Cerpen #30: “Perjalanan Singkat Sia”

Hidup di dunia yang serba modern menawarkan kita segala kemudahan dan kecepatan di segala sendi kehidupan. Gedung – gedung pencakar langit bertebaran di mana – mana. Sejauh mataku memandang, gedung menjulang tinggi tak luput dari pandangan. Jalanan semakin hari semakin sibuk. Para manusia di dunia sibuk mengejar waktu. Kata orang waktu adalah uang memang benar adanya. Kalau saja ada orang yang menjual waktu, pasti akan diburu oleh banyak orang. Harganya pasti akan melambung tinggi melebihi harga bensin. Kepulan asap dari jalanan dan berbagai sudut kota membuat udara semakin panas. Masifnya pembangunan berimbas pada lahan hijau yang didominasi oleh pohon – pohon rindang.  Hutan dan lahan hijau lainnya dibabat habis demi bertambahnya lahan untuk pembangunan. Pepohonan itu ditebang dengan alat yang kita sebut dengan gergaji. Suara pilu dari gergaji mengiris hati karena para penghasil oksigen alami sudah tamat riwayatnya.

Gersang, panas, dan berdebu. Itulah gambaran kotaku tercinta. Kota di mana aku dilahirkan dan aku tinggal sampai sekarang umurku 10 tahun. Sejak aku lahir, kota ini sudah panas meranggas. Tapi saat hujan tiba, banjir merendam kota. Polusi udara membuat orang banyak terkena sesak napas. Dasar manusia. Meskipun tahu udara yang mereka hirup itu kotor, tapi tetap saja bebal dengan terus menebang pohon.

Rafflesia arnoldii, bunga endemik Indonesia yang juga namaku, telah punah akibat kerakusan manusia. Mereka yang tak bertanggung jawab merusak habitat bunga raflesia dengan aksi penebangan liar. Merusak hutan praktis menyumbang perubahan iklim. Akibat ulah rakus manusia, alam pun marah pada mereka. Imbasnya bukan hanya kepada mereka saja, melainkan kepada orang yang sama sekali tak berbuat kerusakan. Kakek pernah bercerita kalau Kakek Buyut adalah seorang pecinta alam. Beliau  Beliau pernah diceritakan kalau Kakek Buyut pernah berkunjung ke hutan lindung tempat rafflesia arnoldii bersemayam.

“Bunganya berwarna merah dengan titik – titik putih di sekujur kelopaknya. Walaupun baunya menyengat, tapi keindahannya menjadi daya tarik banyak orang, termasuk wisatawan mancanegara. Keindahannya menjadikan inspirasiku untuk memberimu nama Rafflesia Arnoldii,” ujar kakekku pada suatu sore yang panas.

Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi 100 tahun lalu. Aku hanya bisa melihat keadaan masa itu dari foto – foto kakekku yang ada di media sosialnya. Waktu itu, Jakarta yang kini telah tenggelam, masih menjadi kota tersibuk di negeri ini. Jutaan manusia menggantungkan hidupnya di Jakarta untuk mencari nafkah. Lahan – lahan hijau dibuat gundul. Pabrik – pabrik besar dengan cerobong asap tinggi – tinggi menyemburkan asap hitam. Aku bisa membayangkan betapa sesaknya bernapas ketika oksigen telah bercampur dengan karbon monoksida. Manusia saat itu tak ambil pusing dalam menggunakan kendaraannya. Dalam satu keluarga yang terdiri dari empat orang anggota keluarga saja masing – masing mempunyai motor. Jangankan pergi ke tempat jauh, belanja ke warung yang jaraknya 200 meter dari rumah saja pakai motor. Ya, memang sih jadinya lebih cepat sampai. Tapi apa mereka tak sayang bumi ? Bahan bakar yang digunakan untuk motor dan mobil mereka berasal dari minyak bumi. Asap yang dihasilkan dari kendaraan mereka membuat polusi udara. Itu masih satu keluarga. Coba bayangkan setiap keluarga di dunia ini memiliki kendaraan bermotor lalu mereka gunakan pada waktu yang bersamaan. Alhasil bumi akan cepat menemui ajalnya. Bumi akan rusak karena pemanasan global akibat gas – gas yang keluar dari knalpot kendaraan. Gas buang yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor terperangkap di atmosfer menyebabkan panas matahari tak bisa dipantulkan lagi oleh atmosfer. Makanya, suhu di bumi saat ini sangat panas. Ulah nenek moyangku saat itu menjadi petaka bagi kami sekarang.

Kakekku memberikan selembar daun jarak yang telah dilaminating saat aku ulang tahun yang ke-9. Daun jarak itu dulu sengaja Kakek laminating agar beliau ingat bahwa di depan rumah masa kecilnya ada sebuah pohon yang tinggi dengan biji pohon yang berjatuhan. Biji jarak berbau apak seperti kaus kaki yang tak dicuci selama sebulan.

“Kalau kau ingin tahu masa laluku, lihat saja daun ini. Empu dari daun ini jadi saksi bisu kenakalan Kakek sampai akhirnya ditebang karena lahan tempat pohon jarak dibangun kontrakan delapan pintu.”

Daun laminating pemberian kakekku kugantung di depan pintu kamarku. Tak hanya daun pohon jarak saja, saat aku ulang tahun yang ke-10, Kakek memberiku sebuah lukisan buatannya. Lukisan tersebut menggambarkan sebuah pohon rindang dengan daun hijau serta kekuningan. Batang pohonnya besar seolah – olah dengan ranting yang juga besar seolah – olah akan memeluk setiap orang yang melewatinya. Daun – daun pohon tersebut berguguran di tanah yang gersang. Sebagai pemanis, ada tiga ekor burung pipit yang sedang bercengkerama di ranting pohon. Ketiga burung itu terlihat seperti sedang mendiskusikan hal serius dengan tiupan lembut angin yang berasal dari pohon. Kata kakekku, pohon ini namanya adalah pohon beringin. Pohon yang bisa mencapai usia ratusan tahun. Semakin tua pohon beringin, semakin besar pula batang pohonnya. Sayang sekali, aku tak sempat melihat pohon sebesar itu. Aku hanya melihat tanah gersang dan kurang air. Apa gunanya gedung – gedung tinggi kalau makhluk hidup di bumi semuanya hampir sekarat karena tak ada pohon yang tumbuh ?

Di tengah udara malam yang panas, kupandangi lukisan pohon beringin pemberian Kakek. Lampu kamar kumatikan demi menghemat energi. Walaupun lampu kamar padam, tapi cahaya dari lampu teras yang menyusup dari balik tirai cukup untuk menyinari kamarku.  Aku beberapa kali menghela napas sembari berpikir seandainya aku hidup di masa bumi yang masih ditumbuhi pepohonan. Aku berharap bumi kembali hijau seperti cerita dari buku – buku yang kubaca. Lama kupandangi lukisan pohon beringin tua itu, aku merasa ada sesuatu hal ganjil. Tiba – tiba saja angin dingin berhembus meniup wajahku. Tiupan angin itu membuat mataku yang semula segar berubah menjadi redup. Semakin lama, rasa kantuk menggelayuti mataku. Lambat laun, mataku terpejam.

***

Aku berada di tempat yang sama sekali tak kukenali. Asing. Tak pernah kuinjakkan kakiku di tanah yang ditumbuhi oleh rerumputan hijau. Aku mencium bau lembap dari tanah yang basah setelah diguyur hujan. Pepohonan berbatang besar menjulang tinggi memayungi tanah yang luas. Di mana aku ? Apa aku sedang berada di hutan ? Menurut buku yang pernah kubaca, hutan adalah tempat berbagai macam binatang untuk hidup. Contohnya adalah ular dan monyet. Hutan menjadi tempat yang menyeramkan tapi sangat penting untuk kelangsungan hidup.

Aku berjalan menyusuri hutan dalam gelap. Setiap kakiku melangkah, suara ranting yang terinjak oleh kakiku memecah keheningan. Suara burung yang tak kukenali saling bersahutan seolah menyapaku. Terdengar dari kejauhan ada suara monyet. Semakin lama, suara monyet itu semakin mendekat. Aku penasaran di pohon mana monyet itu menggelantung. Saat aku menengadah ke atas, aku kaget bukan kepalang. Seekor monyet melompat dari pohon dan berdiri tepat di depanku. Aku menggigil melihat monyet itu menyeringaiku. Sekujur tubuhku berkeringat dingin. Monyet itu menatapku tajam. Melihat mata monyet itu memelototiku, aku langsung lari terbirit – birit. Semakin kencang aku lari, monyet itu mengejarku.

“Tunggu ! Hai, manusia ! Tunggu !” Aku sontak kaget mendengar suara melengking dari arah belakang. Kutengok ke belakang. Ternyata suara itu berasal dari monyet yang sekarang sedang mengejarku. Aku mengencangkan lariku agar tak terkejar oleh monyet.

“Hai manusia ! Jangan lari ! Tunggu !” Monyet itu naik ke pohon dan mengejarku dengan menggelantung dari satu pohon ke pohon lain. Tak lama kemudian monyet itu melompat dan berdiri di depanku. Ia menghadangku dengan merentangkan kedua tangannya. Aku berdiri mematung. Badanku menggigil. Keringat muncul dari semua pori – pori kulitku yang membuat bajuku basah.

“Kenapa kamu harus lari, sih ? Aku tidak akan menyakitimu.” Aku yang semula ketakutan menjadi keheranan karena aku bisa mengerti apa yang dikatakan oleh monyet. Keningku mengerut dengan bibir mengerucut.

“Kenapa harus takut ? Harusnya aku yang takut padamu,” ucap monyet berbulu coklat itu.

“Kenapa harus takut padaku ?,” tanyaku.

Ia memutar bola matanya lalu bertelakkan pinggang.

“Manusia sepertimu telah merusak habitatku. Banyak teman – teman dan keluargaku yang ditembak mati atau diperangkap. Manusia itu jahat.” Aku menelan ludah mendengar cerita dari monyet. Aku tak bisa menyalahkan monyet ketika menyebut manusia itu jahat karena memang jahat. Mereka merusak alam demi kepentingan mereka.

Monyet berbulu coklat mengulurkan tangannya yang berbulu. Ia tersenyum menyeringai padaku. “Namaku Uta.”

Kuulurkan tanganku dan menjabat tangan Uta. “Aku Rafflesia. Panggil saja aku Sia.”

“Oke, Sia. Senang bertemu denganmu. Tapi…,” tiba – tiba Uta melepaskan jabatan tangannya dariku. Ia tertunduk. Ia kelihatan sedih.

“Kenapa, Uta ?”

“Apa kamu sama seperti mereka ? Si penebang pohon dan si pemburu ?”. Aku tergelak mendengar pertanyaan polos Uta.

“Tidak. Aku saja heran kenapa aku tiba – tiba ada di hutan. Padahal tadi aku masih berada di kamarku,” jawabku.

“Kenapa kamu tiba – tiba ada di sini ?”

“Jangankan kamu, aku saja bingung kenapa aku tiba – tiba ada di sini. Tadi, aku terus memandangi lukisan pohon beringin dari kakekku. Tiba – tiba aku jadi ada di hutan ini. Sepertinya aku tertarik ke masa lalu.”

“Masa lalu ?”

“Iya. Sepanjang hidupku, aku belum pernah melihat pohon berjajar rimbun begini. Aku juga belum pernah melihat monyet. Tanah tempatku hidup itu sangat gersang. Panas. Air jauh lebih mahal daripada berlian. Makanya banyak orang yang bekerja mati – matian demi mendapatkan air bersih. Bahan pangan seperti beras harganya selangit. Hanya orang berduit yang bisa makan nasi.”

“Kenapa bisa begitu, Sia ?”

“Lahan pertanian sudah sangat jarang. Apalagi lahan hijau seperti hutan sudah tidak ada lagi. Kami hidup dalam keadaan sekarat.”

Uta menarik tanganku dan menuntunku. “Kamu harus lihat bukti nyata kalau manusia itu jahat. Perilaku mereka tak memikirkan anak-cucu mereka nanti.”

Uta mengajakku berjalan menyisir hutan. Kami berjalan keluar dari hutan yang rimbun dengan pepohonan. Saat keluar dari hutan, aku kaget sekali karena banyak pohon yang terbakar. Api besar menyala, melahap setiap dedaunan dan pohon yang dilewatinya.  Aku dan Uta mundur beberapa langkah agar tak terlihat oleh si pembakar hutan. Dari sela – sela pohon yang terbakar, aku melihat ada tiga orang yang sedang mengucurkan minyak tanah dari jerigen minyak lalu melemparkan jerigen minyak itu ke kobaran api.

“Kamu bisa lihat, kan jahatnya mereka merusak rumahku ?,” gumam Uta. Aku mengangguk. Lidahku kelu. Setiap aku mengecap ludah rasanya getir. Aku bingung harus bagaimana agar menghentikan para perusak hutan ini.

“Untuk apa mereka membakar hutan ?”

“Ada orang yang membayar mereka untuk membakar hutan. Hutan yang telah hangus terbakar kemudian dijadikan lahan kelapa sawit. Alhasil, habitatku dan teman – temanku rusak. Bahkan ada temanku di daerah lain yang sudah tak punya lagi habitat akibat dirusak manusia. Kemarin, teman – temanku dari hutan sebrang sana pergi ke rumah warga yang jaraknya tak jauh dari hutan. Mereka datang kesana karena mereka lapar. Bukannya diberi makan, teman – temanku malah ditembak mati oleh warga.”

“Karena ulah mereka, aku hidup menderita,” gumamku.

Mata Uta berkaca – kaca melihat habitatnya dirusak oleh manusia tak bertanggung jawab. Kupeluk Uta badannya yang kecil untuk menenangkannya. Tak mudah hidup menjadi  Uta. Ia telah kehilangan teman, keluarga, dan habitatnya. Tangannya yang mungil memelukku erat.

“Sia, apa aku boleh minta tolong ?,” tanya Uta.

“Tentu.”

“Tolong hentikan manusia – manusia jahat itu. Tolong jangan tebangi pohon. Jangan hancurkan habitatku. Aku sudah banyak kehilangan teman dan keluargaku.”

“Caranya ?,” tanyaku.

“Coba beritahu mereka supaya tidak merusak lingkungan. Kalau mereka masih merusak lingkungan, bumi akan murka dan kami yang tak bersalah menjadi korbannya.”

***

Setelah aku berpamitan dengan Uta, aku mengumpulkan nyali untuk mendatangi orang – orang yang merusak lingkungan. Sekarang, Uta dan teman – temannya adalah korban mereka. Di masa depan, akulah yang menjadi korban mereka. Aku menyusuri hutan dengan mengendap agar tak terlihat oleh pelaku pembakar hutan. Asap yang mengepul membuatku sesak.

Setelah aku keluar dari hutan, aku bertemu dengan seorang pria setengah baya yang sedang membakar sampah di depan rumahnya. Asap menyeruak dan menyelimuti beberapa meter dari daerah rumahnya. Bau karet dan plastik yang terbakar menambah rasa mualku. Aku muak dengan asap. Kuhampiri pria setengah baya itu.

“Permisi. Bapak sedang apa ?,” tanyaku. Pertanyaan spontanku membuatnya terkejut. Rokok yang tengah terselip di sela – sela jari tengah dan telunjuknya terjatuh. Ia langsung memungut rokoknya dan kembali menghisap rokok itu. Ia tak menjawab pertanyaanku. Mungkin dia kesal karena kedatanganku mengejutkannya.

“Sedang apa, Pak ?,” tanyaku lagi.

“Bakar sampah,” jawabnya singkat.

“Oh,” jawabku. Aku diam sambil memperhatikan derakan dari kobaran api. Bapak itu memperhatikanku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia melihatku seperti orang aneh. Ya, memang aneh. Mungkin karena wajahku yang membiru karena kekurangan oksigen. Di masaku, orang – orang tak lagi sehat. Hampir semuanya memiliki kulit kebiruan karena kekurangan oksigen. Pohon yang diciptakan Tuhan untuk menghasilkan oksigen sudah tak ada lagi. Alhasil, orang berburu tabung oksigen. Merupakan hal yang lumrah di masaku menggeret tabung oksigen dengan sungkup di hidung kemana pun mereka pergi. Tentunya hanya orang berduit yang bisa membeli tabung oksigen karena harganya yang bikin pening. Banyak orang yang tak dapat akses oksigen meninggal dunia dengan penyakit pernapasan seperti ISPA, astma, bronkhitis, ataupun paru – paru. Setiap jam pasti ada saja pengumuman orang meninggal karena kekurangan oksigen.

Kubalas tatapan heran pria itu dengan anggukan dan senyuman.

“Sekarang masih banyak oksigen ya, Pak.”

Kulanjutkan perkataanku. “Di masa saya, oksigen mahal sekali, Pak. Hanya orang – orang kaya yang bisa membeli oksigen.”

“Memangnya Adik dari mana ? Kenapa bilang dari masa Adik ?,” tanyanya keheranan.

“Saya gak tahu harus bercerita dari mana. Singkatnya, sebelum saya ada di sini, saya sedang ada di kamar memperhatikan lukisan pohon beringin pemberian Kakek saya. Tiba – tiba, saya sudah ada di hutan sebrang sana.” Aku menunjuk hutan tempatku bertemu dengan Uta. “Memangnya sekarang tahun berapa, Pak ?”

“Tahun 2021, Dik. Adik memangnya dari tahun berapa ?”. Aku terperangah. Ternyata aku berada di waktu 100 tahun yang lalu.

“Saya dari tahun 2121, Pak.”

“Nama saya Sia. Saya juga tidak tahu kenapa ada di tahun 2021. Tapi, boleh saya minta tolong, Pak ?.”

“Nama saya Yudi. Oh, iya silakan, Dik.”

Aku mengeluarkan ponsel dari saku celanaku. Kutunjukkan foto – foto yang ada di media sosialku dan di galeri ponselku. Aku menunjukkan betapa memprihatinkan keadaan bumi di masaku. Kutunjukkan foto tanah – tanah yang kering, hampir tidak ada pohon sama sekali, dan kutunjukkan pula antrian panjang yang berkilo – kilo meter untuk mengambil air dari sumber mata air yang jaraknya 30 km dari rumahku.

“Ini semua karena pemanasan global, Pak. Kami semua sekarat. Kekurangan makanan, kekurangan oksigen, kekurangan air. Banyak orang yang meninggal karena penyakit ISPA. Banyak binatang yang hidup saat ini, punah di masa saya. Gunung es mencair hingga tak bersisa akibat suhu yang sangat panas. Banyak daerah yang tenggelam akibat permukaan air laut yang naik.”

“Pemanasan global itu penyebabnya dari apa, Dik ?”

“Salah satunya adalah pembakaran sampah seperti yang sedang Bapak lakukan sekarang. Asap dari pembakaran ini akan terperangkap di atmosfer sehingga akan mengakibatkan efek rumah kaca karena sinar matahari yang harusnya dipantulkan ke luar bumi, terperangkap karena banyaknya gas buang.”

“Jadi, kalau buang sampah harus gimana ?”

“Pisahkan sampah organik dan anorganik, Pak. Plastik PET yang sering digunakan untuk botol kemasan bisa didaur ulang lagi. Sampah organik bisa diolah menjadi pupuk kompos.”

Ia langsung mengambil seember air dari dalam rumahnya untuk menyiram pembakaran sampah. Karena isu pemanasan global penting untuk dibahas, aku meminta untuk dipertemukan dengan beberapa orang pemuda yang bisa bergerak bersamaku untuk memulai perubahan. Pak Yudi mengajakku ke rumah salah satu tetangganya yang anaknya adalah seorang karang taruna dan seorang mahasiswa semester 5. Dia adalah Sinta.

“Bumi kita hampir menemui ajalnya. Kalau bukan kita, siapa lagi yang bisa menyelamatkannya. Aku adalah satu dari milyaran orang yang menjadi korban ganasnya perubahan iklim. Kita harus bahu membahu memperbaiki bumi kita, tempat kita hidup dan bernaung,” ucapku berapi – api.

Kak Sinta langsung mengambil ponselnya dan membuat kampanye gerakan perubahan untuk perubahan iklim. Kampanye tersebut terus dibagikan ratusan kali setiap harinya oleh berbagai macam akun media sosial. Kak Sinta mengajak anak muda untuk memilah sampah, reboisasi hutan yang gundul,  dan mengajak orang – orang untuk beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

Sejak Kak Sinta dan teman – temannya menggaungkan untuk menanam pohon, hutan yang semula hangus terbakar kini terlihat lagi tanda – tanda kehidupan. Aku selalu ikut Kak Sinta dalam program “satu orang, satu pohon”. Kami menanam pohon bakau di pesisir pantai, menanam pohon pinus di hutan, dan menanam pohon buah – buahan di pekarangan rumah. Kami juga mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah agar tak dibuang ke sungai ataupun dibakar.

Walaupun awalnya ditolak, akhirnya masyarakat ada kesadaran untuk memperbaiki lingkungannya. Bahkan para pemengaruh terkenal saat ini berlomba – lomba untuk mengajak masyarakat beralih naik angkutan umum agar mengurangi gas buang kendaraan. Mereka pun menggunakan sepeda sebagai transportasi jarak dekat. Semakin berkurang pengguna kendaraan bermotor, semakin bersih pula udara yang kita hirup. Pemerintah pun didesak oleh para aktivis lingkungan untuk tegas menghukum para pembakar hutan beserta cukong – cukong yang berperan penting di dalamnya.

Aku senang bisa ikut berpartisipasi dalam menyelamatkan bumi. Tapi, aku jadi ingat bagaimana kondisi bumi di tahun 2121 saat manusia mulai bergerak untuk menyelamatkan bumi ? Semoga keadaan bumi di masaku hidup menjadi jauh lebih baik. Semoga air bisa mudah didapat, bahan pangan mudah didapat, dan udara yang dihirup kaya akan oksigen. Aku ingin manusia di masaku bisa memiliki harapan hidup yang lebih panjang.

***

Aku terbangun dari tidurku. Aku menyubit pipiku dan menengok kanan – kiriku. Ternyata aku masih di kamarku. Ah, ternyata tadi aku hanya mimpi. Aku beranjak dari tempat tidurku. Kubuka tirai jendela. Kulongokkan kepalaku untuk melihat pemandangan di pagi hari. Namun, ada hal yang aneh dengan pemandangan hari ini. Tepat di tanah depan rumahku, tumbuh pohon – pohon besar dan rindang. Tanah terlihat lembap dan berumput. Burung – burung bercicit berterbangan mengitari pohon. Kukucek mataku karena tak percaya dengan pemandangan tak biasa ini. Tapi, ini bukan mimpi. Ini nyata.

Aku langsung menghambur keluar rumah. Kuraba batang pohon yang tinggi dan rimbun itu. Tekstur batang pohon itu kasar dan amat kokoh. Begitu juga dengan akar yang bermunculan dari balik tanah, terlihat sangat kokoh. Sebelumnya pohon ini belum ada. Bahkan rumput pun tak sudi hidup di tanah yang gersang. Tapi sekarang tanah yang gersang ini berubah menjadi tanah yang gembur. Kuhirup udara di sekitar pohon itu, terasa segar sekali. Suhu saat ini terasa tak terlalu panas. Aku tahu pohon – pohon ini berasal. Pohon – pohon ini berasal dari tahun 2021, saat di mana orang – orang beramai – ramai melakukan gerakan menanam pohon. Aku terharu karena aku pun terlibat dalam penanaman pohon – pohon ini bersama Kak Sinta.

Dari sekian banyak pohon yang tumbuh, ada satu pohon besar dengan batang memayungi sekitarnya. Aku tak asing dengan pohon itu. Pohon yang selalu kupandangi setiap malam sebelum aku tidur. Ya, pohon ini adalah pohon beringin. Pohon ini persis dengan lukisan pohon beringin yang tergantung di kamarku. Aku sangat bahagia ternyata kulitku tak membiru lagi akibat kekurangan oksigen. Kulit orang – orang di sekitarku pun tak lagi membiru. Oksigen yang masuk ke dalam tubuh mereka sudah normal. Jadi, mereka tak perlu lagi menggeret tabung oksigen kemana – mana. Alangkah indahnya bila bumi kembali hijau. Alangkah indahnya bila bumi kembali sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *