Cerpen #37: “Kerusakan Bumi”

Hai! Aku Adhara Angelia. Teman-teman sering mamanggilku dara. Aku siswi kelas 3 SMP. Aku mendapatkan tugas sekolah untuk memperhatikan dan menuliskan bagaimana keadaan lingkungan sekitar. Setelah aku selesai mengerjakan tugas itu, aku masuk ke dalam rumah dan menonton acara di televisi.

Di televisi aku melihat berita bahwa kini kondisi bumi kian memburuk. Terlihat jelas tumpukan sampah plastik yang beraroma tak sedap memenuhi sungai, kebakaran hutan di mana-mana, banjir, tanah longsor dan sebagainya.

Aku bertanya dalam hati bumi ini semakin rusak, apakah sebentar lagi bumi akan punah? Bagaimana jadinya jika bumi yang aku pijak sekarang punah? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul dikepalaku.

Tanpa disadari, aku tertidur. Tiba-tiba saja aku berada di sebuah tempat yang menurutku sangat asing. Terlihat jelas di depan pintu masuk tertulis bahwa ini adalah sebuah taman kota. Namun bagiku tak terlihat seperti taman sedikit pun. Tak ada satupun tanaman yang aku lihat berada di sini. Tanpa disadari ada seorang ibu yang duduk di sebelah ku, aku bertanya pada beliau. “Maaf Bu, kalau boleh tahu sekarang tanggal berapa ya?” Kataku. Beliau menjawab “sekarang tanggal 20 Januari 2121, nak.” Aku tak percaya bahwa sekarang aku sedang berada pada 100 tahun yang akan mendatang.

Tempat ini begitu gersang, cahaya matahari yang sangat menyengat. Hanya suara bising kendaraan yang terdengar jelas di telingaku. Tempat ini sangat berbeda di 100 tahun yang lalu, dimana masih ada pohon-pohon rindang dipinggir jalan, suara burung yang berkicau saling menyahut dan udara segar.

Diujung taman, aku melihat banyak sekali orang-orang yang sedang bergerombol, entah apa yang sedang mereka lakukan. Aku penasaran, lalu segera aku mendekati gerombolan tersebut. Betapa terkejutnya aku ketika yang ku temui ternya sekelompok orang yang hendak membuang puluhan kantong plastik besar berisi sampah ke dalam sungai.

Lalu aku bertanya pada salah satu dari mereka, mungkin usianya sama denganku.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Tanyaku.

“Seperti yang kau lihat, itulah yang kami lakukan sekarang.” Jawabnya

“Tapi apa yang kalian perbuat dapat merusak bumi ini.” Kataku berusaha menghentikan aktivitas mereka.

“Aku tak peduli dengan semua ucapanmu. Uruslah urusanmu sendiri, jangan ikut campur kepada urusanku. Cepat minggir aku harus segera membuang sampah-sampah ini ke dalam sana.” Balasnya

Aku pun pergi dari tempat itu. Aku menyusuri sungai tersebut, tampak di sebrang sana banyak sekali orang-orang yang sedang menebangi pohon tanpa memilih pohon mana yang layak di tebang dan mana yang seharusnya dibiarkan tumbuh. Sehingga menyebabkan kurangnya serapan air hujan di daerah perkotaan.

Lahan-lahan kosong kini sudah dibangun menjadi gedung-gedung mewah bertingkat. Pohon-pohon kini sudah dijadikan berbagai perabotan. Aku merasa sedih, mengapa bumiku menjadi seperti ini?

Tiba-tiba terdengar suara yang begitu keras sampai membuatku tersentak. Ku cari sumber suara itu, dan tak kalah terkejutnya aku ketika melihat hutan yang sedang mereka tebangi tiba-tiba longsor. Banyak orang yang tertibun oleh tanah longsor tersebut, sehingga membutuhkan waktu lama untuk mencari satu persatu dari mereka.

Keadaan sangat kacau waktu itu. Banyak jiwa yang tak sempat terselamatkan karena tempat tersebut sangat sulit untuk dijangkau oleh kendaraan. Tak sampai situ saja, tiba-tiba hujan turun dengan sangat derasnya. Aku melihat air hujan mengalir begitu saja tanpa menyerap kedalam tanah. Mengakibatkan air tersebut menggenang yang lama kelamaan terjadi sebuah banjir bandang. Aku sangat takut sekali.

Aku terbangun dari tidurku, “syukurlah semua itu hanya mimpi” ucapku. Segera aku berlari keluar untuk melihat keadaan sekitar. Dan ya, bumi yang sekarang aku pijak masih terlihat baik-baik saja. Tidak separah seperti keadaan yang kulihat didalam mimpiku itu.

Dari mimpiku ini aku belajar bahwa menjaga kelestarian bumi sangatlah penting. Entah itu untuk kita atau untuk generasi yang akan mendatang. Yang ku tau pasti, kita semua mempunyai kewajiban untuk menjaga kelestarian bumi ini.

Bisa dimulai dari yang mudah saja, seperti membuang sampah pada tempatnya dan saling mengingatkan untuk itu. Kita dapat melakukan reboisasi atau penghijauan kembali. Agar terdapat serapan air hujan dan tidak mengakibatkan banjir. Dan yang tak kalah penting adalah ketika kita menebang satu pohon, maka kita harus menanam pohon-pohon baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *