Cerpen #32: “Hadiah Naik Kelas”

Tangan kiri dan kanannya bergantian menjinjing plastik polybag berukuran sedang berisi dua batang bibit, hingga kedua lengannya berkilat keringat. Dari pertigaan jalan raya menuju rumah sederhana yang ditinggalinya di pinggiran kota, dia harus berjalan kaki cukup jauh—tidak naik ojek. Memang dia harus berhemat.

Yadi, pria itu, akhirnya lega, lelah menjadi sirna ketika akhirnya tiba pula di muka rumah, telah tampak Rina anaknya dan Yani istrinya yang tengah duduk menunggunya di teras depan. Namun, Rina terheran-heran melihat Bapaknya yang datang tergopoh-gopoh itu membawa sesuatu yang asing baginya. Rina menjadi terpaku dalam duduknya, tak mau beranjak untuk berdiri menyambut kedatangan Bapaknya. Dalam hitungan belasan detik, Rina tetap saja duduk.

Yadi tertegun melihat Rina yang membisu. Yadi menatap dalam-dalam. Rina akhirnya bertanya pula, “Ini pohon-pohon apa, Pak?”

“Bibit mangga dan rambutan.” Yadi menjawab singkat dan pikirannya terus menduga-duga, apakah anaknya akan suka atau tidak.

“Ini untuk siapa Pak?”

Yadi tidak menyangka dengan pertanyaan yang diajukan, hingga timbullah rasa cemas di hatinya. Meskipun begitu, berusaha menenangkan diri. “Tentulah ini untukmu, sebagai hadiah dari Bapak untuk kenaikan kelasmu yang keempat. Bapak sungguh berharap, Rina mau menerima dan menyayangi bibit-bibit ini dengan senang hati. Nanti, Rina juga sesekali harus ikut merawatnya bersama Bapak, ya.”

Rina terdiam, kemudian cemberut, terlihat sangat kecewa. Tanpa berkata apa-apa, secara tergesa berdiri dari duduk, berlari, pergi masuk ke dalam rumah menuju kamar. Yadi menjadi terlongo melihat satu-satunya buah hati meninggalkannya begitu saja. Ini mengakibatkan Yadi dipandang tajam Yani, istrinya. Lalu mengajukan protes. “Kenapa Bapak malah membelikannya bibit mangga dan rambutan? Bukankah hadiah kenaikan kelas yang selama ini diinginkannya adalah sepatu?”

“Menurutku, sepatu yang ada masih layak pakai. Kalau memaksakan membeli, satu sepatunya menjadi mubazir di sudut dapur.”

“Rina juga terlalu kecil untuk mengerti, untuk apa bibit mangga dan rambutan sebagai hadiah kenaikan kelasnya.” Yani sengit menangkis.

“Tidak begitu. Malah sebaliknya, Rina harus dilatih mencintai pepohonan sedari kecil.” Yadi tidak mau kalah.

“Iya, itu memang benar. Tapi yang jelas, lihat saja kenyataannya sekarang, anak kita malah ngambek karena diberi hadiah dua bibit.” Yani kemudian lekas-lekas menyusul. Di depan pintu kamar, berkali-kali mengetuk pintu. Namun, Rina rupanya tidak juga mau membukakan pintu, di kamarnya terus menelungkup, menangis pula. Yani tidak memaksakan untuk masuk, kembali bergegas ke teras depan.

Kali ini, Yadi dan Yani saling berdiam. Kemudian duduk seraya memandang bibit-bibit dalam plastik-plastik polybag yang teronggok berdempetan. Batang-batangnya segar, setinggi sekitar satu meteran, namun daun-daunnya serta ranting-rantingnya merunduk—seolah-olah bersedih karena mendapat penolakan dari gadis kecil dan ibunya.

“Sekarang, mau diapakan bibit-bibit ini?” Yani ketus bertanya.

“Maumu diapakan? Masa dibuang?”

Yani menjadi mati kuku.

Yadi meneruskan bicara, “Tentu saja untuk ditanam di halaman belakang. Aku sudah susah-susah mencari dan membeli. Ini bibit unggul hasil perkawinan silang. Kalau benar-benar mendapat perlakuan baik, dua tahun pun sudah berbuah meskipun belum banyak karena masih belajar.”

“Masa bodohlah dengan bibit mangga dan rambutan itu, paling juga daun-daunnya dimakan ulat atau dipatuk ayam tetangga. Yang aku pikirkan sekarang hanyalah sepatu untuk hadiah kenaikan kelas. Bagaimana kalau dia sampai sakit karena keinginannnya tidak dipenuhi? Padahal sudah berminggu-minggu anak kita menginginkannya.”

**

Di hari kedua perang dingin masih berlangsung, Sabtu sore itu Yadi ke halaman belakang, menengok dua bibitnya yang masih dalam polybag, disimpan sementara tergeletak di ubin menempel ke dinding—sejajar dengan pot-pot lain berisi aneka macam bunga. Tampak juga Yani, sedang duduk-duduk di kursi. Yani sesekali memperhatikan suaminya yang tampak membelai-belai daun-daun mangga, bergiliran membelai daun-daun rambutan.

Tiba-tiba, Yadi meminta tolong, “Bawakan aku air seember, ya.”

“Ambil saja sendiri!” Yadi tidak menyangka, istrinya masih marah. Namun Yadi mendiamkan, memilih mengalah meskipun dengan setengah terpaksa, pergi sendiri ke kamar kecil untuk membawa seember air.

Ketika Yadi sedang dengan perlahan dan lembut usai menyirami bibit rambutan, Yani menghampiri. Suasana kembali menjadi panas seperti beberapa hari yang lalu. Keduanya kembali bertengkar tentang hadiah kenaikan kelas. Yani tetap kukuh ingin membelikan sepatu untuk Rina. “Teman-teman sekelasnya sudah ada yang memiliki. Lagian, anak kita biar lebih bersemangat. Pokoknya, dalam seminggu ini harus ada sepatu!”

Yadi tetap tidak mau kalah, “Sudah kukatakan berkali-kali kan, sepatu yang ada masih layak pakai.”

Yani tidak mau berdebat lagi, masuk ke dalam rumah.

Cahaya matahari sore itu pun semakin redup. Senja sudah tiba. Dalam keadaan termenung, tiba-tiba Yadi teringat temannya yang bekerja di instansi pertanian—bagaimana caranya agar bibit yang ditanam dapat tumbuh dengan baik. Yadi kemudian bergegas mencangkul membuat dua lubang—yang akan dibiarkannya menganga selama seminggu, agar udara dan cahaya matahari masuk, supaya tanahnya lebih gembur. Kemudian setelahnya, lubang-lubang akan diuruk dengan tanah bekas galian yang telah bercampur dengan pupuk kandang, yang juga akan dibiarkan seminggu.

**

Pada Minggu pagi, Rina masih berselimut, tak mau bangun dari tempat tidur.

Yani menjadi cemas, “Apa kan kataku? Jangan-jangan kesehatan Rina mulai turun. Kiranya tidak ada jalan lain, selain harus membelikan sepatu untuk Rina.”

“Kukira, paling juga dia kecapaian, kan kemarin sampai sore bermain sepeda dengan teman-temannya. Ya, kalau tubuhnya agak panas, kasih saja dulu obat warung”

Belum sempat Yani menjawab, Rina yang mendengar percakapan orang tuanya di ruang tengah, bangun dari tempat tidurnya, menuju ruang tengah. “Rina tidak sakit. Rina tidak mau minum obat. Rina hanya ingin dibelikan sepatu, Pak.”

Yadi tak menduga, Rina masih mengidamkan hadiah kenaikan kelas itu. Yadi berusaha tenang. “Nanti saja awal tahun ya, Bapak akan belikan.” Rina menunduk, dengan lemas kembali menuju kamar.

“Paak!” Tiba-tiba Yani meninggikan suara. “Hampir habis kesabaranku melihatmu yang tetap tak mau membelikan sepatu!”

“Baiklah. Sekarang, mana uangnya untuk membeli sepatu. Kau punya? Kau kan tahu, gajiku berapa sebagai seorang buruh pabrik.”

“Kalau begitu, aku akan pinjam ke ayahku. Sepatu itu akan menjadi hadiah kenaikan kelas dariku untuk Rina, walau pun telah terlewat beberapa hari.”

Yani bergegas ke belakang rumah, menuju rumah ayahnya.

Namun, Yani kecewa karena ayahnya sedang tidak punya uang untuk meminjamkan.

**

Satu hari kemudian, Yani di rumah tak berhenti marah-marah. Pekerjaan rumah tangganya dibengkalaikan.

Yadi pun mengeluh karena sebagian pekerjaan rumah tangga harus diambil alih.

Keadaan seperti itu terus terjadi dalam beberapa hari ke depan. Yadi mengurut dada, tak berkutik dengan apa yang telah anak-istrinya lakukan sebagai protes.

Meskipun begitu, Yadi bergeming tak berusaha membelikan sepatu untuk anaknya. Selama di rumah sepulang dari pekerjaan, lebih menyibukan diri merawat bibit mangga dan rambutannya dalam polybag dan bunga-bunga lain dalam pot. Yadi ada kalanya memandang lama-lama semua tanamannya. Setiap hari, dua kali disiramnya, sehingga semuanya terlihat segar.

**

Sore cerah hari itu adalah tepat dua minggu bibit mangga dan rambutan berada dalam polybag, sudah siap untuk dibenamkan ke dalam tanah. Yadi kembali menggali dua lubang yang seminggu lalu telah diuruknya, lalu membuka plastik polybag, menaruh bibit-bibitnya dalam lubang, lalu ditutupinya dengan tanah yang telah bercampur dengan pupuk kandang, namun tidak terlalu padat—agar udara masih bisa masuk, serta leher akar ditatanya agar rata dengan tanah.

Yadi pun meminta agar Yani mengambilkan air seember. Kali ini, Yani menurut dan diikuti Rina. Seraya menyiram, Yadi tersenyum, bibit pohon mangga dan rambutannya kini telah menancap di bumi. Seraya membelai-belai rambut anaknya, berkata, “Sabar ya, semoga tahun depan, bila Rina naik kelas lagi, berbarengan dengan tepat satu tahun pohon mangga dan rambutan tertanam, Bapak akan membelikan sepatu.”

Yadi meneruskan bicara, “Pepohonan kan penghasil oksigen. Coba bayangkan bila di halaman depan atau halaman belakang setiap rumah tumbuh dua pohon. Untuk puluhan tahun bahkan ratusan tahun ke depan, tentulah lingkungan akan tetap terjaga. Air pun akan tersimpan banyak di dalam tanah.”

“Di pinggir-pinggir jalan juga, harus banyak pohon ya Pak,” Rina membalas.

“Iya..”

***

Bandung, Oktober 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *