Cerpen #29: “Venus Flytrap”

“Sudah siap. Ayo berangkat.” kata Ibu sambil memberikan tas ransel kecilku. Aku siap berangkat sekolah. Setelah sarapan pagi dengan sereal coklat dan susu, aku akan berangkat bersama dengan Ayah. Sekolahku  sejalan dengan tempat Ayah bekerja. Sepeda motor kesayangan Ayah, warisan dari Kakek. Bodi sepeda motornya besar, berwarna hitam, dan aku biasa berdiri menghadap depan saat Ayah menyetir. Motor itu setia menemani masa-masaku di bangku sekolah dasar. Angin sejuk pagi hari bercampur dengan asap kendaraan, rutin menimpa wajahku dan memaksa masuk ke paru-paru. Kendaraan di jalan pagi mulai sibuk, seolah berlomba adu kecepatan. Ayah menyetir dengan kecepaatan normal agar sampai tepat tujuan dalam keadaan selamat. Kadang aku mulai gusar, khawatir jika aku datang terlambat ke sekolah. Tapi juga khawatir jika terlalu lama menghirup asap kendaraan di jalan. Kota tempatku tinggal cukup padat. Banyak rumah dan pemukiman warga saling berdempetan. Jika dilihat dari atas nan jauh, tatanan rumah di kotaku tidak cukup estetis. Rasa sesak akan menyelimuti dada saat masuk ke wilayah pusat kota. Aku melewati jalanan pusat kota tiap kali berangkat ke sekolah bersama Ayah. Kalau sudah sampai disana, aku mulai menutup hidungku dengan sapu tangan kecilku. Aku keluarkan sapu tangan kecilku dari saku dan menutup hidungku dibalik kaca helm. Di pagi hari itu tidak seberapa buruk. Tanaman di pusat kota membantu menyebar oksigen tipis-tipis.

Di siang hari, Ayah akan menjemputku saat jam makan siangnya. Setelah mengantarkan aku pulang, Ayah kembali ke tempatnya bekerja. Ayahku sangat sabar dan ulet. Ia tidak pernah mengeluh dengan semua rutinitasnya. Hobinya adalah mengoleksi tanaman hias di belakang rumah. Sore hari sepulang kerja, Ayah mulai menyirami tanaman miliknya. Di belakang rumahku, ada pekarangan berukuran 6 x 4 meter. Tempat Ayah menanam tanamannya. Koleksinya meliputi anggrek, ephorbia, tanaman ceplukan, lidah buaya, dan satu tanaman unik yang biasanya aku amati setiap hari. Kantong semar. Kantong semar ini bentuknya lucu. Seperti mulut ikan piranha. Aku tahu tentang ikan piranha dari Kakak. Dia sering menyamakan tanaman kantong semar Ayah dengan mulut ikan piranha, karena tepi daun tanaman itu seperti susunan gigi-gigi taring.

Awalnya aku heran dengan tanaman itu. Saat Ayah pertama kali membelinya, aku pikir itu sejenis hewan yang hidup di tanah. Punya mulut dan Ayah menaruhnya di dalam pot. Itu saat aku masih duduk di bangku kelas dua dasar. Tapi setelah aku mengamati, Ayah menyiram hewan tanpa mata itu setiap hari. Pagi dan sore. Rasa penasaranku menjalar, aku mengamati seharian tanaman baru milik Ayah itu. Ada bagian mulutnya yang terbuka dan tertutup. Jumlah mulutnya ada empat. Dua di setiap cabang. Satu yang tertutup. Tiga lainnya terbuka. Bagian dalam mulut kantong semar itu berlendir. Saat ada lalat yang hinggap dimulutnya, itu akan tertutup. Terperangkap-lah lalat itu di dalam mulut kantong semar. Masih lama kuamati, sampai mulut penangkap lalat itu terbuka lagi. Tentu saja, lalatnya hilang. Mulut tanaman itu terbuka lagi dan mengeluarkan lendir seperti sebelumnya. Aku menduga kembali itu pasti bukan tanaman. Dia memakan lalat. Aneh sekali. Pikiranku di masa kecil tidak mampu mencerna hal aneh itu.

Tanaman kantong semar jadi salah satu tanaman favorit Ayah. Ayah pernah bilang, kantong semar itu mampu membantu mengusir lalat yang ada di dekat sampah. Aku mulai mengerti saat aku semakin besar. Ayah sengaja meletakkan si kantong semar di dekat tong sampah belakang rumah. Ternyata seperti itulah maksud Ayah. Di ulang tahunku yang ke-15 tahun, Ayah membeli lagi tiga pot kantong semar.

Sejenis dengan spesies sebelumnya. semakin banyak mulut kantong semar yang menghiasi halaman belakang rumahku. Ayah benar-benar merawat tanaman itu dengan baik. Ketika usiaku tujuh belas tahun, Ayah sudah memiliki tujuh pot kantong semar. Memang bentuknya lucu. Kecil, bergerombol, warna hijau yang membuat warna di sekitar tempat sampah sedikir organis.

Sebenarnya, bukan tanpa maksud Ayah membiakkan kantong semar di rumah. Ayah pernah datang ke rumah Pak RT untuk mengusulkan menanam kantong semar di pembuangan sampah komplek tempat kami tinggal. Itu akan mengurangi jumlah lalat yang beterbangan di sekitar sampah. Ayah sedikit prihatin dengan kondisi rumah tetangga yang dekat dengan sampah. Tempat sampah berukuran 3 x 2 meter itu cukup buruk. Siapa tahu, kalau ditanami kantong semar akan mengurangi jumlah lalat. Juga agar sedikit lebih indah dipandang.. Jadi, Ayah memberikan saran seperti itu pada Pak RT.

Satu bulan setelahnya, Pak RT menerima saran Ayah (setelah rapat besar bersama warga komplek) dan mulai menanam kantong semar di sekitar tempat sampah. Tidak ada ruginya menanam si tanaman mulut itu di dekat sampah. Warga mulai membawa pot berisi tanah dan ditempatkan di sekeliling tempat sampah. Sebagai wadah untuk menanam kantong semar. Tiga bulan setelah menanam kantong semar bersama, di sekitar tempat sampah terlihat lebih bersih dan hijau. Walaupun bau sampah masih tidak berkurang. Setidaknya lalat sudah jarang beterbangan di sekitar sampah.

Dua tahun berlalu, kantong semar masih rapi menghiasi tempat sampah komplek rumahku. Para warga bergantian menyirami tanaman itu setiap hari. tentu saja, awalnya dipandu oleh Ayah sebagai pecinta tanaman. Bahkan ada beberapa warga yang mulai menanam kantong semar itu di halaman depan rumah mereka. Ternyata, tanaman itu juga memakan nyamuk-nyamuk kecil. Para warga yang menanam si tanaman mulut piranha di depan rumah, merasa nyaman duduk di teras menikmati langit malam. Berguna sekali si mulut piranha ini. Kantong semar milik Ayah yang ada di belakang rumah, tinggal dua pot saja. Pot yang lain sudah disumbangkan untuk ditanam di tempat sampah komplek. Dua pot itu masih Ayah rawat dengan baik.

Ketika Ayah meninggal, aku dan kakakku yang merawat seluruh tanaman Ayah di belakang rumah. Ibu juga sering menyirami tanaman Ayah. Kantong semar di dekat sampah komplek masih tumbuh dengan baik, subur, menghiasi tanah sekitar tempat sampah itu. semenjak Ayah tiada, warga komplek rumah memperingati hari kematian Ayah dengan menanam dan membiakkan kantong semar. Setidaknya satu rumah punya dua pot kantong semar. Jika ada warga yang punya lebih dari dua kantong semar, mereka akan menyumbangkannya kemana saja. Terutama di tempat sekitar sampah yang banyak lalat, atau restoran makan. Tempat seperti itu sangat butuh ditanami kantong semar. Ibu, aku dan kakakku sangat berterima kasih atas hal itu. Rasa cinta Ayah terhadap tanaman membawa dampak besar bagi orang-orang di sekitarnya. Aku berjanji, akan terus merawat warisan Ayah seperti Ayah merawat sepeda motor warisan Kakek. Sepeda motor itu, sudah jarang dipakai. Tidak ada yang bisa menggunakannya. Aku dan kakak perempuanku tidak kuat menahan bodi besar motor itu, apalagi Ibu.

Enam tahun setelah meninggalnya Ayahku, warga mulai kehilangan antusiasnya untuk mengembangkan kantong semar. Keadaan lingkungan juga sudah berubah. Kini, tempat sampah di komplek rumah sudah tidak ada. sampah sudah dipilah berdasarkan jenisnya sebelum dibuang. Sampah-sampah organik tidak lagi menimbulkan bau separah dulu. Mereka akan dibakar secara otomatis di mesin pembuangan sampah komplek. Ya, mesin otomatis pembakar sampah. Mesin itu dibuat setahun yang lalu. Sungguh solutif di zaman yang makin berkembang. Kantong semar tak lagi dibutuhkan. Untuk mengusir nyamuk. Warga sudah menggunakan alat elektrik bersinar biru yang mampu menarik nyamuk. Nyamuk akan terperangkap di dalamnya dan jret! mereka akan mati tersengat listrik. Kini, segala hal dipenuhi dengan alat canggih dan modern. Di tengah modernitas yang ada, Aku, Ibu dan kakakku masih merawat baik kantong semar kesayangan Ayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *