Cerpen #17: “Tetangga Jelaga”

“Ibu bumi menangis, si mungil hidup dari mengais-ngais

Tak ada harap, hanya dapat meratap.”

 

Semerbak mentari menerangi paginya seperti biasa. Tidak seperti layaknya desa pada umumnya, kala kokokan ayam menyambut semestinya embun di daun lah yang menemani. Kampung itu berbeda. Mereka terjebak nestapa beberapa tahun terakhir ini, semenjak datangnya bangunan baru itu. Bangunan baru mengepulkan asap dan debu yang pekat. Jauh sebelum datangnya nestapa itu, irama tetesan embun lah yang menemani mereka di kala pagi. Naas, memang semenjak kehadiran pabrik debu itu bukan keceriaan yang keluar dari wajah penduduk kampung setelah bangun tidur.

Pabrik debu itu mengeluarkan butir-butir hitam yang menghujani rumah-rumah, ladang, sumber air. Sumber penghidupan warga telah ternodai oleh butir-butir hitam dari pabrik debu itu. Konon, pabrik debu itu dibangun untuk menerangi seantero Jawa dan memberi makan bagi cuan-cuan para juragan. Sebenarnya sempat terkendala, tapi tuan besar dari Jakarta lah yang mengenjot pembangunan pabrik debu itu. Tuan besar sengaja bekerjasama dengan para juragan untuk menampung emas-emas hitam yang didatangkan dari pulau seberang. Penduduk kampung itu tahu, kalau pembangunan pabrik debu dilakukan untuk memutar dan menambah cuan para juragan setrum dan emas hitam. Penduduk kampung mengerti yang menikmati hasilnya adalah orang yang itu-itu saja. Namun, penduduk kampung tak punya daya untuk menghadapi para juragan dan tuan besar yang membangun pabrik debu itu.

Butir-butir itu tak lain adalah hasil dari pengolahan emas hitam menjadi setrum. Buah dari kegiatan bisnis yang semata memikirkan keuntungan, namun tidak melihat akibat yang muncul kepada lingkungan sekitar. Masih untung apabila penduduk kampung menikmati setrum secara cuma-cuma sebagai kompensasi. Nasib penduduk kampung itu jauh dari perhatian para juragan apalagi tuan besar. Penduduk kampung harus bertahan sendiri menghadapi cobaan dari pabrik debu yang menyusahkan mereka.

Berbeda dengan warga pada umumnya yang berolahraga di pagi hari, penduduk kampung itu sudah harus dibuat repot untuk membersihkan butiran di sana-sini. Penduduk kampung menjadikan kesusahan mereka dengan bercanda dan menyebut kegiatan mereka di kala pagi tersebut sebagai olahraga khas tempat mereka. Olahraga yang tidak hanya mengasah fisik, tetapi juga menjaga ketabahan hati menghadapi kesulitan. Olahraga pagi itu dilakukan dengan membagikan tugas secara merata kepada semua anggota keluarga. Ada yang menyapu lantai, membersihkan jendela, menyiram halaman, membersihkan penutup sumur dan membersihkan ventilasi. Mereka baru sempat menyiapkan sarapan, kala anak-anak kampung itu akan segera berangkat ke sekolah. Naas, memang. hujan debu itu tidak hanya membuat penduduk kerepotan, melainkan juga membuat anak-anak telat makan.

 

Tuhan memang welas asih, titipkan ibu bumi nan megah

Tetapi tuan besar & juragan serakah, buat si mungil tersisih.”

 

Bu Martini dengan anak semata wayangnya, Si Totok yang sakit-sakitan berbeda dengan keluarga lainnya di kampung itu tidak bisa melakukan pembagian tugas dalam membersihkan rumah. Kediaman mereka hanya berjarak tiga ratus meter dari pabrik debu itu. Tidak hanya butiran-butiran hitam yang menghujani rumahnya. Seringkali nyanyian deru mesin-mesin di pabrik debu sering menemani Bu Martini dan Totok. Bu Martini harus membersihkan rumahnya seorang diri. Seluruh kegiatan rumah tangga dan mencari nafkah harus dikerjakannya sendiri.

Totok yang berumur dua belas tahun itu hanya bisa terbaring di dipannya. Dia adalah korban langsung dari hujan butiran hitam itu. Dia jatuh sakit dengan gejala batuk-batuk dan sesak napas semenjak kehadiran pabrik debu. Ibunya tak punya biaya untuk membawanya ke rumah sakit dengan fasilitas yang memadai. Totok sempat dibawa ke puskesmas saat awal-awal jatuh sakit. Ternyata, obat-obatan dari puskesmas belum bisa menyembuhkannya. Dokter puskesmas menyarankan kepada Bu Martini untuk membawa Totok ke rumah sakit di kota. Dokter puskesmas khawatir kondisi Totok bisa bertambah parah, jika tidak segera mendapat penanganan medis yang lebih baik.

Bu Martini memilih pilihan lain sesuai kemampuannya. Si Totok sempat dibawa ke pengobatan alternatif di pinggir kampung. Berbagai herbal sempat diberikan setidaknya untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan Totok. Kerabat Bu Martini di kota sempat menawarkan meminjamkan uang untuk segera mengobati Totok. Namun, Bu Martini tidak mau menambah beban hidupnya dengan berhutang. Meskipun, pinjaman itu datang dari kerabatnya sendiri. Selayaknya orang kampung, Bu Martini merasa malu apabila menjadi beban tanggungan bagi orang lain. Bu Martini memilih merawat Totok sendiri dengan membeli obat dari puskesmas dengan harga terjangkau. Sembari terkadang membeli herbal di tempat pengobatan alternatif.

Bu Martini tidak berani menyalahkan keberadaan pabrik debu yang membuat jatuh sakit anak kesayangannya. Bu Martini terus berdoa memohon kepada Tuhan untuk kesembuhan putranya dan meminta bencana debu itu segera berakhir. Bu Martini hanya dapat pasrah dengan setiap pagi dan sore membersihkan butiran-butiran hitam yang ada di rumahnya. Semua itu dilakukan untuk memastikan sakit Totok tidak bertambah parah. Pagi itu sembari membersihkan kamar Totok, Bu Martini memberikan semangat untuk kesembuhan anaknya.

“Tok, bangun sebentar ini diminum tehnya biar agak mendingan,” kata Bu Martini sembari memberikan teh hangat pada putranya.

“Iiiiiii….. ya, Bu, terima kasih, Totok minum dulu ya,” timpal Totok

“Habis ini sarapan, jangan lupa diminum obat dari Pak Dokter, supaya kamu cepat sembuh,” nasihat Bu Martini kepada putranya.

“Baik, Bu, semoga sakit Totok segera sembuh, biar bisa bantu Ibu lagi,” Totok menganggukkan kepala.

 

Totok memakan makanannya dengan lahap. Sayur lodeh dan tempe penyet adalah makanan kesukaannya di kala pagi. Bu Martini sengaja memberikan makanan sesuai keinginan Totok, agar dia tidak terlalu terpikirkan dengan sakit yang dideritanya. Totok memasukkan sesuap nasi dengan pelan-pelan ke mulutnya. Kala sarapan tidak sengaja, dia teringat dengan kondisinya saat masih sehat dan bisa bermain dengan teman-temannya. Air mata menjadi keluar dari matanya. Totok langsung mengusap air matanya, supaya ibunya tidak tahu. Totok tidak ingin melihat ibunya melihat dia menangis. Totok ingin selalu tersenyum di depan ibunya yang dengan kasih sayang telah merawatnya sejak kecil.

Totok terbayang dengan masa lalunya yang bisa leluasa beraktivitas. Dia mengingat-ingat kondisi kampungnya yang asri, hijau dan tidak ada kerepotan masyarakat setiap pagi untuk membersihkan rumahnya. Dia teringat kicau-kicau burung biasa menemaninya saat berangkat ke sekolah bersama teman-temannya. Totok bersama teman-temannya dulu biasa bermain di lahan sawah tempat Pak Bandempo. Di sana dahulu, mereka biasa mencari belut dari siang sampai menjelang sholat ashar. Setelah sholat ashar, biasanya mereka akan bersama-sama membakar belut di pematang sawah Pak Bandempo. Biasanya Pak Bandempo selepas mencari rumput untuk pakan ternaknya akan bergabung menikmati hasil buruan belut itu. Para petani juga tak jarang nimbrung ikut menikmati hasil buruan anak-anak. Tua-muda bercengkrama tanpa memperhatikan jarak usia, saling bercerita kesana kemari.

Totok tidak pernah lupa kalau Pak Bandempo pernah menceritakan pengalaman uniknya saat menikmati belut bakar. Pak Bandempo bercerita kalau beliau pernah mencari ikan di pulau seberang kampung mereka. Kebetulan laut depan kampung mereka adalah lalu lintas bagi kapal yang membawa emas hitam. Emas hitam itu sendiri dikirimkan ke kampung seberang yang dekat dengan pelabuhan utama. Kala mencari ikan di pulau seberang kampung, Pak Bandempo bukannya mendapatkan hasil tangkapan yang diinginkan. Pak Bandempo justru mendapatkan bongkahan kecil emas hitam di jaringnya. Setelah mendapatkan bongkahan emas hitam itu, Pak Bandempo segera kembali ke kampungnya dan menceritakan kepada tetangga dan kerabatnya. Pak Bandempo baru menceritakan kepada anak-anak termasuk Totok, setelah mereka sering membakar belut bersama.

Totok mengingat-ingat dia dan teman-temannya tidak bisa lagi mencari belut di sawah Pak Bandempo setelah adanya kabar dari tuan besar dari Jakarta. Waktu itu penduduk kampung dibuat heboh. Warga kebingungan harus sumringah atau cemas dengan berita dari tuan besar itu. Tuan besar melalui bawahannya menyampaikan kepada penduduk kampung mengenai rencana pembangunan tempat produksi setrum di wilayahnya. Tuan besar menjanjikan kehidupan penduduk kampung akan lebih baik, apabila menyetujui pembangunan tempat produksi setrum di wilayahnya. Tuan besar menentukan lahan tak jauh dari rumah Totok sebagai lokasi pembangunan tempat produksi setrum.

Janji-janji kesejahteraan didengungkan,

saat itu pula kemanusiaan dipermainkan.”

 

Sawah Pak Bandempo menjadi salah satu lahan yang akan digunakan untuk pembangunan tempat produksi setrum. Awalnya Pak Bandempo tidak mau menjual sawahnya. Akan tetapi, setelah adanya dorongan dari keluarga dan tekanan berbagai pihak lahan itu dilepas. Totok dan teman-temannya menjadi tidak dapat mencari belut dan membakar hasil buruannya bersama lagi. Totok dan teman-temannya telah kehilangan tempat bermain. Rumah dan pekarangan keluarga Totok sendiri sempat ditawar oleh bawahan tuan besar, tetapi Bu Martini tidak mau melepasnya. Rumah peninggalan suaminya itu penuh kenangan. Rumah dan pekarangan itu juga dipertahankan untuk masa depan Totok. Teringat masa awal keberadaan masa awal keberadaan tempat produksi setrum membuat Totok yang masih kecil ingin menanyakan banyak hal pada ibunya.

“Bu, kehidupan di kampung ini berubah ya, semenjak keberadaan bangunan itu,” Totok penasaran.

“Memang, betul, Tok, tempat itu yang buat repot orang sini tiap pagi dan sore harus bersihin rumah….. jaga sumur biar enggak kena butiran-butiran hitam itu.”

“Padahal, dulu Totok ama teman-teman bisa nikmati kicau burung sama main di sawah, semenjak ada tempat itu aku jadi batuk-batuk gini. Apa ini cobaan dari Allah ya, Bu?” Totok semakin bersedih.

“Sudah……. sudah, Tok, inyallah kamu segera sembuh. Bisa sekolah sama main dengan teman-temanmu lagi. Jangan cemas, biar kondisimu membaik. Kita rakyat kecil cuma bisa berusaha dan berdoa seperti ini, Tok. Yang sabar ya, anakku,” Bu Martini pun melepaskan sapunya dan memeluk anaknya.

 

Suasana pagi di rumah itu menjadi penuh keharuan. Bu Martini menjadi mengeluarkan peluh dari matanya, namun segera dilapnya. Bu Martini berusaha menenangkan anaknya dan mendoakannya, agar cepat sembuh. Bu Martini segera keluar dari kamar Totok. Raut wajahnya menjadi semakin sedih. Bu Martini memang prihatin dengan kondisi putranya yang tak kunjung membaik. Sakit yang dideritanya semenjak kemunculan hujan butiran hitam itu memang telah mengubah kegembiraan di dalam keluarga kecil itu. Bu Martini bersedih sembari melanjutkan menyapu ruang tamu.

 

Tak sengaja saat menyapu, Bu Martini menemukan undangan sosialisasi pembangunan pabrik debu di bawah lemari. Butiran hitam yang ada di kertas itu ditiupnya. Bu Martini membaca lagi kertas itu. Bu Martini menjadi bertambah sedih setelah memelototi undangan itu. Bu Martini duduk di kursi dan kembali ke masa lalu. Bu Martini terketuk hatinya saat ingat bawahan tuan besar mendatangi rumahnya beberapa tahun lalu. Berbagai hal-hal indah keluar dari mulut bawahan tuan besar.

Saat itu, Bu Martini sebagai orang kecil hanya bisa melongo tak mengerti maksud yang mereka sampaikan. Bawahan tuan besar berceloteh kesana kemari dengan menyodorkan gambar-gambar yang sepertinya rencana pendirian tempat produksi setrum itu. Bawahan tuan besar berjanji memberikan uang yang layak untuk kehidupan Bu Martini, apabila mau menyerahkan rumah dan pekarangannya. Bu Martini saat itu tetap kukuh untuk mempertahankan harta peninggalan suaminya. Bawahan tuan besar sempat mengancam dengan menceritakan akibat-akibat yang harus ditanggung oleh Bu Martini sendiri, bilamana tidak mau menyerahkan lahannya. Bawahan tuan besar berdalih bahwa mereka tidak dapat disalahkan, apabila di kemudian hari terjadi hal-hal yang kurang baik.

Bu Martini yang mengingat kejadian beberapa tahun lalu jadi semakin tersentuh, kala memikirkan pertanyaan Totok di kamarnya. Bu Martini menjadi menangis tersedu-sedu di ruang tamu. Bu Martini berpikir bahwa ancaman bawahan tuan besar beberapa tahun lalu telah menimpa keluarganya saat ini. Meskipun, penduduk kampung itu sebenarnya tidak pernah diceritakan dampak lingkungan yang muncul dari operasional tempat produksi setrum. Penduduk kampung menjadi menyebut tempat itu sebagai pabrik debu semenjak hadirnya hujan butiran hitam. Bu Martini menjadi bingung dengan kondisi yang menimpanya bersama penduduk kampung. Akan tetapi, Bu Martini tidak dapat berbuat banyak.

Bu Martini menyadari kalau kampungnya telah banyak berubah semenjak adanya bencana ini. Bu Martini kemudian terbangun dari tangisannya dan kembali melanjutkan menyapu halaman rumahnya. Baginya sebagai rakyat kecil yang sudah susah, tidak dapat punya banyak waktu untuk terus meratapi masalah hidupnya. Mau bagaimana lagi, mereka yang punya kelebihan dan seharusnya memikirkan nasib orang kecil seperti Bu Martini justru membuat susah nasib penduduk kampung itu. Tuan besar dan para juragan mana pernah tahu dan memikirkan cerita nestapa orang kecil di bawah yang terlunta-lunta.

Jika nasi telah menjadi bubur,

beginilah nasib orang kecil tak pernah mujur.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *