Cerpen #3: “Lumbung Api”

Kepulan asap dapur ibu ku selalu menyala, panci yang di dalamnya nasi kemarin dihangatkan kembali untuk dimakan pagi ini. Pagi jam lima tepat setelah sholat subuh, ku letakkan peci, sarung dan pakaian koko ku dibalik pintu kamar. Sembari mengawasi pekarangan rumah, dengan mengintip di jendela yang tertutup gorden yang ku buka seukuran muka.

 “Bakri, nasinya sudah panas, tolong kau angkat panci dari tungkunya!”, ibu ku yang teriak-teriak dengan kencang demi memanggil aku yang ada di ruang tamu.

“Iya, buk”, dengan santainya aku berjalan pelan menuju perapian.

Kemudian tepat di depan panci yang dalam kondisi panas, ku ambil jampel wajan yang terbuat dari kain yang dijahit dengan  tebal. Persiapan ancang-ancang dengan posisi seolah akan menunggangi kuda, dengan posisi punggung membukuk dan kedua tangan menjulur lurus ke depan. Ku pindahkan panci itu kebawah meja makan, kuambil nasinya yang diletakkan secara langsung diatas pembatas air.

Nasi yang selalu ku makan selalu berbeda rasanya, atau kadang nasinya mudah basi padahal baru saja dimasak di mesin penanak nasi atau biasa kita sebut magic com atau dalam bahasa inggris adalah rice cooker. Dari alat panci yang yang primitif, telah berganti ke mesin yang luarnya dibuat dari plastik yang dijalankan dengan listrik serta  lebih modern.

Beras yang akan dimasak jadi nasi dengan kemampuan mesin ternyata hanya bertahan sekitar 12 jam, faktor apa yang menyebabkannya?. Berasnya yang dioplos dengan yang berkualitas yang minus, atau berasnya telah berubah. Tapi faktor dari tradisional ke modern itu tadi membuat nasi lebih cepat basi?.

“Buk, kenapa kita menanak nasi ke magicom?”, mata polos menatap wajah ibu dengan penuh pengharapan terhadap jawaban yang tepat.

“Ya, biar lebih cepat saja!”, seolah menyakinkan ku terlihat dari tatapan santainya.

“Tapi kan rasanya berbeda bukan?”, semakin ku cecar pertanyaan kepada ibu.

“Bisa saja, ibu juga lelah ambil yang simple dan praktis saja ya nak”, raut ibu juga turut bingung dengan jawabannya sendiri.

Pertanyaan yang perlu diklarifikasi kepada ibu ku yang dulunya memakai kompor dan panci sederhana, atau kadang diatas sebuah tungku tua namun aku harus membeli kayu dan minyak tanah untuk menyalakan kompor yang menggunakan sumbu secara manual. Sebelum kompor gas, dan elektrik (dari arus listrik) yang sekarang ini ada. Mungkin saja para petani sudah terlalu overdosis memberikan obat-obat pada tanaman padi, yang membuat hama-hama yang terus berevolusi dengan cepat akibat obat-obat yang ada membentuk antibodi bagi hama tersebut.

Tapi mengapa para petani menyemprotkan obat pestisida secara berlebih?. Hama yang lambat laun berubah menjadi ganas dan beringas di hadapan petani yang telah membeli tamengnya di toko alat pertanian yang menyediakan pupuk, obat, racun, bibit-bibit unggul yang terus dikawinkan antar bibit untuk menciptakan varian baru dan hama yang baru juga.

Akan tetapi setahu saya beras, nasi, petani, hama, dan seluruh alur sawah merupakan aset yang menjadikannya unsur-unsur dari kehidupan yang ada dimuka bumi. Sebaiknya kutanyakan kepada Rakabu, yang sekarang telah sukses bersama pamannya yang menjadi petani di pulau sebrang.

Dia adalah teman saat kami masih satu sekolah di SMA, yang setelah lulus langsung bersama pamannya yang berprofesi sebagai petani padi, lombok, dan kedelai. Tepat di pulau sebrang yang dipisahkan oleh lautan yang pada sejarahnya menenggelamkan sebuah kapal perang. Karena ia ada di pulau yang jauh jaraknya dari rumah ku lebih baik dihubungi lewat saluran telepon.

Kring-kring, “telepon dari siapa ini?”, tak pikir panjang tanpa curiga Rakabu langsung mengangkat telepon tersebut.

“Halo, selamat siang raka. Masihkan ingat dengan suara ku?”, berharap ia masih tahu akan nada khas dari mulut ku.

“Coba ku tebak ini pasti Bakri kan?”, dengan suara yang menandakan kegembiraan.

“Tebakan kamu benar raka,,hahahaha”, aku lega dengan jawabannya yang cepat tanggap seperti biasanya.

Kemudian kami berbincang terkait kabar kami masing-masing, yang menghabiskan waktu lima belas menit lamanya hanya sekadar menceritakan pengalaman selama satu tahun kali ini yang tak pernah bertemu sekalipun selepas dari SMA.

Aku yang hanya sebagai karyawan biasa di perusahaan roti cuma bercerita singkat dari pekerjaan yang semakin hari lebih membosankan. Sedangkan Rakabu yang seorang petani yang bekerjanya tak cukup ringan untuk menguras keringat sampai-sampai suara darinya lebih serak dan berat dari sebelumnya.

“Ku ingin memantik suatu pertanyaan yang sekiranya kamu tahu Ka!!”, membuka pertanyaan dari inti pokok permasalahan.

“Apaan tuhh?”, semakin penasarannya dia membuat aku bersemangat.

“Emm, ini terkait dengan pertanian seperti bidang yang kamu geluti. Ada pertanyaan yang membuat ku berpikir panjang, jadi, mengapa padi memiliki bentuk yang berbeda-beda sih?”, suara ku yang agak sungkan bicara dengan hati-hati.

“oooo, ya yang jelas tergantung bibitnya, dan bibit yang berbeda juga obat, pupuk, dan lainnya, tak terkecuali jenis hamanya pun ikut berbeda pula”, Ia menjelaskan dengan sederhana.

“Kalau demikian kenapa ada pertanian di pulau yang sekarang kau kerjakan?”, sekiranya aku hanya ingin tahu dan tak memiliki maksud apa-apa.

“Ya karena, ada program demikian. Mungkin bisa diakhiri saja dulu kri, banyak orang disini. Selamat Siang”, seolah segera pergi ke aktivitasnya yang tak mempunyai waktu beristirahat.

“Ok kalau begitu, selamat siang kembali!!”, dengan perasaan sangat kecewa sekali.

Memang akhir-akhir ini beberapa lahan sawah dibuat untuk berdirinya kampus yang sangat megah sampai menelan sebelas hektar luasnya. Apa mungkin tanah pertanian kali ini tidak memiliki tuannya lagi, karena seluruh keturunannya sedang bekerja untuk pegawai negara atau pekerjaan yang lain.

Hama dan Padi seperti kakak dan adik, keturunan yang tak sah disebut “Hama”, sedangkan “Padi” adalah hasil perkawinan yang sah. Mereka sama-sama diberikan obat dengan dosis yang berbeda pula, namun nahas salah satu dari mereka terpaksa untuk dibasmi karena sang hama tak bisa dimakan. Padi sebagai sumber pangan oleh tikus, burung, dan manusia lebih meminangnya.

Rice cooker dan tungku serta panci, juga seperti tiga bersaudara yang saling berebut manfaat  di hadapan pengusaha, mana yang lebih mudah dipakai. Antara kakak yang telah semakin rentan dari tanah liat sebagai tempat bara kayu. Adiknya yang bernama panci masih beruntung karena bisa menjadi apa saja dan dipakai apa saja. Dan yang terakhir magicom sebagai yang paling istimewa.

Berawal dari adanya listrik, alat ajaib sebagai generasi terbaru dari kedua kakaknya yang lain semakin dicintai oleh semua orang. Panci khusus dengan panas yang terinduksikan menjadi panas yang setara kakak pertamanya yang mempunyai satu fungsi untuk membuat adiknya yakni  panci bisa merebus air.

Panci hanya bisa dibantu oleh tungku api untuk membuat berfungsi. “Lalu, mengapa listrik lebih diminati?”, pertanyaan bodoh yang seolah aku tidak mau berubah dengan zaman ini.

Toba yang sedari tadi menemaniku di depan rumah dengan rokok yang terus mengepul dengan cepat. Menjawab pertanyaan ku dengan tegasnya, “Mungkin saja karena listrik adalah kebutuhan pokok!!”.

“Dari mananya, padahal itu sendiri diciptakan dengan mengambilnya dari inti bumi?”, sambil garuk-garuk kepala dan menciumnya di jari-jari paling ujung.

“Ya wajarlah, semua butuh itu untuk kita bisa menikmatinya hari ini kah?”, masih menanggapi dengan kekeh.

“Saya dapat memberikan pendapat yang diterima oleh semua insan manusia!”, menatap ku dengan percaya diri.

“Bagaimana tolong jelaskan dengan tepat!!”, tuntut ku padanya yang sejenak sedang berpikir beberapa detik saja.

“Jadi, Manusia lebih memilih menikmati yang menuju kemajuan yang itu dapat melukai yang lain, sekalipun itu dapat dipastikan kehidupan yang lain perlu berkorban dan wajib kita berikan suatu kepahlawanan demi peradaban manusia yang telah ditunjukkan dengan bukit algoritma”, dengan tangan yang mengekspresikan kata-katanya seolah berbicara pada audiensi.

Energi yang dari tungku dan api sebagai pemberi efek serta kayu untuk amunisi sang panas api bentuk primitif?. Listrik dengan panas bumi, uap batu bara merupakan hal yang paling cocok diberikan gelar pahlawan yang jelas tidak bisa menolak. Angin, Air, dan Matahari di anak tirikan oleh manusia, yang mendapatkan gelar tidak perlu untuk di jadikan menjadi keuntungan lebih lama.

“Karena menurut Diyatama yang sedang bekerja di tambang, alam adalah bahan yang menguntungkan oleh sebab itu, ia mendapatkan lapangan pekerjaan”, cerita lama dari Tama yang melalui saluran telepon.

“Jadi, listrik adalah pahlawan dunia yang memberikan pencahayaan pada umat manusia hari ini!!”, sesekali minum es teh yang ku buat.

“Bisa jadi, atau listrik adalah energi yang dihasilkan dari kesalahan yang terus-menerus untuk nantinya di benarkan oleh kita hari ini?”, pertanyaan ini membuat pusing Toba.

“Tanya saja Diyatama saja, aku tambah pusing!!”, tolaknya yang sambil memegang kepalanya yang bulat itu.

Tetap saja Rice Cooker lah yang salah, perusahaan seharusnya tidak membuat alat semacam ini yang kenyataannya membuat air yang harusnya menguap ke sisi-sisi panci yang tidak tertutup rapat, sayangnya air di dalamnya bertahan seperti dalam lingkar ruangan. Mengendap pada nasi, dan tidak dikeluarkan seperti halnya orang dulu.

“Buk, hari ini berasnya jelek ya?”, pengamatan yang sangat jeli ku yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

“Masa sih?, kok gitu ya padahal harganya sekilo sepuluh ribu”, agak kebingungan dengan bentuk beras yang ku angkat dengan telapak tangan.

Berasnya ini dari mana sekarang?, dari perubahan iklim atau sawah-sawah telah menjadi hotel, sekolah, kost, perumahan, kandang, dan sebagainya?. Tanah di jawa sudah tak subur bagi masyarakat, lebih memilih ditanami saham dan dijual kepada pengembang. “Hal demikian memang bukan rahasia publik”, jawaban Diyatama yang bernada serak-serak basah.

“Ehh, kamu gimana kabarnya?, kok langsung nyeletuk tentang cerita kerja di pertambangan”, cara membuat suasana lebih santai.

“Baiklah, seperti biasa, ini kamu menghubungi ku yang ke tiga kali nya padahal masih lewat lima hari lalu. Ada apa lagi?”, tegur yang membuatnya gak habis pikir.

“Ya gimana lagi?. Kamu kan punya pengalaman, aku juga ingin mengorek informasi dan tidak terkait dengan idealisme ku.

“Lalu, karena itu adalah karakter mu sejak dulu?”, memberikan kode dengan nada kurang semangat.

“Masih sadarkah kalian bekerja di tempat yang bermasalah, kamu di pertambangan, Toba di pasar saham yang mempunyai kuasa yang besar karena relasi, kolega yang banyak dan dari kalangan kelas menengah  ke atas, dan Rabaku di pertanian di lahan yang tidak cocok untuk pertanian itu sendiri”. 

Diyatama bercerita tanpa jeda tentang dunia kerja di sebuah pertambangan ilegal yang membuat kantongnya tak kering seperti dulu. Semua tak bisa lepas dari luka sang pemilik tanah dahulu yang membuat tulang-tulang renta-nya menjadi retak demi memberikan kehidupan yang mengenyangkan perut. Tanaman yang mengisi kekosongan perut kering-kering mereka dilibas habisi oleh perusahaannya.

Rakabu yang bekerja di pertanian pastilah menangis melihat kondisi seperti demikian, bukan kah Rabaku lebih mementingkan alam yang ditanami buah-buahan, sayuran, dan lain sebagainya. Mau kemana Rakabu akan pergi bekerja bila lahan saja diciptakan untuk tambang pasir, perusahaan, tambang emas yang tidak bisa dipanen setiap tahun?.

Tambang panas bumi, tambang batu-bara memang membuat Toba yang ikut dengan Bos-nya pasti tahu bahwa kantongnya kadang menebal kadang menipis sesuai dengan kondisi pasar saham itu. Dan kekayaannya didapatkan dari bag-bagi keuntungan setelah memanen emas yang tentunya tidak dirasakan oleh Rakabu, namun hanya oleh mu dan toba.

Aku hanya seorang penjual Roti, yang memerlukan listrik dan tetap makan dengan sayur-sayuran dan buah-buahan. Rakabu menanam bahan pokok untuk dijadikan tepung dan kemudian diolah untuk diproduksi sebagai makanan orang-orang. Sama halnya dengan Kamu yang bekerja untuk mengolah pasir jadi rumah, panas bumi, panas matahari menjadi listrik untuk menyalakan pencahayaan.

Memang mempunyai kesamaan, manusia memerlukan suatu kebutuhan yang diciptakan dengan adanya. “Lalu iklim mengalami kerusakan?”, memotong perkatakan ku.

“Uap-uap adalah polusi bagi tumbuhan yang mengolah kesejukan alam”.

“Siapa yang merusak, kebutuhan atau penemuan hal itu?”.

“Tidak juga, tapi ego dari penemuan dan kebutuhan tersebut”.

“Kita bisa saja menjadi sakit karena iklim yang sedang menuju kerusakan kronis?”.

“Akankah alam hanya diam saja?”.

“Tanah yang bergoyang tidak bisa bicara walaupun kita paksa”.

“Energi merupakan kebutuhan yang tidak harus merusak yang lain, bila diteruskan iklim yang normal pastilah sedang berproses untuk kehancuran”, penegasan dari ku yang spontan ada dipikiran.

Siapa energi itu, mengapa iklim berubah berawal dari nya?, atau iklim yang semakin hari bertambah krisis?. Kita perlu api yang menyala di tungku untuk melanjutkan kehidupan, dan tanpa emas dan pasir yang tak bisa dimakan, serta sekadar bahan makanan dari pertanian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *