Cerpen #40: “Beradu Dengan Prediksi”

Namaku Zalna pramitha, cuma siswi kelas dua SMA yang penuh banyak pertanyaan dalam otaknya. Pernah gak sih kalian mikir bumi seratus tahun mendatang bakal kayak gimana? Well, bagi beberapa orang atau kebanyakan orang bakal ngomong, ngapain juga mikirin hal itu, keburu kitanya tua atau bahkan meninggal. Tapi dalam lain hal sebagai salah satu makhluk hidup yang bertempat di bumi adalah suatu kewajiban buat ngejaga bumi kita sendiri, tempat tinggal kita sendiri, and pernah gak kalian mikir apasih yang udah kita lakuin buat rumah kita ini?

 

Disaat sekarang aja bumi udah bener bener rusak, semua berjalan dengan ketamakkan manusia, padahal manusia buang sampah sembarangan pun bumi tetep ngasih air bersih buat manusia, kendaraan bermotor yang ngeluarin polusi pun bumi tetap ngasih oksigen buat manusia. Tentu udah tanggung jawab manusia juga buat ngejaga rumah sendiri.

 

Kebanyakan orang pun juga mikir, bumi seratus tahun mendatang tuh bakal lebih modern, segalanya lebih mudah, dengan segala alat alat ciptaan manusia yang tentu bakal buat manusia lainnya lebih manja.

 

Padahal dari pada semua itu, suatu hal yang perlu direnungkan manusia itu adalah iklim, global warming sudah benar benar terasa sekarang, bagaimana seratus tahun mendatang nanti? Permukaan air laut yang terus naik, hingga suhu bumi yang terus meningkat, dan masih banyak lagi.

 

Info nyata dari International Geo-Biosphere Programme menganalis bahwa aktivitas bumi selama 60 tahun terakhir lah yang membuat bumi makin panas. Pada 2100 nanti, diprediksi panas bumi akan bertambah rata-rata  4 derajat celcius. Kenaikan suhu di benua Arktik bakal lebih ekstrem dibandingkan wilayah lain. Gunung es yang mencair menyebabkan naiknya level permukaan air laut.

 

Lahan bumi semakin sempit, Level permukaan laut sudah naik 26 persen sejak revolusi industri pada abad 18. Sejak 90an pula, permukaan laut bumi rata-rata naik 35 mm. Apa efeknya? Banyak daratan pinggir pantai yang bakal tenggelam. Climate Central memprediksi 300-650 juta manusia yang hidup di daratan bakal terkena dampak kenaikan permukaan air laut  pada 2100 nanti. Ngerinya, Indonesia jadi negara keenam yang paling berisiko, yakni membahayakan 10.157 jiwa populasi.

 

Hilangnya sumber air yang stabil, ditambah dengan kekeringan yang parah, dan populasi manusia yang terus tumbuh tak terkendali, menyebabkan sumber-sumber air di Asia tak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia. Bumi yang biasa indentik dengan hijau dan biru mulai tak dikenali lagi, bagai dunia asing yang dipenuhi oleh oleh makhluk makhluk yang tak pernah merasa puas.

 

Dari segala prediksi di atas, apa manusia masih mau memikirkan segala hal modern yang memanjakan? Sudah menjadi kewajiban manusia buat menjaga bumi, hal sederhananya yaitu lingkungan, cukup sederhana saja, menghemat penggunaan bahan bakar fosil, mengurangi produksi dan konsumsi plastik,  dan tentu menjaga ekosistem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *