Cerpen #28: “March to Mars”

Sebuah layar elektronik besar masih terus menyala menampilkan pegunungan pasir yang tidak ada satu pun pepohonan yang tumbuh di sana. Semua orang mulai menggunakan sepasang kacamata besar yang mampu membuat mereka merasakan apa yang sedang terjadi di layar besar itu. Suasana sunyi, hanya suara gemuruh angin yang sangat kencang. Matahari sangat menyengat, seakan ingin membakar kulit.

“Aaaaaaaaa!! Aku nggak mau tinggal di sini,” teriak salah seorang di antara mereka.

“Emang di situ ada kehidupan?” tanya sesosok laki-laki yang tengah mengayunkan tangannya ke bawah seakan menyentuh pasir di dalam layar besar tersebut.

Suasana kini penuh dengan teriakan dan kecemasan. Mereka tidak nyaman berada di dalam sana. Cuaca di sana terlalu ekstrim untuk mereka.

“Anak-anak, ini adalah Gurun Sahara,” ucap seorang wanita yang nampak lebih dewasa dari mereka semua. Dia sedari tadi yang memimpin semua ini.

“Ha? Sahara? Aku belum pernah mendengarnya,” tanya seorang laki-laki berpostur mungil.

“Ini adalah kondisi bumi seratus tahun yang lalu, di mana tempat yang kita namakan Garden of Heaven, dulunya adalah sebuah gurun pasir yang sangat gersang. Hampir tidak ada kehidupan di dalamnya,” sambung salah seorang di antara mereka.

“Benar, ini adalah penampakan bumi seratus tahun yang lalu. Surya, terima kasih telah membantu menjawab. Pada dua puluh tahun yang lalu, pemerintah bekerja keras untuk menjadikan gurun pasir menjadi subur guna menambah sumber daya alam. Mereka menggunakan ribuan panel surya, serta kincir angin untuk menambah curah hujan di sana. Mereka juga menambahkan ribuan ton karbon pirogenik untuk membuat tanah menjadi subur dan dapat ditanami tanaman. Oleh karena itu, Garden of Heaven tercipta sebagai perkebunan terbesar di dunia saat ini,” tambah seorang wanita dewasa.

“Tetapi, apakah kalian sadar bahwa suhu di kota kita saat ini sedikit lebih panas dari gurun tadi?” lanjut seorang wanita dewasa bertanya.

“Iya, Bu, benar. Kota kita memiliki suhu yang sedikit lebih panas dari gurun tadi. Hal ini disebabkan semakin menipisnya lapisan atmosfer bumi kita, dan meningkatnya efek rumah kaca. Namun walaupun begitu, kita tidak merasa kepanasan, karena air sangat melimpah saat ini, dan kita juga memiliki sebuah teknologi pada baju kita yang membuat kita tidak akan pernah merasa kepanasan.”

“Wah, keren! Terima kasih, Ivy, jawabanmu sangat tepat dan lengkap,” seorang wanita dewasa tadi menghampiri Ivy dan menepuk pundaknya.

“Sekitar tiga belas tahun yang lalu, bangsa barat memperkenalkan sebuah baju yang memiliki teknologi untuk menyesuaikan suhu dalam tubuh kita. Inovasi mereka sangat berguna, terutama pada saat ini, di mana suhu bumi terus mengalami peningkatan tiap tahunnya. Semua ini disebabkan oleh efek rumah kaca atau Global Warming seperti yang dijelaskan Ivy sebelumnya,” lannjut ia panjang lebar.

Kemudian, layar elektronik besar tadi yang menampilkan sebuah gurun, kini berubah menampilkan pegunungan es. Suasana berubah seketika menjadi sangat dingin.

“Kalau yang ini bagaimana?”

“Sepertinya juga tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini, Bu.”

“Kalian tahu tempat apa ini?”

“Gurun es,” jawab seorang laki-laki berambut kribo.

“Masih kurang tepat.”

Suasana mendadak hening. Tidak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan dari wanita tersebut. Kemudian, layar elektronik besar kembali berubah. Kini mereka berada di tengah-tengah pangkalan kapal induk terbesar di dunia. Mereka tampak menggerakkan tangannya seolah-olah tengah menyentuh ombak di pangkalan kapal tersebut.

“Kalau sekarang, kalian tahu sedang berada di mana?” lagi-lagi wanita tadi bertanya kepada mereka semua.

Hunter Ship di Antartika,” jawab Surya.

“Tempat apa itu, Surya?”

“Pangkalan Kapal Induk terbesar di dunia saat ini, Bu.”

“Benar, Surya. Anak-anak sekalian, tempat yang kalian kunjungi sebelumnya, sama dengan yang kalian lihat saat ini. Ini adalah Antartika, di mana seratus tahun yang lalu, tempat ini berupa pegunungan es dengan suhu sangat ekstrim. Lantas, kenapa sekarang menjadi sebuah lautan samudra?” ungkap wanita itu.

“Lagi-lagi ini adalah penyebab Global Warming yang berkepanjangan, Bu. Tiap tahun es di sana terus mencair secara perlahan, hingga akhirnya menjadi lautan seperti sekarang,” jawab Ivy.

“Benar, sangat benar. Salah satu penyebab lainnya adalah hujan asam yang sempat terjadi empat belas tahun yang lalu. Semua es mencair sangat cepat, dan menjadi lautan samudra Antartika,” lanjut sang wanita melengkapi jawaban dari Ivy.

“Oke, anak-anak, pembelajaran hari ini kita akhiri. Semoga kalian mendapatkan pelajaran berharga tentang apa yang sudah kita pelajari hari ini. Musim panas telah dimulai. Mungkin saja, pembelajaran akan kembali dimulai tiga bulan lagi,” seorang wanita tadi menutup kegiatan hari ini.

Mereka semua melepas kacamata besar yang dipakainya sedari tadi, meletakkannya di atas rak besar yang terbuat dari kaca super tebal. Layar elektronik meredup, kemudian mati. Mereka semua mulai meninggalkan ruangan dengan berbagai perasaan dalam diri mereka.

Surya keluar ruangan berjalan menyusuri sudut-sudut kota. Dia lebih nyaman berjalan kaki ketimbang harus menaiki flizy—sebuah transpotasi super canggih yang melayang di angkasa dengan kecepatan hingga delapan ribu kilometer per jam—dengan kata lain, Surya kurang menyukai dengan adanya peradaban yang sangat maju pada saat ini.

“Para petani di Mars mulai memanen jagung hasil tanamannya sendiri. Semua tampak berbahagia untuk pesta panen tahun ini.” Langkah Surya terhenti. Dia menghadap ke atas Gedung tinggi besar yang menampilkan seorang wartawan tengah membicarakan berita tersebut.

Sejak ratusan tahun yang lalu, pemerintah dunia berambisi untuk pergi ke Mars dan tinggal di sana. Sampai akhirnya, sekitar empat tahun yang lalu, semuanya terealisasikan. Manusia-manusia yang terpilih akan diberangkatkan ke Mars untuk memulai hidup barunya di sana. Otoritas tertinggi Astronomi dunialah yang memilih orang-orang yang akan diberangkatkan ke Mars terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan semakin melonjaknya populasi di bumi yang menyebabkan suhu di bumi pun semakin naik. Banyak bencana alam terjadi, dan kurangnya moral masyarakat dalam menghadapi krisis seperti ini.

Seperti biasa, lagi-lagi Surya sama sekali tidak tertarik dengan semua teknologi ini. Justru ia lebih menyukai kondisi bumi ratusan tahun yang lalu. Sering kali ia berkunjung ke sana, tentunya dengan bantuan layar elektronik dan kacamata besar itu.

Hari ini ia memiliki janji dengan Ivy. Dia mulai menyentuh jam tangan transparan miliknya, mencoba untuk menghubungi Ivy. Tak perlu waktu lama, wajah Ivy terpampang melayang di atas jam tangan milik Surya. Hologram mini merekam percakapan mereka.

“Jam tiga, aku tunggu di Long Street 99, Brazil,” ucap Surya.

“Brazil? Kenapa jauh sekali?” tanya Ivy.

“Ikut saja, lagi pula dengan flizy semua perjalanan akan singkat.”

Ivy hanya mengangguk. Kemudian, hologram yang menampilkan wajah Ivy menghilang.

Surya bersiap-siap untuk segera berangkat ke Brazil. Lagi-lagi dia menyentuh jam tangan transparan yang multifungsi itu. Terpampang sebuah gambar flizy. Surya menekan gambar tersebut, dan tiba-tiba sebuah benda berbentuk lingkaran melayang di atas kepalanya.

Surya melompat memasukinya. Menekan-nekan beberapa tombol yang ada dalam kendaraan tersebut.

“Ke mana tujuan anda, Tuan?” benda tersebut berbicara kepada Surya.

Selanjutnya, Surya menunjuk sebuah peta elektronik dan berkata, “Long Street 99.”

“Perjalanan menuju Long Street 99 akan dimulai dalam hitungan 3…2…1… .”

Flizy melesat melayang di udara dengan kecepatan maksimum. Surya hanya diam duduk sembari membaca sebuah buku—yang sebenarnya sudah tidak zaman pada abad ini.

Tak perlu waktu lama, Surya tiba di tengah-tengah lintasan kereta udara yang panjangnya 99 km. Sementara Ivy menyusul beberapa menit kemudian. Mereka bertemu di bagian negara Brazil, dengan kondisi kota yang sangat canggih.

“Lalu, apa?” tanya Ivy.

Surya mengeluarkan dua pasang kacamata besar seperti yang mereka gunakan waktu itu. Kemudian dia kembali menyentuh jam tangan transparan miliknya yang multifungsi. Tampak sebuah gambar hologram kecil menampilkan tempat berupa hutan lebat yang di tengah-tengahnya terdapat sungai yang cukup besar. Terbentang dari ujung ke ujung.

“Pakai.”

“Kita akan ke mana?”

Tanpa menjawab pertanyaan Ivy, Surya terlebih dahulu mengenakan kacamata itu. Disusul Ivy yang tampak terkejut setelah mengenekannya.

“Tempat apa ini?”

“Coba lihat sebelah kananmu,” ucap Surya.

Terpampang nyata tepat di sebelah kanan Ivy salah satu gladiator paling ganas pada seratus tahun yang lalu tengah menganga menghadap ke arah mereka berdua.

Ivy berlari ke belakang Surya. Hewan tersebut semakin berlari kencang menuju mereka.

“SURYAAAAA!!” teriak Ivy sembari memeluk Surya.

Surya hanya tertawa melihat tingkah Ivy yang setakut itu. “Tenang, Ivy, semua ini hanya tampilan proyeksi. Lagi pula, buaya sudah punah sekrang, ‘kan?”

Surya mengelus rambut Ivy. Tampak buaya itu tembus melewati tubuh mereka berdua menuju seekor kijang di seberangnya. Mereka menonton pertunjukan seru yang sebelumnya tidak pernah mereka lihat. Seekor buaya mencoba memangsa kijang dengan mencabik kakinya hingga berdarah. Sang kijang mencoba melarikan diri, namun tidak berhasil.

“Surya, pulang aja, yuk. Jangan aneh-aneh,” Ivy menggerutu.

“Biar aku jelaskan terlebih dahulu, ya.”

“Ini adalah kondisi Long Street seratus tahun yang lalu. Dulu tempat ini adalah hutan paling berbahaya di dunia dengan Sungai Amazon di tengah-tengahnya. Persis apa yang kita pijak sekarang,” jelas Surya.

“Ini Sungai?”

“Benar, Ivy.”

“Kenapa sekarang menjadi perkotaan yang megah?”

“Tingkah laku manusia terhadap hutan ini tak bisa dipungkiri kekejamannya. Mereka mengeksploitasi semuanya untuk membangun peradaban yang seperti ini. Alhasil, semua hewan-hewan yang berada di dalamnya terancam punah, dan bahkan telah punah hingga sekarang,” jawab Surya dengan tetap mengelus-elus rambut Ivy.

“Coba kamu lihat di seberang sana,” lanjut Surya menunjuk seekor hewan melata dengan ukuran lumayan besar.

“Surya, ihhhh, itu apa lagi?!”

“Itu adalah ular sejenis Anaconda. Habitatnya memang di sini. Dulu, jumlah mereka juga masih terbilang banyak. Coba kamu lihat di sebelah sana, di sana, di sana,” Surya menunjuk tempat-tempat Anaconda tersebut.

“Itu juga sudah punah sekarang?”

“Punah. Terakhir ditemukan enam puluh tahun yang lalu.”

“Lalu, tujuanmu mengajakku ke tempat ini untuk apa?”

Surya terdiam, berpikir sejenak untuk menyusun sebuah kalimat.

“Untuk menunjukkan kepadamu, bahwa bumi kita lebih indah dari pada Mars,” Surya menatap dalam Ivy.

“Tapi… .”

“Tinggallah di sini, Ivy, di bumi. Bersamaku. Selamanya.”

“Tidak bisa, Surya. Ini adalah kehendak orang tuaku,” jawab Ivy lesu.

Surya bangkit dengan masygul. “Kenapa,sih, orang-orang kaya selalu bertindak seenaknya. Bertindak semau mereka sendiri. Jangan hanya karena memiliki uang banyak, kamu mampu melakukan apa saja, termasuk kepada diriku!”

Ivy tersentak kaget mendengar ucapan Surya. Matanya mulai sembab. Air matanya mulai mengalir bercampur dengan hujan air panas.

“Bumi kita sudah tidak aman, Sur. Kau lihat sendiri sekarang, bahkan air hujan di bumi sudah terasa hangatnya. Ini tidak bisa kita terima selamanya. Kita harus mencari opsi untuk bisa survive dari kondisi seperti sekarang. Dan, solusinya adalah Mars,” jelas Ivy dengan suaranya yang terus terisak.

“Kita pasti memiliki opsi lain selain Mars. Planet itu tidak cocok untuk kondisi tubuh manusia. Pergerakan rotasinya juga sangat berbeda dengan bumi,” Surya menanggapi kalimat Ivy.

“Solusi lain? Apa?”

Surya terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan Ivy.

“Lusa aku berangkat,” tegas Ivy. Tak lama setelahnya, Ivy melompat ke dalam flizy miliknya, meninggalkan Surya sendirian di Long Street 99, meninggalkannya di Sungai Amazon yang kejam.

Surya berkabung dalam perasaanya yang campur aduk. Dia menginginkan Ivy tetap di bumi. Dia mencintainya, dan ingin terus berada di sampingnya. Di sisi lain, apa yang dikatakan Ivy adalah fakta. Kondisi bumi semakin memburuk tiap harinya.

Dua hari lagi, pemerintah akan kembali meluncurkan Pesawat Induk luar angkasa yang akan membawa tujuh juta manusia ke Mars, dan Ivy adalah salah satunya. Surya tidak bisa mendampingi Ivy, karena biaya ke sana sangat mahal, Surya tidak memiliki cukup uang untuk membeli tiketnya. Sementara Ivy, juga tidak bisa terus mendampingi Surya di bumi. Kedua orang tuanya memaksa Ivy untuk ikut serta menuju Mars.

Mereka tidak hanya terhalang jarak. Mereka teerhalang oleh langit, atmosfer, juga planet. Ratusan juta kilometer vertikal harus mereka tempuh jika ingin bertemu.

“Selasa, 14 Maret 2123. Sebanyak enam puluh pesawat induk luar angkasa akan diberangkatkan siang ini dari pangkalan udara Jerman. Sebanyak tujuh juta manusia akan menempuh hidup barunya di Mars.”

Hujan lebat terus mengguyur hampir setengah dari wilayah bumi siang ini. Surya mengernyitkan dahi mendengar berita tersebut, tidak rela jika Ivy akan pergi meninggalkannya hari ini.

Hologram wajah Ivy kembali muncul dari jam tangan milik Surya. Ivy tersenyum, meski Surya tahu bahwa senyum itu adalah senyum perpisahan.

“Ini hanya jarak, Sur. Suatu saat, kita pasti akan bertemu kembali. Entah kau berumur berapa, ataupun aku berumur berapa. Entah rambutmu mulai memutih, atau bahkan rambutku pun mulai memutih. Entahlah, atau bahkan beberapa bulan lagi, beberapa minggu lagi, kita akan bertemu,” mata Ivy mulai sembab menampung air mata yang tidak dibiarkannya untuk jatuh.

“Ceritakan apa saja keindahan di Mars, ya. Apakah lebih indah dari bumi, atau tidak. Ceritakan juga bagaimana rasanya menaiki pesawat induk luar angkasa yang super besar itu, ya,” ucap Surya sembari tersenyum.

“Pasti, Sur,” Ivy meyakinkan.

“Hujan air panas semakin lebat mengguyur setengah dari wilayah bumi hari ini. Para masyarakat dilarang keras untuk keluar rumah, karena kemungkinan besar air hujan tersebut mampu membuat kulit kita melepuh.”

“Dengar, ‘kan? Jangan keluar!” tegas Ivy pada Surya.

“Iya.”

“Ini saatnya aku berangkat.”

Beberapa saat kemudian, pesawat yang dinaiki Ivy meluncur ke angkasa. Surya hanya menyaksikan melalui layar monitor miliknya. Air mata mulai tak tertampung. Surya hanyut dalam kesedihan yang mendalam.

Tak selesai menangis, ia terhenti mendengar berita lagi di layar monitornya.

“Enam puluh Pesawat Induk luar angkasa yang berisikan tujuh juta jiwa, mendarat jatuh di Garden of Heaven. Diduga penyebab dari semua ini adalah hujan air panas yang suhu airnya mencapai 80˚C. Pesawat induk tersebeut tidak bisa menahan lebatnya hujan siang ini. Semua korban tidak sempat dievakuasi dan dinyatakan meninggal dalam kecelakaan siang hari ini. Pemerintah dunia mengalami kerugian hingga miliyaran triliun.”

Surya langsung melihat daftar nama penumpang yang dinyatakan tewas dalam insiden tersebut. Dia memutar-mutar jam tangan miliknya, mencari nama Ivy di dalamnya.

“Zeinder Ruaivy” benar, nama Ivy terpampang di sana.

“Nggak mungkin. Ini mimpi, ‘kan?”

“Bumi tidak mungkin sejahat ini!”

“Ini semua karena Mars! Jika saja pemerintah tidak mengirimnya ke Mars, mungkin tidak akan terjadi.”

Surya terpukul dengan semua ini. Dia kecewa dengan bumi yang selama ini ia bangga-banggakan di hadapan Ivy. Bumi yang dia anggap indah, sekarang menjadi monster bagi sluruh manusia.

“Untuk apa hidup jika begini keadaannya!”

“Harusnya manusia tidak perlu mningkatkan peraadaban seperti ini. Mereka telah merusak bumiku ratusan tahun lalu. Sekarang bumi marah kepada manusia. Lantas, kenapa harus Ivy yang menjadi korban?”

Surya berteriak, kemudian berlari keluar rumah. Tanpa mengenakan pelindung apa pun, dia menerobos hujan air panas yang masih mengguyur hampir seluruh bumi. Dia terus berlari dengan cepat, tak sadar kulitnya pun mulai melepuh satu per satu.

Langkahnya kemudian terhenti. Tepat di depan dua batu nisan, dia terkapar lemas dengan seluruh badannya yang mulai melepuh. Dia tersenyum ke arah batu nisan itu.

“Ayah, Ibu, aku datang.”

“Ivy, aku juga datang.”

One thought on “Cerpen #28: “March to Mars”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *