Cerpen #35: “Perbaikan”

Sudah bertahun-tahun hujan tak kunjung turun. Angin panas bertiup kencang, mengeringkan tanah hinga terpecah. Awanpun sangat sulit untuk ditemukan. Bangunan yang menjulang tinggi dan tampak kokoh itu menutupi langit-langit. Kendaraan pun mulai bermacam-macam, dengan mengeluarkan asap yang sama. Dunia modern tidak lebih baik daripada yang lama. Bahkan di pegunungan juga sudah minim pepohonan. Yang ada hanyalah gedung-gedung dan rumah-rumah mewah. Harga pangan melonjak tinggi. Tingkat kematian pun sama. Akibat kemarau yang menerjang keseluruhan di bumi, membuat petani kesulitan memanen. Antar negara saling mengekspor dan memgimpor barang agar saling terpenuhi.

 

Seseorang duduk di rooftop cafe, sembari melihat mobil terbang yang melintas di udara, rasanya seperti melihat suasana di film fantasi. Namun kini ia sedang berada di dunia nyata. Sebuah robot berjalan mengantarkan pesanannya, lantas ia mengambil secangkir kopi dan menganalisa robot-robot yang berlalu lalang itu. Sudah sejak lama, ia hidup di dunia yang canggih seperti ini. Teringat kata nenek buyutnya yang telah pergi puluhan tahun lalu, saat dirinya masih kecil, begitu indahnya dunia tanpa kecanggihan seperti ini.

 

Setelah hidup tiga puluh tahun, dirinya menyadari. Bahwa apa yang dikatakan oleh nenek buyutnya adalah hal yang benar. Ia bahkan tak sempat melihat dunia sederhana di mata nenek buyutnya itu. Sejak ia lahir, ia sudah melihat banyaknya teknologi canggih yang melintas. Setelah menghabiskan secangkir kopi, ia berjalan menuju kantornya menggunakan mobil terbang miliknya. Dari atas, ia melihat banyak sekali udara tak sehat. Apalagi kota yang padat itu, udara yang panas menjadi amat panas.

 

Berhasil mendarat di parkiran kantornya, ia disapa oleh temannya yang juga baru sampai, “Hei, Raden. Sudah sarapan?” Mendengar itu, Raden mengernyitkan dahinya, “Ada angin apa kau menanyakan hal itu kepadaku, Alex?” Tanyanya lalu terkekeh.

 

Alex tertawa, ia merangkul bahu Raden dan menyeretnya masuk ke dalam gedung megah yang di dalamnya berisi alat-alat canggih. Raden menyadari suhu udara yang semakin panas, “Lex, apa kau sadar berapa tahun sudah tidak turun hujan?”

 

Alex terdiam tampak berpikir, “Tidak tahu. Dua abad, mungkin?”

 

“Jangan bercanda.” Alex tertawa, “Lagipula, mengapa kau tiba-tiba bertanya hal seperti itu?”

 

“Apa kau tak sadar? Udara semakin panas.” Alex mengangguk-angguk, “Ya. Dirumah sampai menyediakan 20 unit pendingin ruangan,” jawabnya. Raden menggelengkan kepalanya, ia melangkah lebih dulu menuju ruangannya. Meninggalkan Alex yang termenung karena ditinggalkan oleh Raden. Melihat orang-orang dengan perut berisi, berlalu lalang menggunakan smart balance wheel membuat Raden mendengus. Tidakkah ia perlu berjalan untuk menurunkan berat badannya itu? Ia sadar, semakin unggul teknologi, semakin banyak pula manusia yang terlalu bergantung dengan teknologi.

 

Disisi lain ia melihat seseorang membuang sampah sembarangan. Namun, seketika robot datang dan membersihkannya. Mereka disebut sebagai robot kebersihan. Dunia teknologi ini begitu mengerikan. Mereka menganggap, bahwa semua masalahnya akan teratasi dengan teknologi.

 

“Mengapa wajahmu seperti itu?” Suara seseorang mengagetkan Raden dari belakang, “Profesor Arvin? Tidak apa-apa. Hanya saja, saya tampak tidak bisa beradaptasi dengan baik, meskipun ini dunia saya sejak lahir.”

 

“Maksutmu? Kau menginginkan dunia yang bagaimana?”

 

“Ah, saya hanya ingin melihat apa yang nenek buyut saya lihat. Dunia tanpa polusi, dan musim hujan masih alami, mungkin?” Tanyanya pada diri sendiri.

 

Sang profesor tersenyum, ia menepuk bahu Raden, “Apa kau ingin ikut?” Raden sedikit tertarik dengan ajakan profesor tersebut, “Kemana?”

 

“Ke dunia yang kau inginkan?” Raden mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh profesor. Namun, profesor berjalan begitu saja melewatinya dengan senyuman kecil yang Raden lihat sekilas. “Mengapa diam saja? Ayo,” Ajak sang professor. Raden tampak gelagapan. Ia pun memilih untuk mengikuti sang profesor untuk menuju ke sebuah ruangan dengan pintu yang berlapis-lapis. Hingga memperlihatkan sebuah pemandangan yang indah di depan matanya.

 

Raden terperangah. Alangkah indahnya apa yang saat ini ia lihat. Ia mencoba memegang tumbuhan yang menjalar, tetapi hanya cahaya yang berhasil mengenai tangannya. “Jangan salah. Mereka hanya hologram,” Ucap sang Profesor. Seketika apa yang ia lihat lenyap begitu saja, berganti dengan suasana nyata yang lengang. Hampir saja ia melupakan kenyataan bahwa dunia ini teknologinya sudah sangat maju.

 

“Apa ini ruangan kerja profesor?” Tanya Raden hati-hati. Sedari tadi ia ingin menanyakan, fungsi dari tempat ini, dan juga mengapa keamanannya lebih ketat dari ruangan yang lain.

 

“Iya, mungkin? Sebentar lagi mereka juga datang.” Mereka? Raden mencoba memahami apa yang sedang dilakukan profesornya di dalam ruangan besar yang sepi ini. Dan siapa mereka yang profesor maksut? Suara langkah kaki mulai terdengar di telinga Raden. Hanya langkah kaki, tidak ada suara yang keluar dari bibir.

 

“Nah, itu mereka,” Ucap profesor membuat Raden menoleh ke arah pintu yang berbeda dari yang ia masuki. Ternyata itu juga pintu. Padahal yang ia lihat hanyalah tembok putih yang tak bertekstur. Mata dan pikirannya menghitung orang yang masuk melalui berbagai pintu. Ruangan yang aneh, pikir Raden.

 

“Baik, selamat datang. Ah, ini adalah anggota terakhir dari proyek besar yang akan kita kerjakan beberapa tahun kedepan.”

“Proyek apa profesor?” Tanya Raden membuat semua perhatian beralih kepadanya. Raden tidak nyaman atas semua pandangan mata yang mengarah padanya. Ia merasa, memangnya salah bertanya? Padahal ia anggota baru.

 

“Kita akan reboisasi habis-habisan di tengah-tengah kota, diujung kota, bahkan ke seluruh dunia. Mereka bukan hanya dari kota kita, mereka semua adalah persatuan dari manusia di dunia ini. Selain itu, kita juga akan menghilangkan limbah yang sudah menumpuk di satu tempat,” Jawaban sang profesor membuat Raden tertarik. Ia agak ragu untuk ikut, tetapi bukankah selama ini ia menginginkan apa yang dilihat oleh nenek buyutnya seratus tahun yang lalu?

 

Pada tahun 2000, nenek buyut Raden lahir dengan dunia yang masih asri, teknologi pun belum terlalu memadai. Lalu perubahan mulai terjadi saat tahun 2040, ditahun ini, teknologi sudah semakin canggih. Mesin dan robot pintar mulai bermunculan. Bahkan bentuk robot yang menyerupai manusia pun mulai ada. Semakin lama, teknologi semakin berkembang pesat. Pepohonan banyak yang ditebangi, sungai mulai mengering. Begitupula dengan gedung-gedung tinggi yang menutupi langit. Saat itu dunia sudah berada pada tahun 2070, tahun dimana Raden lahir ke dunia. Raden sangat dekat dengan nenek buyutnya, setiap pekan ia datang berkunjung dengan mendengarkan cerita neneknya tentang bagaimana dunia saat neneknya masih kecil dulu. Hingga akhirnya, neneknya meninggal saat tahun 2080.

 

Sekarang, tahun ia menempati dunia ini adalah 2100. Tepat 100 tahun umur neneknya, jika nenek buyutnya masih ada di dunia ini. Neneknya mengatakan padanya, bahwa dunia memang sudah mulai rusak. Jika perlu, neneknya ingin menjadi pahlawan super untuk menyelamatkan dunia ini, katanya sembari tertawa. Raden kecil hanya tertawa, karena nenek buyutnya suka bercanda tawa dengannya. Setelah ia tumbuh dewasa, ia jadi paham, mengapa neneknya ingin menyelamatkan dunia. Terik matahari yang menyengat kulit, apakah aman bila dibiarkan terus menerus? Ia juga pernah mengelilingi sawah yang semakin kecil jangkauannya, terlihat kering dan retak-retak. Dari sanalah, ia berpikir untuk menyelamatkan dunia. Namun, ia tidak menemukan satu orang yang sepemikiran dengannya. Mereka semua menikmati era teknologi yang canggih ini tanpa memperkirakan akibatnya.

 

Lubang ozon telah menipis dan bahkan terbuka diberbagai tempat di dunia. Daerah yang lapisan ozonnya masih tertutup tidak akan mengerti bagaimana penderitaan orang saat terkena sinar ultraviolet matahari langsung. Hingga akhirnya ada yang meninggal karena hal tersebut. Orang-orang jenius juga berpikir, bagaimana cara menutup kembali lubang ozon tersebut. Pada akhirnya itu hanyalah kehendak alam, yang tidak bisa mereka ubah kecuali memberhentikan proyek besar-besaran yang menjadi penyebab lubang ozon terbuka. Namun, tentu saja mereka menolak menghancurkan teknologi yang sudah berkembang pesat sejauh ini. Mereka yang tidak mengalaminya, memilih untuk menutup mata terhadap kasus tersebut.

 

Hal-hal yang seperti itu, telah muncul di berita yang setiap pagi Raden lihat di layar hologram pen miliknya. Apalagi tentang pembuangan limbah di sebuah pulau tak berpenghuni itu, bisa-bisanya mereka tidak merawat malah menghancurkannya. Bahkan air laut juga mulai keruh, di zaman ini tidak mudah mendapatkan air murni yang jernih. Hanya orang-orang berdompet tebal yang memiliki air paling jernih di dunia.

 

Setelah ia bertemu dengan profesor, sedikit berbincang tentang apa yang ada dalam pikirannya. Raden sangat senang, karena akhirnya ada yang berpikiran sama dengannya. Hingga akhirnya ia berdiri di sebuah ruangan bersama orang-orang yang mempunyai tujuan yang sama dengannya. Raden memilih untuk mengikuti proyek besar dengan pimpinan Profesor Arvin yang akan mereka ikuti setiap selesai jam kerja, bahkan hingga rela pulang telat untuk selalu mengikuti rapat. Berdiskudi tentang apa yang akan mereka lakukan untuk proyek besar ini.

 

Raden ditugaskan di berbagai tempat. Ia pergi menggunakan mobil terbang miliknya dan menanam berbagai pohon yang dapat tumbuh dengan lebat dan bertahan kuat. Begitupula anggota lainnya. Lalu, pada akhirnya tindakan mereka diketahui oleh para pemimpin teknologi canggih tersebut. Alhasil Profesor Arvin di penjara karena merusak salah satu fasilitas umum yang aslinya tidak disebutkan di rencana.

 

Tidak hanya profesor, yang lainnya pun mendapatkan teguran dan sanksi. Namun seseorang menyuruh Raden bersembunyi untuk meneruskan proyek agar berjalan dengan lancar. Ruangan yang lama sudah tidak dapat dipakai lagi, namun data-data telah tersimpan di dalam satu pena hologram yang saat ini Raden bawa. Ternyata pemerintah tidak setuju atas ide profesor untuk melakukan reboisasi besar-besaran. Padahal selama ini mereka tutup mata akan adanya demontrasi yang terjadi di depan gedung perusahaan. Hanya saja yang kali ini, lebih membuat mereka resah, karena profesor sampai turun tangan untuk membela para masyarakat.

 

Sebenarnya dunia ini tidak ada pemimpin lagi. Yang ada hanyalah pemimpin beberapa perusahaan dengan teknologi yang meningkat pesat. Mereka adalah dunia pemerintahan pada tahun ini. Pemimpin layaknya raja dan presiden sudah tidak dibutuhkan lagi. Hanya ada pimpinan dari berbagai perusahaan yang mempunyai kerja sama untuk membangun dunia modern lebih maju.

 

Diam-diam, Raden bersama komplotan yang masih ada bersamanya, mengatur waktu untuk pertemuan di sebuah markas baru untuk melanjutkan proyek tersebut. Rencananya, setelah proyek berhasil, mereka akan membebaskan sang profesor. Mereka tahu, sekelompok kecil mereka akan kalah dengan para pimpinan yang sombong itu. Maka mereka mempunyai rencana besar untuk menyatukan seluruh masyarakat miskin ataupun kaya yang diam diam mendukung peminimalisiran teknologi.  Hari berganti hari, bulan berganti bulan, mereka berhasil mengumpulkan ribuan orang untuk melakukan demontrasi di depan gedung perusahaan. Tidak hanya satu, melainkan di berbagai perusahaan. Mereka juga tidak hanya mengutarakan perasaan, tetapi mereka sampai menghancurkan properti perusahaan seperti robot selamat datang dan lain sebagainya.

 

Para warga tidak datang dengan tangan kosong. Berbagai senjata modern mereka bawa untuk menjaga diri. Mereka pun mempertaruhkan diri demi memberi masa depan yang baik bagi generasi selanjutnya. Agar iklim kembali membaik pula. Mereka bahkan lupa bagaimana berjalan di atas jalan yang penuh salju, ataupun berjalan di bawah pohon berbunga yang berhamburan. Kemudian juga, mereka lupa bagaimana rasanya hujan-hujanan dengan cuaca yang mendung. Karena yang tersisa kini hanyalah musim panas terpanjang di dunia. Sejak puluhan tahun lalu, musim hujan telah dianggap punah karena awan tak lagi muncul di permukaan langit. Hal itu tentu saja membuat warga resah. Hingga kini mereka berani menentang para pemimpin perusahaan yang memperlakukan teknologi bak dewa.

Suara tembakan terdengar dari atas, para warga pun terkejut. Satu demi satu dari mereka berjatuhan. Itu adalah ulah dari salah satu kaki tangan pemimpin perusahaan tersebut. Demi tujuannya, mereka berani untuk membunuh para warga yang merupakan alat percobaan di mata mereka. Mendengar kabar tersebut, Raden yang tadinya bertugas menanam kembali pohon-pohon bersama masyarakat yang lain pun langsung melejit ke tempat kejadian tersebut. Dimana orang-orang telah mati bersimbah darah di depan gedung tinggi. Mata Raden memerah, begitu teganya mereka melakukan hal tersebut sesama manusia. Pada awalnya, warga tidak ada niatan untuk menembak. Mereka hanya membawa senjata untuk menjaga diri saja, seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya. Namun, dengan kejinya mereka menembak satu per satu orang yang rela mati demi keturunannya.

 

“Dasar manusia tak punya hati,” Geram Raden mengepalkan kedua tangannya. Dengan penuh amarah ia berjalan, namun tangannya ditarik kembali oleh kawannya.

 

“Hei, jangan tergesa-gesa. Kau ini pemimpin pengganti profesor, pikirkanlah dengan baik.” Raden menghempaskan tangan yang mencegahnya pergi saat ini, “Dengan baik? Mereka menggunakan kekerasan. Mengapa kita tidak?!”

 

“Sabarlah… Ini memang kejadian yang mendadak, karena kita terlaku fokus dengan rencana utamanya. Kau janganlah gegabah lagi, Raden!” Raden menggeritkan giginya, nafas yang tersengal-sengal kini mulai normal. Air matanya tak sengaja keluar. Ia memutuskan untuk mundur terlebih dahulu bersama warga yang lain. Tak lupa ia juga membereskan mayat yang tergeletak begitu saja di depan gedung, dengan menguburnya satu persatu.

 

Beberapa hari setelahnya, mereka mencoba membuat hujan buatan sementara untuk menyejukkan kota. Orang-orang terasa senang, mereka bermain dibawah tetesan air. Begitupula dengan Raden.

 

Malam hari, setelah semuanya tidur. Raden diam-diam menyelinap keluar dengan membawa beberapa senjata di kantong dan tas ranselnya. Ia sudah memikirkan berbagai kemungkinan. Jadi, ia akan berbicara pada temannya untuk meneruskan proyek besar Profesor Arvin. Malam ini, Raden berinisiatif untuk membebaskan sang profesor dari jeruji besi yang tidak biasa.

 

“Kau yakin? Ini terlalu gegabah, Raden.”

“Aku yakin, aku juga sudah berlatih. Aku yakin, aku berhasil membebaskan Profesor Arvin.”

“Lalu bagaimana dengan dirimu?”

 

Raden tertawa, “Hei Alex, sang miliarder yang memiliki dua puluh unit pendingin ruangan. Bukankah kau harus lebih memperhatikan keluargamu daripada aku?

 

“Tentu saja. Mereka lebih bermakna darimu.”

 

Raden tertawa lagi, “Nah. Salam buat keluargamu, aku janji akan membawa Profesor Arvin kembali. Jadi, kau jaga dulu mereka dengan baik ya?” Ucapnya dengan melihat para manusia yang terkulai lemas di lantai beralaskan kasur tipis.

 

Alex menghela nafasnya, “Kembalilah dengan nyawa yang utuh.” Raden hanya tersenyum untuk menanggapinya.

 

Raden bergerak pelan-pelan dari perusahaan terkecil, hingga akhirnya sampai ke perusahaan terbesar, dimana Profesor Arvin terkurung. Semua pemimpin, ia berhasil habisi. Bukan. Lebih tepatnya, ia hanya membuat mereka lumpuh. Peluru mulai keluar menusuki tangan dan kaki para penjaga. Karena saking banyaknya penjaga yang berjaga, tembakan mereka tentu saja mengenai tubuh Raden. Meski tidak sampai jantung ataupun organ penting lainnya. Tangannya juga tak berhenti menembaki para kaki tangan perusahaan.

 

Hingga ia menemukan sel sang profesor, dan dengan tubuh yang lemas ia menggunakan benda khusus untuk membuka jeruji tersebut. Namun, kali ini pemimlin yang datang. Melihat Raden terkulai lemah, ia tertawa terbahak-bahak. “Mengapa berlutut dilantai begitu? Kau tidak punya tempat tidur? Malangnya…” Ucapnya sambil menendang kepala Raden. Raden menggenggam erat pistol dan melumpuhkan sang pemimpin bersama kaki tangannya.

 

Sel yang sebetulnya sejak tadi terbuka, mengundang Profesor Arvin untuk keluar. Namun, karena tembakan terakhir Arvin tepat melumpuhkan si pemimpin dan kaki tangan terpercayanya. Maka, profesor tak perlu lagi membunuh pemimpin busuk tersebut.

 

“Apa kau baik-baik saja, Raden?” tanya sang professor. Sembari terbatuk-batuk, Raden tersenyum, “Tidak apa profesor. Tolong buat dunia kembali lagi, profesor. Semua orang sudah bekerja sama untuk memperbaiki iklim di dunia ini. Kita sudah berhasil menumbuhkan ratusan pohon. Terimakasih profesor, atas keberanian yang anda berikan kepada saya.”

 

“Maaf Raden. Gara-gara saya-”

“Tidak apa profesor. Ini demi dunia yang lebih baik,” potong Raden sembari terbatuk-batuk.

Profesor Arvin tersenyum getir, “Kau sudah bekerja amat baik, Raden. Terimakasih banyak.” Hingga akhirnya Raden menutup mata untuk terakhir kalinya. Setelah beberapa hari semenjak kepergian Raden, Profesor Arvin mulai mengatur semuanya untuk mengembalikan iklim dan meminimalisir teknologi yang menyingkirkan para pekerja seperti petani, nelayan, dan sebagainya.

 

Belasan tahun kemudian, ribuan pohon yang ditanam sudah mulai tumbuh tinggi. Awan pun kembali muncul perlahan. Gedung-gedung tinggi yang menutupi langit pun mulai diratakan dengan tanah. Kini mereka hidup normal tanpa polusi yang berlebihan. Berita pun sering menampilkan hal baik, terutama lubang ozon yang sempat terbuka lebar, kini menyusut.

 

Inilah dunia yang diinginkan Raden. Semuanya telah terlaksanakan karena kerja kerasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *