Cerpen #38: “Keturunanku Harus Melihat”

Pagi itu, matahari mulai menyembulkan wajahnya di balik gunung. Suara Bango, ayam pejantan, di balik tembok, menyeruak keras. Awan gelap mulai memerah menandakan sudah waktunya Nanjan, delapan tahun, mengangkat badannya dari kasur kapuknya. Wajahnya memancarkan keceriaan hatinya. Hari itu, Sabtu, merupakah saat yang selalu dia nantikan.

“Apakah kamu sudah siap Nanjan?” suara ayahnya, Rumbun, memanggil di saat Nanjan sedang membersihkan diri dan menyikat giginya.

“Sebentar lagi ayah,” serunya dengan sedikit usaha karena busa pasta gigi memenuhi mulutnya.

Saat Nanjan tidak ke sekolah, ayahnya selalu membawanya ke hutan lindung di dekat rumahnya. Di sana, Nanjan akan menemani dan membantu ayahnya. Rumbun adalah Ketua Perkumpulan Pencinta Orangutan di Kampung Kadangga, tempat mereka tinggal. Nanjan, anak satu-satunya, selalu bersama ayahnya di Hari Sabtu dan Minggu serta liburan sekolah.

Tidak lama, Nanjan mendengar suara ayahnya yang bercampur dengan deru motornya dari depan rumah, “Jangan lupa bawa ransel ayah di atas meja makan.”

Saat itu, Nanjan sedang menikmati sarapan paginya dan segelas susu putih yang disiapkan ibunya, Mawinei. Dia menyantapnya dengan lahap dan cepat karena sudah tidak sabar untuk mengikuti ayahnya.

***

Dua tahun sebelumnya, malam masih menanjak, Nanjan, terhenyak dari mimpinya, meloncat dari kasurnya, mendengar suara ibu yang menggoyang-goyangkan badannya dan berteriak dengan panik, “Nanjan… Nanjan… bangun Nak, kita harus lari. Hutan terbakar!”

Ayah, ibu dan Nanjan berlari keluar rumah. Mereka berusaha mencapai titik aman untuk menyelamatkan diri. Semenjak kebakaran hutan terjadi secara regular tiap tahun, pemerintah setempat menyiapkan jalur aman berlari dan titik untuk berkumpul. Nanjan menenteng satu koper kecil berisi beberapa baju yang sudah mereka siapkan. Sementara ayah menjinjing kardus berisi makanan kering untuk beberapa hari.

“Nenek, Ayah… nenek, Ibu…,” suara Nanjan yang tiba-tiba teringat bahwa nenek tidak bersama dengan mereka. Dia membalikkan badannya untuk menjemput nenek tetapi ditarik oleh ibunya.

“Sudah terlambat Nak,” isak suara ibu membuat pedih di dada Nanjan. Serasa puluhan pisau tajam menusuk-menusuk. Tak terasa, air menetes di pipi Nanjan. Dia membayangkan apa yang terjadi pada neneknya.

Nenek Nanjan, ibu dari Mawinei, belum terlalu tua, berumur pertengahan 50an. Namun beberapa minggu lalu, dia terpeleset dan menggelinding di hutan sehingga terluka di kepala dan kakinya. Sudah beberapa lama nenek tidak berdaya. Dia hanya berbaring di kasur dan tidak bisa bergerak.

Sesampainya di titik aman, Nanjan memandang kejauhan. Air matanya terus mengalir seakan air terjun. Warna merah menyala terus membumbung ke awan seakan lidah-lidah setan yang mengamuk. Nanjan belum bisa menghilangkan bayangan neneknya yang terbaring di tempat tidur.

Mengapa ini harus selalu terjadi? Mengapa alam selalu mengamuk di pertengahan tahun? Mengapa kau begitu jahat kepada kami” Pertanyaan yang selalu muncul di kepala Nanjan setiap kali melihat lidah merah mengamuk. Kali ini dilemma beriringan dengan emosi yang membara di dalam jiwanya. Kegeraman yang timbul sejalan dengan gambaran wajah nenek.

***

Nanjan adalah seorang bocah lelaki yang mempunyai hobi membaca. Walaupun dia baru enam tahun tetapi dia cukup baik menangkap semua tulisan dari buku yang dibacanya. Ayahnya, seorang aktifis lingkungan, selalu membawakan buku setiap kali dia pergi menjalankan tugas. Bacaan yang paling Nanja sukai adalah bertema lingkungan dan satwa. Belum masuknya internet di kampung Nanjan membuat buku menjadi teman setia Nanjan.

Dari buku yang dilahapnya, Nanjan memahami bahwa kampung tempat dia tinggal rawan kebakaran hutan. Panas matahari yang menyusup karena tempat tinggalnya di kitaran garis khatulistiwa menjadi salah satu penyebab api membara dan mengamuk. Krisis iklim, membuat suhu selalu bertambah terus, penyebab dari kebakaran. Keadaan yang terjadi karena ulah manusia.

Penebangan kayu di hutan yang mengurangi kemampuan hutan menutupi cahaya atau menyerap karbon dan menghasilkan oksigen. Pembakaran lahan untuk memuaskan nafsu para pengusaha. Penghilangan tutupan hijau yang mengurangi rumah bagi satwa di dalamnya. Perbuatan manusia yang bagi Nanjan tidak masuk dalam akal pikirannya.

“Ayah mengapa manusia merusak hutan? Apakah mereka tidak tahu bahwa hutan itu menolong kelanjutan hidup bumi kita,” Nanjan akhirnya menyampaikan kebingungannya kepada ayah karena semua masih menjadi rahasia baginya.

Rumbun selalu sabar untuk mengenyangkan Nanjan dengan segala pertanyaannya. Dia menguraikan dengan bahasa sederhana supaya mudah dimengerti, “Banyak manusia belum mengerti apa arti hutan bagi hidupnya dan bagi bumi kita. Mereka lebih mementingkan harta dan menumpuknya untuk diri mereka.” Nanjan mengangguk tetapi hatinya terus bertanya.

Di kala senggang dan Nanjan tidak pergi ke sekolah, dia menemani ayahnya ke hutan lindung. Di kawasan itu, ayahnya mempunyai tugas salah satunya untuk menjaga, memelihara dan melestarikan orangutan. Nanjan membantunya menyediakan pangan di tempat yang ditunjuk Rumbun. Kadang dia menanam tumbuhan yang menjadi pakan dari orangutan.

“Nak, mengapa kamu suka sekali pergi ke hutan dengan ayah,” Mawinei menyampaikan rasa ingin tahunya pada Nanjan sesaat sebelum kebakaran hutan terjadi.

Dengan muka riang karena kebahagian yang memancar dari hatinya, Nanjan mengungkapkan, “karena orangutan binatang kesukaan aku, Ibu. Mereka seperti laiknya manusia. Mereka mengerti kalau aku ajak bicara.”

Memang di tempat Nanjan membantu ayahnya, dia berteman erat dengan satu keluarga orangutan. Dia menamai mereka Abel, sang ayah, Maya, sang ibu, dan Poli, si kakak serta Pygma, si adik. Saat tertentu, terutama ketika hari masih gelap, keluarga orangutan ini keluar dan menjumpai Nanjan. Dia menghabiskan waktu bersenda gurau dengan Poli dan Pygma. Mereka bersahabat erat selayaknya manusia.

***

Tiga bulan berlalu, api sudah mereda. Rumbun mengajak keluarganya kembali ke Kampung Kadangga. Selama ini mereka menetap di rumah orang tua Rumbun. Mereka tidak kembali ke rumah mereka karena semua habis terbakar. Mereka menempati rumah singgah tempat Rumbun bekerja sambil menunggu rumah mereka dibangun oleh pemerintah. Proses yang memakan waktu cukup lama.

“Nanjan,” suara Rumbun sambil mengambil tepat di samping Nanjan yang sedang menikmati buku bacaannya. Wajah Rumbun memancarkan keraguan. Dia baru saja kembali bersama rekan-rekannya melakukan perhitungan kerusakan yang terjadi akibat kebakaran. Nanjan harus menunggu beberapa lama sebelum akhirnya Rumbun membuka mulutnya.

“Ayah baru kembali dari hutan. Tempat tinggal Abel hancur. Ayah dan teman-teman menemukan tulang belulang di sekitarnya,” Rumbun bersuara sambil menggenggam kedua tangan Nanjan.

Nanjan tercengang dan termangu. Dia tidak mampu berkata-kata. Bayangan nenek belum menghilang dari kepalanya. Sekarang dia membayangkan Abel, Maya, Poli dan Pygma. Keluarga itu berpelukan di tengah amukan si merah yang membahana. Mereka tidak berdaya. Mereka terkurung si jago merah yang mengamuk.

Kembali air mata mengucur dari mata Nanjan dan mengalir deras pada kedua belah pipinya. Rumbun mengangkat Nanjan, yang sesegukan karena kesedihan mendera di dalam dadanya, ke atas pangkuannya dan memeluknya.

“Jangan sedih ya, nak. Masih banyak orangutan lain yang hidup. Kita harus tetap bekerja membantu mereka. Kamu masih tetap mau membantu ayah, kan?” Pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan anggukan oleh Nanjan. Kesesakan terlalu menekan. Dia tidak mampu berkata-kata. Dadanya berkobar penuh kemarahan. Semua rasa bercampur aduk mengacaukan perasaannya.

“Kita harus tetap berusaha menjaga orangutan. Mereka tidak berdaya. Jumlah mereka turun terus setiap tahun,” Rumpun terus berucap untuk menguatkan Nanjan.

“Tetapi ayah, apa yang akan ayah lakukan dengan teman-teman ayah. Bagaimana supaya manusia sadar mereka salah?” Nanjan akhirnya mengekspresikan kata hatinya setelah dia berhasil menghentikan isaknya.

Masih dengan menimang dan memeluk Nanjan, Rumbun bertutur, “Kami tidak akan berhenti mengingatkan dan menyadarkan mereka. Ayah berharap kamu juga. Kita tidak boleh putus semangat.”

Jawaban yang membangun tekad dan semangat dalam diri Nanjan. Dia akan terus berjuang dan mengajak teman-temannya untuk bersama menyelamatkan orangutan di sekitar tempat tinggal mereka. Respon Rumbun mengundang Nanjan untuk bergerak dan memanggil teman-temannya. Mereka adalah anak-anak dari rekan sekerja Rumbun yang juga tinggal di rumah singgah karena rumah mereka juga dilahap lidah merah.

Nanjan melepaskan pelukan ayahnya dan berlari memanggil mereka, teman-teman dekatnya, “Arai, Hante, Ratna, Eko, Harati, ayo kita berkumpul.” Mereka juga selalu bersama dengan ayah mereka pergi ke hutan di saat tidak sekolah. Mereka berkawan sangat dekat karena kegemaran yang sama mereka miliki.

Tidak lama terdengar derap kami yang mengguncang lantai papan rumah singgah. Mereka membentuk lingkaran di halaman depan rumah singgah. Mereka berdiskusi dan membangun kebersamaan untuk menyelamatkan orangutan.

“Kita harus bantu ayah-ayah kita menyelamatkan orangutan. Kata ayah, orangutan tiap tahun berkurang jumlahnya. Jangan sampai mereka habis. Keturunan kita harus melihat orangutan secara langsung, jangan hanya dari gambar,” Nanjan memberi semangat kepada teman-temannya.

Harati langsung merespon Nanjan, “Iya betul. Tadi ayah juga bilang kalau tahun ini ratusan orangutan mati karena kebakaran,” suaranya terdengar serak karena menahan kesesakan dadanya. Sahutan yang mengundang semua terdiam sejenak, menahan sakit di dada mereka dan membayangkan orangutan mereka dilahap si jago merah.

Mereka terus berdiskusi berbagi cerita yang disampaikan  ayah mereka masing-masing. Mereka membangun rencana untuk membantu. Mereka menyatukan semangat untuk menjaga, memelihara dan melestarikan orangutan. Mereka menyiapkan target dan berjanji akan selalu berkumpul setiap Hari Minggu sore. Mereka semua bertekad keturunan mereka harus melihat orangutan langsung, bukan dari gambar.

Semenjak hari itu, Nanjan menjadi jauh lebih bersemangat ikut membantu ayahnya. Kehilangan keluarga Abel masih terus membekas di dalam dirinya. Kepergian mereka membangun tekat Nanjan. Apapun kegiatan ayah untuk menolong orangutan, dia akan ikut serta selama dia tidak ada kegiatan di sekolah. Hadirnya teman-teman di sisinya menambah besar gairahnya. Malah Nanjan membuat rencana dan jurnal sederhana dengan bantuan ayah dan ibunya.

***

Jurnal menjadi sahabat tambahan Nanjan selain buku bacaan. Dia menuangkan semua yang dilakukannya pada buku jurnalnya. Dia memberi judul jurnalnya “Ketutunanku Harus Melihat”.

Hari itu, sambil membuka jurnalnya, Nanjan bertanya pada ayahnya, “Apakah hari ini kita jadi membuat kanal bloking, ayah?” Dia sangat gembira karena membuat kanal menjadi satu pengalaman baru baginya. Buku-buku pemberian ayah mengenai fungsi kanal sudah ditelannya. Dia tahu kanal akan sangat membantu orangutan dan pakan yang ditanam di sekitar kanal.

Sambil sarapan pagi bersama Nanjan, Rumpun membalas, “Jadi, nak. Kita akan berangkat pagi supaya banyak waktu.” Nanjan bergegas menyelesaikan sarapan paginya. Dia tidak mau ketinggalan. Dia sudah mengajak teman-temannya juga.

Sambil mengisi jurnal hariannya, Nanjan memandangi ayahnya yang sedang merapikan ransel kerjanya, “Ayah, selain untuk orangutan dan pakan, fungsi kanal itu apa kalau dihubungkan dengan kebakaran?” Dia mengerenyitkan keningnya, terus melihat ayahnya sambil memegang penanya yang berhenti bergerak.

“Karena kanal akan menahan air dan lahan gambut jadi basah. Kamu kan tahu, gambut kering salah satu sebab dari kebakaran,” Rumbun menjelaskan sambil menutup ransel kerjanya. Nanjan menuliskan penjelasan ayahnya pada jurnalnya.

Pengalaman membangun kanal membangkitkan antusiasme Nanjan. Dia banyak bercakap-cakap dengan teman-teman ayahnya untuk semakin meyakinkan dirinya bahwa kanal ini akan membantu orangutan. Dia akan berbagi ceritanya kepada teman-temannya setiap Hari Minggu sore di acara pertemuan mereka. Energi dan gelora Nanjan meningkat ke puncak seiring dengan siapnya kanal. Cerita yang Nanjan goreskan dalam jurnalnya.

***

“Kita akan mengembangkan usaha sampingan untuk membantu yayasan mendapatkan pemasukan,” Rumpun mengungkapkan rencana pencarian dana yang akan mereka lakukan bersama rekan-rekan kerjanya.

Saat itu Rumbun, Mawinei dan Nanjan sudah menempati rumah baru mereka, rumah sederhana dengan dua kamar. Diskusi mereka lakukan di teras depan sambil menyeruput kopi aroma duren dan nangka serta mengepulkan asap rokok kretek. Nanjan sedang merebahkan dirinya di sofa ruang tengah dan menikmati buku mengenai satwa primata sambil terus mengunyah kripik durean yang disiapkan Mawinei.

Pernyataan Rumbun merangsang Nanjan untuk menghentikan bacaannya. Dia bangun dan mengambil jurnalnya serta menuliskan “Rencana Baru Ayah”. Dia menuangkan strategi yang diungkapkan Rumpun dan rekan kerjanya sambil memikirkan langkah untuk menyampaikannya pada teman-temannya. Halaman baru di jurnalnya berjudul “Ecotourism”.

Namun, kepala Nanjan dipenuhi dengan pertanyaan. Kebingungan memenuhi dirinya. Nanjan menerung dan terus mengamati tulisannya. “Kalau banyak orang datang nanti orangutan takut. Mengapa ayah mengundang orang? Apakah ayah sudah menjadi seperti pengusaha yang mencari uang?

Saat makan malam, Rumbun menepis pengertian Nanjan. “Penyebutan kata eco mengartikan bahwa wisatawan yang datang bukan untuk merusak. Akan ada aturan dan syarat yang ketat, Nanjan.”

Uraian Rumbun dan percakapan panjang saat makan malam membuka wacana Nanjan. Dia sudah berumur tujuh tahun. Jurnal selalu ada di sekitarnya. Nanjan tidak mau kebobolan satu ceritapun. Dia menuangkan dengan teliti dan detail pencerahan yang didapatnya dari Rumbun.

Mawinei turut menambahkan, “konsep ecotourism akan membantu ibu-ibu di kampung ini juga, Nanjan. Kami bisa sama-sama menyiapkan masakan dan membereskan kamar yang akan dibangun di kitaran rumah singgah.” Nanjan mengangguk dan kembali menorehkan semua ke dalam bukunya.

Rumbun dan Mawinei memandang Nanjan dengan bangga. Antusias dan semangat Nanjan membuat mata mereka berbinar. Gairah Nanjan sebagai penerus mereka sering memukul keras dada mereka karena perasaan berbunga-bunga yang tumbuh. Mereka menggambarkan Nanjan dalam kepala mereka sebagai Nanjan, sahabat orangutan, seorang pejuang. Nanjan menjadi pemuda yang kuat dan tidak gentar sesuai dengan arti namanya.

***

Nanjan telah menyelesaikan sarapan pagi dan susunya. Dia menarik ransel ayahnya dan bergegas menaiki motor ayah. Dia bersiap membantu ayah. Dia sudah mengatur rencana dengan teman-temannya. Dia berteguh hati menjaga keberadaan orangutan di Kampung Karangga. Dia mempunyai satu kemauan keras untuk memastikan keturunannya bisa melihat orangutan secara langsung bukan dari gambar.

Nanjan memahat semua gairah, semangat dan geloranya dalam buku jurnalnya. Teman setia yang selalu ada di sekitar dia.

Keturunanku Harus Melihat!

Aku tahu alam sering mengamuk, api merah tinggi menggapai awan seakan ingin meraupnya. Lidah merah sang iblis menjerit-jerit laksana ingin melahap bumi. Kemarahan yang meraup semua keindahan. Kegusaran yang merenggut nenek. Kegeraman yang menghilangkan sabahatku, Abel, Maya, Poli dan Pygma.

Aku murka pada mereka. Manusia yang tidak merasakan. Manusia dengan kekejamannya. Mereka semena-mena terhadap alam, bumi tercinta yang menjaga iklim. Tempat kita dan mereka berpijak serta menumpang hidup. Penopang seluruh kehidupan yang menghadirkan udara, menyediakan air, mensuplai makanan. Mereka, manusia, penuh keegoisan dan pementingan diri.

Aku tidak akan putus asa. Aku tahu, aku bisa. Aku tahu, ayah, ibu, teman-temanku dan semua akan bekerjasama menjaga bumi ini. Aku yakin kami bisa memelihara rumah yang ditempati milyaran orang. Aku percaya bisa menjadi penerus kerja ayah, ibu dan rekan-rekan kerja mereka.

Aku akan terus mengajak teman-temanku untuk tetap semangat. Aku akan berjuang lebih keras dan mengajak yang lain. Aku akan ingatkan mereka betapa baiknya orangutan, betapa mereka bisa menjadi sahabat berbagi cerita, sahabat bersenda gurau. 

Aku akan selalu menyentil mereka jangan hanya kita yang berseloroh langsung dengan orangutan, keturunan kita juga harus bisa berteman dengan orangutan!”.

***

17 thoughts on “Cerpen #38: “Keturunanku Harus Melihat”

  1. Bukan hanya Manusia mahluk hidup yg ada di Bumi ini & berhak hidup di dalamnya. Banyak mahluk hidup lainnya pun yang BERHAK utk hidup di bumi ini, maka jagalah bumi utk kenyamanan SEMUA mahluk hidup BUKAN hanya Manusia.

  2. Orangutan itu juga makhluk ciptaan Tuhan yang membutuhkan tempat untuk hidup. Mari kita jaga rumahnya supaya anak cucu kita bisa melihat OU yang adalah sodara kita juga .

  3. Ceritanya bagus banget buat kita semua untuk belajar berkaca dan introspeksi diri apa yang sudah kita lakukan untuk alam. Karena warisan kepada generasi penerus kita bukan hanya materi dan moral tetapi juga alam termasuk hewan dan tumbuhan.

  4. Cerita yg sangat menarik dan bermanfaat untuk mengedukasi pembaca dari segala usia, bahwa alam tidak akan terlepas dari kehidupan manusia walau bagaimana majunya ilmu pengetahuan.

  5. Cara yang paling bisa dilakukan agar orang utan tidak punah ialah menjaga habitatnya karena perkembangbiakan orang utan memang lamban dibandingkan kita manusia

  6. suka sm ceritanya dan suka dg ajakannya utk menjaga bumi…di mulai dr hal2 kecil drmh.. hrs dimulai dr skrng.. berusaha bngt utk selalu bawa tas belanja dr.rmh utk.mengurangi penggunaan.plastik..jg mengurangi penggunaan air yg berlebih…baru bs.itu aja sih..

  7. Kita semua yg hidup di bumi ini ciptaan TUHAN baik itu manusia hewan dan alam semesta hendak nya kita sama2 menjaga semua yg di ciptaan NYA jangan malah merusak nya sehingga ke abadian dapat kita rasakan bersama dan semua dapat kita rasakan ke indahan dan keharmonisan antar sesama

  8. Kebakaran hutan yg semakin lama semakin membuat hati miris perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Habitat hidup buat orangutan seakan-akan menjadi hal remeh. Mereka juga makhluk hidup. Mereka punya hak hidup di dunia ini. Tentu butuh kerjasama dari semua elemen masyarakat terkait soal ini. Kalau tidak ada langkah konkrit, kedepannya akan banyak Abel-Abel lain yg mengalami nasib mengenaskan.

  9. Semoga bumi kita berpijak, Indonesia … kita masih bisa memelihara satwa dan tumbuhan hingga semua anak cucu kita bukan hanya mendapatkan warisan tulisan dan gambar, tetapi mereka semua bisa melihat mereka semua bergerak Dan bernyawa bukan hanya sekedar mama , Aamiin

  10. Terharuu bacanyaaa….. semoga kita semua semakin dicerahkan utk mencintai dan menghargai mahkluk hidup lain ciptaan Tuhan, krn semua makhluk butuh tempat tinggal, butuh hidup….🙏🙏🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *