Cerpen #41: “Wajah Bumi 100 Tahun Lagi”

Cuaca seminggu terkahir panas. Teriknya menyengat, membuat tubuh rasanya terbakar jika terpapar. Heran, belum pernah terjadi sebelumnya, gelombang panas dialami hampir seluruh belahan bumi. Termasuk di Indonesia. Aku sengaja  menginap di salah satu hotel yang terkenal sejuk dan nyaman. Nuansa pedesaan yang banyak pohon-pohon besar rindang dan teduh.

Kebetulan dua hari ini aku mendapat tugas dari kantor untuk memberi penyuluhan terkait pertanian. Tantangan petani di Indonesia semakin beragam, apalagi kondisi cuaca dan iklim beberapa tahun terakhir cenderung ektrim. Hal itu jelas berdampak pada produksi panen. Salah satunya kopi. Bersliweran berita di beberapa media mainstem memberitakan situasi terkini kondisi bumi.

 

“Bagaimana wajah bumi 100 tahun ke depan?” tanya pembawa acara sebuah berita media nasional kepada narasumber.

 

“Para ahli sepakat dengan prediksi beberapa peneliti, bahwa bumi akan berubah drastis. Bumi kehilangan wajah dan jati diri, Bumi menjadi dunia asing yang tidak dikenali dalam kurun waktu yang anda sebutkan tadi,” jawab Profesor Adrian, seorang peneliti iklim dan cuaca.

 

“Bagaimana Anda bisa menyimpulkan hal tersebut? Bukankah memerlukan data akurat?” lanjut pembawa berita dengan tatapan serius ke arah sang profesor.

 

Aku raih remot televisi dan menambah volume suara, ingin dengar jawaban profesor itu, sambil menikmati secangkir kopi hitam panas.

 

“Anda harus percaya, para ilmuwan melihat ini dari catatan iklim kuno yang berusia hampir 500 tahun yang lalu. Di dalam catatan itu disebutkan perubahan iklim saat ini sebanding dengan apa yang sudah dilalui bumi kita sejak zaman es terakhir,” jawab sang profesor gusar. Wajahnya menegang.

 

“Apa maksud Anda, Prof?”

 

“Akan terjadi perubahan besar-besaran di bumi, seperti saat bumi dulu berproses terbentuk. Bisa terjadi Pergeseran Seismik keanekaragaman hayati. Anda tahu? Banyak teori menyebutkan selama ribuan tahun proses perubahan bumi itu mempengaruhi segala yang ada di dalamnya. Ekosistem, Habibat mahkluk hidup, dan banyak lagi.”

 

“Sebegitu parahnya ya, Prof?”

 

“Jelas, jika kita mengingat pada zaman es yang terakhir, bumi ini naik suhunya sekitar empat sampai tujuh derajat celcius. Dan kita semua tahu apa efeknya? Lapisan es di belahan bumi sana, tepatnya di beberapa wilayah Asia, Amerika Utara dan Eropa mencair.”

 

Darahku berdesir membayangkan apa yang terjadi jika apa yang disampaikan Profesor Adrian itu jadi kenyataan. Sebagian bumi akan terendam air alias tenggelam. Aku bergidik membayangkan hal itu. Kuusap wajah kasar menggunakan kedua telapak tangan.

 

“Astaghfirullah, berarti itu kiamat? Akhir kehidupan?” ucapku lirih.

 

Aku beranjak mengambil irisan buah, tadi kuletakkan di atas meja samping tempat tidur. Satu demi satu kumakan sambil terus memasang telinga dengan seksama. Aku ingin dengar penjelasan berikutnya. Bahasannya menarik, sayang untuk ditinggalkan. Rasa segar buah sedikit membuatku rileks.

 

“Apakah data itu bisa dipertanggungjawabkan, Prof?” tanya pembawa berita lagi.

 

“Apa yang saya sampaikan tadi sudah diterbitkan dalam jurnal science, silakan Anda akses di internet. Penelitian serupa juga banyak dilakukan. Jumlahnya hampir ratusan.”

 

“Dari ratusan jurnal itu bisa disampaikan isinya tidak, Prof?”

 

“Jadi begini, ada tim peneliti internasional mencermati beberapa catatan ahli Paleontologi tentang bagaimana eksosistem terestrial  menyesuaikan iklim sekitar dua ribu tahuhan lalu. Jadi tujuan penelitian itu untuk memprediksi apakah bumi bisa menyesuaikan diri dengan kemungkinan terjadinya pemanasan yang serupa hingga ratusan tahun mendatang.”

 

“Jadi apa menurut Profesor Adrian, gelombang panas yang kita alami sekarang ini juga proses menuju ke sana? Berarti kita semua harus waspada dan bersiap, ya, Prof?”

 

***

 

Mataku mengerjap saat bising suara terdengar memekakan telinga. Gegas aku singkirkan selimut yang menggulung tubuh, kuraih ponsel di samping bantal dan kulihat jam digital terpampang angka 00.30.

 

“Masih dini hari, siapa yang ribut? Mengganggu saja, enggak tahu apa ada orang lelah setelah dua hari bertugas maraton kemarin,” gerutuku. Udara malam hari ini sangat dingin, nyaris membuat aku mengigil. Tergopoh aku mencari jaket tebal yang tergantung di gantungan baju belakang pintu kamar.

 

“Ngeri, siang tadi terik dan panasnya menyengat, kenapa malam hari dinginnya parah, atau ini salah satu dampak pemanasan global. Persis yang diceritakan Profesor Ardian tadi siang?” Belum sempat aku mengenakan jaket utuh, pintu kamar sudah diketuk berulang kali tanpa jeda.

 

“Mas Malik … Mas Malik … Keluar, Mas!” Aku berlari ke arah pintu, aku buka perlahan dan kudapati seseorang berdiri dengan wajah pias.

 

“Ya Allah, ada apa, Yud? Kamu baik-baik aja, kan?” tanyaku.

 

“Mas, kamu dengar suara dentuman tadi enggak? Keras banget, sampai kaca kamar pecah, dan tembok rumah bergetar,” ucapnya terbata-bata. Aku terkesiap, bingung dengan apa yang baru saja disampaikan Yuda, teman satu kos.

 

“Enggak, tuh. Aku terbangun saat dengar suara teriakan, tapi dentuman aku enggak dengar dan kerasa, Yud?” jawabku bingung.

 

“Mas Malik emang, nih! Kalau tidur kaya kebo, goncangan gede gitu bisa enggak kerasa? Buruan turun, takut ada apa-apa, di luar juga udah banyak orang, Mas!”

 

Yuda menarik tanganku dengan cepat tanpa memberiku kesempatan menjawab pertanyaan. Aku meninggalkan kamar dalam kondisi tidak terkunci. Posisi kamar di lantai dua, sementara kehebohan terjadi di depan rumah indekos yang kutempati. Riuh suara terdengar dari jarak jauh. Ada yang menangis, teriak-teriak, dan merapal doa. Mencekam.

Dada berdegup kencang, darahku mengalir deras. Suasana kacau membuatku disergap rasa panik. Apalagi saat keluar rumah, aku melihat kondisi sudah berantakan.

 

“Yud, apa yang terjadi sebenarnya?” tanyaku pada Yuda tepat di belakang telinganya.

 

“Aku juga enggak tahu, Mas. Kita lihat ke luar aja,” jawabnya sambil berbisik.

 

Suara tangisan di luar semakin jelas terdengar. Semua orang ketakutan dan putus asa. Gegas aku berlari dan melihat ke luar rumah. Di sana sudah berkumpul banyak sekali orang dengan wajah tak jauh beda dengan Yuda. Pucat dan panik. Aku berjalan melewati kerumunan. Orang-orang itu seolah tidak peduli dengan siapapun, sibuk memikirkan diri sendiri. Seseorang kemudian berteriak dan berjalan menaiki kendaraan yang terparkir.

 

“Perhatian semua! Bapak-bapak dan Ibu-ibu, tolong jangan panik! Semua tenang!” pekiknya.

Namun, tidak ada yang peduli. Teriakannya seolah tenggelam di tengah riuhnya suara.

 

“Tanggul air laut jebol, air laut naik ke daratan, lari! Cari perlindungan!” Teriak salah orang yang mengendarai sepeda motor. Sontak keadaan berubah semakin panik. Lengkingan suara ibu-ibu yang histeris membuat dadaku bergemuruh. Apalagi melihat tatapan ketakutan anak-anak.

 

Aku bergeming sekian detik, namun disadarkan oleh tepukan tangan Yuda di pundak.

 

“Ikut lari, Mas! Tanggul dekat pantai jebol dihantam gelombang tinggi, tidak mampu lagi menahan kekuatan gelombang air, kita bakal tenggelam, Mas,” ujar Yuda pasrah.

 

“Masih ada waktu lari, Yud! Jarak pantai ke sini puluhan kilometer, tidak mungkin sampai dalam waktu singkat!”

 

“Tapi, Mas ….”

 

“Tidak ada tapi, sekarang lari ke dalam, ambil dan selamatkan apa yang bisa diselamatkan!” ucapku sambil berlari kembali masuk ke rumah. Aku ingat dengan dokumen tesis yang sudah aku susun dengan susah payah. Rencana Senin depan sidang ujian tugas akhir, jika hilang benar-benar bencana buatku.

 

Yuda ikut berlari menuju kamarnya tanpa banyak bicara. Aku naik ke lantai dua secepatnya, meraih kunci mobil dan tas ransel warna merah di atas lemari baju. Aku selamatkan surat-surat berharga, ijazah dan CPU berisi data penting. Secepat kilat aku kembali turun ke lantai bawah menuju garasi. Mobil sedan tua yang sudah menemaniku setahun ini terparkir di sana. Aku nyalakan mesin segera dan bersiap keluar garasi.

 

“Mas, aku ikut!” pekik Yuda sambil melempar dua tas besar ke jok belakang.

 

“Buruan!”

 

Mobil kupacu meninggalkan garasi rumah indekos membelah jalanan. Kepanikan masih di rasakan orang-orang sepanjang jalan. Riuh penuh ratapan dan nestapa.

 

“Kita mau kemana, Mas?”

 

“Lari sejauh mungkin, Yud. Oh, ya, kamu sudah menghubungi keluargamu? Dari tadi aku telepon keluarga di luar kota belum juga terhubung, apa jaringannya juga mati, ya?” tanyaku sambil fokus memegang kendali mobil.

 

“Sama, Mas. Belum bisa!”

 

Di tengah kekalutan aku mencoba untuk terus memacu mobil menjauh dari pantai. Terlintas dalam pikiran, jika air dari laut itu pasti kekuatannya dasyat hingga mampu menjebol tanggul kokoh di pinggirnya. Bahkan aku tidak sanggup membayangkan bagaimana nasib penduduk di sekitar bibir pantai. Pasti sudah binasa tersapu ganasnya air.

 

“Astaghfirullah …,” desisku.

 

“Apa ini kiamat, Mas?”

 

“Entahlah.” Hening. Aku dan Yuda tak banyak bicara. Kami terhanyut dalam pikiran masing-masing. Otak rasanya tidak bisa berpikir jernih. Apalagi tidak ada kejelasan tentang kondisi saat ini.

 

“Nyalakan radionya, Yud. Siapa tahu ada berita peringatan!” Tangan Yuda meraih tombol power untuk menyalakan radio. Seluruh saluran senyap, tidak ada suara seperti biasanya.

 

“Coba di frekuensi AM, di radio resmi milik pemerintah, Yud!” Kepala Yuda mengangguk cepat.

 

Sekali lagi kami sampaikan himbauan kepada seluruh masyarakat untuk waspada dan bersiap menghadapi bencana besar, gelombang panas menyebabkan es di kutub mencair. Iklim berubah sangat ekstrim sehingga menyebabkan gelombang air laut naik tinggi. Dilaporkan dari beberapa titik di daerah sudah mulai terdampak. Tetap jaga diri dan saatnya untuk lebih banyak berdoa.

 

Deg!

Dadaku berdegup kencang, jantung memompa darah cepat. Aku jadi teringat keluargaku di pulau seberang, apakah baik-baik saja? Atau juga mengalami kepanikan sama dengan kami.

 

“Coba cari saluran lain, Yud!”

 

“Oke, Mas.”

 

Breaking news, dilaporkan kondisi bumi saat ini di titik terparah. Iklim ekstrim dua tahun belakang ini menyebabkan alam tidak lagi seimbang. Info yang baru kami terima, seperempat es di Antartika dilaporkan sudah mulai mencair, seusai prediksi para ahli. Air laut naik dan bisa mengakibatkan pulau-pulau kecil tenggelam.

 

Hati kembali berdesir, rasa takut kini menyeruak. Bagaimana jika kami benar-benar mati tenggelam, tidak ada tempat berlari.

 

“Matikan saja radionya, Yud!” pintaku resah. Aku memilih untuk tidak mendengar lagi penjelasan berita radio itu.

 

“Sebentar, Mas. Masih ada lanjutannya! Kepalang lacur, info dari berita bisa dijadikan pertimbangan saat kita ambil keputusan,” jawab Yuda serius.

 

Aku pun pasrah.

 

Menurut informasi, mencairnya es diakibatkan adanya peningkatan suhu rata-rata bumi. Hal ini terkait dengan aktivitas penghuni bumi yang menyumbang emisi dalam jumlah besar. Polusi dan industri salah satunya. Akan tetapi ada faktor lain, yaitu usaha deforestasi hutan. Aktivitas penebangan hutan dan alih fungsi hutan. Masalah ini sudah menjadi isu nasional dan Internasional. Meskipun banyak ahli yang berupaya, tampaknya saat ini sudah terlambat.

 

“Matikan sekarang, Yud!” ucapku tegas.

 

Yuda kaget, sambil menatapku heran satu tangannya menekan tombol power. Suasana mobil hening. Meski di luar masih riuh lalu lalang orang berlari menyelamatkan diri. Langit masih gelap, namun aktivitas persis saat jam sibuk. Ramai.

 

“Kita mau ke mana, Mas?” tanya Yuda memecah keheningan.

 

“Naik dan pergi sejauh-jauhnya dari pantai,” jawabku datar.

 

“Ke gunung? Apa itu menjamin kita selamat?”

 

“Belum tahu, tapi setidaknya kita berusaha, Yud. Aku minta maaf kalau ada salah sama kamu, ya! Aku tidak tahu akhir hidup kita akan seperti apa?” ujarku gelisah.

 

Yuda mendengkus, ia terlihat gusar mendengar ucapanku. Ia bergerak merubah posisi duduk, dan tetap bergeming. Hitungan detik, teriakan histeris dari orang-orang semakin jelas terdengar. Keras dan saling bersautan.

 

“Air sudah sampai  sini, semua lari …! Selamatkan diri kalian!”

 

“Air datang, air datang!” Tanpa pikir panjang aku injak pedal gas dan memacu mobil dengan kecepatan penuh. Berkali-kali hampir menabrak orang lain, aku tidak peduli. Terus aku pacu mobil tanpa menengkok.

 

“Mas! Mas! Air sudah sangat dekat, kita tenggelam, Mas! Kita mati, Mas!” ucap Yuda sambil kedua kaki diangkat ke atas jok mobil. Tangannya terus memukul-mukul kaca.

 

“Apa maksudmu, Yud?”

 

“I-i-tu, Mas. Air ….” Belum sempat menjawab, mobil seperti dihantam sesuatu. Tubuhku terkatuk dan terdorong ke arah depan membentur bagian setir. Lalu tiba-tiba air masuk, dan badan mobil seperti terangkat kuat. Sekilas aku melihat kilatan cahaya sebelum semua gelap.

 

***

 

“Astaghfirullah!”

 

Aku terbangun dengan posisi duduk. Kuedarkan pandangan memindai keadaan, remang cahaya lampu kamar hotel membuat suasana sedikit mencekam. Dadaku masih berdegup kencang, butiran air memenuhi pelipis, napas tersengal. Sesak.

 

“Ya Allah, apa itu tadi? Aku mimpi ….”

 

Sekian detik aku kembali sadar. Apa yang baru saja aku alami hanya mimpi. Terjebak dalam keadaan mengerikan, seperti kiamat. Alam murka dan menenggelamkan seluruh umat manusia. Termasuk aku dan Yuda adik kosku yang sudah kuanggap seperti saudara.

Selimut yang menggulung tubuh aku singkirkan perlahan. Mimpi buruk membuat haus, kuraih botol air mineral di meja dan meminumnya sampai tandas. Lega, kerongkongan basah dan aku lebih tenang sekarang. Apalagi setelah salat dan membaca ayat-ayat suci Al Qur’an. Hari ini terakhir aku bertugas, rencana  setelah sarapan akan ada pertemuan lagi dengan peserta penyuluhan.

 

Gelap berangsur pergi, berganti terang seiring sinar mentari yang hadir. Suara burung di dekat kamar tempat aku menginap terdengar riuh bernyanyi merdu. Hormon Endorfin terproduksi sempurna. Mengusir gelisah akibat mimpi buruk semalam.

Stelan batik dan celana panjang hitam sudah rapi kukenakan. Rambut kusisir, dan tidak lupa parfum kusemprot demi menunjang penampilan. Aku keluar kamar menuju tempat sarapan. Ada sudut menarik yang menawarkan kopi. Pagi-pagi nikmat sekali membayangkan menyeruput kopi fresh, baru digiling, dari hasil panen petani setempat.

 

“Silakan mau kopi apa, Kak?”

 

“Kopi terbaik hasil panen daerah sini ya, Mas!”

 

Sesaat barista dengan tampang mirip oppa Korea itu menyodorkan beberapa pilihan. Ada satu biji kopi menarik dan langsung aku menyentuhnya.

 

“Ini kopi masa depan, Kak. Hasil rekayasa genetik dari persilangan bibit terbaik, yang konon mampu bertahan di tengah gelombang iklim yang ektrim. Tanaman kopi kan bisa bertahan dengan suhu tertentu. Nah, ini bisa bertahan dengan kondisi apapun, Jadi kelak anak cucu kita masih tetap bisa menikmati bermacam kopi.”

 

Aku terkesiap, menyadari apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan masa depan bumi 100 tahun lagi.

2 thoughts on “Cerpen #41: “Wajah Bumi 100 Tahun Lagi”

  1. Cerita ini menampilkan ketakutan kita akan nasib bumi di masa depan. Abai dan dhalimnya kita atas bumi tempat kita berpijak, akan kembali kepada kita. Cerita yang simpel, menggelitik dan menyindir halus situasi saat ini maupun imaji masa depan membuat kita layak utk membaca dan merenunginya. Cerpen yang inspiratif dan antisipatif..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *