Cerpen #21: “Akhir Selanjutnya”

Burung-burung berkicau dengan riang, dan angin yang berhembus lembut membuat dedaunan pohon menimbulkan suara gemeresik yang menenangkan. Ana duduk bersandar pada pohon apel liar dibelakang-Nya, jemari kirinya bermain-main dengan air sungai sementara kepalanya mendongak ke atas dengan penuh rasa syukur, merasakan hangatnya sinar matahari pada kulitnya yang kecokelatan. Bibirnya senantiasa mengucapkan puja-puji syukur akan nikmat dan keindahan alam yang sudah diberikan kepadanya.

Ana merupakan seorang roh hutan, kulitnya berwarna kecokelatan melambangkan tanah yang subur, matanya yang hijau melambangkan warna hutan, bibirnya yang penuh melambangkan buah-buahan matang, dan rambutnya yang biru bergelombang melambangkan air dan udara sebagai sumber kehidupan. Ia sudah menjaga hutan selama ribuan tahun sejak manusia pertama bahkan belum menginjakkan kakinya ke bumi. Misinya adalah menjaga, dan menyeimbangkan kelestarian alam. Namun, semakin berjalannya waktu, keseimbangan alam mulai tidak karuan. Pertama, para manusia mulai menebang pohon-pohon, kemudian beralih menjadi pembakaran masal hutan-hutan. Kedua, manusia mulai membinasakan dan mengeksploitasi makhluk-makhluk hidup lainnya. Hewan-hewan tak lagi berlari di alam bebas, mereka antara terkurung dalam kandang, di awetkan, di ubah menjadi penghias mata manusia, di konsumsi habis-habisan dagingnya, atau punah. Dan hitungan-hitungan itu tidak pernah akan ada akhirnya karena ketamakan manusia yang begitu radikal. Alam memberikan semuanya yang manusia butuh, namun alih-alih di jaga dan di lestarikan, semua nikmat yang telah alam berikan malah di hancurkan atas nama perut kenyang dan dompet tebal. Ana bisa merasakan bumi sudah melemah, begitu pula dengan Ana.

Dulu seluruh manusia memuja para roh-roh hutan, dan hidup berdampingan dengan sejahtera. Namun sekarang, Ana merupakan satu-satunya roh hutan yang tersisa. Roh hutan akan ikut mati bersama hutan yang mereka jaga, sebagai bentuk hukuman karena telah gagal melaksanakan misi mereka. Ia ingat bagaimana teman-teman seperjuangan Ana mati terbakar, saat hutannya di bakar, mati terpenggal, saat hutannya di tebang, dan mati kehausan saat hutannya kekeringan. Hal itu membuat Ana bertanya-tanya bagaimanakah ia akan mati nanti.

Tangan kanannya meremas rerumputan dengan lembut, dan air mata perlahan menetes dari matanya. Butiran air mata Ana yang menetes ke tanah, membuat bunga-bunga liar tumbuh dengan indahnya. Dalam hati Ana bertanya-tanya, apakah mungkin masih akan ada kehidupan jika pohon-pohon, dan makhluk-makhluk lain selain manusia semuanya telah hilang? Sebagaimana setiap makhluk hidup yang tercipta dibumi ini memiliki peran-perannya masing-masing dalam menyeimbangkan alam. Tanpa pohon, tidak akan ada lagi udara segar. Tanpa air tidak akan bisa lagi makhluk hidup menghilangkan dahaga. Tanpa hewan-hewan, tidak akan ada lagi keseimbangan ekosistem. Semuanya akan punah tanpa satu sama lain.

Ana berdiri, kemudian memanjat pohon tertinggi terdekat. Tubuhnya yang mungil bergerak dengan begitu anggun dan lincah, seakan-akan ia tengah menari bersama angin. Sesampainya dipuncak, Ana memantapkan pijakkannya pada batang pohon ter kokoh dan menatap ke sekeliling dengan rasa sesak didadanya. Yang dulunya merupakan hamparan padang rumput yang indah,  dan hutan berkabut dengan pohon-pohon yang tinggi, sudah berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit, dan rumah-rumah padat. Kabut berubah menjadi asap kendaraan dan pabrik. Kicauan lembut para burung berubah menjadi suara bising kendaraan, dan harum bunga sudah berubah menjadi bau menyengat dari bukit sampah yang menghiasi pemandangan kota. Hutan yang Ana tempati sekarang pun, bukanlah sebuah hutan liar yang bebas. Hanya hutan buatan manusia dengan pagar-pagar tinggi yang mengelilingi mereka. Dengan palang besar yang bertuliskan ‘Hutan Lindung Kota’ untuk memperingati manusia lain agar tidak mengusik eksistensi satu-satunya hutan yang tersisa di dunia. Dunia sudah bergerak maju meninggalkannya, meninggalkan alam dan perlahan-lahan alam juga akan meninggalkan manusia.

Suara pagar yang dipanjat mengembalikan kesadaran Ana, membuatnya bersikap siaga dan menajamkan pendengarannya. Mata Ana mencari-cari ke seluruh hutan, berusaha menemukan penyusup yang tengah berusaha memasuki hutannya. Seorang pria dengan wajah pucat, dan mata suram tengah memanjat pagar hutan sambil terbatuk-batuk tak terkendali, berusaha memasuki hutan. Ana memperhatikan pria itu dari kejauhan dengan hati-hati, sedikit saja pria itu menunjukkan tanda-tanda akan merusak hutannya, ia tidak akan segan-segan untuk menyerang demi melindungi hutannya, hutan terakhir.

Pria itu berjalan dengan lemahnya, sebelum akhirnya terduduk di tempat Ana sebelumnya duduk. Pria itu menundukkan kepalanya, tangan kanannya terus memegangi dada kirinya, sementara tangan kanannya yang memegang sapu tangan menutupi mulutnya yang tengah batuk darah. Ia terlihat kesakitan, menimbulkan rasa iba dari dalam diri Ana. Pria itu lalu merebahkan tubuhnya ke atas rumput, di bawah sinar matahari yang hangat dengan sangat pasrah, seakan-akan ia sudah siap jika seketika kematian datang untuk menjemputnya.

Ana melompat turun dari pohon secara perlahan, dan berjalan mendekati pria itu dengan sembunyi-sembunyi. Dari dekat, ia bisa melihat bahwa kulit pria itu dipenuhi luka kemerahan dan mengelupas, seakan-akan ia habis terbakar hidup-hidup.

“Apakah kau baik-baik saja?” Ana bertanya dengan hati-hati. Pria itu sontak terduduk dengan kaget, berusaha mencari-cari sumber suara itu. Ana mendekat, kali ini memastikan bahwa pria itu dapat melihatnya.

“Apakah kau baik-baik saja?” Tanya Ana sekali lagi, pria itu mengela nafas panjang saat melihat Ana sebelum akhirnya kembali merebahkan tubuhnya, tidak menghiraukan pertanyaan Ana.

“Aku Ana, roh penjaga hutan ini.” Ucap Ana dengan lembut, namun masih menyiratkan sedikit kekuatan. Pria itu tertawa mendengar ucapan Ana, membuat darah keluar dari mulutnya, sebelum akhirnya ia meringis kesakitan.

“Aku pasti benar-benar akan mati sekarang. Aku mulai berhalusinasi.” Ucap pria itu dengan lirih. Ana menggelengkan kepalanya, kemudian duduk di samping pria itu.

Ana memasukkan tangannya ke dalam air sungai di samping mereka. Seperti sihir, saat Ana menggerakkan tangannya ke atas, air juga ikut naik ke atas udara. Ana menggerakkan tangannya dan membuat air menutupi tubuh pria itu, menutupi setiap kulitnya yang terluka.

“Dengan segala nikmat yang alam miliki, air ini akan menyembuhkan semua luka dan rasa sakit dari tubuh pria ini” Ana berbisik dengan lembut.

Namun, senyuman lembutnya berubah menjadi rasa tidak percaya saat ia melihat bahwa luka tubuh pria itu tidak membaik sepenuhnya. Hal seperti ini tidak pernah terjadi, cara ini selalu berhasil menyembuhkan penyakit atau luka separah apa pun itu.

“Tidak mungkin, kenapa lukamu tidak kunjung sembuh? Apa yang terjadi padamu?” Ana melihat pria itu dengan khawatir, namun juga berhati-hati. Sebagai jawaban, pria itu kembali tertawa sehingga darah muncrat keluar dari mulutnya, menodai rumput di bawahnya.

“Radiasi nuklir. Tidak ada yang bisa menyembuhkan seseorang dengan paparan radiasi tinggi. Jadi nona, lebih baik kau menjauh dariku.” Pria itu berhenti sebentar untuk batuk, kemudian melanjutkan perkataannya setelah dadanya terasa lebih tenang.

“Terima kasih karena sudah berusaha menyembuhkanku, kulitku tidak terasa begitu terbakar seperti sebelumnya, namun lebih baik kau pergi atau kau akan menyesalinya” pria itu melambaikan tangannya kepada Ana, memberi isyarat agar Ana pergi.

Ana berjalan kembali memasuki hutan. Bukan untuk meninggalkan pria itu, ia memasuki hutan untuk mencari tumbuhan obat yang mungkin bisa menyembuhkan atau setidaknya meringankan rasa sakit pria itu. Biar bagaimanapun, Ana tidak mungkin bisa meninggalkan makhluk hidup yang tengah terluka atau sekarat sendirian, hal itu sudah menjadi sifat alamiahnya.

Ana kembali ke samping pria itu dengan berbagai macam tumbuhan memenuhi tas yang ia buat dari jerami. Ia mengambil dua batu dari dalam sungai, batu pipih yang lebar dan batu bulat kecil. Ia meletakan batu pipih ke atas tanah, meletakan tanamannya di atas batu, memberikan sedikit air sungai, kemudian menghancurkannya dengan batu bulat hingga tanaman itu berubah menjadi suatu pasta hijau. Kemudian Ana mengoleskan pasta hijau itu ke atas kulit sang pria dengan hati-hati, menimbulkan suara desis kesakitan dari pria itu.

“Aku tidak mengerti kenapa kau repot-repot melakukan ini, toh kita semua akan mati pada akhirnya.” Ucap pria itu disela-sela rintihannya.

“Apa maksudmu?” tanya Ana, namun pria itu menghiraukan pertanyaan Ana dan kembali merintih kesakitan.

“Tidak akan ada yang pernah sembuh dari radiasi nuklir, tidak setinggi ini. Aku, kau dan semuanya yang bernyawa di dunia ini perlahan akan mati.” Ucap pria itu sambil terisak.

“Manusia benar-benar makhluk yang tamak bukan main. Sepertinya kita memang di takdirkan untuk terus terusan menghancurkan hingga tidak ada lagi yang tersisa di dunia ini.” Ucap pria itu, menghela nafas sebentar sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya.

“Kau lihat pabrik berasap di sana?” Pria itu menunjuk ke arah timur, ke arah gedung tinggi dengan cerobong asap yang mengepul dengan asap beracun kehitaman.

“Orang-orang tamak di sana tengah bereksperimen dengan senjata nuklir dan sengaja membocorkan radiasinya. Demi uang dan kekuasaan.” Ucapan pria itu membuat jantung Ana seakan-akan berhenti berdetak. Amarah mulai merasukinya dengan kasar.

“Kalian para manusia memang tidak tahu diri! Alam memberikan semua yang kalian inginkan, namun yang kalian balas sebagai gantinya hanyalah penghancuran! Kalian pikir tanpa ekosistem yang seimbang kalian akan bertahan hidup baik-baik saja?! Jika kami punah, kalian juga akan punah!” Amarah Ana membuat langit menggelap dan angin bertiup begitu kencang. Kemudian hujan turun, sebagai tanda akan Ana yang bersedih.

*****

Sudah lewat satu bulan semenjak Ana bertemu dengan pria itu. Pria itu meninggal di hari kedua Ana merawatnya. Ana memutuskan untuk mengubur pria itu di samping sungai dan menghiasi kuburannya dengan bunga-bunga liar. Ana menangisi pria itu selama satu minggu penuh.

Air sungai mulai terkontaminasi, sehingga ia ataupun makhluk hidup lain di hutan itu tidak bisa meminumnya. Tanah juga sudah berhenti subur, sudah tidak ada lagi bunga-bunga yang bermekaran dengan indah. Hewan-hewan juga sudah berhenti bereproduksi, satu persatu mati. Ana berusaha mati-matian untuk menyelamatkan hutannya, namun apa pun yang Ana sentuh, alih-alih bermekaran dan sembuh seperti sebelumnya, malah mati.

Ana terbatuk-batuk di atas ranjang rumputnya. Ia menatap kulitnya yang melepuh dan mengelupas, seperti pria itu. Ana bisa merasakan jiwanya mulai mati bersama dengan hutan yang ia jaga. Di luar hutan, Ana bisa mendengar suara kendaraan manusia yang semakin membising lebih dari biasanya, suara ambulans yang berlalu lalang dengan terburu-buru, suara mobil polisi, pemadam kebakaran dan sampai akhirnya perlahan-lahan semuanya berubah menjadi redam, dan kemudian senyap. Sinar matahari yang seharusnya terasa hangat, perlahan terasa dingin. Sinar matahari yang cerah, perlahan menjadi redup. Dan jiwa Ana perlahan-lahan pergi meninggalkannya, bersama dengan hutannya. Ana mati dengan cara yang jauh lebih menyakitkan dari teman-temannya. Ia mati perlahan-lahan, dan dengan cara yang begitu menyakitkan.

*****

Hari pertama setelah Ana tiada, semua sumber air mengering. Pada hari kedua, semua tumbuhan mati. Pada hari ketiga, semua hewan-hewan mati. Pada hari keempat, manusia mengalami kepanikan massal. Pada hari ke lima, kerusuhan besar terjadi. Pada hari keenam, ketujuh dan kedelapan, para manusia mengalami kesusahan bernafas, menimbulkan banyak kematian. Pada hari dua puluh, sampai dua puluh lima, terjadi kekurangan air, dan radiasi nuklir mulai mengontaminasi para manusia dengan parah. Dan pada hari ke tiga puluh, manusia mengalami kepunahan.

*****

Seratus tahun kemudian.

Udara berhembus dengan sejuknya melewati gedung-gedung dan kendaraan yang kini sudah ditutupi oleh tumbuhan-tumbuhan liar. Seakan-akan bumi sedang mengambil alih kembali apa yang di ambil darinya oleh para manusia. Seorang anak kecil menatap ke sekelilingnya dengan tak percaya sambil mendongak ke arah sosok tak di kenal yang menggenggam tangannya.

“Kenapa aku di sini? Bukankah aku sudah mati? Tempat apa ini? Ini bukan bumi yang aku kenal.” Anak kecil itu menatap sosok tak di kenal itu dengan kebingungan. Otak kecilnya tidak mampu memproses semua informasi yang ia terima.

“Bumi sudah baik-baik saja sekarang, Ana. Lihat ke sekelilingmu” Sosok itu tersenyum dan menunjuk ke arah kelinci-kelinci yang tengah melompat-lompat di bawah pohon apel besar. Ana menatap pemandangan di sekelilingnya dengan takjub, ia kira ia tidak akan bisa melihat keindahan alam seperti ini lagi. Namun, ia mulai menyadari sesuatu yang membuatnya keheranan.

“Tapi, di mana para manusia?” Ana bertanya kepada sosok tak di kenal itu.

“Sudah tidak ada lagi yang namanya manusia, Ana. Setidaknya untuk satu milenium ke depan.” Jawab sosok tak dikenal itu.

“Apakah setelah manusia datang nanti, ini semua akan hilang?” Tanya Ana lagi, khawatir. “Bisa iya, bisa juga tidak.”

“Apakah agar alam tetap terjaga, manusia harus tidak ada?” Ana bertanya kembali, air mata menetes dari matanya.

“Semoga tidak.” Sosok tak di kenal itu kemudian tersenyum dan menuntun Ana ke arah kelinci-kelinci itu berada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *