap tarikan napasnya. Gedung-gedung kaca menjulang tinggi, jalanan beton, tumpukan kaleng dan ribuan kantong kresek beserta botol usang yang berserakan menjadi pelengkap ornamen kota kumuh ini. Matahari yang bersinar terik membakar kulit, meninggalkan jejak berupa ruam kemerahan di kedua tangan dan wajah semua makhluk di bawahnya. Sayup tangis atas malapetaka yang tak lekas usai terdengar pilu di seluruh penjuru negeri. Tak jarang pula bila dijumpai seonggok daging tanpa nyawa di bantaran sungai. Tubuh mereka kurus tak terawat dengan tenggorokan kering yang mendamba setidaknya satu tenggak air minum.

Ramai orang kesulitan mendapat pasokan air bersih. Tak ada lagi sumur yang terisi air walau hanya seember. Tak ada lagi mata air dengan pancar mineral walau hanya setetes. Hanya ada sungai, laut, dan danau penuh limbah dengan air berwarna kehitaman yang menimbulkan bau tidak sedap serta berbagai macam penyakit. Kubangan air sisa banjir buangan limbah tak mampu menembus sempitnya drainase yang tersumbat kantong plastik semakin memperburuk sanitasi kota. Menunggu hujan turun rasanya seperti mengharapkan mayat dapat hidup kembali, mustahil. Terlebih untuk saat ini. Satu tahun sudah bumi yang mereka huni tak mau disambangi hujan deras. Bahkan, gerimis pun enggan berkunjung tuk memberi secercah harap penghidupan dan pertolongan bagi penduduk kota yang tak berpenghasilan.

Satu-satunya kondisi terbaik ialah milik orang dengan pundi-pundi kekayaan dan gelimang harta. Mereka dapat dengan mudah mengeruk alam yang hampir remuk berkat kuasa dan uang yang mereka miliki dengan tujuan memperkaya diri. Menggunakan robot-robot mutakhir sebelum keadaan berbalik hingga manusia diperalat olehnya. Mempekerjakan golongan bawah dengan semena-mena dan upah rendah tanpa menghiraukan berapa banyak dosa yang akan mereka tanggung atas kerusakan dan kemalangan semua umat. Lagi dan lagi, sikap rakus mengalahkan rasa kemanusiaan dan empati antar manusia.

 

Bumi, 19 Oktober 2021

“HAH?!” seorang remaja terbangun dari bunga tidurnya dengan napas tersenggal-senggal. Ah sial, potongan adegan tersebut tak mau enyah dari tidur lelapnya. Mimpi itu cukup menghantui pikiran dan nuraninya. Walau begitu, ia tak acuh atas kilas peristiwa yang kerap hadir dalam keheningan ruang tersebut. Beranjak dari ranjang lalu mengarahkan pandangannya pada arloji dinding kamar, pukul tujuh kurang sebelas menit. Tanpa pikir panjang ia pun bergegas mandi, memakai seragam lalu mengemudikan sepeda motornya menuju sekolah sesegera mungkin.

***

Nicholas, remaja 16 tahun yang tengah mengenyam pendidikan di bangku kelas 11 itu berhasil lolos dari teguran satpam penjaga gerbang setelah memasuki area sekolah tepat waktu. Lonceng tanda masuk yang sedang bergema seantero gedung membuatnya terpaksa berlari menuju aula sebelum seminar berlangsung.

Sesuai arahan wali kelas minggu lalu, seminar yang mengusung tema Bumi 100 Tahun Mendatang disambut antusias tinggi dari warga sekolah. Topik yang dibahas berhubungan erat dengan krisis iklim yang mulai dirasakan sebagian besar orang dalam satu dekade terakhir. Kebakaran hutan yang menimbulkan pencemaran udara dan kepunahan satwa. Kemarau berkepanjangan disertai meningkatnya suhu permukaan yang terjadi diluar perkiraan berimbas pada terjadinya krisis air. Naiknya permukaan air laut yang berpotensi menenggelamkan sebagian pulau. Serta banjir bandang yang acap kali terjadi di beberapa kawasan Indonesia. Pembicaraan tersebut menjadi perbincangan panas yang masih terus ditelaah meskipun bel pulang sudah berbunyi nyaring.

“STOP! Apa yang kalian bicarakan hingga begitu serius? Aku mulai muak dengan pokok diskusi kalian,” Nicholas mengembuskan napasnya keras dengan air muka sebal.

“Nah betul tuh. Krisis iklim apa yang kalian maksud? Lagi pula dampaknya belum kita alami, kan?” sahut Timur, lelaki berkacamata itu terus berjalan melewati lorong gedung.

“Aduh, kalian pura-pura tidak tahu atau memang menutup diri dari lingkungan sih? Oke, aku anggap kalian memang tidak sadar karena concern masyarakat kita masih seputar isu agama, politik, dan gosip selebriti. Tapi, perlu kalian sadari jika bumi yang kita tinggali sudah tua dan semakin berpotensi akan kehancuran di masa mendatang. Gejala dan perubahan alam yang kita rasakan saat ini lambat laun akan mengoyak habis alam beserta seluruh isi dan tatanan di dalamnya jika kita tak mau berubah,” jelas Lova, perempuan yang berjalan di sisi Nicholas begitu detailnya. Lova memang menaruh atensi lebih pada perubahan alam di sekelilingnya sebagai wujud bakti pada bumi dan komunitas pecinta alam yang ia geluti.

“Barack Obama pernah berkata —there’s one issue that will define the contours of this century more dramatically than any other, and that is the urgent threat of a changing climate. Ada satu masalah yang akan menentukan kontur abad ini secara lebih dramatis daripada yang lain, dan itu adalah ancaman mendesak dari perubahan iklim,” sahut Rinjani bak seorang motivator penggalak isu perubahan iklim. Timur menjatuhkan rahangnya atas rasa keterkejutannya lalu memberi respon berupa tepukan tangan selayaknya seorang ayah yang bangga atas keberhasilan putrinya.

“Pada dasarnya manusia punya tabiat menyalahkan orang lain atas suatu kemalangan tanpa berpikir bahwa kehancuran yang mereka alami adalah buah dari keserakahan mereka sendiri. Ironisnya, mereka tetap tak mau berbenah,” kata Rinjani.

“Menurutmu kapan bumi kita akan berakhir? Lantas, upaya apa yang dapat kita lakukan untuk meminimalisir efek kerusakan ini?” tanya Nicholas penasaran.

“Hm, bumi kita akan berakhir dalam waktu dekat. Segala kerusakan yang terjadi adalah rambu penting bahwa semesta tak mampu bertahan lebih lama dalam mengemban tugasnya. Maka dari itu, kita harus berbenah sesegera mungkin. Sebuah perubahan besar selalu didasari langkah-langkah kecil. Jadi mulailah peka terhadap lingkungan yang menjadi teman akrab kita sehari-hari,” ucap Lova dengan seulas senyum tulus.

“Hei kamu belum jawab pertanyaannya. So, langkah apa yang bisa dilakukan untuk saat ini?” ujar Timur begitu semangat.

“Kita harus berani speak up, menyuarakan betapa mengerikannya isu krisis iklim untuk meningkatkan kesadaran orang di sekitar kita. Kurangi penggunaan kemasan yang sulit terurai seperti plastik dan styrofoam, kita bisa pakai tas kain dan wadah reusable. Hemat listrik dan bahan bakar, ada saatnya energi tersebut habis dan menimbulkan efek buruk seperti polusi. Kita bisa menggunakan energi yang ramah lingkungan. Tanamlah pohon walau hanya satu, kita tak tahu pasti ada berapa banyak pohon yang dibabat habis setiap harinya. Jangan sampai untuk bernapas pun kita harus berebut,” terang Lova dibalas ucapan terima kasih sebelum dirinya memasuki gang sempit dan pulang menuju rumahnya.

***

Satu pekan berlalu, Nicholas membiasakan diri untuk mengubah kebiasaannya yang kurang baik bagi alam. Mulai dari mematikan dan mencabut benda elektronik ketika tidak diperlukan. Memakai tas kain saat berbelanja ke warung. Membawa alat makan sendiri. Menghemat penggunaan kertas. Berangkat sekolah mengendarai sepeda serta mengurangi pemakaian kendaraan pribadi saat bepergian.

Hari ini, derap langkah kaki membawanya menuju bank sampah yang kebetulan berada di dekat tempatnya menuntut ilmu. Menjual sampah yang dapat didaur ulang terasa sangat menguntungkan. Ia jadi berambisi untuk menukarnya dengan uang meskipun jumlahnya tak seberapa. Bank sampah adalah ide yang cemerlang. Sembari menenteng sebuah karung kecil berisi botol bekas, ia menyapa Lova yang sedang menyerahkan uang imbalan atas sampah kaleng soda milik ibu berdaster di depannya.

“Wah barangnya makin sedikit, Las. Berarti keluargamu dan kamu punya iktikad baik untuk menjaga lingkungan. Turut senang, aku hitung dulu ya,” seru Lova ketika Nicholas menyerahkan karung tersebut untuk ditimbang.

“Iya, terima kasih, Va. Aku juga mulai sadar kalau bukan dimulai dari diri sendiri lantas siapa lagi? Menumbuhkan kepedulian itu ternyata sulit ya. Tapi, walaupun tidak mudah aku akan terus mencoba demi kepentingan dan kelangsungan hidup kita bersama,” ujar Nicholas disertai kekehan yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.

“Semangat, kita pasti bisa! Ini adalah awal perubahan menuju kebaikan. Dalam hal iklim, kita semua dapat menciptakan perbedaan yang besar,” tutur Lova.

“Kita jelas tidak menginginkan bumi 100 tahun mendatang dipenuhi limbah rumah tangga dan industri hingga anak cucu merasakan kepedihan serta penderitaan dalam setiap detik kehidupannya, kan? Bagaimana pun juga bumi telah memberikan banyak manfaat dan ini adalah bentuk balas budi kita,” sambungnya lagi.

***

Pameran dan pawai kerajinan daur ulang yang diadakan suatu komunitas peduli sampah berlangsung meriah. Acara yang hanya dilaksanakan 3 hari itu mendapatkan apresiasi dari wali kota, netizen, dan ribuan pengunjung yang hadir. Nicholas, Lova, Timur, dan Rinjani ikut menyemarakkan pembukaan pameran tersebut. Berangkat dengan bersepeda ke Balai Kota, mereka menjelajahi berbagai macam hasil kerajinan daur ulang. Botol plastik yang sering disepelekan bertransformasi menjadi berbagai bentuk seni patung yang menakjubkan. Bungkus makanan digubah menjadi gaun anggun yang digunakan model pawai untuk menyusuri jalan kota. Tersedia pula barang-barang seperti tas dari hasil sulapan sampah plastik.

“Lihat tuh! Ada manusia sedang berfoto dengan kerusakan yang ditimbulkannya sendiri,” sarkas Timur seraya menatap sinis sekumpulan remaja yang berswafoto dengan patung berbahan botol dan sedotan plastik.

Uhuk. Salah seorang remaja tersebut tersedak kala tak sengaja mendengar perkataan Timur yang menohok. Yes, tepat sasaran. Batin Timur dalam hati.

“Hush, kok kamu yang sewot sih. Tidak ada yang salah dengan itu, lagi pula mahakarya hasil daur ulang ini memang dibuat instagram-able untuk menarik minat pengunjung datang ke pameran,” seru Rinjani lalu mencebikkan bibirnya kesal.

“Duh, tapi lihat-lihat keadaan dong. Segerombol remaja asyik berfoto ria di pameran daur ulang SAMPAH dengan tangan yang memegang es teh berwadahkan kantong plastik lengkap dengan sedotannya,” Timur mendengkus geram, kedua bola matanya melotot kala menangkap adegan berupa kantong plastik yang hanya tersisa es batu tersebut dilempar ke sudut stand belanja tanpa rasa bersalah.

“Cukup memberi tahu tanpa mencela. Membangun kepekaan dan kepedulian itu sulit. Tak semudah membalik telapak tangan. Musuh utama kerusakan alam ada pada diri manusia itu sendiri. Berbuat baiklah atas apa yang mampu kita kerjakan. Aku yakin akan semakin banyak orang yang mau peduli atas perubahan lingkungan,” ujar Lova sambil memungut lalu membuang sampah tersebut ke dalam tempat yang disediakan.

“Ah, kamu memang bijak. Aku harap semua remaja atau bahkan seluruh populasi manusia di dunia mempunyai niat dan pola pikir sepertimu. Terima kasih, Va!” seru Nicholas takjub atas tekad dan ketulusan Lova.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *