Cerpen #24: “Bergerak Untuk Bumi”

Namaku Lusiana Hermanto, aku sedang menempuh pendidikan sekolah menengah atas, aku tinggal bersama keluarga yang sangat menyenangkan, ayahku seorang guru bernama Hermanto Lesmono, ibu ku seorang ibu rumah tangga bernama Indah lesiana hermanto dan kakak ku seorang mahasiswa yang sedang melanjutkan pendidikannya di UGM jurusan kehutanan, ia bernama Larasati Hermanto, keluarga ku adalah anugerah yang terindah yang telah Allah SWT beri untukku sama halnya dengan lingkungan dan alam yang sekarang aku pijakan, Allah SWT telah menciptakan alam semesta dengan berbagai ragam kekayaan dan kehidupan bintang, matahari, bulan dan bumi serta makhluk hidup di dalamnya, kita sebagai umat Manusia sudah seharusnya menjaga dan melindungi semua yang telah Allah anugrahkan kepada kita apalagi kita tahu bahwa manusia adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya dan mahkluk yang berakal dari makhluk Allah lainnya. Dari lingkup keluarga aku sudah di ajarkan untuk menyayangi dan menjaga sesuatu yang telah Allah beri untuk kita, jagalah lingkungan, lindungilah alam,”kalau bukan kita siapa lagi?”, “kalau bukan sekarang kapan lagi”? dan “kalau bukan diri kita sendiri yang memulainya sendiri lalu mau bagaimana kehidupan alam ini?” apa kita akan menunggu pemerintah bergerak baru kita mengikutinya?, pertanyaan-pertanyaan itu muncul ketika ayahku memberi pesan pada ku, dan kakak, rasanya benar-benar bahagia, bisa memiliki keluarga seperti ini, saling mengingatkan dalam kebaikan dengan cara yang baik pula. Ayah ku adalah tokoh yang luar biasa dalam hidup kami, hampir setiap hari beliau bercerita dan berpesan tentang hal yang sangat bermakna termasuk melindungi alam dengan cara kita sendiri, biasanya sesuatu yang kita sukai ataupun kita senang melakukannya akan berdampak positif untuk kedepannya, ayah dan ibu ku berpesan pada aku dan kak Larasati, “Setidaknya kalau kita tidak bisa menjaga jangan merusak”, seketika kakak ku terenyuh mendengar kata-kata itu, ia sadar dan paham bahwa apapun yang telah di titipkan untuk kita harus kita jaga dan rawat, semampu dan sebisa kita melakukannya, karena hal itulah kak Larasati bersikeras untuk mengambil jurusan kehutanan agar ia bisa menjaga hutan dan tumbuhan di bumi dengan baik dan tentunya dengan ilmu yang ia terima.

 

Tanpa di duga tahun berganti, keadaan pun berubah, yang dulu baik-baik saja sekarang tidak, pademi menghantui negara kita, sudah hampir 2 tahun belum juga usai sampai sekarang, rasanya benar-benar miris, aku sebagai anak bangsa dan umat manusia yang di beri akal merasa khawatir akan semua ini, belum lagi ada berita buruk yang lebih parah dari pademi, krisis iklim, jantung ku bergetar, hati ku terasa sulit di artikan, perasaan ini sedang tidak karuan, polemik kian memanas, banyak perdebatan di negara kita, adanya krisis iklim, ada yang bersuara namun tak di dengar, ada yang bertindak namun tak di dukung, kiranya kita sebagai generasi muda harus bisa berfikir kritis bahwa masalah krisis iklim ini bukan masalah biasa, banyak dampak yang dapat timbul darinya, aku ingin menciptakan perubahan dari hal terkecil namun bermakna, mungkin usia ku masih terlalu muda, namun menurutku tidak ada kata usia untuk menjaga negera dan alam ini, kalau kita sendiri tak mau bergerak, lalu bagaimana negera dan alam ini akan kembali pulih.

 

Untuk mengurangi krisis iklim, ibu memulai dari dapur dengan mengurangi Konsumsi daging dan menggantinya dengan sayuran, ibu juga membiasakan kami untuk menghabiskan makanan, dari hal kecil itu jika biasa kita lakukan akan menjadi kebiasaan yang baik, ibu slalu menasihati aku dan kakak untuk slalu memberi perubahan dan cobalah untuk bergerak demi bumi kita, dari hal terkecil apapun, itu sangat membantu untuk memperbaiki keadaan saat ini, tidak hanya itu ibu ku juga sangat menyukai tanaman, hampir setiap pagi beliau mengurusi tanamannya, sampai rumahku bisa di bilang seperti kebun karna banyak sekali tanaman yang kami tanam, mulai dari cabe sampai bunga, sebelum terjadi berita tentang krisis iklim pun, beliau slalu membiasakan diri untuk merawat tanamannya dan menyayanginya seperti anaknya sendiri, sangking sayangnya ibuku pernah bercerita dengan bunga yang beliau tanam, entah kenapa ibu terlihat sangat bahagia saat bercerita dengan bunga kesayangannya, memang benar kesadaran kita pada Alam sangat terpengaruhi oleh lingkup keluarga, dari kisah ayah dan ibu yang slalu mereka tanamkan kepada anak-anaknya membuat aku dan kak Larasati beruntung, bisa mulai sadar bahwa alam akan tetap hidup tanpa kita namun kita belum tentu hidup tanpa alam, jadi mulailah menciptakan perubahan dari hal terkecil, mulailah pada dirimu sendiri.

 

Beberapa waktu lalu ibu mengajari kami untuk menyayangi dan merawat alam dari dapur, sekarang giliran ayah yang memberi wejangan kepada kami untuk menjaga alam, tak hanya kisah namun juga nyata beliau lakukan dalam kehidupan sehari-hari, ayah ku bekerja sebagai guru di salah satu sekolahan dekat rumah kami, perjalanan menuju sekolahan tidak terlalu jauh, ayah slalu melakukan perjalanan menuju tempat beliau mengajar dengan berjalan kaki, sudah bertahun-tahun ayah melakukannya, beliau ingin agar generasi muda dapat merasakan udara yang sejuk, beliau juga ingin dengan jalan kaki bisa mengurangi penggunaan transportasi pribadi  ataupun umum,  agar polusi udara dapat berkurang walau sedikit, berjalan kaki juga baik untuk kesehatan tubuh, ayah slalu mengajari kami untuk hemat dan menjaga, solar untuk transportasi kita akan semakin menipis jika kita menggunakannya tanpa jeda, generasi yang akan datang tidak bisa menggunakannya nanti, ayah tidak ingin hal itu terjadi, ayah ku juga mengajari kami untuk slalu ingat bahwa setelah kami masih ada generasi selanjutnya yang membutuhkan alam ini, alam yang nyaman dan terjaga bukan banyak masalah.

 

Motivasi kakakku untuk menjadi sarjana kehutanan adalah ingin melindungi hutan dan ia juga ingin berita yang sedang marak tentang krisis iklim ini hanyalah mimpi dan bukan nyata, ia juga ingin belajar tentang penggunaan dan fungsi ekosistem hutan. Cakupannya cukup luas, mulai dari ilmu tanah, ekologi hutan, konservasi lingkungan, memanfaatkan dan mengolah hasil hutan, keanekaragaman hayati, fisiologi tumbuhan, meningkatkan produktivitas hutan, pengolahan hasil hutan, hukum penebangan hutan, hingga teknologi kehutanan. Dengan mengambil jurusan Kehutanan akan membuat kakakku belajar bagaimana memanfaatkan hasil hutan dengan baik tanpa mengakibatkan kerusakan pada ekosistem hutan. Kak Larasati memang dulunya tidak tertarik untuk mengambil jurusan kehutanan namun karena ia belajar dari ayah dan ibu tentang cara menjaga lingkungan dan alam, kakakku pun termotivasi dengan semua itu, dari hal terkecil saja kita sudah bisa menjaga alam dan bumi ini apalagi jika kita tahu cara yang baik untuk menjaganya, pasti akan lebih menyenangkan dan mudah untuk kita lakukan, dengan pengalaman yang kak Larasati punya, ia ingin bisa mewujudkan alam yang indah dan terjaga, tentunya juga bisa mengurangi krisis iklim yang terjadi.

 

Keluargaku telah memberi motivasi juga untukku, agar bisa menyayangi dan menjaga alam, untuk kehidupan selanjutnya dan tentunya agar generasi masa depan bisa merasakan apa yang kita rasakan sekarang, jika kita egois dan hanya ingin menikmatinya sendiri mungkin generasi masa depan tidak akan bisa merasakan sejuknya udara sekarang, berlimpahnya air, tanaman yang segar ataupun sandang dan pangan yang bisa mereka mereka nikmati, semua yang ada sekarang akan hilang dan tidak ada lagi jika kita tidak mau bergerak untuk melindungi alam dan bumi ini, dari hal terkecil saja bisa mengurangi krisis iklim apalagi dengan usaha yang lebih besar.

 

Sekarang aku sedang melakukan perubahan kecil dari sampah, dulu di rumah keluargaku belum ada tong sampah untuk sampah organik dan sampah daur ulang, kami menganggap bahwa satu tong sampah tidak masalah yang penting ada tempat untuk membuang sampah, namun sekarang aku berfikir bahwa sampah organik dan daur ulang perlu untuk di pisahkan, selain baik buat kesehatan juga dapat di jadikan sebagai sesuatu yang bermanfaat, sekarang ini aku sering memilah-milah sampah organik dan sampah daur ulang, untuk sampah daur ulang biasanya aku salurkan ke bank sampah sedangkan untuk sampah organik dengan cara mencampur sampah organik dengan tanah kemudian di beri air secukupnya, di tutup dan di biarkan selama 3 Minggu, setelah itu aku lihat dan aku coba untuk menanam cabai, Alhamdulillah nya cabai ku tumbuh subur dan banyak, ibu yang tadinya tidak percaya, sekarang justru slalu melakukan hal itu, sederhana namun sangat bermakna, jika terus di lakukan pasti alam dan bumi ini akan baik-baik saja.

 

Krisis iklim bukan hanya terjadi karena faktor alam saja, namun juga ulah manusia yang luar biasa banyak, membuat bumi dan alam ini tidak bisa mengendalikan semua beban yang ada, tanpa di sadari Krisis iklim di sebabkan oleh pengunaan transportasi yang terlalu banyak hampir semua orang ingin memiliki kendaraan pribadi tanpa memikirkan bagaimana akibatnya nanti untuk bumi, untuk mengurangi hal itu, ayah ku slalu mengingatkan kami untuk tidak menggunakan kendaraan jika jaraknya tidak jauh agar polusi dapat berkurang walau sedikit, dalam keluarga ku juga hanya memiliki 2 sepeda motor, karena bagi ayah yang terpenting memiliki kendaraan pribadi, tidak boleh egois karena keinginan kita terlalu banyak mengakibatkan generasi masa depan tidak memiliki kesepakatan untuk mendapatkan sejuknya udara bumi, karena polusi yang terlalu banyak, bukan hanya itu karena ulah manusia yang lainnya juga bisa membuat Krisis iklim ini terjadi, seperti pembakaran hutan untuk pembangunan pabrik itu juga sangat merugikan, bukan hanya untuk bumi dan alam ini, tapi juga Manusia itu sendiri, karena banyaknya pembakaran hutan, akan menyebabkan banjir dan air laut pun naik ke daratan, tidak itu saja pencemaran laut dan pemakaian bahan fosil pun yang menyebabkan Krisis iklim ini terjadi.

 

Aku ingin kita sebagai generasi muda dapat menanggulangi perubahan Krisis iklim ini, dengan cara kita, lakukanlah sesuatu dengan ikhlas dan sadar bahwa kita masih butuh alam ini untuk kehidupan kita selanjutnya bahkan bukan hanya kehidupan kita saja namun juga generasi masa depan, generasi yang akan meneruskan kita nanti, anak, cucu kita, butuh kita sekarang untuk mengurangi perubahan Krisis iklim yang terjadi saat ini, pesan dari keluarga ku untuk kita semua, biasakan lah hidup dengan memikirkan lingkungan sekitar, jaga kebersihan, dan paling penting ciptakan perubahan mulai dari diri sendiri, aku dan keluargaku memiliki cara sederhana untuk dapat menanggulangi krisis iklim antara lain Bercocok tanam di rumah bersama keluarga itu pasti akan menyenangkan dan membuat rumah menjadi asri, hidup minim sampah plastik, kurangi sampah plastik dengan cara sederhana misal jajan dengan tempat sendiri tanpa plastik, belanja dengan keranjang yang di bawa dari rumah, hemat listrik, jika listrik sudah tidak terpakai sebaiknya di matikan saja, selain Boros listrik juga akan membuat bumi semakin panas dengan penggunaan listrik yang terlalu berlebihan, matikan kran yang sudah tidak terpakai, krisis iklim ini akan membuat suhu semakin panas juga membuat pasokan air berkurang, jadi lebih baik matikan kran bila tidak terpakai lagi, yang terakhir yang paling sering dilakukan oleh anak muda, terutama seusia ku yaitu membeli baju baru, banyaknya tren membuat anak muda lupa diri untuk tidak membeli baju, padahal di rumah masih banyak baju, tapi mereka tetap saja membelinya walau tidak terlalu butuh, selain Boros uang juga boros air, “kok bisa?”karena dari cerita ayah waktu itu, ayah bilang bahwa industri fashion menciptakan polusi terbanyak kedua di dunia, selain itu juga menyumbang 10% dari emisi karbon dan 20% air limbah di dunia dan yang paling parah menghabiskan 28 triliun galon limbah air industri tekstil untuk sekitar 235 juta pakaian, hal itu membuat kita harus lebih berhemat dan kalau nggak butuh lebih baik jangan membeli pakaian.

 

Krisis iklim akan berkurang apabila dari kita saling memahami dan mengerti bahwa semua butuh perubahan, butuh empati diri kita untuk lingkungan dan paling utama butuh gerakan kita untuk menanggulangi ini semua, bergeraklah untuk bumi dan alam ini dari lingkup keluarga pun tak jadi masalah, kita tidak ingin banyak polusi dan solusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *