Cerpen #39: “Risalah Kemarau Dan Atap Canggih”

Suatu waktu  di masa depan, dimana hujan hanyalah bagian dari dongeng, sebab generasiku hanya mengenal kemarau yang tidak berkesudahan. Kakek sedang duduk di balkon berbahan kaca yang  depannya ditumbuhi tanaman virtual yang dapat diganti-diganti dari layar ponsel kami. Aku paling suka membuat semua daun berwarna merah jambu. Sedang kakek selalu bersikeras mengatakan “ Tanaman ini palsu, dan tidak ada gunanya.”

Namaku Chandra, gadis berusia empat belas tahun yang suka membaca novel sejarah tentang abad lalu. Awalnya ku pikir semua itu hanya khayalan, tapi kakek bilang, kisah- kisah yang ku baca itu adalah sepotong kenyataan indah yang pernah menjadi bagian dari masa kecilnya.

“ Benarkah kalian dulu makan dari tumbuhan yang ditanam dalam petak tanah berisi air?” Aku menutup buku yang tengah ku baca dan beralih menatap kakek.

Benar- benar tak dapat ku bayangkan seperti apa rasanya memakan tumbuhan betulan. Sebab kini kami hanya mendapat nutrisi dari mengonsumsi kapsul berbagai warna-tergantung kandunganya, yang didistribusikan oleh perusahan pangan global yang telah disepakati semua negara di dunia. Baiklah, sebenarnya kami masih mengonsumsi makanan jenis lain, seperti snack manis kesukaanku. Apakah mereka terbuat dari tumbuhan dan buah? Mungkin. Hanya saja mereka selalu datang dalam bentuk kemasan yang sudah diolah, dibentuk ulang, dan diawetkan. Hingga aku sudah tak bisa lagi menebak apa yang sebenarnya aku makan.

“ Iya, namanya padi. Kami akan memasaknya dan menjadikannya nasi. Lalu memakannya dengan lauk-pauk.” Sahut kakek, matanya menerawang jauh,  aku melihat seulas senyum tipis terukir di bibirnya yang keriput. Sedang aku jelas tampak kebingungan mengkhayalkannya.

Kakek memadang ke Atap Canggih– berupa lapisan cahaya laser berwarna ungu yang telah dikembangkan selama puluhan tahun untuk menyelimuti bumi. Teknologi itu kini sudah mengambil  peran seperti atmosfer.

“ Dulu kami bisa melihat langit biru di balik Atap Canggih itu, tanpa dibatasi, tanpa terhalang selimut laser yang membuat dunia muram seperti sekarang. Dulu bumi berseri, dan kami benar- benar hidup dibawah hangatnya matahari, atau tetesan hujan betulan. Menghirup udara sungguhan dari tumbuhan betulan. Kakek sedih melihatmu harus tumbuh dengan semua yang buatan, buatan manusia yang menganggap mereka hebat telah mencipatakan ini semua.” Kakek menghembuskan napas kasar. Rahangnya menegang seperti akan marah. Atau menyesal. Aku mengusap punggung tangannya.

“ Tapi mereka membuat Atap Canggih itu kan untuk keberlangsungan umat manusia kek. Bahkan dengan segala kemajuan teknologi kita saat ini, semuanya terasa jauh  lebih praktis dari apa yang sering kakek ceritakan tentang kehidupan yang lalu. Dan terbukti produktivitas kita meningkat, perekonomian maju pesat dalam lima puluh tahun terakhir dan rata- rata usia harapan hidup kita meningkat. Aku bersyukur kakek akan mencapai usia seratus dua puluh lima  tahun bulan Maret nanti. Tidakkah ini semua juga berkat Atap Canggih yang telah menaungi kita?”

“ Andai kamu tahu, mereka melakukan ini karena terlanjur  merusak lingkungan. Ini hanyalah cara bertahan hidup sementara. Sesungguhkan beradaban umat manusia sekarat.” Seketika sengatan rasa aneh muncul dibenakku. Seperti sebagian dari diriku tahu bahwa apa yang dikatakan kakek benar.

Aku tak pernah merasakan hidup sebelum Atap Canggih itu ada, namun instingku sebagai manusia tahu bahwa umat manusia hari ini benar-benar sudah dipisahkan dari terhubung dengan alam semesta secara utuh dan proposional. Kini panas matahari telah dipandang bak musuh besar manusia, padahal sejatinya ia sumber energi yang menunjang kehidupan.

 Atap Canggih itu adalah menemuan paling hebat yang pernah dibuat para ilmuwan, sebab manfaatnya yang vital bagi keberlangsungan hidup kami saat ini. Namun penciptaanya menuai banyak konflik baik secara politik maupun teknis. Tak seperti langit, matahari, bintang-bintang yang tak dapat dimiliki satu golongan tertentu sebab mereka merupakan ciptaan Tuhan yang dianugrahkan kepada seluruh makhluk. Atap Canggih kerap kali menjadi bahan rebutan baik oleh negara-negara adi berkuasa, maupun pihak swasta yang berlomba- lomba ingin membiayai penelitian lanjutan, yang kemudian akhirnya ingin memonopoli Atap Canggih untuk keuntungan segelintir orang. Mungkin inilah yang kakek maksud bahwa beradapan kami sekarat, terbukti keberlangsungan kami seolah berada di tangan pihak tertentu. Mereka sangat mungkin  memanfaatkan ketergantungan kami pada teknologi Atap Canggih untuk membuat kami mengikuti rencana- rencana mereka ke depannya.

Di aspek yang lain, tak seperti apa yang disediakan alam dimana  semuanya tepat, rinci, dan menajubkan. Seolah ada tangan- tangan yang mengatur semuanya berjalan sesuai harmoni. Atap Canggih yang merupakan bagian dari produk teknologi buatan manusia jelas memiliki banyak kekurangan di berbagai aspek. Meski disetiap tahunnya para peneliti dan pengembang membuat kemajuan- kemajuan besar untuk mengembangkannya.

Atap Canggih selain mencegah panas berlebih, radiasi sinar uv, dari matahari untuk masuk ke bumi, namun ia memiliki kekurangan dari segi teknis, pada batas tertentu ia juga menghalangi panas yang ada bumi untuk menguap keluar, sehingga membuat panas bumi tetap meningkat. Meski tidak dalam tahap yang sebahaya bila ia tidak ada. Dan laser- laser yang mereka tembakkan akhirnya membuat awan- awan yang sudah tergabung dengan susah payah-akibat penguapan yang lambat karena cahaya matahari kini terbatas akibat efek dari Atap Canggih, malah tercerai berai oleh laser ungu tersebut. Membuat curah hujan turun signifikan. Kami sudah mengalami banyak sekali kemarau dan kegelisahan.

Tentu mereka menawarkan solusi lain dengan membuat saluran- saluran aliran air yang tak kalah canggih untuk memenuhi kebutuhan air kami. Bahkan kini mereka mulai membuat hujan buatan dengan memanfaatkan air laut yang asin. Entahlah, tapi bagiku itu hanya hiburan kecil akan kerinduan kami pada hujan sungguhan.

Mungkin semua itulah yang mematik keprihatinan di hati kakek tentang kelanjutan gerenasiku yang masih panjang.

“ Tapi Chandra ….” Lanjutnya ditengah- tengah lamunanku, yang seketika buyar dan kembali memperhatikan wajah kakek.

“ Hmm?”

“ Andai mereka benar- benar hebat, dan bisa membuat mesin waktu, mungkin aku bisa kembali ke seratus tahun lalu dan membuat perubahan.”

“ Apa yang kira- kira akan kakek lakukan kalau bisa kembali ke masa dimana kalian masih bisa main hujan- hujanan, berjemur di pantai dan makan buah- buahan segar, alih- alih mengonsumsi kapsul seperti kita sekarang? ”

“ Apa saja Chandra, apa saja akan ku lakukan untuk mencegah ini terjadi, mungkin ada cara yang lebih baik ketimbang membuat Atap Canggih. Aku akan menulis banyak artikel untuk menyadarkan generasiku betapa seriusnya masalah perubahan iklim bila terus dibiarkan. Aku akan memulai diskusi- diskusi mengenai perubahan iklim dari tingkatan yang paling kecil. Aku akan lebih sering bersepeda dari pada berkeliling memamerkan mobilku ke sekeliling kota. Aku akan menanam lebih banyak tumbuhan di halaman rumahku. Apa saja, sekecil apapun yang mungkin membantu. Aku akan mulai melakukannya.” Binar mata kakek tampak menyala- nyala. Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Suara riuh kesibukan dari jalanan yang berada delapan puluh delapan lantai di bawah kami, masih bisa samar- samar terdengar.

“ Kamu tahu Chandra, dulu kami terbiasa membeli barang- barang dari tempat yang jauh, barang-barang itu diterbangkan, diangkut, diantarkan hingga ke depan rumah kami. Melewati banyak sekali perjalanan berkendara, meninggalkan banyak sekali jejak polusi ke udara. Bahkan untuk barang- barang yang kalau ku pikir tidak ada manfaatnya. Andai aku lebih bijaksana dalam berbelanja dan mengonsumsi produk- produk mungkin aku tak akan meninggalkan banyak sampah di bumi saat aku meninggal nanti. Andai aku sadar hal ini lebih awal, mungkin aku bisa memulai kebiasaan untuk berbelanja dari pasar lokal dan padagang- pedagang di sekitar tempat tinggalku. Apa aku bagian dari para perusak lingkungan itu Chandra?” Lanjutnya. Aku bergeming, memikirkannya, tak mampu menjawab. Pertanyaan itu menguap, membuat hening di antara kami yang masih duduk bersebelahan.

“ Kek ….” Kataku pada akhirnya.

“ Ya.”

“ Aku akan membuatnya, mesin waktu itu.” Kataku mantap, meski sejujurnya dalam hati tak yakin kalau mesin waktu itu nyata.

“ Aku akan membuatnya, sehingga kakek bisa pulang ke bumi seratus tahun lalu. Tuliskanlah kisah kita saat ini, semoga itu ada gunanya.”

3 thoughts on “Cerpen #39: “Risalah Kemarau Dan Atap Canggih”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *