Cerpen #2: “5 Pilar Perengkuh Bumi”

“Pencuri!!”

Jika kalian bertanya, ada gerangan apa? Maka yang terjadi saat ini adalah sebuah pencurian barang paling luar biasa berharga bagi manusia di sebuah rumah keluarga kaya. Tentu saja, yang berteriak adalah para penjaga rumah, sedangkan yang diteriaki … adalah diriku. Kalian tak keberatan bukan jika perkenalan ini kulakukan sembari berlari, menerobos berbagai laser keamanan dan melompat dari lantai sepuluh. Oh, ayolah kalian tidak berpikir aku akan mati terjatuh bukan? Ini sudah tahun 2121, dimana berjalan di udara sudah menjadi tabiat biasa.

Namaku Adrian Wilson dan aku adalah seorang pencuri air. Ya, kalian tidak salah dengar, aku adalah pencuri air. Sedikit aneh memang, tetapi kenyataanya pada 100 tahun terakhir ini banyak sekali hal yang berubah. Setelah lolos dari kejaran penjaga rumah, entah untuk yang keberapa kali bulan ini, aku memutuskan untuk turun ke permukaan.

Tidak banyak yang bisa aku jumpai di permukaan tanah ini, segalanya telah melayang di udara, termasuk rumah, sekolah bahkan gedung-gedung pencakar langit. Hanya mereka yang tak berpenghasilanlah yang menetap di permukaan, sebenarnya kenapa dengan permukaan? Seratus tahun lalu, nenek moyang kami begitu tidak perduli dengan alam sehingga generasi Kamilah yang harus menanggung cacatnya.

Aku kemari untuk menemui Ghea, ia adalah satu dari beberapa kawan seperjuanganku. Kami menyebut diri kami sebagai 5 Perengkuh Bumi, Ghea yang bertugas mengatasi berbagai masalah di permukaan, ia juga mencoba segala cara untuk mengembalikan kondisi tanah seperti semula, namun setelah dua tahun mencoba berbagai cara, masih dan selalu saja tidak ada jalan yang terbuka.

“Adrian, bagaimana? Berapa banyak air yang kamu dapat?” Kami bertemu di belakang reruntuhan, entahlah mungkin dulu bekas sebuah istana negara.

Aku menyerahkan sebuah flash disk yang dapat digunakan untuk membawa berbagai macam benda. “Maaf Ghea. Bisaku hanya membawa 3 liter saja. Apakah cukup untuk seluruh penghuni permukaan?”

Ghea tersenyum lalu memelukku. “Itu lebih dari cukup, terimakasih. Terimakasih telah membahayakan nyawamu demi kami.” Ia membuka flash disk tersebut lalu mengeluarkan cangkir kecil dari sakunya dan menuangkankan air ke cangkir kecil itu.

“Minumlah. Aku tahu dari minggu lalu kamu belum meminum air bersih kecuali air buatan manusia yang rasanya seperti bahan kimia.”

Aku tertawa kemudian mulai meminumnya. Pada masa ini air adalah barang paling berharga yang bahkan sumbernya saja dilindungi dua dinding berlapis baja dan harga satu gelasnya bisa mencapai serratus juta. Hujan tidak lagi turun, jikalaupun ada, yang turun bukanlah tetes air melainkan hujan asam.

“Ghea, aku harus pergi. Jangan lupa untuk naik ke kota dan ikut berkumpul dengan anggota lainnya. Aku akan menghubungi mereka untuk rencana pembuatan mesin waktu kita.”

Ia terlihat ragu, ada banyak kerutan di wajahnya, ada banyak ketakutan tengan hari esok di matanya.

“Jangan takut, walaupun sudah sangat terlambat, setidaknya kita tidak memperjuangkan bumi kita ini sendirian. Aku yakin kita pasti bisa memperbaiki iklim menakutkan ini.”

Padahal, jauh di lubuk hatiku sendiri terdapat banyak ketakutan perihal esok hari. Anak-anak semakin hari semakin lemah, organ mereka tidak berfungsi dengan seharusnya, para penguasa hanya sibuk menimbun harta dan selalu menutup mata. Berdemo di depan Gedung tidak akan merubah apa-apa hanya sia-sia.

———-

Disinilah aku tinggal, sebuah rumah sederhana pinggir kota, tidak buruk sebenarnya. Aku tinggal sebatangkara, Ayah dan Ibuku mati di usia muda, sebenarnya bukan hanya mereka, empat puluh tahun saat ini sudah dikategorikan sebagai usia yang sangat tua. Bagaimana kita bisa bertahan hidup dengan makanan sintesis dan air buatan, Kubuka sepatu gravitasi dan masker transparanku. Sebelum menemui kawan perengkuh bumi lainnya aku harus mengisi alat bantu pernapasanku dengan sisa oksigen hasil curian Bayu- satu dari anggota lima pilar perengkuh bumi.

Kami harus selalu menutup wajah kami dengan masker transparan. Gas beracun dan berbagai polusi saat ini sedang menguasai udara. Jika terkena sebentar saja resikonya bisa merenggang nyawa. Jangan tanyakan tentang mengapa bisa tidak ada oksigen, bagaimana bisa ada oksigen jika tanaman-tanaman saja tidak lagi ada. Kabar para hewan? Mereka baru saja punah lima tahun lalu. Memang ada beberapa yang bertahan dan dijadikan percobaan, selain itu? Sekarang ini manusia lebih suka memelihara robot hewan, lebih mudah katanya. Dasar orang-orang tidak bertanggung jawab. Sebelum melangkah keluar, aku sempat membaca sebuah buku tentang pembubaran berbagai badan yang peduli terhadap lingkungan, entahlah pemerintahan bilang hal seperti itu hanya akan membuang dana tanpa hasil yang pasti. Mereka memang sudah tidak lagi takut mati.

Butuh dua menit untukku agar bisa sampai di sebuah Gedung lantai dua yang logonya bertuliskan 5PPB, itu markas kami. Sebenarnya itu bekas rumah dari Clara, salah satu anggota perengkuh bumi yang juga merupakan putri pejabat negeri, hal itu cukup banyak membantu kami dalam melakukan berbagai hal. Contohnya pencurian air, oksigen dan juga beberapa tanaman uji coba. Ketika aku menginjakan kaki di lantai kaca ini ternyata Bayu, Clara, Arunika dan Ghea sudah terlebih dahulu tiba.

“Terlambat satu menit, Wilson.” Gadis berambut sebahu itu adalah Clara, ia tampak laing terlihat cantik dan terawat, mungkin karena hanya ia satu-satunya yang punya rambut. Jangan salah, orang biasa seperti kami dilarang keras untuk menumbuhkan rambut, air siapa yang akan digunakan untuk merawatnya?

“Adrian, langsung saja kami ingin membahas soal mesin waktu itu, sesuai rencana segalanya telah siap..” Bayu memanglah tipe yang tidak suka basa-basi, soal rencana yang ia bahas, kami memang berencana untuk meluncurkan mesin waktu dengan pesan bahwa nenek moyang kami harus merubah berbagai perilaku mereka.

Aku menatap mereka satu demi satu, di usia kami yang sudah menginjak 17 tahun dan kami hanya mampu tumbuh dengan tinggi rata-rata 120 cm itu sangat memalukan, sedangkan ketika aku membaca jurnal milik leluhurku mereka bahkan bisa mencapai 170 cm di usia 15 tahun. Dengan hidup yang tidak pasti kapankah kami mati, aku ingin membuat perubahan untuk generasi yang akan datang, sebelum nafas terakhirku, aku ingin dunia kembali, setidaknya sedikit terperbaiki.

“Teman-teman, ayo kita tulis pesan kita di mesin waktu ini, setelah itu kita luncurkan nanti malam. Semoga saja para petinggi negara tidak ada yang tahu.”

Netraku tertuju pada mesin kapsul kecil yang dilengkapi dengan ruang kedap udara di dalamnya, tampak Arunika juga sudah menyiapkan portal yang bertuliskan 2021.

Mulanya, Perengkuh Bumi hanya terdiri dari diriku dan Ghea. Aku dan Ghea adalah teman masa kecil dan kebetulan Ghea sangat tertarik dengan kehidupan permukaan. Suatu hari kami mendatangi permukaan dan menengok bagaimana sengsaranya para penduduk di sana, para bayi meninggal karena tidak mendapat pasokan udara yang cukup, para anak-anak perlahan kehilangan kemampuan untuk bernafas, bahkan para orang dewasa harus saling membunuh untuk dapat bertahan hidup. Ketika itu, sesuatu dalam nuraniku tergerak, harus ada yang menghentikan segala hal buruk ini.

Aku bertemu Bayu dan Arunika ketika mereka hendak berdemo di pada gubernur kota, saat itu sepertinya mereka berusia 14 tahun. Mereka terus meminta keadilan untuk kematian Adik-Adik panti asuhan tempat mereka tumbuh. “Apa susahnya membagi sedikit harta bagi nyawa-nyawa tak berdosa seperti kami?.” ujar Bayu kala itu. Sementara untuk Clara, ia yang diam-diam menemuiku setelah aku tertangkap mencuri dua tabung oksigen di rumahnya, ia bilang ia ingin ikut berjuang untuk memperbaiki iklim dunia.

Mulanya, kami mencoba memakai cara biasa, mendatangi para petinggi kota, berdialog, menjelaskan dari a sampai z, namun tiga bulan kami terbuang sia-sia. Dari sana kami mulai menggunakan cara yang sedikit tidak biasa. Kami mencuri air, oksigen, dan makanan kemudian kami berikan pada para warga permukaan. Dengan bantuan Clara kami juga mencuri beberapa alat penelitian, kami mencoba menyelamatkan beberapa hewan dan tanaman, juga merusak beberapa mesin pabrik besar yang masih menyebarkan polusi-polusi udara.

Tapi kami sadar betul, dunia tidak bisa direngkuh hanya dengan lima hati nurani saja. Dunia butuh banyak mata terbuka untuk bisa sembuh dan kembali seperti semula. Karena itu, sejak setahun lalu kami mencoba mengembangkan mesin waktu dan mengirimnya ke masalalu. Walaupun dengan berbagai resiko yang ada, aku berharap setidaknya ini bisa merubah sesuatu.

Kamera sudah menyala, kami berlima mencoba yang terbaik untuk tersenyum manis walaupun dengan kulit kering yang terkena sinar ultraviolet karena tentu saja lapisan ozon tidak lagi bisa menaungi. “Halo, manusia-manusia di masa lalu. Ini kami, manusia bumi tahun 2121.” Aku mulai membuka suara.

“Aku tidak tahu apakah kalian akan mempercayai kami, tapi dengarkan baik-baik. Pada masa ini, bumi bukan lagi planet yang bisa ditinggali. Tanah tanpa humus, udara dengan jutaan polusi dan zat berbahaya, peperangan memperebutkan oksigen dan air, kematian, kecacatan, umur manusia semakin pendek setiap harinya, dan kalian lihat sendiri, kami berusia 17 tahun tapi sudah seperti lansia. Ini semua karena kalian yang selalu semena-mena dengan alam.”

Bayu menyambungku dengan tergesa, “Kalian mengeksploitasi segala sumber daya dengan serakah, kalian menebang pepohonan, kalian terus membuang limbah dengan sembarangan, kalian gencarkan pembangunan industri sampai lupa dengan isu pemanasan global. Apa susahnya mencintai alam yang memberi kita sumber penghidupan? Apa menekan ego dan mempertimbangkan segala resiko begitu susah untuk kalian?”

Kami mulai meneteskan air mata, selama ini kami selalu merasa seperti hidup di neraka, dengan segala keegoisan manusia. “HENTIKAN!” Arunika berteriak sembari beberapa kali terisak, “Hentikan sebelum anak dan cucu kalian yang merasakan, bumi semakin hari semakin sakit, apa kalian tidak mendengarkan bagaimana rintihannya? Ini belum terlambat, sungguh. Kalian masih bisa, kalian masih bisa untuk memperbaiki segalanya.,” tambahnya.

Kami berlima saling bertatapan, bergandengan tangan dan kembali menatap pada kamera yang masih setia menyala. “Kami menamakan diri kami lima pilar perengkuh bumi, tapi kami tidak bisa melakukan apa-apa. Masadepan dunia bergantung pada kalian semua, jangan melihat kanan dan kiri, masadepan dunia bergantung pada dirimu sendiri,” Ghea menimpali.

“Mulai sekarang, setiap kalian ingin menyakiti bumi, jangan pikirkan dampaknya untuk besok, tapi pikirkan, satu asap rokokmu hari ini mungkin bisa membunuh ribuan manusia serratus tahun lagi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *