Cerpen #18: “Dunia Rintan”

Dalam ingatannya, setiap Sabtu sore perlu untuk membeli paket data internet. Biasanya paket datanya habis sebelum Sabtu mulai sore. Ini membuat Rintan kesal, apalagi di Magelang butuh waktu untuk menuju tempat menjual paket data internet. Membersamai petani-petani yang baru pulang dari sawah, gerobak-gerobak yang didorong sapi, dan langit sore setelah hujan deras seharian. Kadang-kadang jalan menjadi becek dan motor mudah kotor karena terguyur air hujan. Perjalanan mencari paket data internet selalu menjadi pertualangan Rintan untuk keliling Magelang. Tidak boleh dilewatkan untuk melihat sekitar, terutama sampah dan asap kendaraan yang berlalu di Magelang. Kalau perjalanan mencari paket data internet disebut petualangan yang mengejutkan, pastinya Rintan punya oleh-oleh untuk direnungkan saat tiba di rumah.

Semua tentang Magelang menjadi lalu lalang dalam pikiran Rintan. Anak-anak yang membuang sampah ke sungai, orang dewasa yang berlomba-lomba memakai kendaraan bermotor tak ramah lingkungan, hingga pada cerobong-cerobong asap yang tak henti membuat hitam langit Magelang. Perjalanan mencari paket data internetlah yang menjadi kesempatan bagi Rintan untuk melihat semua itu. Pada setiap sudut kota Magelang, Rintan punya dugaan yang aneh dan mengejutkan. Kota Magelang seolah berdialog dengan Rintan. Mereka seperti menarik dan saling meminta harap akan masa-masa yang akan datang. Kita dalam krisis iklim ! … dan dimana generasi masa depan nanti tinggal ? masih ada tempat ? 

Rintan sangat menyukai puisi dan lingkungan, tapi sangat membenci perayaan. Dia kadang tidak terlalu yakin dengan apa yang dirasakannya, hidupnya penuh asumsi. Itulah yang membuat Rintan berpuisi dan memaknai lingkungan dalam karyanya. Rintan selalu terkesan dengan W.S Rendra: “Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan ? Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah lingkungan ?”. Ungkapan sastrawan W.S. Rendra selalu mempengaruhi Rintan, bersama ungkapan itu dan bersama kegamangan kota Magelang dalam berbagai isu lingkungan. Rintan sendiri seorang mahasiswi, berdinamika dengan kampus dan tentunya berbagai buku humaniora karena dia mahasiswi yang belajar tentang bahasa, bahkan menelan banyak karya sastra.

Namun, pada malam Minggu setelah mencari paket data internet, Rintan merasa hujan yang turun seharian tadi itu menjadi hujan yang aneh. Sama sekali tidak memberikan kesegaran pada tanah, tidak menyegarkan tumbuhan yang tersiram airnya, bahkan malah melayukan beberapa padi yang ada di Magelang. Walau hujan sudah reda, Rintan tetap penasaran soal hujan yang turun seharian, bahkan katanya sudah membasahi seluruh kota Magelang. Kota Magelang menjadi murung dalam perasaan Rintan. Semua terasa menjadi sedih, entah Rintan yang tidak mendapatkan paket data internet atau karena hujan yang aneh seharian di kota Magelang. Malam Minggu nantinya akan menjadi kelabu bagi Rintan dan kota Magelang, dalam pemenungan panjang dan semua itu hanya kerena hujan.

Dalam percakapan sore di angkringan yang didengar oleh Rintan, Anna termenung ada beberapa bahasan yang sedang dipercakapkan seperti “perubahan iklim”, “hujan asam”, dan “pemanasan global”. Angkringan mungkin tempat yang sederhana, tapi bagi Rintan, angkringan bisa menjadi tempat untuk memperkaya ide dalam dirinya berkarya. Rintan merenungkan beberapa bahasan yang menarik ketika dirinya di angkringan. Setelah membayar sate usus dan nasi kucing, untuk pertama kali dalam hidupnya Rintan mulai menyadari titik dimana kota Magelang yang dicintainya sedang mengalami banyak kerusakan lingkungan. Rintan berjalan sambil terus memikirkan apa kaitannya hujan dengan kesulitannya mencari paket data internet hingga pada berbagai isu yang dibahas di angkringan. Semuanya berkecamuk dalam pikiran Rintan.

Namun, Rintan tetap harus pulang karena hari sudah mulai malam, dan satu-satunya yang dapat diandalkan untuk cepat pulang adalah dengan memakai motor yang juga memberikan kontribusi dalam kerusakan lingkungan. Kebiasaan buruk Rintan adalah mendengarkan podcast ketika berkendara sepeda motor. Dalam perjalanan pulang, Rintan menyimak setiap kata yang keluar dari podcast di HPnya:

“Ada banyak pembakaran tenaga fosil yang kita lakukan, selama bertahun-tahun pembakaran terjadi dari batu bara, minyak bumi yang jadi bensin, dan gas alam yang membuat panas suasana bumi. Namun, upaya keseimbangan jarang dilakukan apalagi di Magelang yang mulai rapuh ini”

“Apa hubungannya dengan yang aku dengarkan di angkringan tadi ya. Meskipun jumlah CO2 meningkat karena banyak pembakaran tenaga fosil, Magelang punya banyak pohon yang teduh. Ada banyak tanaman di Magelang kok.” kata Rintan.

“Atau apakah karena jumlahnya terus menumpuk dan semua daerah jadi terkena dampaknya. Planet Bumi hanya ada satu, pasti saling mempengaruhi.”

Ada banyak pertanyaan dalam diri Rintan ketika perjalanan pulang. Sampai di rumah, Rintan segera mandi, makan, dan bersiap di depan laptopnya. Untuk menulis setiap apa yang ditemuinya hari ini.

“Lalu, malam di Magelang menjadi semakin hangat. Semakin banyak polusi dan CO2 di langit Bumi, semakin meningkat juga suhu di Magelang. Terus bagaimana dengan es di kutub, bagaimana dengan naiknya air laut karena es yang mencair, dan bagaimana dengan pohon di perbukitan yang semakin hilang dan tergantikan. Maka, wajarlah kalau kota Magelang semakin hangat, tidak sedingin waktu aku kecil dulu.” kata Rintan pada kucingnya.

Rintan bergegas mengambil secarik kertas dan menuliskan puisi kecil,

Saat malam

Bumi adalah kemegahan atas pentas drama

Panggung komedi dan tragedi

Tempat pelacuran dan sarang perampokan

Di tempat-tempat paling terang

Sedang kelaparan bersarang di rongga gelap

Lambung semesta

Magelang, pada sebuah malam

Puisi itu ditaruhnya di pintu lemari, dibiarkannya menggantung dan terlihat ketika Rintan hendak masuk kamar. Setelah berpuisi, keajaiban terjadi. Rintan kesetanan menulis tentang lingkungan, dari krisis iklim hingga generasi masa depan. Rasanya seperti memiliki paket data internet yang bagus. Rintan menulis dalam sebuah imajinasi akan masa depan. Masa dimana oksigen harus dibeli seperti paket data internet.

Rintan berimajinasi, ada seseorang yang menyapanya. Seorang laki-laki gondrong, berbaju kumal, dan kerak-kerak nikotin di giginya yang menunjukkan kalau lelaki itu perokok.

Rintan sayang, begitu ungkap laki-laki itu. Rintan tak berani melanjutkan imajinasi, tapi malam tertidur dan melanjutkan percakapan itu dalam mimpinya. Rintan bermimpi dalam gamang kenyataan berjumpa laki-laki dari tahun 2500. Laki-laki itu bernama Yudha dari masa depan dengan berbagai kegamangan. Nama Yudha tidak asing bagi Rintan, dalam masanya Yudha adalah laki-laki yang mendekati Rintan hanya karena puisi.

Dalam mimpinya Rintan, Yudha berkata “ Rintan, aku tidak pernah tahu bagaimana kondisi Magelang di saat kamu hidup sekarang. Tapi, sekarang Magelang begitu memprihatinkan, lingkungan rusak dan kau tak mudah lagi mengenal Magelang. Tapi aku mengenalmu, kita abadi bukan ? kata Pak Sapardi, yang fana itu waktu.”

Rintan hanya diam dalam keheranan, dia melihat sekeliling dalam mimpinya. Kota Magelang menjadi metropolitan, semua terbuat dari platinum, semua mengkilau. Tidak ada tumbuhan yang tumbuh dengan bebas. Tumbuhan terkekang.

Kok bisa, saat melihat jam tangannya ternyata sudah pada tahun 2500 ?. 500 tahun masa depan dalam kehidupan Rintan. Harinya tepat dimana dia menolak cinta Yudha. Namun, kenapa bisa ditengah kegelisahan isu lingkungan dan hujan, Rintan malah berjumpa dalam mimpi dengan Yudha. Apa hubungannya juga dengan Yudha di masa depan ?. Semua berkecamuk dalam mimpi Rintan, hingga akhirnya Rintan terbangun. Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB. Diambilnya pena dan secarik kertas, Rintan kembali berpuisi soal tumbuhan, Yudha, dan Magelang.

Kita beradu seperti tumbuhan

Hanya mengadu pada segala

Pada langit karena panas

Pada awan karena hujan

Pada tanah, air, dan udara di kala kemarau

 

Akar merayap

Jauh ke sungai-sungai pecandu samudera

Akar-akar 

Adalah kesunyian dendam kelam

Yang terkubur dan kadang timbul

Dalam hadirmu, Yudha dan menjelang ke Magelang

Rintan berjalan ke meja belajar, meraih ponselnya, didapatinya pesan lewat Whatsapp dari Yudha.

“Rintan, selamat malam. Maaf kalau aku mengganggumu. Bagaimana harimu tadi ? tugas-tugasmu ada yang bisa aku bantu ? soal penelitianmu mungkin ?. Semangat ya, semester akhir memang berat. Tapi aku yakin, Rintan pasti kuat. Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan keliling Jogja ? besok Minggu jeda dulu dong.” tulis Yudha dalam pesan di Whatsapp.

Selain pesan singkat, Yudha juga mengirimkan pesan suara. Isi pesan suara itu didengarkan Rintan sembari berjalan ke dapur untuk membuat teh hangat. Suara Yudha yang khas membuat Rintan tersenyum, apalagi dalam pesan suara itu Yudha menyanyikan lagu kesukaan Rintan. Lagu dari Sisir Tanah dengan judul Lagu Alternatif. Rintan mengulang berkali-kali pada bagian lirik kesukaannya. Lirik yang menurutnya memiliki makna yang mendalam dan ajakan yang transformatif.

Mengapa

Nyala lampu kita

Meninggalkan

Lubang lubang tambang

Mengapa

Terang rumah kita

Mendatangkan

Duka dan Derita

Nyalakan lampu dari putaran angin

Terangi rumah dari aliran air

Sinari kota dengan panas matahari

Nyalakan lampu dari putaran angin

Terangi rumah dari aliran air

Sinari kota dengan panas matahari

Sisir Tanah, Lagu Alternatif

Rintan membawa teh hangatnya ke meja belajar, sambil membalas pesan dari Yudha. Rintan mengetiknya dengan penuh harap, kegembiraan, permohonan maaf. Iya, maaf. Kata ajaib yang selalu menjadi pemenang dalam merespon kesalahan, begitu mudah diungkapkan tapi kadang sulit jika ego diri masih tinggi.

“Berjalan tak sesuai rencana itu hal yang biasa Yudh, maaf baru sempat membuka HP. Aku ketiduran, tadi sore banyak kegiatan, banyak pikiran juga. Kalau kamu mau ngajak aku jalan-jalan besok pagi, aku mau banget. Kebetulan lagi penat, banyak tanggung jawab.” balas Rintan dengan ikon hati warna biru, warna kesukaan Yudha.

Rintan melihat di aplikasi Whatsapp, Yudha terakhir kali melihat aplikasi itu ternyata baru 5 menit yang lalu. Tidak heran, mahasiswa filsafat seperti Yudha pasti jarang tidur dan kalau tidur pasti di jam-jam dini hari. Rintan mulai mengenal betul ritme biologis Yudha, terutama soal tidur, kopi, dan rokoknya. Sembari membuka beberapa buku dan merenungkan apa yang menjadi mimpinya tadi, Rintan diam-diam mulai merindukan Yudha. Yudha yang ditolaknya beberapa bulan yang lalu dan sampai saat ini masih mendekatinya dengan berbagai cara.

Rintan sedikit tenang, teringat apa yang dituliskan oleh Yudha beberapa hari yang lalu dalam kertas bersama coklat yang diberikan padanya.

“Mulai saat ini, apa pun yang terjadi padamu, apa pun keputusanmu. Aku akan selalu mencintaimu, itu karena kamu menulis dan punya keresahan yang sama soal lingkungan Magelang. Kehidupan tidak berhenti besok kan ? kalau ada hari yang gagal, nanti bisa kita coba lagi, termasuk kalau aku gagal mendapatkan hatimu. Aku akan terus mencoba lagi, kan masih ada lain hari untuk selalu mencintaimu.” tulis Yudha dalam kertas yang diberikan padanya bersama dengan coklat.

“Yudha romantis juga ya, ah tapi kenapa dulu aku sulit sekali membuka hati padanya. Kenapa ya, atau apa karena penampilannya ? ah sepertinya tidak. Penampilan nyentriknya malah membuatku bersyukur, dia orang yang apa adanya. Tidak drama demi untuk mendekati dan mendapatkan hatiku.” Kata Rintan.

HP Rintan berdering, suaranya nyaring memecah keheningan Magelang malam. Segera Rintan raih headset dan HP yang ternyata ada panggilan video masuk dari Yudha. Rintan terkejut dan senang, bisa mengobrol dengan Yudha mala mini. Mereka kemudian saling berbicara, soal kesibukkan, soal pandemi, soal lingkungan yang menyatukan perasaan mereka. Rintan merajut kembali harap, berjalan bersama Yudha untuk berpuisi sembari terus peka dalam berbagai isu lingkungan.

Obrolan yang begitu hangat di tengah hangatnya Bumi karena krisis iklim menjadikan Rintan memiliki keyakinan tersendiri pada Yudha. Sungguh misterius, bagaimana mungkin pada tahun 2500 Rintan bertemu dengan Yudha di masa depan, dan dari mana Yudha tahu soal berbagai isu lingkungan yang ada di Magelang. Semua tentang kepedulian dan kepekaan, bagi siapa ?. Bagi Bumi yang semakin panas, bagi banyak flora fauna yang mulai punah, bagi es kutub yang mencair, dan bagi pembakaran fosil yang merusak lingkungan.

“Apakah Yudha menjadi jawaban bagiku ?” tanya Rintan pada dirinya sendiri. Jawaban dari doa soal teman yang akan menemani membahas lingkungan sampai tua. Dan benarkah, kisah cinta sederhana yang dimulai dari keresahan bersama soal lingkungan dapat membawa dampak bagi krisis iklim dan generasi masa depan ?. Apakah bisa semua itu menjadi dasar kecil, untuk mengembalikan keseimbangan dan memulihkan berbagai kerusakan di Bumi ?. Rintan menyimpan banyak pertanyaan malam itu. Rintan dengan dunianya yang melankolis belajar banyak hal hari ini, dari hujan, Yudha, dan Magelang. Harapnya, Yudha dan lingkungan selalu menjadi dunia Rintan dalam merespon krisis iklim hingga menjadi teladan berpacaran generasi mada depan.

 

Untuk Sotyarani Padmarintan

-Suara Perlukuan-

29 thoughts on “Cerpen #18: “Dunia Rintan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *