Cerpen #7: “Hilangkan Kerusakan Alam”

Di sebuah rumah kumuh, tinggal seorang anak laki-laki ditemani oleh sang ibu yang kini telah menua. Anak laki-laki itu terlihat mengenakan baju berwarna biru senada dengan celana pendeknya yang kini kian menyempit.

Anak itu bernama Bima. Banyak yang bilang kalau nama panjangnya sama dengan tokoh ksatria terkenal dari masa dahulu, yakni Bima Si Baja Hitam. Ah, ternyata berbeda…

Bima merupakan anak tunggal yang telah ditinggalkan ayahnya sejak berumur 9 tahun. Jika dihitung, dirinya kini telah kehilangan selama 3 tahun lamanya. Ya, dirinya kini telah berusia 12 tahun.

Suatu hari, Bima tengah asyik berjalan seorang diri menyusuri keindahan pepohonan hutan yang tak jauh dari rumahnya. Dirinya menatap satu persatu pepohonan itu sambil bersenandung riang.

Hingga tak sadar, dirinya kini terjatuh akibat tersandung sebuah ranting kayu berukuran panjang sekitar 30 cm yang menyangkut diantara bebatuan.

Bima meringis kesakitan dan melihat kondisi kakinya yang memerah dan terus mengeluarkan darah. Situasi berubah, membuat dirinya memalingkan kepala ke kanan dan ke kiri sembari melihat benda-benda yang diyakininya bisa digunakan untuk mengobati lukanya.

“ ketemu!!! “ ,seruannya ketika matanya menemukan sebuah pohon kecil dengan daun sedikit lebar berwarna hijau kekuningan.

Dengan sedikit tenaga yang masih ada, dirinya bangkit sambil tertatih demi meraih pohon tersebut.

Ctak…. Ranting pohonnya patah

“ nah, sekarang tinggal mencari sungai agar aku bisa membersihkan darahnya “ ,gumamnya

Tap tap tap….

Perjalanan Bima dengan kondisi kaki kini berlumuran darah sambil tertatih membuatnya harus menahannya demi ke tujuan berikutnya. Namun, dirinya kini tidak perlu khawatir karena kicauan burung telah terdengar dari arah depan.

Mengapa hanya dengan kicauan burung dirinya kini merasa senang?. Itu karena dia teringat akan ibu yang pernah berkata, “ kalau kamu mendengar kicauan burung yang sangat jelas dan banyak, maka kamu tak perlu khawatir karena di depanmu sudah ada jalan keluarnya “

Sedikit demi sedikit dan perlahan demi perlahan, dirinya telah sampai di tempat tujuan. Dan benar, di depannya kini terdapat sebuah sungai dengan aliran air yang cukup deras.

Namun, ada satu hal yang membuat dirinya harus kembali menerima keadaan. Kondisi sungai itu terlihat sangat kotor dengan sampah yang kian menumpuk di seberang dan ada sebuah bangkai sapi di sebelah kanannya.

Tangannya kini telah menutupi hidung dan mulutnya agar tidak mencium baunya yang sangat menyengat. Hingga tak tahan, membuatnya berlari meninggalkan sungai itu.

Hosh hosh hosh…..

Aturan napas yang cepat harus dinetralkan terlebih dahulu olehnya agar dapat melanjutkan perjalanan menuju ke rumah.

Namun, di sela pemberhentiannya, dirinya mendengar suara berisik dari arah semak-semak di sebelahnya. Tubuhnya kini mulai gemetar takut akan kedatangan tiba-tiba dari binatang buas yang ada di hutan.

Srek srek srek

Suaranya berpindah-pindah dan kini berada di depannya. Hingga…

“ aaaaaa!!!!! “,teriaknya

“ hey!, apa yang kau lakukan? “

Tunggu sebentar…

Ini bukan suara binatang buas, melainkan suara seorang anak.

Dengan keberanian, dirinya membuka mata yang sempat tertutup untuk melihat. Dan benar, dihadapannya kini telah berdiri sesosok anak perempuan dengan pakaian lusuh dan compang-camping persis seperti seorang pemulung. Tak lupa juga ada sebuah karung di belakangnya.

“ sedang apa kau disini? “ ,tanyanya

“ aku tadi terjatuh dan berniat membersihkan kakiku dengan air terlebih dahulu lalu mengobatinya. Saat aku menemukan sungai, aku melihat kondisinya sangat buruk, jadi aku mengurungkan niatku “ ,balas Bima

“ ah sungai disana? , itu memang sudah lama kondisinya seperti itu “

“ sudah lama? , mengapa tidak ada yang membersihkan? “

“ warga sekitar hutan ini tidak peduli dengan kebersihan, jadi untuk apa mereka mau membersihkannya? “

“ tapi rumahku juga di sekitar hutan ini, bagaimana bisa kau beranggapan seperti itu? “

“ jika kau tinggal di rumah sekitar hutan ini, lalu mengapa kau tidak membersihkannya? “

“ aku saja baru mengetahuinya “

“ ya sudah, untuk kedepannya silahkan kau yang urus karena aku harus pergi “

“ tapi hey!! “

Bima tak sempat berkenalan dengan anak perempuan itu. Dan dengan terpaksa, dirinya harus segera kembali pulang mengingat hari sudah mulai sore atau tidak ibunya akan memarahinya.

Perjalanan pulang membutuhkan waktu sekitar 30 menit lamanya karena dirinya harus berhadapan dengan rasa sakit yang masih menjalar. Hingga tiba di rumah pun,dirinya kembali mendapatkan ceramah pilu dari ibunya yang kini diam tak bergeming.

“ ibu!! “ ,serunya menyadarkan ibunya

“ ah!, ada apa dengan kakimu Bim? “ ,tanya ibunya

“ tadi saat berjalan ke hutan, aku tidak sengaja jatuh karena tersandung ranting kayu ibu dan disaat aku ingin membersihkannya, sungai disana sangat kotor dan aku tidak tahan akan bau menyengat yang ada di sekitarnya “ ,jelas Bima

“ sungai? , iya kamu benar , sungai disana sudah kotor sejak dulu karena tidak ada rasa iba masyarakat sekitar untuk membersihkannya “ ,balas ibu

“ kalau begitu ayo kita bersihkan sungainya bu! “ ,seru Bima

“ nanti kita pikirkan lagi karena kita harus menyembuhkan luka kakimu dahulu agar tidak terinfeksi “ ,ujar ibu

Keesokan harinya di pagi hari, Bima telah siap dengan segala peralatan yang akan digunakannya untuk membersihkan sungai bersama ibunya yang juga telah setuju ketika mereka berbincang kemarin

“ gimana? , sudah siap? “ ,tanya ibunya

“ sangat siap!!!!! “,seru Bima bersemangat

Perjalanan keduanya diiringi kicauan merdu dari burung yang beterbangan di atas mereka

Dan ketika sampai, Bima terlihat sedikit terkejut dengan masyarakat sekitar rumahnya yang sangat ia kenali kini berada berkerumun di sekitar sungai ditambah dengan anak perempuan yang kemarin ditemuinya

“ hey Bima! , kau datang juga rupanya “ ,ucap anak perempuan itu

“ kau? , sedang apa disini? , dan semuanya? , apa maksudnya? “ ,tanya Bima beruntun

“ aku yang mengajak mereka untuk ikut serta membersihkan sungai ini agar pekerjaan semakin cepat dan kita juga bisa beristirahat dengan cepat “

“ wah keren , kalau begitu , ayo kita mulai! “ ,seru Bima

“ ayo!! “ ,balas semuanya

Dan itulah akhir cerita ini, dimana kita memikirkan hal positif untuk kebaikan alam, maka hal tersebut akan terus berlanjut hingga masa mendatang.

10 thoughts on “Cerpen #7: “Hilangkan Kerusakan Alam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *