Cerpen #8: “Bunga Desember”

Senja kian menenggelamkan bayangan pohon itu di kedalaman Jurang Gedhe. Di balik rimbun pohonan, Bunga Desember yang baru setinggi anakku terlihat anggun merunduk, memamerkan sisa kembangnya yang habis dilumat angin senja.

***

Langkah kaki yang terhuyung, menyarukkan serpih kerikil basah. Tak ada debu, hanya aroma sisa asap yang masih sangit dan pekat. Begitu pula ceceran oli bekas yang berbaur dengan basah gerimis memunculkan bau amis di tanah yang humusnya kian hari semakin menipis. Jejak roda kendaraan pengeruk tanah dan truk pengangkut andesit terlihat mulai tergerus oleh alir air yang mulai pasrah menentukan arah.

Punggung rentanya yang kokoh, memanggul ransel. Sedang tangan kanannya, menjuntai penuh otot menonjol, sedang berjuang menahan beban sekotak kardus bertali plastik.

Leher hitam yang dulu sekali, pernah merasakan berat-kasarnya bongkah andesit yang kemudian dihentakkannya pada bak truk yang ringkih dengan gerak roda yang selalu menimbulkan suara decit lirih.

Tak jauh lagi. Rumahnya sekitar dua kelokan lagi.

Berkejaran dengan gerimis, langkah kakinya terus menyaruk kerikil yang berbau amis.

Heran juga dengan gerimis itu. Bulan ini seharusnya desanya gersang. Pohon-pohon meranggas akibat kemarau.

Tetapi entah kenapa, beberapa tahun terakhir, kemarau kerap datang tak terduga. Begitu juga dengan hujan, kerap datang tanpa dinyana.

Kepalanya lalu mendongak dan sesekali melenguh, tampak tebing menjulang yang tinggal separuh dan seperti nyaris runtuh. Tak ada pohon jati, tak ada sengon, apalagi mahoni, yang ada cuma belukar pandan berduri yang merambati tebing berbatu kasar.

Serupa liuk ular yang merambati gumuk pasir, gulir air terlihat rapi menuruni lekuk garis tipis di tanah yang umur humusnya makin miris. Sesekali aliran itu terantuk batu kecil yang dengan lembutnya menghambat laju gulir air.

Kelokan pertama telah dilewatinya. Masih ada satu kelokan lagi yang harus diterjangnya di tengah ampas basah gerimis. Tanah tak lagi bercampur aroma oli bekas. Tak lagi hitam. Tanah mulai tampak kecokelatan dengan gulir air yang tak lagi beraturan.

Langkah kakinya pun tak lagi terhuyung. Telapak sepatu karetnya seperti berusaha dipijakkan dalam-dalam ke arah tanah yang kecokelatan. Di sisi kanannya, tanpa pembatas, jurang menganga yang ditumbuhi jenis pohon dan tanaman berbagai varietas.

Dengan langkah yang tegas seolah sedikit menjauh, menghindar dari mulut jurang yang dialiri air keruh bertanah liat yang menembus belukar pekat. Langkah tegasnya semakin dipercepat. Terlebih sebuah rumah tanpa warna cat mulai terlihat.

Di depannya, sebuah pohon besar yang berbunga merah-jarang, seperti melambai ke arah jurang.

Hari pertamanya, hujan menyisakan bekas guratan di tanah kecokelatan, menyisakan pula temetes bulir air di pucuk daunan. Tak terkecuali di puluhan helai daun pohon itu. Pohon bunga desember.

Sejak kecil, dia selalu heran, kenapa orang menamainya dengan nama itu. Dikatakan bunga, tanaman itu adalah pohon. Namun dibilang pohon, nyatanya orang menyebutnya dengan bunga. Belum lagi nama desember.

Toh, bunga di pohon itu tak selalu berbunga pada Desember. Pernah beberapa kali bunga itu mekar di pertengahan tahun.

Tapi apapun itu, pohon itu tetap seperti bagian tak terpisahkan dari kehidupan dia dan istrinya.

Bahkan ketika putri pertama mereka lahir di pengujung tahun, nama yang ia sematkan pun tak ada yang lain. “Bunga Desember. Semoga dia tumbuh sekokoh pohon di halaman rumah kita,” kata dia sambil menggenggam erat tangan istrinya, ketika itu.

”Aneh, ini masih Januari. Kenapa bunganya habis lebih cepat,” pikirnya sambil memandang tanaman bunga itu dari balik jendela berjeruji kayu seraya sesekali menghirup kepulan asap dari cangkir yang berisikan seduhan teh di tangan kirinya.

Dia sadar, badai yang kerap datang, selalu berhasil meranggaskan tiap helai kelopak bunga yang menempel di tangkainya.

Kini, hujan hanya menyisakan bekas gulir air di pucuk daun, genangan air di cekungan tanah lumpur kecokelatan, serta udara basah yang beraroma lembab.

Hujan selalu berhasil mengganti aroma sangit oli bekas dengan bau lembab tanah basah.

***

”Bagaimana kabar Nek Taji, Bu,” tanyaku pada istriku yang tengah sibuk melipat pakaian yang tak kering benar karena mendung memang sehari penuh menghalangi kerja matahari.

Aku hanya mendengar helaan nafas keluar dari dadanya yang sempit akibat desakan dua buah payudaranya yang utuh membongkah.

Nek Taji. Aku tak pernah tahu, siapa nama panjangnya. Meski tak pernah aku melewatkan hari tanpa melihat keriput di sekujur wajah dan lengannya. Tak pernah pula aku melewatkan aroma geblek* berwarna putih keruh yang baru saja diangkatnya dari sehampar minyak panas di atas tungku arang.

Yang aku tahu, sejak dilahirkan di tanah tandus ini, Nek Taji sudah jadi bagian di dalamnya. Pun begitu saja kutahu dia sudah intim dengan kaki pohon itu.

Dia memang bukan bagian dari garis keluarga kami. Tak ada darah kami mengalir dalam darahnya. Namun nyatanya, dia tetaplah orang penting yang tidak bisa disepelekan oleh keluarga kami.

Nek Taji, yang entah bagaimana ceritanya, hingga seusia sama tuanya dengan pohon itu, tetap setia dengan kesendiriannya. Tak ada suami, anak, atau bahkan cucu. Padahal, di kampung halamanku ini, wanita seusianya itu sudah seharusnya menjadi wanita dengan masa tua yang bahagia, hidup bersama anak dan cucu, menikmati hangatnya kamar dan kasur meski hanya bisa menyantap lauk seadanya dengan sedikit bubur.

Tapi tidak dengan Nek Taji. Otot-otot di tangannya mungkin tak biasa berhenti meski dalam hitungan satu hari. Otot-otot itu harus tetap bekerja. Menghitung laba, mengurai modal, mengemasi tempayan, menyiapkan penggorengan, dan menghitung sisa dagangan. Tubuhnya pun seperti sudah begitu intim dengan iklim. Saat hujan, kulit tubuhnya mendadak berubah menjadi seperti lembaran kain parasut yang tak mungkin bisa tertembus basah. Begitu juga ketika panas, tubuhnya bisa menjelma sekokoh batang kaktus dan belukar yang tegar diterpa panas yang begitu membakar.

“Nek Taji baru saja meninggal bulan lalu, Mas,” teriak istriku dari ruang belakang, mengagetkanku.

Meninggal? Bukannya dia baru saja memanggil-manggil nama putriku. Bukannya baru beberapa saat lalu Nek Taji memberikan sebungkus geblek dan tempe benguk** kegemaran putriku. Bukannya, Nek Taji baru saja mengantarkan putriku pulang ke rumah dengan bajunya yang kumal dan penuh bercak tanah.

Bagi Nek Taji yang sebatang kara, kehadiran putriku menjadi satu-satunya pengisi waktu baginya. Aku masih ingat bagaimana setiap pagi, ketika baru saja ia beranjak dari ranjangnya, yang disapanya adalah Nek Taji yang ketika itu sudah sibuk menata dagangannya. Seperti biasa, setelah itu, dengan keriangan bocahnya, putriku langsung berlari dan bergelayut manja di lengan dan pangkuan Nek Taji. Bagi kami, itu adalah pemandangan indah yang selalu menjadi bukti bahwa hari itu telah memiliki awal yang sempurna sekali.

Aku masih ingat, suatu ketika, putri kami pernah lebih memilih bersama Nek Taji daripada harus ikut kami pergi ke rumah orang tuaku sewaktu adik bungsuku menikah. “Bunga di sini saja, ya ayah. Tenang saja, ada Nek Taji kok,” repeknya ketika itu.

Selain kedekatannya dengan putri kami, Nek Taji juga sudah menjadi satu bagian dengan pohon Bunga Desember yang kokoh tertanam di halaman kami. Di bawah pohon itulah, ia menggantungkan hidup di sisa rentanya. “Maaf, nek. Tak kuduga, aku terlambat 30 hari,” bisikku pelan sambil menggenggam bungkusan berisi kain batik yang setahun lalu kujanjikan kepadanya.

Memang, sejak memutuskan untuk bekerja di Jakarta tiga tahun lalu, belum sekalipun aku bertemu muka dengannya ketika aku pulang ke sini. Ada saja kala yang menghalangiku untuk bertemu dengannya. Ada saja pula alasan yang menggagalkanku untuk menemuinya. Jadwal padat kerja, sulitnya mendapatkan cuti, hingga ada saja alasan yang tak masuk akal, seperti aku yang mendadak sakit.

Setahun lalu, terakhir berbincang dengannya, ia sempat mengeluh tak punya baju Lebaran. “Lebaran tahun depan, belikan kain batik saja, Mas,” saran istriku.

***

Seperti tumpah, sore itu begitu derasnya hujan menghujami desa kami. Bukit cadas yang memutih lantaran tak ada satu pun pohon dan rumput sanggup hidup di atasnya, terlihat basah dan ranggas. Guratan kian jelas terlihat dari alir air yang menderas turun dari puncak bukit yang bahkan hingga sekarang tak pernah kutahu namanya. Saat seperti itu, kami memang selalu cemas.

Betapa tidak, tanpa ada pepohonan, bukit yang tak lagi utuh itu terlihat begitu ringkih. Bahkan, aku ingat, saat huja deras seperti ini, Bunga pernah berceloteh. “Yah, lihat, bukit itu ngawe-awe***. Apa mungkin karena bukitnya plontos ya, Yah. Jadi seperti kelihatan bergoyang-goyang kalau sedang hujan deras begini.”

Aku pun begitu. Aku selalu membayangkan bagaimana bukit cadas itu tampak bergoyang ketika diterpa hujan. Aku selalu membayangkan bagaimana bukit cadas itu mendadak meledak oleh hujaman hujan yang menggerus humusnya.

“Kenapa hujan begitu deras ya, ayah. Pertanda apakah ini. Tolong tengok Nek Taji, yah. Kasihan dia. Sendirian di rumah,” ingatanku kembali mengarah ke adegan cetusan putriku yang hanya kubalas dengan pelukan erat. Ketika itu, seperti biasa, istriku tengah sibuk dengan beragam sayur dan ikan di pasar kecamatan.

Sembilan November duaribusepuluh. Aku hafal betul angka di kalender sobek yang tergantung bisu di dinding ruang tamu.

Mendadak teriakan tetangga belakang rumah memecah hening. Tanpa peduli hujan deras dan becek tanah belakang rumah, aku berlari menuju sumber suara itu.

Betapa terkejut, dari tempatku berdiri, kulihat sepertiga bukit cadas itu pun telah lenyap. Bukit yang semula berbentuk seperti menara itu kini berbentuk seperti buah mangga raksasa yang salah satunya lantaran sisi tepinya telah lenyap entah kemana.

Suara riuh dan gemuruh sontak menggetarkan kaki. Suara tercekat oleh air hujan yang terus meluruh. Niat menuju sumber teriakan tadi pun kuurungkan. “Putriku sendirian di ruang tamu,” kalimat itu yang terus berkelibat di kepalaku.

Belum lagi aku berhasil menjemputnya, putriku ternyata sudah di ambang pintu belakang rumah. Teriakannya kian membuat kakiku yang terbenam lumpur menjadi makin sulit melangkah. Sedang beberapa meter di belakangku, tanah bercampur batang pohon dan runtuhan rumah tetangga belakang rumah, mengejarku. Leleran lumpur menyebabkan langkah kian berat saja.

Suara isak putriku yang memanggil namaku kian samar terdengar.

Lalu semua mendadak dingin dan senyap. Aroma lumpur dan tanah basah kian pekat di hidung hingga terasa di tenggorokan. Terus bergantian, antara aroma lumpur cekat dengan aroma obat-obatan serta suara riuh rendah kaki yang menderapkan langkah.

Perlahan aku mencoba membuka mata yang masih saja terasa begitu berat. Aroma alkohol dan betadine kian mencekat. Suara riuh dan lenguh kian memenuhi pendengaranku rasanya nyaris lumpuh. “Tenang, pak. Bapak sudah ada di tempat aman,” sebisik suara yang tak kukenal mulai samar kudengar.

Putriku. Sosok itu kemudian yang mendadak memberiku kekuatan untuk bangkit dari rebah. Namun terdengar suara yang sama itu mencegah gerakku. Sejak itu, tak lagi aku bertemu dengan putriku.

“Bunga. Mana Bunga. Tadi aku mendengar suaranya.” Rasanya ingin berteriak dan meronta. Namun entah, suaraku mendadak tercekat, dan badanku serasa berat.

Aku lantas diam. Semua pun diam. Dalam diam, ada isak yang dalam. Aku yakin benar, isak dan serak itu adalah suara istriku.

***

“Sudahlah pak. Ini sudah jam berapa. Ayo bantu ibu beres-beres. Jangan lupa siapkan buku Yasin di lemari, ya,” sekalimat suara membangunkan aku.

Tanganku kemudian meraih tumpukan buku Surah Yasin di rak lemari yang terletak menutupi tambalan sisa lubang di dinding yang tiga tahun lalu menganga karena gempur lumpur dari bukit cadas di belakang rumah itu.

Setitik air lantas menggurat di sisi pipiku. Di sela tumpukan itu, ketika kulihat selembar kertas yang kuambil dari potongan berita sebua koran, tepat seribu hari lalu. Dalam berita yang dilengkapi potret rumahku dengan dinding menganga yang seolah tengah menelan leleran lumpur itu, tertulis nama anakku, Bunga Desember, sebagai salah satu korban longsor bukit di Desa Pendoworejo, desa yang melahirkan sekaligus merenggut putriku.

Di belakang rumah, bukit cadas itu masih berdiri dengan bentuk yang semakin aneh. Hujan masih saja menghujam dan menggerus humus. Sedang pohon bunga desember di depan rumah, terus melanjutkan hidupnya. Berbunga merah menyala, menggugurkan daunnya saat musim meranggas.

 

Jogja, 2021

 

Keterangan

*geblek : kudapan khas Kulonprogo, DIY yang terbuat dari tepung tapioka dengan bumbu bawang putih. Penganan ini juga banyak terdapat di Purworejo, Jawa Tengah.

**tempe benguk : olahan makanan sejenis tempe yang terbuat dari kacang benguk atau kacang koro. Makanan ini jadi sajian pelengkap geblek.

***ngawe-awe : melambai dengan maksud memanggil (Jawa, terj.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *