Cerpen #25: “Janji Oasis Terakhir”

“Groaahh!!!”

Panggilan predator buas kembali terdengar di tengah padang rumput tandus, menggema dari segala penjuru. Tujuh orang anggota tim ranger-19 bersembunyi di belakang belukar, membetulkan posisi masker dan helm yang melindungi wajah dan kepala. Lalu mengecek baju pelindung yang membungkus sekujur tubuh, memastikan tidak ada yang sobek. Satu retakan pada kaca depan helm atau satu sobekan pada baju pelindung dapat berakibat fatal.

Bumi telah berubah. Udara tidak lagi bersahabat. Manusia tidak bisa terpapar udara luar seperti seratus tahun lalu, saat iklim masih ramah. Debu mikroskopik mengambang di atmosfir, membawa unsur beracun yang dapat membunuh seketika.

Peradaban telah berpindah. Orang-orang bermukim di dalam pelindung berupa kubah. Bergantung pada sistem penyaring udara dan bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan pangan. Masalahnya adalah air. Suplai air terbatas, sementara semua orang memerlukannya setiap hari. Karena itulah tim ranger dibentuk, untuk mencari sumber air di padang liar di luar kubah.

“GROAAHHH!!”

Suara itu makin dekat. Seto, sang ketua tim mengedarkan pandangan pada masing-masing anggota, mengangguk. Lalu dengan suaranya yang dalam, dia memberi komando.

“Berpencar!”

Setiap anggota berbalik hingga saling memunggungi. Lalu mereka berlari menuju arah yang berbeda. Berusaha mengalihkan perhatian predator yang mengejar mereka. Predator itu disebut varanus, sejenis komodo besar namun tinggi dan gesit seperti kuda. Dengan kulit tebal dan ketahanan terhadap lingkungan ekstrim, varanus kini menduduki puncak rantai makanan.

Bagian paling mengerikan dari predator ini terletak pada lidahnya yang terjulur sesekali. Lidah varanus membawa sinyal kimiawi untuk mendeteksi lokasi mangsa. Bukan itu saja, lidahnya membawa racun. Dan racun inilah yang memungkinkan varanus bisa membunuh mangsanya melalui luka kecil. Dengan kata lain, satu luka gores dan setetes air ludah varanus, maka tamat sudah riwayat.

Ali memaksa kakinya melangkah lebih cepat. Dia salah satu anggota baru dan ini kali keduanya mengikuti misi ranger di luar kubah. Jantungnya berdegup puluhan kali lebih kencang. Tapi Ali terus berlari lurus ke arah kubah, mengambil jalur paling pendek.

Di antara anggota ranger, Ali adalah yang paling lambat dan lemah. Dalam formasi misi, dia selalu ditempatkan di bagian tengah yang lebih terlindungi. Sementara anggota lain yang berada di bagian sayap berusaha mengalihkan perhatian varanus sambil sesekali melemparkan bom asap untuk mengacaukan indera pendeteksinya, tugas Ali adalah terus berlari. Ia tidak boleh berhenti, meski didengarnya teriakan minta tolong dari kejauhan. Dan meski dia tahu salah satu rekannya tengah meregang nyawa.

“Aaaahhh …!!!”

Suara jeritan datang dari sayap kiri formasi. Lagi-lagi seseorang terluka, atau tertangkap, atau dimangsa varanus. Atau ketiganya.

Ali terus berlari, tanpa menoleh. Dia tidak berani menoleh. Lututnya terasa makin lemas seiring ketakutan yang makin mencengkeramnya.

Sejak awal Ali takut untuk menjalankan misi ini. Namun begitu, dia harus ikut pergi. Karena tim butuh seorang teknisi untuk memasang filter dan pemompa air. Apalagi, misi ini berawal dari idenya sendiri.

Saat tahu bahwa tim ranger bertugas mencari sumber air di luar kubah, Ali menyadari sesuatu yang berusaha diabaikan semua orang. Pencarian sumber air bersih bukanlah sebuah solusi. Air bersih diperlukan setiap hari, tapi sumbernya makin lama makin tidak ada. Tim ranger perlu mencari sumber air bersih baru setiap kali hampir habis. Mereka pergi menjelajah daerah luar kubah, mempertaruhkan nyawa untuk lari dari varanus.

Ali menyadarinya sepulang dari misi pertama. Setiap misi memakan korban jiwa. Namun begitu, tim ranger harus pergi keluar lagi dan lagi. Seperti sebuah siklus kutukan tanpa henti.

“Ini bukan solusi,” gumam Ali sambil menahan kakinya yang gemetaran. Tim ranger berhasil menemukan sumber air bersih baru. Mereka membayar dengan nyawa empat anggotanya. “Sampai kapan kita harus menjalankan misi ini?”

Dian yang duduk di seberang meja membuang napas melihat anggota baru yang terpuruk setelah misi pertama. Tapi dulu Dian pun terus ketakutan sepulang misi pertamanya.

“Kita akan melakukannya hingga akhir. Semua orang butuh air.”

Jawaban Dian sesuai dugaan Ali. Dia tahu tim ranger memang memutuskan untuk berjuang demi semua orang di dalam kubah. Setiap anggota sudah siap untuk mengorbankan diri. Mungkin Ali memang tidak seharusnya bergabung ke ranger. Ali sama sekali tidak memiliki kesiapan untuk mengorbankan diri. Dia hanya asal menerima ajakan Seto yang timnya membutuhkan seorang teknisi.

Ali bahkan tidak berani bertanya apa yang terjadi pada teknisi sebelumnya. Bagi Ali yang baru gagal tes untuk bergabung dalam ekspedisi Bimasakti, ajakan Seto terasa seperti penawar luka yang manis.

“Kamu dan bakatmu diperlukan oleh kita semua yang tinggal di kubah,” begitu kata Seto. Sang ketua tim ranger-19 itu juga berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi Ali selama melaksakan misi. “Jangan khawatir, kami selalu menempatkan anggota baru di bagian tengah formasi.”

Kini Ali bertanya-tanya, apa maksudnya ‘hingga akhir’. Akhir apa yang dimaksud? Apakah akhir dari dorongan manusiawi untuk melaksanakan misi? Ataukah sampai mereka menghabiskan sumber air bersih terakhir?

“Sebaiknya kamu menghindari topik seperti ini, Ali,” ujar Novan dengan suara lirih. “Ucapanmu bisa menggugurkan semangat juang tim. Padahal hanya itu yang kita miliki.”

Seto yang duduk di ujung meja menyeruput teh panas di cangkir sambil menatap Ali dari sudut matanya.

“Maaf, bukan itu maksudku.” Ali menunduk.

“Apa menurutmu ada solusi lain?” tanya Seto memecah keheningan yang mengisi ruangan.

Ali sedikit terkejut dengan pertanyaan Seto. Pupil matanya bergerak-gerak sebentar karena grogi, tapi ia tak ingin mengecewakan Seto yang memberinya kesempatan bicara.

“Pencarian sumber air bersih seperti yang kita lakukan ini bisa dibilang hanya solusi sementara. Bagaimana jika sumber air bersih di sekitar kubah habis?”

“Maka kita harus mencari lebih jauh,” sahut Dian.

“Dan membiarkan lebih banyak orang mengorbankan diri?” tanya Ali. “Itu bukan solusi. Kita seharusnya mencari cara menyaring air agar aman dikonsumsi. Dengan begitu, bahkan sumber air yang terkontaminasi pun bisa dipakai.”

“Cara menyaring itulah yang tidak ada,” kata Novan dengan suara ketus.

Sistem penyaringan air yang ada tidak cukup baik untuk bisa membersihkan semua kontaminasi. Oleh karena itu, mereka perlu mencari sumber air yang dengan tingkat kontaminasi rendah hingga sedang. Memang benar pencarian sumber air baru bukan solusi yang sebenarnya. Tapi saat ini tidak ada pilihan lain. Sebab tidak ada orang yang bisa mengembangkan sistem penyaringan air. Semua orang pintar berbondong-bondong bergabung dalam ekspedisi Bimasakti. Pergi untuk menjelajah angkasa, sekaligus melarikan diri dari bumi.

Pengembangan teknologi baru butuh waktu yang tidak sedikit. Daripada menghabiskannya untuk mengembangkan sesuatu yang hampir mustahil dapat dilakukan orang-orang awam minim pengetahuan, tim ranger memilih untuk melakukan pencarian.

“Kalau punya cukup waktu, apa kamu bisa membuatnya, penyaring yang baru?” tanya Seto, sehari setelah diskusi mereka yang berakhir buntu.

Ali tidak tahu. Dia tidak yakin pada kemampuannya yang sudah gagal pada tes untuk mengikuti ekspedisi. Ali mungkin pintar, tapi dia tidak sepintar mereka yang terpilih.

“Ali?”

Ali mengerjap. Suara Seto membangunkannya dari lamunan.

“Aku tidak yakin. Tapi, mungkin bisa.”

Setelah malam itu, bersama dengan Seto, Ali mencari dan mempelajari mengenai sistem penyaringan air yang ada di kubah, mencoba menemukan cara untuk meningkatkan efisiensinya. Ali sempat bertanya pada Seto, mengapa dia begitu mendukung ide Ali.

“Aku hanya lelah melihat korban yang terus berjatuhan pada setiap misi.”

Begitulah awal mula misi penerobosan sarang varanus ini dimulai. Kawanan varanus tinggal di sekitar danau Limau Kembar, yang dapat disebut sebagai oasis terakhir di tanah Kalimantan. Danau itulah sumber air terbesar yang tersisa sementara seluruh daratan pulau dipenuhi padang tandus dengan debu beterbangan di permukaannya.

Melihat bagaimana satwa liar bersarang di sekitarnya, air dari danau diperkirakan memiliki tingkat kontaminasi sedang. Ini berarti mereka bisa menggunakannya dengan filter yang sudah ada. Dengan begitu, mereka akan punya waktu untuk mengembangkan sistem penyaringan baru yang dirancang Ali dan Seto.

Ya, air dari danau pun hanya akan menjadi solusi sementara. Sebab untuk memompa air dari tengah oasis yang begitu jauh menghabiskan terlalu banyak energi. Penduduk dalam kubah harus menghemat energi sebisa mungkin karena sumber daya untuk bahan bakar juga makin habis.

Sebenarnya di sekitar kubah ada banyak sumber mata air, namun tingkat kontaminasi yang makin hari makin tinggi membuatnya tidak bisa digunakan. Jika efisiensi filter di sistem penyaringan berhasil ditingkatkan, tidak seorang pun harus pergi keluar terlalu jauh dan bertemu varanus lagi.

Akan tetapi, untuk tim ranger sebenarnya ini adalah misi bunuh diri. Alasan kenapa tidak pernah ada yang menerobos ke oasis dan memompa air dari sana, yaitu karena ratusan varanus yang tinggal di sekitarnya tidak akan membiarkan manusia lewat begitu saja. Saat berangkat dua hari lalu, tim terdiri dari dua puluh tiga orang. Kini hanya tersisa tujuh.

Pandangan Ali kabur akibat tertutup genangan air mata. Dia tidak berani mengingat berapa kali suara jeritan muncul di sekitarnya. Tidak berani menebak suara siapa yang belum didengar.

“Grooaahh!!!”

Erangan varanus mengejutkan Ali. Lututnya yang lemas kehilangan keseimbangan, Ali jatuh di tanah gersang. Saking lelahnya, kaki terasa seperti mau patah. Tangannya yang gemetar membuatnya gagal untuk kembali berdiri. Sementara itu, suara empat kaki besar yang berlari di belakangnya terdengar makin mendekat.

“Ali!”

Seto berteriak memanggilnya. Sosoknya tiba-tiba muncul dari balik barisan belukar kering. Segera ditariknya tangan Ali sambil berlari menjauh.

Di depan sana, pintu masuk kubah sudah terlihat. Tinggal sedikit lagi.

“Lari lebih cepat!” seru Seto dengan suara serak.

Ali terus berlari, meski harus bersusah payah mengikuti kecepatan Seto. Tidak lama kemudian, dilihatnya seseorang berdiri di depan pintu masuk. Ali mengenali gadis tinggi pemberani di sana, Dian. Ia merasa lega melihatnya. Tapi di saat yang sama, Ali menyadari tidak ada tanda keberadaan rekan lainnya. Dadanya mendadak sesak, kakinya kembali kehilangan keseimbangan dan jatuh.

“Ali, awas!” teriak Dian sambil menembakkan senapan di tangan.

Ali menundukkan kepala serendah mungkin. Suara rentetan peluru berdesing di atasnya. Dan cairan merah memuncrat dari belakangnya. Seto kembali menarik tangan Ali, membantunya berdiri. Di saat yang sama tubuh varanus tumbang dengan bunyi gedebuk keras.

Wajah Ali pucat pasi begitu ia melihat ke belakang. Bukan karena varanus yang tertembak, namun karena tidak jauh di belakangnya puluhan varanus lain berlari ke arah mereka.

“Dian, lemparkan senapanmu!” teriak Seto. Senapan miliknya kehabisan peluru karena tadi ia terus menembaki varanus yang menuju ke arah Ali.

Kedua mata Dian membesar sesaat. Tanpa mengatakan apa pun, dilemparkannya senapan di tangan. Lalu ia berbalik, melanjutkan lari menuju pintu depan kubah.

“Cepat lari duluan!” kata Seto pada Ali yang bergeming di samping tubuh besar varanus. “Cepat!”

Ali kembali menggerakkan kakinya yang kebas, sekencang yang dia bisa. Seto berlari di belakang Ali sambil menembaki varanus yang mengejar. Ali dapat merasakan dadanya yang makin sesak, napas yang terputus seperti mau berhenti, dan debaran jantungnya yang serasa mau meledak. Ali melihat Dian sudah membuka pintu dan menunggu mereka di baliknya.

Lima meter lagi dari pintu. Langkah Ali terhenti karena mendengar Seto terjatuh.

“Dasar bodoh, terus lari! Jangan berhenti di sana!” seru Seto. Pada posisi duduk, dia masih terus menembaki varanus yang mengejar.

Ali berbalik menghampiri, meraih lengan Seto dan membantunya berdiri. Hatinya terasa ngilu saat dia menyadari ada darah merembes keluar dari betis kaki kiri Seto. Dipapahnya ketua tim ranger-19 hingga mencapai bagian dalam kubah. Dian segera menutup pintu depan dan memasang balok logam besar melintang untuk mencegah pintu terbuka akibat dorongan dari luar.

“Bodoh …” Seto berkata dengan suara serak yang mulai melemah. “Kamu seharusnya tidak perlu repot membawaku.”

Ali tidak bisa membalas. Wajahnya dibanjiri air mata.

“Untuk seorang lelaki, kamu terlalu mudah menangis,” kata Seto sambil tersenyum tipis, membaringkan tubuhnya ke lantai. “Sejak awal, setiap anggota ranger sudah siap dengan risiko misi. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri.”

“Jika saja aku lebih kuat … kamu tidak harus melindungiku ….”

“Aku sudah bilang, kan. Kamu dan bakatmu diperlukan oleh semua orang yang tinggal di kubah.” Seto menarik napas dalam, memasang sebuah senyum lemah di wajah. “Sisanya kuserahkan padamu, Ali.”

Ali mengangguk, tidak bisa membentuk kata untuk menjawab harapan sang ketua tim. Air matanya kembali kembali berjatuhan saat hembusan napas Seto berakhir. Dian yang duduk di sampingnya ikut sesengukan.

Kaki Seto sudah terluka sebelum mereka mencapai danau. Tapi tidak ada yang tahu kapan pakaian pelindungnya robek atau kapan lukanya terinfeksi. Mungkin Seto sudah menyadarinya, bahwa dia tidak akan selamat. Karena itu ia bermaksud menggunakan seluruh sisa kekuatannya untuk memastikan Ali dapat kembali ke kubah. Anggota tim lain bersedia menjadi umpan dan berpencar ke segala arah, bertaruh pada peruntungan untuk dapat bertahan.

Ali menatap wajah pucat Seto, mengingat harapan yang Seto katakan ketika mereka memasang pompa air di tengah oasis. Dalam hati berjanji untuk memenuhi harapan terakhir sang ketua ranger.

“Semoga setelah misi ini, tidak diperlukan korban jiwa lagi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *