Cerpen #6: “Longsor di Bukit Parakan”

Dingin malam itu begitu menusuk. Dua jaket yang dikenakan Dita tidak bisa menahan hawa dingin. Dia memandang bukit gundul di seberang rumah bibinya. Bukit itu nyaris tanpa pohon, hanya rumput dan alang-alang yang memenuhi punggung bukitnya.

“Ngopi dulu Dit,.” kata Dini memecah suasana dengan membawa dua cangkir kopi

Asap panas yang muncul dari kopi menyeruak masuk ke hidung Dita yang masih termangu memandangi bukit

“Terimakasih Din.”  jawab Dita sambil terus memandang bukit yang gundul itu.

“Hai , lihat apa sih? Kok serius amat !” tanya Dini

“Bukit itu Din? Bukit Parakan yang gundul di depan  itu”.

“Kenapa dengan bukit itu ?”

“Rumah tante Intan ini hanya berjarak 1 kilometer disisi barat bukit itu, jika bukit itu longsor, pastilah rumah ini akan tenggelam oleh longsoran tanah.” jelas Dita

“Ya benar juga, Bukit itu tidak ada pohonnya, yang ada hanya rumput dan semak belukar . Padahal rumah tante Intan dan ratusan warga desa Lur Agung ini terletak di sisi barat dan timur bukit itu. Gimana kalau longsor ?” tanya Dini cemas.

“ Ya Din, aku amati bukit sepanjang kurang lebih 2 kilometer ini harusnya tidak gundul. Padahal dibawah bukit itu banyak rumah-rumah warga. Cukup bahaya jika hujan deras terjadi diatas bukit itu. kemungkinan longsor bisa saja terjadi.” jelas Dita

“ Ini tentu akibat penebangan liar pohon-pohon yang dilakukan, aku lihat juga banyak sisa-sisa batang pohon yang masih tertancap disepanjang tanah di bukit itu. Pantas saja tadi siang panasnya amit-amit, bahkan ketika kipas angin kudekatkan dimuka masih saja gerahnya tidak bisa hilang.” timpal Dini.

“ Iklim desa Lur Agung ini sudah tidak nyaman. Kalau siang hawanya panas sekali, jika malam sangat dingin. Hal ini disebabkan alam di desa ini telah dieksploitasi dengan ngawur. Tidak ada penanaman pohon lagi mengganti pohon yang ditebang, mereka maunya untung yang banyak tanpa hiraukan bahaya yang timbul setelahnya. “ kata Dita sedih.

Ada solusi Dit, soalnya ini kan memasuki musim penghujan, bagaimana jika bukit ini longsor? tak terbayang Dit, jika bukit ini longsor sebab banyak rumah warga di bawah bukit itu.

“Besok pagi kita kesana Din, aku akan buat alat untuk peringatan deteksi tanah longsor dibukit itu, Sebab aku juga khawatir karena bulan ini sudah masuk musim  penghujan”. kata Dita sambil menyeruput kopi

“Byuh.. bbah bbah, pahit sekali kopinya Din, apa tidak kamu beri gula?” jerit Dita

“Haha, pahit mana dengan kisah cintamu?” Kata Dini sambil tertawa.

“Ihhh. Ngerjain aku ya?” jerit  Dita sembari mau mencubit pinggang Dini.

“Haha..” tawa Dini sembari berlalu masuk kamar.

Saat liburan setelah pembagian raport, Dita dan Dini berkunjung di rumah Tante Intan, adik ayah Dita di Desa Lur Agung, Banjarnegara. Suami tante Intan bernama om Yanuar adalah pedagang baju di pasar Banjarnegara. Pinandita adalah gadis cantik berjibab dan sangat hobi dengan IPA sedang Dini Sulistyowati gadis berhidung mancung yang seneng humor ini sangat pintar sekali dengan matematika. Kedua gadis belia bersahabat ini dijuluki 2 D, oleh teman-temannya. Singkatan itu dari nama panggilan mereka Dita dan Dini. Mereka sering menjuarai lomba karya ilmiah tingkat nasional. Dan tidak terhitung karya yang sudah di temukan dan diteliti kedua orang gadis itu. Keduanya bersahabat sejak masuk di salah satu SMP yang berada di Ungaran, Jawa Tengah. Mereka senang berinovasi untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan yang ada di masyarakat. Saat ini perhatian mereka tertuju  pada kondisi bukit yang gundul diatas rumah tantenya yang rawan sekali longsor. Dan pagi- pagi selepas sholat Dhuha, Dita dan Dini mulai menyusuri bukit gundul itu, Diamati dengan seksama setiap lekukan tanah dibukit itu.terutama aliran air di kaki-kaki bukit sisi barat dan timur bukit Parakan. Terlihat dua gadis belia itu berdebat dan adu argumen lalu kemudian sama-sama mencatat. Tidak terasa sudah 2 jam mereka dikaki bukit sepanjang 2 kilometer itu. Mereka diperingatkan alam untuk segera pulang karena adanya mendung tebal yang perlahan menghalangi sinar mentari diatasnya  dan langit pun berangsur berwarna kelam,

“Ayo Dit, kita pulang, hujan mau turun nih “ ajak Dini sambil melihat ke atas langit

“Oke, ayo pulang, aku juga mau bertanya dengan tante tentang keadaan bukit ini. jawab Dita sambil memasukkan catatan di tas kecilnya.

Setebanya di rumah tante Intan, Dita bertanya kepada tantenya

Tante, aku mau tanya, apa bukit Parakan yang di atas desa itu dari dulu memang tidak ada pohonnya?” tanya Dita.

“Tidak Dit, dulu bukit itu rimbun dipenuhi tanamam jati dan pohon trembesi yang besar-besar. Pohon-pohon itu kemudian banyak ditebangi untuk keperluan industri mebel dan bahan bangunan oleh warga, maka bukit itu jadi gundul seperti sekarang ini.”  jawab tante Intan

“Sekarang ini sudah memasuki musim penghujan, aku sangat khawatir, jangan jangan nanti ada pergeseran tanah di bukit itu sebab kulihat pagi tadi selain tanahnya gembur, dan ambles ketika diinjak.” jelas Dita.

“Wah berbahaya sekali jika begitu? Apa kita perlu beritahu pak Kades tentang hal ini?”. Tanya tante Intan cemas.

Bisa juga Tante, aku juga akan membuat alat pendeteksi longsor, untuk jaga-jaga apabila ada tanah longsor maka penduduk bisa siaga dan secepatnya bisa  mengungsi di tempat aman. Nanti alat ini akan diletakkan di titik-titik  rawan longsor yang sudah aku tandai tempatnya.

“ Ya Dit, Jika kamu butuh apa-apa silakan omong sama pak Hasan, nanti dia akan bantu.” kata tante Intan

“Oh.. pak Hasan yang berkumis lebat dan agak serem itu ?”,sela Dini.

“Ya, tapi dia orangnya baik  dan bertanggung jawab din. Dia pegawai setia om Yanuar, dan sangat peduli dengan tante dan om Yanuar suami tante.” jelas tante Intan.

Lalu tante Intan memanggil pak Hasan, dan mengutarakan maksud kedua gadis belia itu, Terlihat pak Hasan mengangguk- angguk tanda mengerti dan akan dilaksanakan. Kemudian mereka bertiga bergegas menuju ke tengah kota untuk membeli klakson, kabel, kawat dan batu baterai.

Setengah jam kemudian mereka telah kembali, Tanpa berlama-lama Dita dan Dini bergegas membuat alat pendeteksi longsor yang akan di pasang di dua titik bukit Parakan yang gundul itu.  Mereka merangkai dulu papan dengan lebar 10 cm x 15 cm. dan kayu usuk dengan panjang 15 cm. Bahannya terdiri dari klason dengan daya 5 watt, baterai 12 volt, besi pemberat dan kabel. Kutub positif baterai dihubungkan dengan kabel yang dikupas sebagian pelindungnya hingga tampak tembaganya ke besi pemberat. Kabel ini diletakkan mengantung ke bawah sedang negatipnya dihubungkan dengan lingkaran kawat yang dibuat melingkari kabel besi pemberat. Jadi cara kerjanya, jika ada getaran akibat longsor, maka kawat tembaga dari kabel positip yang sudah dikupas akan menggerakkan  besi pemberat untuk menempel pada lingkaran kawat sehingga mengeluarkan suara yang cukup keras dari klakson

Selepas sholat Dhuhur, dengan ditemani pak Hasan, pak Kades dan pak RW, mereka menuju ke bukit Parakan itu untuk  memasang pendeteksi longsor di titik-titik rawan yang sudah di tandai tadi pagi. Rupanya pak Hasan sudah memberi tahu niat kami berdua untuk memasang alat pendeteksi longsor di bukit Parakan kepada pak Lurah dan pak RW. Dalam perjalanan menuju bukit Parakan banyak warga bertanya apa yang akan mereka lakukan,

“ Mau kemana nih pak Kades dan rombongan ?” tanya pak Wito dan enam orang warga lainnya yang sedang duduk dan istirahat di gubug pematang sawah selepas makan siang

“ Kita mau ke bukit Parakan diatas itu pak, mau mengantar nak Dita dan nak Dini dari Ungaran ini untuk memasang pendeteksi longsor sebab dikhawatirkan bukit ini ada pergeseran tanah. “ jelas pak Kades.

“Benar juga pak, terkadang saya juga merasa ada beberapa kali getaran ditanah saat mencangkul  disawah hari Minggu kemarin .” timpal  pak Arman.

“ Kenapa tidak melapor ke saya pak? laporkan saja jika ada sesuatu hal yang penting, nanti kami dan perangkat desa akan secepatnya merespon. “ jelas pak Kades.

“Maaf  pak, saya anggap hal itu biasa saja pak,? kalau memang itu berbahaya, secepatnya besok-besok saya akan melapor pak RW atau pak Kades,” kata pak Wito kikuk

“Boleh kami ikut pak? Siapa tau tenaga kami berenam ini dibutuhkan” kata pak Arman yang diiringi anggukan bapak-bapak yang lain.

“Silakan pak, terimakasih atas kepedulian bapak-bapak, mari kita bersama- sama menuju ke sana”, kata pak Kades

Akhirnya mereka bersama- sama menuju ke bukit Parakan yang gundul itu.

Dalam perjalanan Dini berbisik kepada Dita

” Keren sekali warga desa Parakan ini Dit, mereka punya kepedulian yang tinggi mau bergotong royong dan suka rela membantu untuk kepentingan bersama. Memang kalau di desa rasa  kegotong royongan masih tinggi,beda sekali dengan di kota Dit.” ungkap Dini

“ Semua bisa saja terjadi Din, tidak ada bedanya, Kalau di kota semua orang sibuk di pabrik atau kantor, jadi waktu mereka untuk  bersosialisasi kurang. Mereka terperangkap kebiutuhan hidup Din”, sambung Dita dan dijawab dengan anggukan kepala sahabatnya

Tak lama kemudian mereka semua sudah tiba di kaki bukit Parakan, Mereka dibagi menjadi 2 tim yaitu tim Dita,di sisi timur, dan tim Dini di sisi barat. Kedua tim itu berpencar menuju ke tempat yang sudah ditandai sebelumnya untuk memasang alat pendeteksi longsor karya mereka berdua. Pendeteksi longsor itu diletakkan di rumah rumahan seperti gubug sawah dari beberapa bambu dan daun kelapa yang dibuat ole warga desa yang membantu. Kemudian alat tersebut diuji dengan cara menggoyang rumah-rumahan Dan ketika rumah-rumahan digoyang terdengar bunyi klakson yang keras: .Tet.tet tet!. yang hadirpun kaget dan mengangguk-angguk puas.

Setelah selesai meletakkan alat pendeteksi longsor, mereka diberi penjelasan oleh Dita dan Dini

“ Bapak-bapak warga desa Parakan, bukit ini sangat berbahaya dan rawan longsor, apalagi memasuki musim penghujan ini. Kalau berkenan hendaknya ada yang berjaga-jaga di sekitar bukit ini pada saat hujan turun, untuk berjaga-jaga bila ada musibah longsor yang tidak diinginkan, Nanti apabila ada suara klakson berbunyi memekakkan telinga diharap warga bergegas dan segera menuju tempat evakuasi yang sudah di siapkan pak RW dan pak Kades”, jelas Dita.

“Ya dik Dita, bukit ini gundul sejak 1 tahun yang lalu. Kami dan warga desa Lur Agung juga bingung mau menanami pohon untuk penghijauan, tapi itu bukan tanah kami, kami takut kena masalah dengan pemilik tanah.  Sekarang saya minta bantuan pak Sarno, pak Diman, pak Sigit, dan pak Fandi untuk berjaga jika ada hujan di sore hingga isya nanti,  kemudian akan diganti warga yang lain. jadwalnya biar disusun oleh pak RW.  Kami memang was-was  bukit ini rawan longsor. Semoga tidak  terjadi  apa-apa. Desa Lur Agung tetap aman dan semua warganya selamat”, kata Pak Kades Parakan.

“Amin.!”. warga desa menjawab dengan kompak

“Berhubung pekerjaan kita sudah selesai, mari kita pulang ke rumah, terimakasih atas bantuan bapak-bapak semua , khususnya dik Dita dan dik Dini”.

“Ya pak , mari !”, jawab warga desa

Dita, Dini dan warga desa pun beranjak meninggalkan bukit Parakan untuk kembali kerumah,

Malam itu hujan deras sekali, seolah langit ingin membuang semua air persediaan -nya. Dita dan Dini tak bisa tidur, mereka gelisah cemas dan galau, karena kawatir jika terjadi sesuatu di bukit Parakan, padahal sudah menunjukkan pukul 2 pagi.

“Gimana nih Dit? bisa-bisa longsor tuh bukit gundul di atas kita,” bisik Dini khawatir dan menyentuh tangan Dita.

“Iya juga Din,  aku juga was-was”. Jawab Dita

“Ayo kita bangunkan tante Intan dan om Yanuar agar juga siap-siap barangkali ada sesuatu yang tidak diinginkan.” Kata Dita sambil menyingkap selimut lalu berjalan menuju kamar tantenya.

Tak berselang lama, di kejauhan terdengar suara keras dari klakson yang dipasang mereka tadi siang, “Tet tet tet……”. Bunyinya yang keras tak berhenti itu disusul dengan suara kentongan titir yang dipukul bersahut-sahutan oleh warga. Listrikpun mati tiba-tiba. ada suara bergemuruh keras sekali dan tanah yang diinjakpun bergetar, Rupanya ada longsor di sisi bukit sebelah timur. Dalam kegelapan dan derasnya hujan warga desa berhamburan keluar mengamankan diri di tengah jalan, Ibu-ibu panik, anak-anak kecil menangis, orang orang yang berusia lanjut berdzikir menyebut-nyebut nama Allah. Warga desa berlari-lari bergegas untuk secepatnya bisa menuju tempat evakuasi. Pak Kades, pak RW, Dita Dini. tante Intan, om Yanuar pun memandu warga  dengan senter agar sesegera mungkin bisa menuju tempat evakuasi, Suasana gelap, hujan,becek dan panik mengiringi berduyun-duyunnya warga menuju tempat aman. Suara tangisan dan sedu sedan ibu-ibu dan anak anak mengiringi setiap langkah kaki menuju tempat evakuasi. Tak lama kemudian terdengar lagi suara gemuruh yang lebih keras dari yang pertama,

“Allahu akbar, Allahu akbar” teriakan warga bersahutan ketika melihat longsoran bukit menimpa dan menenggelamkan rumah dan harta benda mereka.

“Aku yakin Din, sisi timur bukit Parakan ini longsornya parah” .kata Dita disela-sela hujan deras
“Ya Dit, aku juga dengar dari pak Kades yang diberi tau pak Fandi yang berjaga malam itu, bahwa di sisi timur bukit Parakan longsornya memang parah, hampir separo badan bukit” jelas Dini dengan terisak

“Ya Allah semoga Engkau melindungi warga desa Lur Agung ini,.amin”, doa Dita dengan mata berlinang

Dua jam kemudian, hujan pun berhenti. Mentari mulai memancarkan sinarnya, menyibak gelap di bukit Parakan, seolah ingin mengintip apa yang terjadi dibawahnya. Mobil ambulance, BNPB, SAR, para relawan, aparat kepolisian dan TNI berdatangan di desa Parakan Mereka mengunjungi korban terdampak longsor di tempat evakuasi. Sebagian melihat dampak dari longsor yang terjadi. Banyak dari mereka geleng geleng kepala, karena saking luasnya daerah yang longsor itu  berkisar hingga 3 km, Terdapat 1 korban jiwa pak Dullah (87 tahun), yang sakit stroke, karena saat di bopong anaknya, terlepas dari pegangan anaknya yang bernama Sumiyati saat longsor terjadi, Sumiyati pun masih menangis terisak di jenasah kakeknya yang baru ditemukan tim SAR  Disisi lain banyak ibu ibu mendekap anak anaknya, si suami mencari cari keluarganya. Mata Dita dan Dini terlihat sembab karena air mata mereka terus berlinang karena kekhawatiran mereka terjadi. Mereka sedih dan tidak tau harus berkata apa.

“Dit,. Bencana ini tidak bisa kita cegah, kita terlambat!  Astaghfirullah…” kata Dini sambil terisak menangis..

“ Ya, karena di bawah bukit itu tanahnya sudah lembek, ditambah hujan deras tadi malam, inilah pemacu longsornya. Kita memang terlambat!.” jawab Dita sambil mengusap air matanya.

“Sudahlah jangan sedih, semua sudah terjadi, Bencana ini adalah peringatan Allah bagi kita. Karena kita tak peduli dengan alam. Kedepannya kita akan secepatnya berkoordinasi untuk melakukan penghijauan di bukit Parakan itu. Yang jelas kamu berdua sangat berjasa, karena berkat alat detelksi longsor yang kalian buat, bisa menyelamatkan nyawa 600 lebih penduduk di desa Parakan ini”. kata om Yanuar diiringi anggukan Tante Intan.

“Ya dik Dita, dik Dini, saya selaku kepala desa Lur Agung menghaturkan banyak terima kasih atas bantuannya, karena telah memberi peringatan dini agar waspada terhadap longsor di bukit Parakan itu Berkat bantuan adik-adik, banyak warga selamat dan terhindar dari musibah longsor ini. Terimakasih dik,. Kami warga desa Lur Agung mengapresiasi langkah–langkah yang adik perbuat untuk desa kami..” kata pak Kades.

Keduanya lalu di peluk oleh Tante Intan dan disalami oleh pak Kades, dan warga-warga lain  yang bersyukur karena telah diberi peringatan dini walau hanya beberapa menit, tapi itu langkah yang bernilai, karena nyawa mereka bisa terselamatkan.

“Ya pak, bu, sama-sama,.maaf, langkah kami terlambat !..kata Dita dan Dini perlahan dengan air mata yang berlinang

Mereka memang hanya siswa SMP tapi empati terhadap lingkungannya sungguh berkelas mahasiswa. Walau ilmu yang di dapat dari pelajaran di sekolahnya terbatas, tapi petualangan praktek dan pengabdian mereka tidak terbatas. Mereka adalah sosok generasi muda yang peka dan peduli bagi lingkungan sekitar. Dalam musibah longsornya bukit Parakan itu mereka telah berupaya meminimalkan jatuhnya korban. Jiwa kreatif dan sosialnya bangkit ketika ada masalah yang berkaitan dengan lingkungan dimana mereka berdua berada. Mereka berjanji akan terus berkarya dengan inovasi-inovasi baru dengan menjaga alam dan lingkungan demi kemaslahatan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *