Cerpen #34: (Tanpa Judul)

Seratus tahun yang lalu, hidup kami masih tergolong damai. Daun-daun yang rimbun menjadi mahkota kami yang teramat menawan, tubuh kokoh kami kuat berdiri di atas tanah yang gembur nan subur.

Beberapa burung dengan bulu pancarona hinggap pada ranting-ranting. Beberapa menetap dan membangun sarang yang bersender pada batang.

Kicauan mereka yang merdu tak pernah meninggalkan rumah kami dalam keadaan sunyi walaupun hanya untuk sekali saja. Kepakan lembut sayap mereka sesekali membuat helaian mahkota kami yang sudah mulai menguning jatuh ke tanah tempat kami berpijak.

Beberapa mamalia kecil terkadang berhenti di bawah kami. Berlindung dari sinar matahari yang cukup menyengat di bawah naungan mahkota kami yang lebar.

Terkadang mereka memanjat, bergelantungan pada ranting, walaupun beberapa kali mereka pernah jatuh akibat ranting yang patah karena sudah keropos bagian dalamnya.

Ingin sekali diriku ini meminta maaf, namun Tuhan yang bijaksana tidak memberikan kami mulut untuk bercakap pada makhluk ciptaannya yang lain.

Namun mereka nampak tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sekalipun mereka jatuh saat bergelantungan, mereka tak pernah sekalipun memarahi kami. Malah, mamalia itu bersorak dan kembali memanjat.

Selain mamalia dan juga burung, ada beberapa tumbuhan kecil yang tumbuh dan juga berkembang di dekat kami.

Dahan yang menjulur dan juga merambat pada batang kami. Hal itu cukup menyenangkan karena akhirnya kami bisa mendapatkan sebuah pelukan dari makhluk tanpa tangan dan juga mulut seperti kami ini.

Namun terkadang tumbuhan seperti mereka mencuri makanan dari kami, membunuh kami secara perlahan. Walau seperti itu, tak apa. Tuhan tidak memberi kami tangan ataupun kaki, itu adalah pertanda kalau kami memang ditakdirkan oleh Nya untuk tak pernah melawan.

Yang paling menggemaskan adalah serangga. Mereka tumbuh dengan koloni, beramai-ramai. Sangat menyenangkan ketika mereka bertandang dengan kumpulannya pada musim-musim tertentu. Membangun sarang mereka di bawah tanah, ataupun tinggi pada dahan yang menyangga mahkota daun kami.

Kami semua hidup mengandalkan satu sama lain, membantu satu sama lain.

Aku merasa sangat bahagia ketika mereka bisa hidup karena kami. Tak pernah menyakiti kami, sekalipun kami adalah makhluk yang tak berdaya. Tak pernah menyalahgunakan kami , sekalipun kami hanyalah makhluk paling rendah dalam kasta kehidupan yang sudah diatur oleh Nya.

Jenggala kami teramat damai. Burung-burung kembali melantunkan kidungnya, menunggu betina untuk hadir dan mempersilahkannya untuk mencumbu.

Dersik membuat mahkota ku bergesekan satu sama lain dengan mahkota orang lain. Geli memang. Andaikan aku memiliki mulut, aku pastilah akan tertawa keecil karena perasaan ini.

Kami adalah makhluk derana. Tetap menerima apapun yang makhluk lain lakukan kepada kami, asalkan mereka tak menyakiti kami dan indraloka yang kami jaga dan sayangi.

Namun ada satu makhluk ciptaan Nya yang selalu kami pertanyakan kelakuannya.

Nama makhluk itu adalah manusia. Mereka sungguh sempurna. Memiliki tangan dan kaki yang lengkap untuk bergerak kesana dan kemari. Memiliki mata yang indah untuk melihat sekitar dengan jelas. Memiliki mulut yang bisa digunakan untuk berbicara dengan makhluk lainnya yang sejenis dengannya.

Namun kenapa, Tuhan?

Kenapa makhluk sesempurna mereka tidak mampu menghargai kami?

Sedikit demi sedikit, kami dibunuh dengan keji oleh makhluk Mu itu. Bengis sekali, dengan gergaji tajam mereka yang berduri.

Rasanya aku ingin melarang mereka. Ingin melindungi makhluk seperti diriku yang lainnya, Tuhan.

Namun kau tak memberiku kemampuan untuk bergerak. Kau tak memberiku tangan dan kaki seperti mereka.

Sepertinya Kau sangat mencintai mereka ya, Tuhan?

Aku harus kembali menjadi makhluk yang derana. Ingin sekali ku palingkan pandanganku. Namun lagi, aku tidak bisa wahai Tuhan ku Yang Agung.

Makhluk mu ini tidak bisa.

Ketika hewan-hewan yang awalnya bernaung di bawahku ini terusir oleh mereka, aku mulai kehilangan harapan, Tuhan. Apakah makhluk menggemaskan seperti mereka yang Kau ciptakan itu tak memiliki arti apa-apa lagi bagi Mu, wahai Tuhan?

Rumah mereka dihancurkan. Diriku, teman-teman ku yang tak pernah mengeluh. Kami dibunuh oleh manusia kesayangan Mu, wahai Tuhan.

Kami dipotong, kami dibakar, kami dihancurkan.

Apa salah kami?

Tuhan, kami tanya sekali lagi. Apakah salah sebuah pohon? Apakah yang ia perbuat sampai makhluk kesayangan Mu nampak sangat marah dengan kehadiran kami pada jenggala kami sendiri?

Tuhan, makhluk mu yang rendahan ini teramat ingin sekali saja untuk diberi kesempatan agar bisa berbicara dengan para manusia.

Kami ingin bertanya kepada mereka, Ya Tuhan.

Berjuta pertanyaan ingin kami ajukan kepada mereka. Kami ingin satu kesempatan saja untuk sekedar bertanya sebelum benda tajam itu entah bagaimana caranya bisa menembus tubuh kokoh kami.

Namun sampai kini, Engkau tak pernah memberikan kesempatan itu kepada kami, Tuhan.

Apakah Engkau melihat tanah gembur kami yang berubah menjadi retak? Apakah Engkau melihat bagaimana tubuh-tubuh kami menjadi semakin kurus setiap tahunnya? Apakah Engkau melihat bagaimana sang surya membakar mahkota kami yang dulunya teramat indah?

Tuhan, tolong. Sebelum aku mati, tolong berilah diriku ini kesempatan untuk bertanya.

Teman yang tumbuh di sebelahku sudah ditebas, Tuhan. Aku bahkan tak memiliki kesempatan untuk menggenggam tubuhnya yang jatuh menggetarkan bumi. Tolong, sebelum aku menyusulnya. Makhluk ini ingin bertanya.

Apa salah kami, Tuhan?

Apakah kau tak mendengar teriakan ku, Tuhan?

Apakah suara makhluk mu ini semakin melemah?

Tuhan, saya jatuh.

Tubuh saya membentur tanah jenggala kami yang berubah.

Saya sudah tidak sanggup lagi Tuhan. Tak sanggup dengan pertanyaan yang bertumpuk dan juga rasa sakit pada tubuh saya yang tinggal separuh.

Engkau tak pernah menjawab pertanyaan ku ini, wahai Tuhan.

Sampai akhirnya semuanya menggelap. Sampai akhirnya kalimat ‘Pohon terakhir Hutan Sumatera’ terucap dari mulut manusia.

Seratus tahun diriku hidup. Puluhan tahun diriku menunggu sebuah jawaban dari Mu.

Engkau tak pernah menjawab pertanyaan ku, Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *