Cerpen #13: “Gaia”

Aku tidak pernah melihat hamparan pasir putih seluas ini, menyapa telapak kakiku, terasa empuk dan lembab, angin bertiup kencang menyibak rambutku yang sebahu. Sesekali suara makhluk entah apa, beterbangan mengitari air laut yang arusnya mengarah ke darat, membasahi kakiku, diiringi suara air yang entah demikian ajaib, membuatku merasakan ketenangan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Aku seketika teringat pada pelajaran di akademi, saat usiaku masih remaja. Bumi pernah seperti ini, langit biru, awan putih yang berarakan seolah membentuk lukisan beraneka wujud, dengan bentang alam yang tidak beraturan, dipenuhi aneka warna tanaman serta makhluk hidup yang kini telah punah.

“Kini kamu percaya?” suara itu mengejutkanku.

Pemandangan surgawi yang baru saja aku rasakan, mendadak hilang, berganti menjadi panggung logam berwarna perak, tepat di tengah deretan komputer dan peneliti yang sibuk dengan tugas mereka, di laboratorium ini.

“Bagaimana kamu bisa menemukan montase ini, Ben?” tanyaku kepada sosok pria bernama Ben di dekatku.

Ia merapikan letak kacamatanya, tersenyum lalu mengajakku turun dari panggung dan melangkah keluar dari laboratorium.

“Aku ingin kamu jadi orang pertama yang tahu, Re,” jawabnya dengan antusias.

“Aku tidak paham maksud kamu apa, Ben? Kita mau ke mana?”

Ben menggandeng lenganku, berjalan melewati lorong panjang, mengabaikan setiap ruangan penting dalam penelitian besar yang kami lakukan setidaknya hampir lima tahun terakhir, sesuatu yang dianggap sia-sia dan mungkin segera ditutup oleh pemerintah karena dianggap hanya buang-buang anggaran.

Kami masuk ke dalam lift, dan aku memperhatikan Ben menekan tombol lantai SL1; area Special Level 1, dengan akses terbatas yang harusnya hanya bisa dibuka dengan otorisasi pejabat selevel Menteri. Firasatku berkata, Ben menemukan sesuatu yang luar biasa.

“Sekarang kamu punya akses super ke lantai itu, wow!” komentarku dibalasnya dengan tertawa cekikikan.

“Untuk pertama kalinya, Re, semua kerja keras kita tidak sia-sia. Penjelajah lapangan berhasil menemukan subjek kunci yang dapat memberikan titik terang penelitian menyelamatkan Bumi kita!” kata Ben dengan mata berkaca-kaca.

Aku tidak terlalu antusias menyimak perkataan Ben. Menyelamatkan Bumi? Aku tertawa geli. Setelah semua kerusakan selama seratus tahun terakhir, tiba-tiba ibaratnya mesin, ada tombol reset yang bisa mengembalikan semuanya kembali ke awal? Kenapa baru sekarang?

“Kamu tidak senang dengan kabar ini, Re?” pertanyaan Ben membuyarkan pikiranku.

“Tidakkah menurutmu, Bumi yang sekarat saat ini merupakan hukuman yang layak kita terima karena keserakahan dan keegoisan kita semua, Ben?”

Kami sama-sama menatap dunia dari balik dinding kaca lift ini, dari ketinggian, hanya ada asap tebal berwarna hitam dan abu-abu tua, aneka gedung tinggi dan pabrik serta pusat komersil saling berdekatan, langit tampak merah seolah bercucuran darah, kendaraan memadati jalanan, hiruk pikuk pejalan kaki yang padat merayap seperti semut, aneka layar raksasa yang menayangkan iklan memenuhi hampir setiap sudut dinding dan jalan, semakin tinggi, kami bisa melihat pemandangan ironis; deretan bukit tandus, sampah yang menggunung, serta laut yang berwarna hitam pekat.

“Tidakkah kita berhak untuk menyisakan sedikit harapan, Re? Kita ingin Bumi kembali seperti yang dulu,” kata Ben kepadaku.

“Jejak karbon di Bumi sudah melampaui ambang batas kewajaran, Ben, tanpa kehadiran pohon yang menjadi fungsi paru-paru dunia, kita hanya masih beruntung karena teknologi  memungkinkan oksigen buatan, kloning untuk memperpanjang usia rata-rata kita yang kini hanya sampai sekitar tiga puluhan, mereka yang cukup kaya dapat pergi ke Bulan dan tinggal di fasilitas mewah, sementara kita semua di Bumi? Hanya menunggu waktu, Ben,”

“Waktu apa, Re? Kiamat? Itu yang sekarang kamu yakini? Kamu adalah salah satu peneliti andalan di sini, lho! Mana semangat kamu yang dulu?”

Aku menekan beberapa tombol di jam tangan yang kukenakan, menampilkan sederet data medis dalam bentuk hologram, yang kuperlihatkan kepada Ben. Raut wajahnya berubah.

“Aku hamil anak kita, Ben. Tapi tim medis juga menekankan bahwa usiaku memasuki masa kritis di rentang usia pendek kita, sebentar lagi mencapai kepala tiga, dalam hitungan seminggu dari sekarang. Aku bisa saja bermohon proses kloning, dan memindahkan kandungan ini ke tabung persalinan dengan teknologi terbaik kita, tapi bukan itu yang aku inginkan untuk dia, Ben…” kataku sambil mengelus perutku di hadapan Ben.

Ben memeluk tubuhku erat. Tanganku perlahan membalas pelukan itu, rapat di punggungnya, sesekali mengelus, mencoba menenangkan perasaannya.

“Kamu belum bilang temuan apa yang jadi kejutan dari penelitian ini, Ben,” kataku sambil mencoba mengalihkan percakapan kami kembali ke urusan pekerjaan.

“Kamu tidak ingin membahas tentang kita, Re? Setelah tahu kondisimu, aku tidak lagi berpikir ini perlu,” kata Ben dengan tatapan sendu.

“Kita masih bertemu setiap hari dan bekerja di tempat yang sama, bahkan tidur di ranjang yang sama, kan? Ada banyak waktu untuk membahas tentang kita,” kataku sambil melayangkan kecupan di pipinya, yang sejenak membuatnya tersenyum.

“Penjelajah kita, berhasil menemukan salah satu subjek kunci dalam penelitian ini. Persisnya di tepian sungai Chuya dan Katun yang kini kering, melintasi perbatasan Rusia dan Mongolia, mereka menemukan manusia terakhir di Bumi yang hidup dan berusia 90 tahun!”

Perkataan Ben bergema di telingaku.

“Ini berarti…” perkataanku segera disela oleh Ben.

“Kita dapat mengekstraksi pengetahuan dia tentang masa lalu Bumi sebelum buruk seperti sekarang dan DNA dia dapat mengakhiri siklus hidup pendek manusia! Ada harapan untuk Bumi, Re!”

“Dia masih hidup dan sehat?” pertanyaanku tiba-tiba disela oleh suara pintu lift yang membuka di ruangan SL 1.

“Kenapa tidak kamu tanyakan sendiri, Re,” kata Ben sambil menggenggam jemariku dan mengajakku melangkah bersama, masuk ke ruangan itu.

*

Hologram di ruangan itu menampilkan gambar sebuah lukisan, seorang wanita telanjang yang berbalut kain, melayang di langit, menatap ke bawah, pada seorang anak kecil bersayap yang setia mengikutinya. Seolah ada ikatan batin di antara mereka, selayaknya seorang ibu dan anak, dunia berada di bawah telapak kaki si wanita, bergolak dengan aneka warna dan perubahan.

“Orang-orang menyebutnya Gaia atau ibu pertiwi. Mitologi Yunani menganggapnya sebagai perwujudan Bumi. Lukisan indah ini dibuat oleh Anselm Feuerbach asal Jerman di tahun 1875,” kata wanita tua itu kepada Rere.

Ben bersandar di dinding, tepat di pojok belakang Rere, tersenyum menyimak percakapan mereka. Ia begitu senang karena Rere seperti mulai menemukan kembali semangat dan harapannya.

Wanita tua itu, rambutnya telah memutih, duduk tenang di kursi rodanya, dengan wajah yang keriput, bola mata kirinya memutih akibat katarak, dan ia bisa tetap tersenyum, memandang Rere, yang masih tidak percaya, melihat langsung manusia yang mampu hidup sampai di usia tersebut, dan menyentuh wajahnya, jemarinya menelusuri setiap lekuk garis keriput dengan seksama.

“Aku kadang bermimpi bisa beranjak tua seperti anda,” kata Rere.

“Kamu yakin ingin hidup selama saya? Menyaksikan pahitnya kerusakan Bumi, kematian demi kematian, lantas hilangnya semua tradisi lama yang kini tinggal cerita, dan terdengar lebih seperti dongeng yang tidak masuk akal?”

“Tapi masa lalu itu yang membentuk kita semua, umat manusia,” bela Rere.

“Perbuatan manusia di masa lalu juga yang menyebabkan Bumi yang kita huni sekarang jadi sekarat, kan? Kemana langit biru, laut, hewan dan pepohonan, warna warni dunia yang sekarang tergantikan dengan cerobong asap pabrik modern, robot, teknologi dan kendaraan yang semakin masif serta padat, kloning manusia yang dianggap lebih baik daripada proses kehidupan alami sejatinya. Apa definisi manusia di zaman sekarang?”

Rere tertunduk sejenak, merenungkan perkataan si wanita tua.

“Andai saja, manusia bisa melupakan keserakahan mereka, dan lebih memikirkan masa depan Bumi dan generasi penerusnya kelak, kita mungkin tidak akan seperti ini,” lanjut si wanita tua.

Rere duduk tepat berhadapan dengan si wanita tua, tangan mereka sama-sama bersandar di atas meja, dan hologram lukisan itu perlahan pudar, menyisakan ruang yang luas untuk mereka saling bertatapan.

“Bagaimana anda bertahan hidup selama ini? Apakah ada jejak keluarga atau lainnya?” tanya Rere.

“Saya tidak menyia-nyiakan makanan. Sesederhana itu. Saya makan seperlunya, sisa makanan saya berikan ke ternak di rumah, ada juga yang saya olah kembali jadi pupuk kompos dan membantu menyuburkan tanah di pekarangan rumah saya. Ah saya baru teringat, ingin menunjukkan ini ke kamu…” wanita tua itu memperlihatkan satu pot kecil berisi tanaman dengan beberapa ruas tangkai yang menjulang sekitar sepuluh senti dengan dedaunan hijau berbentuk menyirip setidaknya sepanjang enam hingga tujuh senti.

“Zingiber officinale atau rimpang jahe! Tanaman ini seharusnya sudah punah sekitar enam puluh tahun lalu! Aku tidak percaya bisa melihatnya langsung!” kata Rere dengan mata berkaca-kaca dan menoleh ke arah Ben, yang balas tersenyum.

“Ini varian jahe merah, yang konon memiliki kandungan minyak atsiri tinggi dan rasa paling pedas, dahulu dianggap sebagai salah satu bahan berkhasiat di industri farmasi dan jamu.” Kata si wanita tua.

“Seratus tahun terakhir, Bumi telah dilanda aneka perubahan cuaca ekstrim, kemarau berkepanjangan, badai, banjir, bencana alam, krisis kekurangan makanan, krisis air bersih, perpindahan penduduk secara massal, konflik perang dan politik yang mengorbankan banyak jiwa, pembangunan industri besar-besaran dengan mengeksploitasi alam, penebangan liar di mana-mana, pencemaran di mana-mana… hanya dalam waktu seratus tahun, siklus hidup manusia menjadi lebih pendek sampai di usia tiga puluh, makanan yang kami konsumsi untuk bertahan hidup, semua berbentuk artifisial alias buatan kecanggihan teknologi dan rekayasa protein. Apa yang anda perlihatkan di depanku ini, kelak dapat mengubah segalanya!” kata Rere sambil menggenggam jemari si wanita tua.

“Saya ingin sekali membantu niat baik kalian, tapi waktuku tidak banyak,..” kata wanita tua itu melepaskan genggaman Rere.

Ben bergegas duduk di samping Rere dan berusaha menengahi percakapan mereka.

“Nyonya Rosa ini, Re, mengidap tumor di otaknya. Ia masih bisa hidup dan bercerita dengan kita semua di sini dengan kondisi sesehat ini, sungguh merupakan suatu keajaiban. Tapi tumor itu telah begitu ganas, dan sewaktu-waktu dapat menghentikan aliran darah ke otak dan jantungnya, dan…kira-kira seperti itu. Ia setuju dibawa ke tempat ini dengan satu permintaan, ketika mati, ia ingin abu jenazahnya diletakkan tepat di samping putra kesayangannya yang telah meninggal lebih dahulu, sepuluh tahun yang lalu.”

“Saya bersedia kalian ambil darah, DNA, ataupun menyerap informasi apa saja yang kalian butuhkan dari saya, untuk penelitian ini, karena saya percaya, masih ada harapan untuk Bumi kembali seperti dulu,” kata Nyonya Rosa.

“Anda sama sekali tidak punya kerabat di sini?” tanya Rere.

“Sebenarnya ada, tapi saya khawatir, ia bahkan tidak bisa mengingat saya. Putri saya telah meninggal beberapa tahun lalu, dan ia memutuskan untuk mengikuti program kloning, semua hanya agar ia dapat meneruskan pekerjaannya yang sangat penting untuknya.” jawab Nyonya Rosa.

“Anda bahkan tidak mencoba menemukannya dan mengucapkan selamat jalan selagi sempat?” tanya Rere.

“Mereka yang telah dikloning, biasanya akan kehilangan satu atau sebagian ingatan ia ketika masih menjadi dirinya yang pertama. Yang saya tahu, ia cantik seperti kamu, dan anak di kandungannya juga pasti akan mewarisi kecerdasan serta keberaniannya,” kata Nyonya Rosa sambil menyentuh perut Rere, meninggalkan perasaan canggung di antara mereka.

“Terima kasih atas waktu dan kesediaannya membantu penelitian kami, Nyonya Rosa,” kata Rere berpamitan dari ruangan itu.

“Terima kasih sudah mendengarkan, Rere,” kata Nyonya Rosa.

Ben menemani langkah Rere meninggalkan ruangan tersebut, masuk kembali ke dalam lift. Mereka hening sejenak, seolah kehilangan kata-kata satu sama lain.

“Nyonya Rosa juga bersedia memberikan semua bibit tanaman dan rahasia hidup sehat yang dilakukannya selama lebih dari setengah abad. Jika bukan karena udara dan air yang kotor serta makanan artifisial kita, ia mungkin tidak pernah harus berhadapan dengan tumor di kepalanya itu,” kata Ben kepada Rere.

“Aku seperti pernah mengenalnya, Ben,” perkataan Rere membuat Ben terdiam.

Rere menatap Ben dengan mata berkaca-kaca.

“Tapi aku tidak tahu dia siapa, hanya saja terasa seolah dia bukan orang yang asing sama sekali,” kata Rere berlinang air mata.

Ben memeluk Rere, menenangkannya.

“Kamu hanya baru mendengar satu cerita sedih, Re, jangan larut di situ. Nanti berdampak ke bayi kita. Sekarang kamu fokus pada finalisasi penelitian ini. Jika DNA si Nyonya Rosa berhasil kita ekstrak ke perimeter serum yang kita buat, siklus pendek usia hidup manusia dapat kita rekayasa kembali menjadi sama dengan rentang usia Nyonya Rosa. Kamu masih punya harapan begitu pula bayi kita nanti, Re,” kata Ben.

“Aku ingin percaya, Ben, kalau Bumi bisa kembali seperti dulu. Meski itu terasa mustahil dengan kondisi kita sekarang, Aku ingin percaya,” kata Rere sambil mendekap erat Ben di pelukannya, menyingkap tato deretan garis batang tebal dan tipis berwarna hitam yang melekat di telapak tangannya, dengan tulisan kecil: Clon_132ex.

 

Palu, 11 Oktober 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *