Cerpen #20: “Air Mata”

Sepi dan sunyi adalah dua kata yang tepat untuk menggambarkan suasana saat ini, saking sunyinya kau mungkin bisa mendengar detakan jantungmu sendiri.  Aku sudah tak tahan dengan ini, aku merindukan suasana dimana aku bisa mendengar julitan para tetangga yang melarakan hati, pertengkaran para bocil tentang karakter acara kartun apa yang paling kuat, dan tak lupa anak-anak TK yang menyanyikan lagu yamet kudasi dengan suara yang memekakkan telinga. Mengesalkan memang namun, aku ingin mendengar semua itu lagi walau hanya sekali, Menemani masa tuaku yang tinggal sesaat ini.

Kini kami para manusia hanya dapat berdiam diri didalam bangunan-bangunan kokoh berlapis beton yang diberi beberapa bahan kimia yang tak kupahami untuk melindungi kami dari polusi berbahaya yang ada diluar sana. Aku meratapi jendela dimana aku dulu saat masih kecil melihat pawai sambil bersembunyi karena takut akan badut yang mengingatkanku pada film horor yang kutonton semalam. Setetes air mataku jatuh kebawah mengalir diatas pipi ini yang telah dipenuhi oleh keriput.

“ Nenek cengeng sekali”, saat kutengok ternyata ada seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun sambil memegang konsol game menatapku dan melanjutkan perkataannya.

“Nenek, kalo nangis terus nanti cepet tua lo”, katanya sambil menyeringai padaku

“Nenek kan emang dah tua, masak gak boleh nangis”, kataku padanya.

“ Mending main GYL aja, pasti nenek gak sedih, nih”, sambil menyodorkan konsol gamenya padaku denga tertawa riang.

Aku hanya dapat tersenyum simpul melihat kelakuannya, cucuku yang paling kecil Eden namanya sangat mahir dalam merubah suasana setelah mengatakan hal manis tersebut sekarang ia malah berkata-kata kasar karena kalah bermain game tersebut.

“ Eden, jangan buat nenek sedih dong”, kalimat yang dilontarkan oleh seorang remaja perempuan kepada Eden, Ciel namanya.

“ Loh, libatkan nenek nangis, habis kamu apain Eden?”, lanjutnya penuh kejahilan.

“ Aku gak ngapa-ngapain kok, noh liat aku main game”, sanggah Eden tak mau kalah dari Ciel.

“ Game teros”, sebuah kata legend terlontar dari mulut Ciel. Serentak membuat Eden mati membisu.

Aku hanya dapat tertawa melihat perdebatan mereka yang menggelitik perut, kini mereka sudah diam karena urusan masing-masing.

“ Nek, diluar itu gimana?”, tanya Eden padaku dengan mata ingin tahunya.

“ Iya nek, di pelajaran sejarahku ada yang bilang empat puluh lima tahun yang lalu manusia melakukan banyak aktivitas diluar ruangan, bener ta nek?”, tanya Ciel penuh antusias padaku.

Aku menatap plafon sejenak sambil membuka memori-memori masa lalu.

“ iya memang dulu sekali saat nenek masih muda kalian belum lahir, manusia melakukan aktivitas diluar ruangan”, ceritaku

“ La terus nenek sama temennya nenek gak bahaya pas keluar?”, tanya Eden.

“ ya gak lah, pas zaman dulu kan iklimnya gak kayak sekarang”, kata Ciel memotong pertanyaan Eden.

“ Emang betul nek?”, tanya Eden memastikan.

“ iya betul kata Ciel iklim dulu beda ama sekarang”, jawabku sambil tersenyum.

Terdengar suara langkah kaki mendekat, tidak satu tapi dua orang semakin lama semakin keras seketika berhenti didepan pintu. Kami menoleh kearah pintu bersamaan, saat kami menoleh kami melihat daun pintu telah terbuka, disana berdiri dua orang dewasa laki-laki dan perempuan.

“ Eden Ciel waktunya pulang”, kata mereka sambil tersenyum.

Belum habis cerita kami mereka berdua sudah berlari kearah pintu tanpa pamit kepadaku. Kini mereka berdua telah pergi meninggalkan aku sendiri, seketika tercipta suasana hening lagi yang lebih menyakitkan.

Aku berjalan terseok-seok kearah rak buku tua, disana terdapat buku-buku lama yang telah kukoleksi sejak lama, kini membuat buku adalah suatu pelanggaran karena kini semua pohon telah dinyatakan hampir punah oleh para ilmuwan di dunia secara besar-besaran.

Aku meraih sebuah buku sampul merah yang sangat berdebu, saat kuusap terdapat sebuah kata yang tertera disana yakni “SECRET”.

Saat kubuka selembar demi selembar terdapat potongan artikel dari koran yang berjudul “ sebuah ledakan membuat iklim semakin menggila”. 

Disana terdapat sebuah penjelasan bahwa saat gencar-gencarnya orang-orang dengan revolusi industri 0.5 seorang ilmuwan perempuan muda menemukan sumber daya minyak baru di pulau Kalimantan, pengeboran minyak besar-besaran pun terjadi dan kerusakan alam pun terjadi karena pembuangan limbah yang tidak tepat sehingga membuat hutan tropis di Kalimantan dimana itu adalah satu-satunya hutan tropis yang tersisa didunia hilang untuk selamanya.

Aku menetap kembali buku tersebut tidak kuat membaca apa yang terjadi selanjutnya, sedetik kemudian air mata mengalir deras di pipiku sekali lagi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *