Cerpen #36: “World Ending”

Layar besar yang terpasang di setiap jalan menunjukkan berita tentang bencana-bencana di seluruh dunia. Bangunan-bangunan pencakar langit menjulang dengan begitu gagah di setiap sudut bumi. Di tahun 2121 ini, tak ada lagi rumah-rumah kumuh milik masyarakat.

 

Hampir semua umat manusia menjadi begitu sukses di masa ini. Hanya hampir, sebab ada beberapa manusia yang hidupnya tampak begitu menyedihkan. Mereka tak punya tempat tinggal dan uang, dengan terpaksa mereka meminta-minta layaknya pengemis. Namun di masa ini, semua orang Samgat lah egois. Mereka hanya mementingkan diri sendiri dan tak kenal waktu untuk mencari uang.

 

Clara, gadis itu melihat negara tercintanya yang sudah begitu berbeda dengan yang neneknya ceritakan. 100 tahun yang lalu, Indonesia merupakan negara rukun dimana masyarakatnya saling membantu satu sama lain. Dulu, Indonesia memiliki ragam budaya dan alam yang mampu membuat negara lain iri. Namun kini … semua negara di bumi ini sama. Lautan dan hutan-hutan sudah tak ada, hanya ada sampah yang menggunung.

 

Di zaman ini, cuaca tak bisa di prediksi dengan pasti namun yang paling sering terjadi adalah musim kemarau sehingga air dan makanan di zaman ini begitu mahal.

 

“Clara,” panggil Ibu Clara.

 

Clara yang mulanya tengah menulis artikel,  menghentikan kegiatannya. Ia menatap sang Ibu yang usianya kini sudah menginjak 45 tahun.

 

“Ayok makan dulu,” lanjut Ibu Clara.

 

Clara mengangguk lalu berjalan mengikuti sang Ibu ke ruang makan. Di ruang makan sudah ada Ayah dan adiknya.

 

“Semakin hari cuaca semakin tak terkendali,” ujar Ayah sembari menatap daun-daun yang mulai mengering dari balik jendela.

 

Clara mengikuti arah pandang Ayahnya kemudian menganggukkan kepala. Benar kata Ayahnya, semakin hari cuaca semakin tak terkendali. Bahkan sekarang ramalan cuaca pun tak menjamin apa yang akan terjadi esok.

 

Clara iri pada orang-orang 100 tahun yang lalu, mereka bisa hidup dengan santai tanpa harus memikirkan bagaimana keadaan bumi 100 tahun mendatang.

 

Clara menatap keluar jendela kamar. Matanya memandang ke bawah sana, tepatnya ke jalanan kota yang tampak sangat padat. Bahkan pandangan Clara terasa buram akibat tertutup polusi dari asap-asap kendaraan. Sejujurnya … baik 100 tahun yang lalu atau sekarang, semuanya sama saja. Meski di masa ini manusia seakan tahu kapan berakhirnya kehidupan di bumi, mereka tahu jika ‘sebentar lagi’ semuanya akan musnah.

 

Pandangan Clara teralihkan ke sebuah jalanan dimana ada beberapa orang pengemis yang tergeletak di jalanan. Namun, tak ada yang menolongnya. Air mata Clara keluar, batinnya seakan teriris melihat semua ini. Ia langsung berlari keluar rumah dan menemui pengemis yang entah masih hidup atau tidak itu.

 

Langkah Clara terhenti tepat di hadapan pengemis itu. Ternyata, bukan hanya satu tapi ada sekitar 5 orang pengemis yang nasibnya sama. Clara membungkam mulutnya menggunakan tangan agar isakan tangisnya tak keluar. Baru saja berdiri di bawah matahari selama beberapa saat, namun ia sudah merasa jika kulitnya seakan terbakar dan kepalanya pusing. Clara menghubungi pihak Rumah sakit untuk mengurus mayat-mayat ini. Ia lalu berjalan mencari tempat teduh, tepatnya di bawah bangunan megah di sekitar sana.

 

Mata Clara bergulir menatap sekitar. Yang ia lihat hannyalah bangunan-bangunan besar yang menjulang tinggi. Tak ada satu pun pohon bahkan rumput yang tumbuh di zaman ini. Sumber airnya pun hannyalah air yang diproses menjadi air bersih dari sungai yang kotor.

 

Setiap hari, ada jutaan orang yang tiada karena kekurangan gizi, keracunan makanan dan terkena radikal bebas. Zaman ini sungguhlah menyedihkan!

 

Melihat keadaan bumi yang seperti ini, Clara bertekad untuk mengikuti jejak sang Nenek. Ia bertekad membuat orang-orang sadar tentang betapa penting menjaga lingkungan sekitar. Bukan hanya itu, Clara juga bertekad untuk mencari cara untuk menyelamatkan bumi ini dari kehancuran.

 

Sejak hari dimana Clara memutuskan untuk mengikuti jejak sang Nenek, Clara terus saja menyuarakan isi hatinya pada dunia. Ia membuat artikel-artikel yang menyuarakan isi hatinya terhadap ketakutannya selama ini.

 

Di tengah aksinya, Clara bertemu dengan empat orang yang ternyata juga tengah melakukan hal yang sama seperti dirinya. Clara begitu senang kala tahu jika ia kini ia tak sendiri. Dan satu fakta yang semakin membuat Clara senang, ternyata mereka adalah cucu dari para teman neneknya yang dulu juga pernah sama-sama menyuarakan pendapatnya tentang penting dan bahayanya Pemanasan global.

 

Galang, Arkeen, Rachel dan Diana. Itulah nama empat teman barunya.

 

Kini, kelima orang itu tengah berada di dalam mobil milik Galang. Perjalanan diisi oleh candaan Galang dan Rachel.

 

Waktu demi waktu telah mereka lalui bersama, hingga tanpa sengaja Clara jatuh cinta terhadap Arkeen. Beruntung, cinta Clara tak bertepuk sebelah tangan sebab ternyata Arkeen juga memiliki perasaan padanya.

 

Selama 1 tahun, mereka terus menyuarakan isi hati mereka tentang ke khawatiran terhadap bumi. Dalam 1 tahun itu pula, keadaan bumi semakin parah. Orang-orang bahkan tak ada yang berani untuk keluar dan berdiri di bawah sinar matahari.

 

Hingga hari yang paling menyakitkan bagi Clara tiba. Hari dimana Clara dan teman-temannya harus kehilangan sosok Arkeen. Clara terus menangis meraung tak terima atas kepergian Arkeen. Lelaki yang sudah menyandang status sebagai kekasihnya 1 tahun lalu itu, meninggal akibat Kanker.

 

Hari-hari berlalu, Clara dan ketiga temannya masih saja bersedih akibat kepergian sahabat mereka. Keadaan bumi semakin hari pun semakin parah. Puluhan juta orang di kabarkan meninggal akibat radikal bebas dan juga kekurangan gizi. Air dan makanan di masa ini pun semakin menipis.

 

Hingga akhirnya, semuanya berakhir. Tahun ini, menjadi tahun akhir kehidupan manusia.  Dan semua kehancuran ini berasal dari satu hal … kesalahan nenek moyang mereka yang kurang peduli terhadap lingkungan sekitar dan pemanasan global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *