Cerpen #26: “Rakyat, Negara dan investasi”

Massa Kecil

Suatu pagi, di sebuah desa terpencil tahun 2060. Aku mendiami sebuah rumah bersama istriku, berukuran tujuh kali enam dua kamar tidur, satu WC, dapur , ruang tamu dan lemari buku yang sisipkan di ruang tengah. Rumah kami berada diatas ketinggian, dari rumah kami terlihat hamparan persawahan, dan di belakang rumah kami terdapat kebun warga dan kami memiliki seperempat sawah seperempat kebun untuk ditanami sayur dan tak lupa kami pun membuat kolak ikan.

Sebelum ke desa, kami tinggal sebuah kota di negri ini, kami menghabiskan sisa umur kami bekerja dan mendidik anak, aku bekerja sebagai editor di salah satu surat kabar dan istriku bekerja sebagai Dosen di salah satu universitas. Kami di karuniai dua orang anak,  anak pertama bernama Roli tinggal, ia bekerja di perusahan milik Negara sedangkan anak kedua kami Lisa menjadi ibu rumah tangga sedang suami bekerja sebagai aparat negara. Roli mempunyai satu orang anak berumur 9 Tahun dan Nanda mempunyai anak berumur 7 tahun sebagai keluarga kami cukup bahagia dengan kondisi yang serba bercukupan, tetapi saya menyadari satu hal, kehidupan Kota membuat saya lupa banyak hal.

Pagi ini, rumah kami sedang ramai, Roli dan Lisa sedang mengunjungi kami ikut serta anak Roli dan Lisa, anak Roli bernama Sakir, ia masih di sekolah dasar, suka bertanya dan menyukai pemandangan alam, dan anak Lisa bernama Nanda, ia baru masuk sekolah dasar, cerewet, mudah sedih dan suka membaca. Aku mengajak mereka disebuah pelantaran sawah, kami duduk di sebuah gubuk kecil dan menyaksikan petani bekerja.

Nanda : wahh, disini indah kek, hutan dan sawahnya, kalau di kota kami tidak menjumpainya.

Sakir : iya benar kek, udaranya juga segar, dikota kami hanya melihat motor dan mobi dan gedung-gedung tinggi.

Aku : kalian tinggal saja di desa,

kompak mereka berkata, tidak mau, nanda berkata tidak ada wifi dan Mall, Sakir menambahkan dan berkata akan susah untuk main game. Aku tersenyum dan melanjutkan bercerita.

63 Tahun yang lalu, saya hidup di sebuah desa, ayah saya seorang petani dan sesekali melaut, dan ibu saya sebagai petani dan merangkap sebagai ibu rumah tangga. kehidupan di desa sangat menyenangkan, kami bermain di alam, memanjat pohon, memasang perangkap ayam hutan, bermain dilaut tanpa pengawasan orang tua, memancing, menikmati Tiram mentah, saya ingat orang tua saya selalu berpesan untuk meminta izin sebelum melakukan sesuatu baik itu di hutan maupun di laut, saya tak begitu mengerti tetapi saya melakukanya setiap kali orang tua berpesan tentang kegiatan di alam.

Laut tempat kami airnya jerni, pohon-pohon bakau sangat indah, kelelawar memenuhi beberapa pohon bakau di siang hari, para nelayan tak perlu mendayung jauh karena ikan yang melimpah, para petani hidup bercukupan, mereka menanam jagung, padi, sayur-sayuran, sebagian mereka jual sebagain mereka simpan untuk kebutuhan rumah tangga.

Kendaraan masih bisa dihitung baik roda dua maupun roda empat, rumah saya belum teraliri listri masih berupa lampu petromaks, hingga beberapa tahun muncul listrik tenaga surya dan beberapa tahun lagi muncul lah listrik dengan kabel panjang dan tiang menjulang tinggi. Semua orang senang, tak terkecuali keluarga saya ikut senang dan mengabil kesempatan merasakan aliran listrik. Setelah sekian lama kemerdekaan bangsa ini kami pun baru merasakan listrik di usia saya lima belas tahun.

Remaja & Titik Temu

Setelah menghabiskan masa kecil saya di desa, Akhirnya saya melanjutkan sekolah menengah atas, mengambil jurusan pertambangan, memepelajari struktur tanah mengenali mana yang berpotensi menjadi dijadikan tambang mana yang tidak, saya bercita-cita menjadi seorang kontraktor memakai topi khas pekerja tambang suatu saat nanti.

Suatu ketika kami melakukan praktek kerja lapangan di salah satu perusahaan tambang, itu kali pertama saya melihat sebuah tanah tambang secara langsung. Alat-alat berat berada di segalah arah lokasi tambang, terlihat pohon-pohon yang masih segar tergeletak di tanah, pohon-pohon besar dimanfaatkan untuk keperluan mebel, lokasi tambang tersebut berdekatan dengan laut, dermaga-dermaga pun di bangun dan tak jauh dari sana terlihat kapal tongkang yang sedang berlabuh.

Saya melihat setiap sudut, setiap sisi lokasi tambang, sejauh mata memandang semua tampak bersih dan mulai digali dan dibangunkan pabrik pengelolaan. sedang berpikir ini adalah peluang bagi kami lulusan SMK kejuruan saat lulus nanti.

Semua teman-teman seangkatanku begitu bersamangat dan takjub melihat lokasi tambang, dengan gagahnya ala-alat berat mampu membersikan semua pohon-pohon dengan hitungan jam. Berjam-jam kami dilokasi tambang, melihat mesin bekerja mengahabisi setiap sudut hutan sekali lagi ini menakjubkan.

Saya pun teringat, ayah saya mengajari untuk tidak sembarang berbuat di hutan maupun dilaut dan harus meminta izin kepada alam, saya melakukanya kerap kali ketika masuki hutan, saat ini hutan dengan mudah dan tanpa ragu-ragu dihabisi untuk menguras batu bara diperut bumi dengan alasan untuk kebutuhan manusia, bukankah hutan dan laut juga adalah kebutuhan manusia. Menurutku ini bertentangan dengan yang di ajari ayahku saat  saya kecil.

Bukankah hutan dan laut juga adalah kebutuhan manusia? Yang harus dijaga dan dilestarikan, agar udara bersih, agar nelayan tak jauh melaut dan agar keseimbangan alam terjaga. Bagaimana dengan hujan deras? Bukankah akan menghasilkan banjir. Saya pun bertanya pada ayahku.

Saya, : ayah apakah alam itu?

Ayah : alam adalah nama lain dari kita, jika engkau memotong satu jarimu, apakah keseimbanganya akan teranggu.

Saya : terganggu, jawabku.

Ayah : begitu juga alam. Jagalah seperti engkau menjaaga dirimu.

Percakapan dengan ayah saya menjadi jawaban yang jelas atas pertanyaan ku, bahwa penambangan secara berlebihan dapat menganggu keseimbangan alam, mereka mengguduli hutan, mengebor laut, mengusir penghuni di dalamnya,sehingga rantai makanan pun terganggu, alam tak seimbang karena ulah manusia. Akibatnya pun tak terhindarkan dan akan berdampak pada banyak orang, ketika alam murka tak memilih pada siapa, ia aka menyapu bersih yang ada disekitarnya.

Saya pun memutuskan untuk tidak melanjutkan cita-cita saya bekerja ditambang, karena beberapa pertimbangan, saya tidak ingin menjadi bagian dari kerusakan alam karena operasi pertambangan. Saya tidak ingin terlibat dalam pengrusakan alam secara sistematis dam masif.

Saya pun melanjutkan kuliah, memilih jurusan lain yang bukan pertambangan, saya mengambil jurusan Sosial Politik. Saya menghabiskan masa kuliah saya dengan bergabung di oganisasi yang berhaluan kiri, kata senior saya, kenapa kiri karena kiri menuntut perubahan sosial secara cepat jika di mungkinkan dilakukan revolusi, maka akan dilakukan.

Gerakan kita tak boleh jauh dari rakyat, mereka yang tertindas, petani, nelayan, buruh dan kaum tertindas lainya mesti di perjuangkan nasib mereka. Bayangkan mereka punya tanah yang subur, kekayaan laut yang melimpah tapi mereka tidak mampu mandiri secara ekonomi. Mereka tidak malas, mereka sangat ulet, apa yang kurang dari mereka yaitu pendidikan dan perberdayaan secara berkelanjutan yang tidak dilakukan pemerintah. Kata senior saya. Tetapi hari ini bukan hanya itu yang mereka hadapi, makin berat, mulai dari perampasan tanah oleh perkebunan skal besar, pengundulan hutan dan percemaran lingkungan yang terjadi dimana-mana.

Namanya Ical, saat saya masih menjadi mahasiswa baru, saya memasuki organisasi dan ialah yang mengajari kami literasi, diskusi dan bergerak, ia tak ingin saya menjadi mahasiswa kutu buku, mesti berbagi ilmu lewat diskusi dan mengaplikasikanya lewat bergerak. Ical saat itu semester tujuh ia mempunyai  banyak hal untuk di pelajari.

Dinamika politik dan gerakan mahsiswa yang keras,  membuat saya tak bersepakat dengan beberapa teman saya, saya menjadi orang yang keras terhadap prinsip, saya tak sepakat soal demonstrasi pesanan, saya tak sepakat mahsiswa jauh dari buku, saya tak sepakat mahasiswa yang mencalonkan menjadi ketua lembaga hanya mencari uang dan jalan-jalan keluar kota.

Setelah menghabiskan Sembilan semester di kampus, saya akhirnya selesai, saya tak banyak melakukan  hal penting, saya hanya mendirikan komunitas literasi, mengkader dan yang paling penting menurutku saya tetap teguh pada pendirianku.

Dilematis melandaku, setelah selesai bermahasiswa, saya belum juga bekerja, masih aktif di organisasi masyarakat yang bergerak di bidang agraria. Inilah akibat pikiran yang keras, saya ingin benar-benar hadir di masyarakat membantu mereka memperjuangkan nasibnya. Kebanyakan dari mereka mengalami nasib yang kurang baik, dari beberapa kasus mereka berhadapan dengan izin perkebunan skala besar (Sawit), bekas HGU dan pertambangan yang mengusur tanah mereka. Sekurang-kurangnya tiga ribu lebih masyarakat bertarung melawan koorporasi swasta maupun Negara, saat saya masih mendampingi mereka. Berbagai cara dilakukan oleh perusahaan mulai dari Penyerobotan lahan, benturan antar warga, dan tawaran bekerja, alih-alih berhasil warga bersikukuh melawan karena pertimbangan filosof yang tak tergoyahkan.

Menenoropong Massa Depan Bumi Melalui Fenomena Hari Ini

Tanah dan alam merupakan hal yang tidak terpisahkan dengan manusia, ratusan tahun lalu mereka hidup berdampingan dengan alam, tak ada generasi yang putus karena lapar, mereka terus  melahirkan generasi tanpa merusak alam, mereka mengambil seperlunya agar keseimbangan alam tak terganggu. Generasi itu tetap terjaga sampai saat ini

Hadirnya perkebunan skala besar dan pertambangan batu bara dan mineral akan berdampak pada aktivitas masyarakat, aktivitas bertani, melaut akan tergeser menjadi bekerja di tambang dikarenakan tanah mereka terkena dampak pembangunan dan operasi tambang dan laut mereka telah dicemari.

Hari-hari saya di organisasi rakyat adalah hari yang berat dan juga penuh tantangan, berat karena harus melihat rakyat berjuang hidup di tanahnya sendiri,  karena tanah, hutan dan laut dirusak oleh segelintir orang yang mengatas namakan investasi. Kadang-kadang untuk mempertahankan tanah sendiri harus berhadapan dengan aparat. Aparat negara tidak lagi berpihak kepada rakyat dan tantanganya adalah bagaimana menyelesaikan persoalan mereka. Tapi kamu tahu, dan kita semua tahu memperingatkan pemimpin kita sama susahnya dengan memakan kuaci, karena semua ini berkaitan bisnis. Bukan hal yang mudah kita harus tetap ada dan berlipat ganda.

Kerusakan demi kerusakan akan terus terjadi, saya tak mengerti banyak soal investasi dan  bagaimana pembagiannya, Negara dapat berapa dan investor dapat berapa. Seingat saya Soekarno mengatakan kami bukan anti investasi tapi ini perlu di atur hulu hilirnya, mereka yang menanam investasi harus ada aturanya yaitu 40 : 60, 40 buat yang berinvestasi dan 60 buat Negara. Nah, hari ini saya tidak tahu bagaimana pembagianya, tapi saya masih melihat jalan yang berlubang, warga msikin yang masih mengharapkan bantuan dari pemerintah, anak-anak putus sekolah dan yang paling nyata adalah dampaknya, debu batu bara yang menghujani rumah-rumah warga, rusaknya tambak-tambak, laut yang tercemar. Sekali lagi siapa yang di untungkan untuk investasi dan apa jangka panjang yang diharapakan Negara ini dengan mendatangkan investor yang merusak alam.

Orang-orang yang tak paham bagaimana peran alam dalam kehidupan manusia, malah merusak dan mengeskploitasi secara berlebihan dan tak kenal ampun, apa yang akan mereka lakukan setelah mengguduli hutan, setelah menggali perut bumi, menanamkanya kembali, menghijaukanya kembali , dan berapa  banyak bekas-bekas tambang dibiarkan berlubang dan menggundul begitu saja tanpa ada peremajaan sedikitpun dan bagaimana massa depan bumi kita 100 tahun mendatang.

Disebuah pulau kecil, kita dapat mengelilingi dalam satu hari dan butuh dua jam menaiki kapal dari kota ini, dipulau itu telah dipenuhi  beberapa izin tambang, masyarakatnya mulai khawatir pulau mereka telah dimasuki tambang batu bara, mereka demonstrasi, mereka memblokade, mereka marah namun tak dapat menghalau masuknya tambang. Beberapa dari mereka berhasil di kriminalisasi karena menghalau dan merusak alat berat dari perusahaan, usaha perusahaan  dalam membenturkan masyarakat pun berhasil sehingga dalam masyarakat terjadi kubu-kubu pro dan kontra, walaupun berhasil masuk dan beroperasi. Sebagain masyarakat masih teguh menolak tambang.

Sisi lain pulau itu, terdapat sebuah kelompok masyarakat tani yang diambil tanahya oleh perusahaan kelapa sawit, mereka tak bisa bertani karena takut oleh security perusahaan, mereka menangis meminta tolong tetapi Negara lambat, selain itu bekas HGU perkebunan coklat yang telah lama habis dikuasi oleh masyrakat hak waris, selama betahun-tahun mereka menguasai lahan tersebut tanpa kepastian akan diberikan kepada mereka dan Negara lambat soal itu.

Aku melihat negriku, dijajah oleh investor seolah kita tak dapat mengelolahnya sendiri, baik di sector kehutanan, perkebunan dan pertambangan, mereka mengepung wilayah-wilayah kuasa rakyat, secara perlahan tapi pasti penjajahan ini akan terus berlanjut. Tapi aku melihat dengan nyata, peminggiran rakyat dari tanah asalnya mulai dilakukan dan terus dilakukan, mereka mulai membaut pola yang membosankan mendapat izin dari pemerintah, tahu-tahu telah datang menggunduli hutan, mereka mengganti pohon-pohon dengan tanaman sawit, mereka mengganti pohon-pohon dengan bangunan-bangunan pabrik yang kokoh, mereka mengganti karang dilautan dengan tiang-tiang tembok, mereka tak memberi ampun terhadap alam.

Perjuangan rakyat merebut haknya mendapat alarm yang buruk, pemerintah pro terhadap investasi, mengeluarkan undang-undang yang mendukung masuknya investasi dan tidak berpihak pada kepentingan rakyat, kerusakan demi kerusakan akan terus terjadi, saya benar-benar tidak membayangkan jika yang terjadi di lingkunganku, itu juga terjadi diberbagai daerah, tetapi menurutku juga terjadi. Perampasan tanah, pengundulan hutan dan percemaran lingkungan

Meneropong massa depan bumiku dimuali dari negri ini, agak suram melihatnya, tapi aku harus berani melihatnya, melihat hutan-hutan yang gunduli karena proyek perkebunan skala besar, melihat mesin-mesin mengebor bumiku, melihat air laut yang dulunya jernih kini mulai berubah warna kekuning-kuningan, belum lagi sampah berhamburan diteluk, didarat pun sama, sampah plastik memenuhi setiap tong-tong sampah.

Lebih baik lamban dalam belajar dari pada berhenti belajar, pengundulan hutan akan berdampak besar terhadap udara bersih dan  oksigen yang dihasilkan akan berkurang, menyebabkan bencana banjir, tanah longsor, terjadinya erosi dan kesulitan dalam menampung volume air, seingat ku. Dampak pengundulan hutan sejak SD telah diajarkan, dan tak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk mengerti mengenai dampak pengundulan hutan terhadap manusia.

Pengundulan hutan ini dilakukan oleh perusahaan yang mempunyai tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari proyek-proyek yang mereka lakukan, perkebunan-perkebunan telah mengunduli hutan jutaan hektar diberbagai daerah, sayangnya pemberian tanah kepada perusahaan perkebunan tersebut tidak berbanding terbalik dengan pemberian tanah kepada rakyat. Rakyat di negri ini masih banyak yang belum mempunyai tanah, mereka mempunyai tanah namun tak seberapa, tanah-tanah dinegri ini di kuasai oleh segelintir orang untuk kepentingan investasi.

Mereka yang menguasai tanah di negri ini justru mereka yang berperan besar terhadap eksploitasi hutan dan lingkungan secara berlebihan, di negri ini bisnis perkebunan dan pertambangan tengah eksis dan terjadi dimana-dimana. Negara memberi izin di tanah-tanah kelola rakyat mereka mengunduli hutan, mencemari lautan, menguras perut bumi secara berkelanjutan. Izin-izin mereka pun di atas lima puluh tahun, bayangkan dalam jangka diatas lima puluh tahun perusahaan-perusahaan ini mengeksploitasi alam secara terus menerus.

Pengundulan hutan, pencemaran lingkungan dan pembuangan sampah secara berkelanjutan tanpa antisipasi yang dilakukan oleh pemerinta, pulau-pulau kecil terancam tenggelam karena aktivitas tambang dan kota-kota besar terancam tenggelam karena kepadatan penduduk dan lingkungan yang telah tercemar. Aktivitas-aktivitas perkebunan, kebakaran hutan dan pertambangan dengan masif dilakukan, merusak keseimbangan alam, hilangnya keanekaragaman hayati dan kerusakan ekosistem.

Saya sedikit mengerti, tentang investasi, yaitu untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya, saya mungkin salah dalam definisi itu, dan dengan definisi itu  menghasilkan lagi sebuah pertanyaan baru, apakah peningkatan ekonomi dinegri ini harus merusak lingkungan rakyat dan merusak hak kelola rakyat ? peningkatan ekonomi dalam suatu Negara memang sangat pentig, tetapi peningkatan ekonomi tidak harus menjadikan rakyat sebagai korban yang berkepajangan dan merusak lingkungan. Apalah arti menjadi Negara dengan pendapatan ekonomi yang tinggi jika setiap tahun menjadi langganan banjir, apalah arti menjadi Negara maju jika rakyat hak-haknya dilanggar, apalah arti menjadi Negara yang membangun gedung-gedung tingggi jika rakyat masih mengontrak. Kita bertanya dan kita meminta untuk kepentingan rakyat dan lingkungan.

Kegiatan pertambangan telah banyak dilakukan dinegri ini, dan dilakukan secara masif dan terstruktur . negeri ini mendukungnya, karena bermotifkan investasi dan banyak orang tidak mengetahui negri ini mulanya didirikan karena cita-cita yang mulia oleh para pendahulunya, dimana air, udara, bumi dan segala yang terkandung di dalamnya di kelola untuk kemakmuran rakyat. Pergantian rezim membuat cita-cita itu menjadi mimpi semata. Nyatanya operasi pertambangan terus terlihat dengan jelas begitupun dampak-dampak yang di timbulkannya.

Hadirnya pertambangan ini di dukung oleh regulasi-regulasi yang dihasilkan oleh dewan yang bekerjasama dengan pemimpin negri, kita dapat menyebutnya ini perselingkuhan, rakyat di selingkuhi dengan pemilik modal untuk menghasilkan segala regulasi yang mendukung operasi pertambangan hingga tidak adanya proses pemulihan terhadap lokasi pertambangan.

Di perkebunan, tidak sedikit tanah yang telah dikuasainya, jutaan hektar, terdiri dari hutan-hutan rakyat yang diambil atas dalih peningkatan investasi. Motif-motif tersebut membawa kita pada keadaanya yang mengaharuskan kita untuk tidak tinggal diam saja. Boleh saja mereka di dukung oleh regulasi, boleh saja mereka di dukung oleh rezim ini tetapi mereka lupa kedaulatan berada ditangan rakyat

Turun temurun masyarakat kita akrab dengan alam, hingga lahir sebuah kata-kata bersabahatlah dengan alam, kebudayaan masyarakat kita yang hidup berdampingan dengan alam perlahan-lahan mulai terusir dan rakyat tidak dapat menjaga alam seperti sebelumnya. Di banyak tempat, galian-galian tanah merah tampak jelas, di banyak tempat, hutan di gunduli uuntuk di tanami tanami sawit.

Profesi

Setelah bertahun-tahun mengamati, melihat dan mengadvokasi saya pun harus berat hati meninggalkan provesi saya sebagai yang bersama rakyat dan membantu mereka, karena hobi saya membaca, saya akhirnya bekerja sebagai editor disurat kabar, tidak lama berselang setelah saya bekerja sebagai editor saya pun menikah dan mempuyai dua orang anak. Bekerja sebagai editor mengharuskan saya membaca dengan teliti, kabar-kabarnya beragam, tetapi saya selalu tertarik membaca berita mengenai penggusuran, bencana alam, demostrasi, pencemaran lingkungan, pengundulan hutan, kriminaNandasi para pejuangan lingkungan dan agraria.

Setiap kali membaca tulisan-tulisan yang berkaitan dengan lingkungan dan para pejuangnya saya mempunyai perasaan emosi dan kadang-kadang saya beragumen sendiri. Mereka rakyat, adalah salah satu syarat terbentuknya suatu Negara, rakytalah yang berdaulat atas negri ini, tetapi lihatlah bagaimana Negara ini memperlakukan rakyat. Merusak lingkunganya, mengusir mereka dari tanahnya, menomor duakan. Kataku dalam hati.

Dari surat kabar saya melihat rakyat disebut-sebut penderitaanya dan di TV pemerintah selalu di sebut pencapaianya, dua hal yang saling bertentangan, tapi kita tahu dan bukan pula rahasia umum, masalah-masalah yang dihadapi rakyat diakibatkan rezim yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat.

Rakyat direbut hak kelolanya, dirusak lingkungannya dan dicemari, tentu oleh aktivitas perkebunan maupun pertambangan, padahal kita juga tahu, masyarakat kita dalam sistem kebudayaanya tidak bisa dipisahkan dengan alam dan kini kedua-duanya mulai di pisahkan, pertama profesi petani, kedua alam. Pemisahan ini akan berdampak pada generasi mendatang, jumlah petani berkurang, jumlah hutan berkurang, mengakibatkan guremnisasi, burunisasi dan dampak-dampak alam lainya seperti bencana alam, perubahan iklim dan massa depan bumi yang menuju krisis sosial dan lingkungan.

Jadi, Sakir, Nanda, apa yang kalian lihat hari ini dikota, di TV, mulai dari pencemaran lingkungan. Banjir, sampah dimana-mana itu telah lama terjadi dimasa kakek, sekarang makin parah, bukan saja setiap kota yang menjadi langganan banjir tapi banyak desa-desa yang menjadi langganan banjir, karena hutannya telah habis dikelola untuk kepentingan bisnis semata.

Sakir : jadi kek, apa solusinya,

Nanda : dan bagaimana nasib Bumi kita 100 tahun kedepan kek? Melanjutkan kata Zakir.

Saya tersenyum dan berkata, kalian anak-anak yang baik. Sakir, mulailah dari diri sendiri, jangan buang sampah sembarangan dan suatu saat nanti jika kamu telah dewasa perbaikilah yang ada disekitarmu dan jika tertarik lawanlah mereka yang merusak lingkungan, korupsi dan perlakuan tidak baik lainya. Dan Nanda, kakek bukanlah peramal, dan seratus tahun terlalu jauh untuk diramal, tapi lihatlah disekitarmu, hutan sedikit-sedikit telah habis, sampah dimana-dimana, pencemaran lingkungan dimana-mana, perubahan iklim semakin susah untuk di tebak, bencana banjir menjadi langganan, dan pemerintah belum melakukan apa-apa untuk kembali menghijaukan bumi. Kamu tahu maksudku kakek kan, Nanda.

Nanda menggeleng kepala, perutnya bunyi tanda ia telah lapar.

Aku, kalian lapar? Tanyaku

Kedua-keduanya mengangguk, saya tersenyum dan mengajak mereka untuk untuk pulang, terlalu asik bercerita kami pun tak menyadari matahari berada di atas kepala. Kami pun sampai dan diatas meja terlihat makanan telah siap, semua makanan adalah hasil perkebunan kami. Kami berkumpul menyantap makan siang bersama dua orang anak saya, dua orang istri dan suami anak saya dan dua orang cucu saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *