Cerpen #4: (Tanpa Judul)

Selama lebih dari jutaan tahun lamanya, bumi tetap bergerak mengelilingi matahari pada orbitnya dan tidak pernah berhenti untuk sepersekian detik saja, dengan bulan yang selalu setia menjadi satelitnya, tidak pernah terpisahkan seperti halnya laut dan langit. Bumi memutari matahari sebagai pusatnya, melakukan rotasi dan revolusi demi kehidupan di dalamnya. Bumi adalah planet yang spesial, satu-satunya planet yang dapat ditinggali makhluk hidup—bodohnya, para ilmuwan mengatakan bahwa manusia bisa tinggal di mars.

Manusia. Makhluk hidup yang diciptakan memiliki akal, sudah ada di bumi selama—kurang-lebih—200.000 tahun lalu. Berbagai macam hewan dan tumbuhan diciptakan untuk menopang kebutuhan hidup manusia, begitu juga dengan berbagai macam mineral di perut bumi. Semua sudah disediakan, gratis. Tuhan sungguh berbaik hati pada mereka.

Seiring berjalannya waktu, manusia lambat-laun menjadi semakin cerdas. Berganti zaman. Meninggalkan gua dan kehidupan purba mereka. Sekarang mereka mampu mengolah sumber daya alam, menciptakan teknologi yang semakin modern, merancang dan membangun berbagai macam bangunan, juga membuat obat-obatan yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Tapi tentu saja. Dimana ada positif, pasti ada negatif. Dengan segala pengetahuan dan kecerdasan yang mereka miliki, manusia berubah menjadi tamak, egois, angkuh, dan rakus, menaungi berbagai macam sifat buruk lainnya dalam tubuh mereka yang amat kecil dibandingkan dengan tubuh paus biru.

Manusia memanfaatkan alam dengan semena-mena dan tidak bertanggung jawab. Menebang pepohonan. Memburu hewan-hewan yang cantik dan unik, menyebabkan kepunahan beberapa makhluk hidup tersebut. Mencari mineral bumi dengan mengeksploitasinya tanpa melakukan reboisasi, meninggalkan lubang di berbagai belahan dunia. Merontokkan gunung untuk diambil tanahnya. Mengotori bumi dengan sampah-sampahnya, hanya peduli dengan keuntungan produk-produk mereka dan mengabaikan sisa-sisa limbahnya.

Manusia adalah makhluk yang pintar, itu memang benar. Tetapi mereka sangat bodoh dalam menjaga alam, tempat mereka datang dan juga kembali.

Apakah kamu tahu? Alam semesta memiliki 12 hukum. Salah satunya adalah Hukum Sebab Akibat, atau yang biasa disebut dengan Hukum Karma/Hukum Kausalitas. Manusia akan menuai apa yang mereka tabur, memanen semua akibat perbuatan mereka kelak.

Pernahkah kalian mendengar istilah butterfly effect? Aksi kecil seseorang atau sekelompok orang yang bisa menyebabkan rentetan peristiwa. Semua hal yang manusia lakukan di masa lampau akan mempengaruhi masa depan. Contohnya membuang sampah kecil sembarangan di tahun 2021. Coba saja kalian cari informasi tentang surat Ho Chi Minh yang diabaikan Woodrow Wilson, berakhir memicu Perang Vietnam.

Sejarah ada untuk dipelajari dan untuk mencegah hal yang sama terjadi.

Bencana alam yang datang secara terus-menerus memakan hampir seluruh populasi manusia. Teknologi-teknologi canggih sudah tidak bisa dikenali lagi, hancur berantakan. Gempa bumi, tsunami, angin puting beliung, kebakaran, banjir bandang, hujan badai, gunung meletus, dan wabah penyakit yang belum juga ditemukan obatnya. Mereka datang silih berganti. Ketika satu bencana selesai, bencana berikutnya akan datang keesokannya. Itulah yang terus terjadi selama 100 tahun terakhir.

Perbuatan manusia di masa lampau bahkan menimpa cucu-cicit mereka yang bahkan tidak tahu apa-apa di masa depan, tiba-tiba saja ikut terkena imbasnya. Tapi alam tidak peduli. Sudah saatnya alam mengambil alih kembali.

Tuhan murka, memberikan manusia ganjaran atas apa yang mereka lakukan. Selama berjuta-juta tahun lamanya, Tuhan akhirnya memutuskan untuk mengirimkan semua bencana tersebut. Pada akhirnya, mereka semua juga akan berakhir di atas atau di dalam tanah, atau tenggelam dan hanyut di lautan.

Eksistensi manusia menurun drastis dalam 100 tahun itu. Yang awal populasinya berjumlah sekitar 7 milyar hingga hanya beberapa ratus ribu lagi. Manusia hampir punah. Seandainya saja Tuhan memutuskan untuk melenyapkan manusia dari muka bumi, tidak ada lagi yang disebut sebagai manusia. Mereka akan punah, lenyap tidak bersisa.

 

“Hah? Tempat apa ini?” tanya salah seorang pemuda itu, mengintip dari balik semak-semak. Temannya yang berusia sebaya menirukannya, melihat sesuatu yang menyeramkan dan sungguh asing.

Dari balik pohon dan semak-semak di tengah kota, terdapat banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang memakai masker. Sibuk dengan urusannya masing-masing sembari memakai masker. Ada yang menjinjing tas di pundaknya, ada yang berbincang-bincang bersama temannya, ada yang membawa ransel di punggungnya, ada yang memasukkan tangannya ke saku, ada yang memakai headphone atau headset, ada juga yang memakai payung, dan banyak dari mereka yang melintasi jalanan sembari memainkan HP, alat kecil serbaguna untuk kehidupan.

Tidak hanya itu, banyak sekali kendaraan yang memenuhi jalanan dengan warna, bentuk, dan ukuran yang beragam. Kebanyakan dari kendaraan itu beroda 2 dan beroda 4. Lajunya cepat sekali, seperti seekor cheetah yang fokus mengejar mangsanya, tapi bergerak dengan mesin dan melintas di atas aspal. Ada juga yang besar, membawa banyak kendaraan beroda 4 itu. Ukurannya beberapa kali lipat ukuran gajah.

Kedua pemuda itu menutup telinganya. Bising dan berisik sekali. Lalu lintas selalu padat-merayap di siang hari. Mengganggu. Bahkan suara jangkrik-jangkrik di halaman rumah mereka jauh lebih enak didengar. Setidaknya, suaranya memang natural dari alam.

Mereka terbatuk-batuk. Asap kendaraan yang terbawa angin menerpa wajah mereka, lantas masuk ke dalam saluran pernapasan. Kebul. Mencemari udara. Bau sampah yang busuk juga ikut masuk ke hidung mereka, hampir membuat mereka muntah.

Semuanya sangat, sangat aneh bagi mereka berdua. Banyak sekali jumlah bangunan-bangunan pencakar langit, penuh dengan kaca-kaca di setiap sisinya. Amat tinggi hingga mencapai awan. Bahkan pohon tertinggi yang mereka lihat jauh lebih pendek dibandingkan bangunan-bangunan ini. Ada suatu animasi kemasan yang disiarkan di gedung-gedung itu melalui TV besar, mempromosikan barang.

Tidak terlihat pepohonan hijau yang menyegarkan mata, udara segar yang bisa kalian hirup bahkan di siang hari, atau suara-suara penghuni hutan yang biasa kamu dengar. Tidak ada sama sekali. Yang ada hanyalah pemandangan orang-orang yang berlalu-lalang dengan kendaraan-kendaraan aneh datang dan pergi.

“Selamat datang di masa lalu, Aak, Oe,” sambut Aki Esa keluar dari balik bayangan pohon-pohon. Ia dengan santainya berjalan keluar, menampakkan dirinya yang berasal dari masa depan ke masa lalu dengan Aak dan Oe mengikutinya.

Aak dan Oe adalah nama kedua pemuda itu, diselamatkan dari buaya raksasa di rawa dan diadopsi Aki Esa, menganggap mereka cucunya sendiri. Aki Esa adalah seorang mantan agen rahasia di pertengahan abad ke-20, berada di penghujung usianya yang hampir 80. Aak dan Oe diajarkan tentang ilmu pengetahuan, cara berbicara dan menulis, cara bertahan hidup, dan ilmu bela diri olehnya.

Aak memiliki rambut hitam gondrong yang panjangnya mencapai punggung. Kulitnya berwarna sawo matang. Matanya hitam dengan tatapan yang tajam seperti elang. Ia memiliki tubuh tinggi dengan kuda-kuda yang selalu terjaga setiap waktu. Punggungnya tegak agak condong ke belakang seperti seekor ular yang siap untuk menyergap mangsanya. Ia ahlinya memanah dengan bidikan yang selalu tepat, belajar dasarnya dari Aki Esa dan melatih kemampuannya secara otodidak.

Oe memiliki rambut hitam pendek. Kulitnya berwarna gading pucat. Matanya hijau dengan tatapan yang ganas seperti beruang. Ia memiliki tubuh kecil nan ramping yang membuatnya bisa berlari lebih gesit. Otot-ototnya lebih kuat daripada Aak, karena itulah ia berburu menggunakan tombak yang selalu berhasil menembus tubuh mangsa, seketika menewaskannya.

“Aki. Kenapa Aki tahu dimana letak portal itu? Katanya kan itu benda rahasia, rahasia negara. Portal antar waktu.” Oe memulai pembicaraan, menanyakan sesuatu yang selalu terngiang-ngiang di otaknya, mengingat dirinya yang puyeng setelah keluar dari portal.

“Waktu itu, Aki pernah bilang kan? Dulu Aki itu mantan mata-mata, agen rahasia. Dan portal yang tadi itu, portal tempat kita masuk itu pernah masuk list Aki. Jadi Aki pernah ditugaskan untuk mencari lokasinya kesana-kemari. Eh, ternyata dari patung di tengah kota,” tawa Aki Esa renyah.

“Ki,” panggil Aak. “kenapa mereka gak bisa liat kita?” Aak bertanya sembari mengayunkan tangannya demi menarik perhatian. Namun tidak ada yang peduli. Lebih tepatnya tidak ada yang menganggap mereka ada. “Tapi kita bisa menyentuh mereka.” Memang benar. Tadi Oe sudah mencobanya. Ia memegang tangan seorang pria yang melintas. Semua makhluk hidup akan bereaksi dengan rangsangan. Termasuk manusia. Tetapi saat Oe menyentuhnya, ia tidak refleks menoleh, mencari tahu siapa yang memegang tangannya.

“Nanti Aki kasih tau. Sekarang, mari kita mencari sesuatu untuk memenuhi rasa lapar ini.” Aki Esa berjalan santai di jalanan yang ramai nan padat dengan orang yang berlalu-lalang dan kendaraan-kendaraan yang melintas, diikuti dengan dua bodyguard kecilnya.

 

Oke. Bukankah ini definisi mencuri?

Aki Esa dan dua bodyguard-nya pergi ke sebuah mall bertingkat tiga yang besar, melihat berbagai macam kebutuhan rumah tangga, furniture, dan makanan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya, dibungkus dengan plastik atau kardus. Banyak juga buah-buahan dan sayur-mayur segar berjejer rapi sesuai kategorinya masing-masing.

Sekarang, mereka sedang berada di luar, memakan sesuatu yang dingin dan menyegarkan bernama ice cream. Bahasa apa itu? Aak dan Oe tidak akan pernah tahu kecuali Aki Esa memberitahu mereka. Rasanya manis dengan stik sebagai pegangannya.

“Aki. Bukannya ini termasuk mencuri ya?” tanya Oe sembari memakan ais krim miliknya, agak bersalah dalam hati.

Tadi mereka sudah menjelajahi semua lantai, menghabiskan waktu di mall yang penuh dengan AC. Panas di luar tidak terasa sama sekali. Sejuk dan dingin. Aki Esa tadi menyuruh mereka untuk berganti pakaian kumal mereka dengan yang ada di lantai dua. Jadilah mereka tampil dengan pakaian baru, turut mendengarkan perintahnya. Rambut Aak yang gondrong sudah disisir lurus sejak tadi. Mereka berjalan-jalan di tempat itu, mengambil dan memakai apa saja yang ada di mall. Sudah seperti rumah milik sendiri saja. Toh, para karyawan, penjaga kasir, atau mereka yang sedang berbelanja tidak keberatan. Menganggap mereka tidak ada—yang memang sebetulnya tidak ada. Mereka datang dari masa depan ke masa lalu.

“Tadi Aak kan, yang nanya kenapa mereka gak bisa liat kita?” tanya Aki Esa. Aak mengangguk, membuka plastik penutup yogurt. “Aak, Oe, dengarkan Aki baik-baik.” Dan dengan itu, Aak dan Oe membuka gerbang telinganya, siap mendengar takzim.

“Ada tiga waktu yang penting dan saling tersambung satu sama lain. Masa lalu, zaman ini, dan masa depan. Untuk mereka yang berada di masa lalu, kita adalah salah satu bukti adanya masa depan. Dan untuk kita yang tinggal di masa depan, semua ini adalah masa lalu, kan?” Aak dan Oe mengangguk, masih bisa memproses dan memahami perkataannya.

“Sesuatu yang terjadi di masa lalu dan zaman sekarang akan mempengaruhi masa depan. Apakah kalian tau, kenapa manusia di masa depan jumlahnya hanya sedikit? Di zaman kita?” Aak dan Oe menggeleng. Selama mereka masih kecil, Aak dan Oe hanya mengetahui 6 orang saja, termasuk diri sendiri. Satu sama lain, kedua orang tua Aak dan kedua orang tua Oe. Aki Esa adalah manusia ke-6 yang pernah mereka temui.

“Kalian tau ada dimana kita sekarang? 100 tahun lalu. Masih berada di abad ke-20,” ungkap Aki Esa sembari mengacungkan dua jari kanannya dan menyatukan jari telunjuk kiri dengan jempol kanannya. “sebelum semua itu terjadi.” Aki Esa tertunduk ke bawah. Nada suaranya sedih. Sepertinya, 100 tahun yang lalu, terjadi sebuah bencana yang amat dahsyat jika bahkan Aki Esa yang tidak pernah kelihatan bersedih itu menundukkan kepalanya. Oe ingin menanyainya, tapi mengurungkan niatnya, menunggunya melanjutkan.

“Oke. Back to the topic, ini adalah alasan kenapa mereka tidak menganggap kita ada, padahal masih menjejakkan kaki di bumi bersama mereka.” Aak dan Oe meneguk air dalam kemasan bening, membasahi kerongkongan.

“Seperti yang Aki bilang tadi, ada tiga waktu yang saling berhubungan. Masa lalu, zaman sekarang, dan masa depan. Di masa depan, semua yang terjadi di masa lalu sudah terjadi, kan? Nah, sama seperti kita. Kata Oe kita bisa dianggap mencuri kan? Memang benar, tapi semua itu sudah terjadi di masa lalu. Jadi, walaupun kita akan melakukan sesuatu di masa lalu, itu tidak akan mempengaruhi masa depan yang sudah ada.

“Kita berasal dari masa depan. Kalian liat sendiri, banyak sekali spesies-spesies makhluk hidup yang unik. Serangga, burung, bebungaan. Jika kita berasal dari masa depan, maka masa depan itu sudah terbentuk. Mereka yang berada di masa lalu tidak bisa melihat kita yang berasal dari masa depan. Seolah-olah kita itu cuma hantu.

“Tahun ini adalah tahun 2021. 100 tahun sebelum tahun 2121, tahun dimana kita bertiga tinggal. Di masa lalu, banyak sekali makhluk hidup yang punah. Berbagai macam hewan dan tumbuhan lenyap dari muka bumi karena ulah manusia. Selama 100 tahun sebelumnya, terjadilah berbagai bencana beruntun dalam kurun waktu 100 tahun itu. Gempa bumi, gunung meletus, tsunami, banjir bandang, kebakaran, hujan badai, angin puting beliung, dan wabah penyakit yang mendunia, menyebar lewat udara. Ketika satu bencana selesai, satu lagi datang. Semuanya terjadi dalam kurun 100 tahun tersebut. Datang silih bergantian, silih menggantikan. Teknologi super canggih yang mereka buat rusak tidak berbentuk, tidak bisa dikenali lagi. Tidak bisa diandalkan lagi.

“Tuhan murka, bumi tidak berduka, alam kembali membalas semua perbuatan mereka seperti yang mereka lakukan jutaan tahun lalu kepada para dinosaurus dengan cara mengirimkan berbagai musibah pada manusia karena Tuhan sudah mengizinkan. Tiap-tiap hari diisi dengan jeritan, teriakan, dan tangisan di berbagai belahan dunia. Muda maupun tua. Kaya maupun miskin. Mereka semua meminta diselamatkan kepada siapa saja. Manusia, dewa-dewi, Tuhan. Apapun yang bisa mereka lakukan untuk bertahan hidup. Memohon ampunan.

“Tetapi mereka lupa dengan perbuatan mereka sendiri. Menebang pohon secara liar, membuat hutan menjadi botak. Menangkap ikan menggunakan racun, ikut membunuh koral-koral dan makhluk hidup lainnya. Membuang limbah sampah kemana saja, menyebabkan bumi menjadi kotor, rusak, dan bau.” Aki Esa mengakhiri ceritanya.

Seiisi dunia seakan berhenti. Waktu seakan melambat. Aak dan Oe terdiam. Memperoleh informasi baru sebanyak itu membuat kinerja otak mereka melambat. Ternyata, selama 100 tahun terakhir, bencana-bencana itulah yang menjadi penyebab jumlah manusia yang menurun amat drastis. Mereka juga hampir punah, hampir lenyap dari muka bumi andai saja Tuhan tetap mengirimkan semua musibah itu tanpa henti.

“Aki tau dari mana?” tanya Aak penasaran.

“100 tahun terakhir dari masa kita hidup, pasti banyak sekali orang-orang yang menulis buku diary atau jurnal. Aki lahir di 40 tahun belakangan. Di tahun-tahun itu, Aki menyimpan banyak sekali buku-buku jurnal yang berserakan dimana-mana. Bahkan di jalan juga banyak ditemukan. Saat banjir pasti akan hanyut terbawa arus. Musibah-musibah itu semakin lama semakin berkurang skala kerusakan dan dampaknya. Teknologi di masa lalu sangatlah mengagumkan. Buktinya buku-buku jurnal yang ada di rumah kita itu Aki simpan dan masih awet. Tulisannya masih terbaca karena di-print di kertas anti air, jadi tidak perlu khawatir tulisannya luntur tidak terbaca.”

Ah. Ternyata itu sebabnya di ruang tamu terdapat rak-rak penuh buku dengan sampul hitam dan cokelat. Itu semua adalah jurnal-jurnal yang disimpan oleh Aki Esa sejak ia masih muda.

“Kalian tahu? Seandainya Tuhan tidak menimpakan musibah-musibah besar di masa lalu, masa depan tidak akan jadi seperti yang kita tinggali loh.” Aki Esa memutuskan untuk mencari topik baru demi melihat wajah-wajah Aak dan Oe yang murung, tersenyum kecut. “Kalian pernah lihat katak pohon mutiara di depan rumah kan?“ tanya Aki Esa.

“Yang kecil, warnanya merah kan? Terus ada bintik putihnya di atas mata, bahu sama kaki, berbintil juga.” Oe menjawab dengan tepat, mengingat bahwa Aki pernah memotretnya.

“Yup. Sama halnya dengan ajag dan surili jawa. Mereka dinyatakan hampir punah, atau awalnya dinyatakan sudah punah. Tapi lihat. Di masa depan, kita bisa melihat mereka. Positif dan negatif. Seimbang dan sama rata seperti koin yang dibolak-balik. Jika ada yang negatif, pasti ada hal yang positif. Aki juga tidak tahu bagaimana mereka masih hidup. Kuasa Tuhan,” ujar Aki Esa menambahkan.

“Ayo kita pulang. Portal itu akan langsung hancur jika kita tidak bergegas. Lagipula, langit sudah gelap pertanda hujan besar. Dan aku rindu rumah kayuku.” Aki Esa berdiri, memegangi pinggangnya yang sudah encok dimakan usia.

Mereka bertiga memutuskan untuk kembali, sepakat menuruti Aki Esa. Langit bergemuruh. Awan-awan seputih kapas berkumpul menjadi satu, berwarna hitam. Deru angin kencang mengusir dan mengancam akan menerbangkan mereka. Jalanan yang  siang tadi amat ramai seketika sepi dengan angin kencang yang bisa menerbangkan mereka. Aak, Oe, dan Aki Esa berkeliling kota, menghabiskan waktu berjam-jam tanpa terasa, sudah puas melihat dan merasakan sendiri seperti apa kehidupan di masa yang serba modern ini.

Akhirnya setelah sekian lama berjalan, mereka tiba di depan patung berupa tangan yang sedang bersatu, seperti seseorang yang menengadahkan tangannya meminta ampunan kepada yang Maha Kuasa. Tidak ada patung seperti ini di masa depan, tetapi inilah gerbang portal mereka saat datang ke masa lalu. Di masa depan, patung ini hanyalah bongkahan kecil batu marmer tua.

Aki Esa mengeluarkan sesuatu dari tasnya yang tadi diganti di mall. Bentuknya bulat seperti kelereng yag indah dengan ukuran sebesar bola, berwarna bening-kebiruan. Sebuah bola energi atau apalah itu namanya. Kata Aki Esa, bola ini adalah akses gratis menjelajah antar waktu dan hanya bisa digunakan sekali untuk bolak-balik.

Aki Esa lalu memasangkannya di antara jari kelingking patung itu, pas sekali dengan ukurannya. Bola kaca itu pecah, membuat Aak dan Oe terlonjak kaget.

Tidak lama kemudian, sebuah lubang kecil tiba-tiba muncul entah darimana asalnya. Kecil, lalu semakin lama semakin membesar hingga mentok di ukuran sebesar pintu rumah.

Aki Esa masuk pertama, diikuti dengan Aak dan Oe di belakangnya. Setelah mereka memasuki portalnya, portal sebesar pintu itu perlahan mengecil dan menghilang.

Kepala mereka pusing. Terasa seperti terombang-ambing arus laut, membuat perut mual. Kepala Aak berkunang-kunang, dikelilingi oleh bintang-bintang imajiner. Oe merasa bahwa dirinya sedang berenang di udara.

Portal muncul di masa depan, di atas bongkahan kecil batu marmer tua dengan kakek dan kedua cucunya itu terlempar keluar dari portal, terkapar di tanah. Mereka bertiga bangun, menghirup udara segar dengan pemandangan indah yang menyanjung mata. Sesuatu yang sulit dilihat di perkotaan.

Pepohonan tumbuh berderet, tinggi dan besar-besar. Daunnya yang hijau enak sekali dipandang dengan embun yang menempel di ujung daun. Sepertinya tadi hujan disini.

Aak dan Oe meletakkan busur dan panah beserta tombaknya. Kakek dan kedua cucunya itu merebahkan diri di atas tanah yang agak lembek hampir di waktu yang bersamaan, menutup mata, membukanya lagi, beruntung melihat seekor tupai melompat-lompat kesana-kemari di batang pohon.

“Aki. Mana bukunya?” tanya Oe terduduk tiba-tiba. Aki mengambil sebuah buku dengan sampul coklat dari kulit rusa. Itu adalah buku diary Oe lengkap dengan pensilnya. Ia selalu rajin menuliskan kejadian unik setiap harinya, tidak pernah sadar dengan kebiasaannya mengucapkan kembali setiap kata yang ia tulis.

“Kejadian hari ini. Aku, Aak, dan Aki Esa kembali ke masa lalu dengan portal misterius yang Aki temukan. Aki Esa mengajak kami untuk mencoba melihat-lihat teknologi di tahun 2021, abad ke-20. 100 tahun jauhnya dari hari ini. Aki mengajak kami untuk mencuri barang-barang dengan gratis di mall. Katanya, karena kami berasal dari masa depan, segala perbuatan yang kami lakukan di masa lalu tidak akan berefek pada masa depan yang sudah terbentuk. Seakan-akan waktu terhenti. Kami juga tahu kalau selama 100 tahun terakhir, alam membalas semua perbuatan manusia dengan bencana-bencana yang dikirimnya karena merekalah yang pertama kali merusak alam. Jumlah manusia yang sangat banyak langsung menurun drastis, hingga manusia itu sendiri berada di ambang kepunahan. Tetapi, dibalik hal-hal yang negatif pasti ada yang positif. Di masa depan, di waktu kami tinggal dan bernapas, banyak sekali flora dan fauna yang hampir punah atau sudah punah menampakkan diri mereka kembali.” Oe menulisnya dengan rapi dan benar sembari bersenandung, menggunakan batu datar yang cukup besar sebagai alasnya.

“Ki,” panggil Aak yang sedari tadi diam saja. “Katanya kan teknologi hancur selama 100 tahun terakhir. Nah aku pengen nanya, kenapa Aki bisa tau nama-nama spesies yang hampir punah itu?” tanya Aak tersenyum misterius. Oe yang mendengarnya ikut tertarik, menambahkan, “Ha-ah. Kok Aki bisa ya ngajak kita ke masa lalu. Tau dari mana coba. Padahal kan, bola kaca itu juga gak tau buat apa. Mungkin aja cuma bola kaca biasa kan? Jangan-jangan, Aki emang udah tau dari awal,” selidik Oe.

Yang dibicarakan berkeringat dingin, menyumpah-serapahi kepikunannya dalam hati, lupa bahwa sebenarnya kedua cucunya ini adalah pemuda yang cerdas hasil didikannya.

“Katanya, teknologi hancur. Kok bisa sih tau tentang cara-cara memakai gadget di masa lalu?” goda Oe. Dan tanpa pikir panjang, Aki Esa menjawab, “Sebetulnya, Aki itu perkumpulan organisasi rahasia, mereka yang masih hidup di zaman ini, mencoba mencari cara untuk memulihkan teknologi modern dengan solusinya tanpa berakhir seperti mereka yang berada di abad ke-20.” Kedua cucunya memandang mata satu sama lain, tersenyum sinis.

‘Astaga! Dasar mulut ini!’ geram Aki Esa dalam hati saat ia baru menyadari kesalahannya. Ia tiba-tiba berlari sekuat tenaga untuk menjauh dari kedua cucunya itu. Aak dan Oe mengambil senjata mereka, ikut mengejar Aki Esa yang jauh lebih lambat karena pinggangnya yang encok dan usianya yang sudah tua, bersiap untuk menginterogasi Aki Esa dan mengumbarkan rahasia-rahasianya pada mereka.

Wahai. Mereka sungguh beruntung sudah kembali ke zamannya, karena segera setelah portal itu menghilang, awan-awan hitam meluncurkan kandungan airnya dengan deras. Angin-angin menjadi semakin liar, menerbangkan apa saja yang menghalanginya. Guntur dan petir saling bersahutan satu sama lain, menciptakan suara yang menyeramkan.

Itu adalah hari pertama alam akan melakukan eksekusi massalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *