Cerpen #10: “Efek Abrasi yang Menyulitkan Keluargaku”

Pagi ini matahari sudah terlihat di ufuk timur. Sapuan cahaya lembutnya langsung mengenai wajahku saat aku membuka tirai jendela dikamarku. Aku melirik kearah jam dinding kamarku, ternyata sudah jam 7 pagi. Terkadang aku mendengar suara ayam berkokok dari kejauhan, suaranya samar namun terdengar sampai ke telingaku. Aku keluar dari kamarku untuk menyapa ibu dan ayah yang sudah bercakap-cakap di meja makan.

“Audy, ayo makan sini! Ibu sudah buatkan nasi goreng.” Ibu menatapku lembut sambil membuka tudung saji yang terdapat banyak makanan disana. Aku dengan cepat langsung duduk di bangku sebelah ayah yang sedang asik memakan sarapannya.

“Apa kamu tau Rasya mau pindah ke kota?” Ibu melihat kearahku, aku melihat kearah ibu dan ayah secara bergantian lalu terdiam sejenak.

“Rasya? Bukankah pantai bagian selatan sedang naik daun sekarang? Kenapa mereka memutuskan untuk pindah?” Tanyaku penasaran. Aku melihat raut muka ayah berubah menjadi sedih dan prihatin. Aku tau raut muka itu. Itu adalah raut muka yang sama yang ditunjukkan ayah dulu saat kami memutuskan untuk pindah ke kota 1,5 tahun yang lalu saat aku masih kelas 3 SMP.

“Mereka tidak bisa melanjutkan bisnis mereka disana. Jadi, kemaren malam pak Edi menelpon ayah dan ibu untuk memberitahu mereka akan pindah ke kota. Mereka juga minta tolong ayah dan ibu untuk dicarikan rumah kontrakan sementara waktu disini.” Ibu menutup tudung saji dan meraih piring-piring kotor dan menaruhnya di wastafel untuk dicuci.

“Rumah mereka bagaimana, bu?”

“Rumah mereka tidak diapa-apa kan. Dibiarkan begitu saja disana. Kemungkinan besar mereka tidak akan balik ke sana lagi, Audy.” Kali ini ayah yang menimpali. Tidak ada nada bercanda di kalimat ayah dan ibu tadi. Sepertinya Rasya dan keluarganya akan menetap juga di kota sama seperti aku dan keluargaku.

Setelah sarapan, aku bergegas mandi dan berangkat sekolah. Kebetulan SMA ku tidak terlalu jauh dari rumah. Hanya butuh waktu 12 menit berjalan kaki untuk sampai kesekolahku. Disepanjang perjalan ke sekolah, aku masih memikirkan kepindahan Rasya dan keluarganya. Perasaanku campur aduk saat ini. Disatu sisi, aku senang bisa ketemu Rasya, pak Edi dan bu Tia lagi, namun disisi lain aku sedih mereka kehilangan banyak hal seperti kami dulu. Pekerjaan, mata pencaharian dan rumah. Jika mereka ke kota, mereka akan memulai semua dari awal lagi.

Aku masih ingat saat itu, dimana daerah pantai daerah selatan sangat ramai akan wisatawan dan pendapatan penduduk sekitar sangat tinggi kala itu, apalagi saat penhujung hari dan hari libur nasional. Pasti akan banyak pengunjung yang datang untuk rekreasi bersama keluarga, kerabat dan teman-teman mereka. Aku masih ingat saat dimana aku kewalahan untuk membantu ibu dan ayah menerima tamu dan melayani mereka di rumah makan yang sudah ada sebelum aku lahir. Ayah adalah seorang nelayan sekaligus pemilik rumah makan kami di pantai itu, sedangkan ibu menjadi juru masak dan aku sesekali membantu menjadi kasir atau sekedar mengangkat piring kotor kebelakang dan membersihkan meja untuk tamu yang akan datang.

Keluarga Rasya memiliki tempat penginapan yang ramai dan jarang sekali sepi. Tempat penginapan keluarga Rasya berada sekitar 15 meter dari rumah makan kami, diantara rumah makan dan penginapan terdapat taman bermain dan disana tempat aku dan Rasya sering menghabiskan waktu sore bersama saat tidak ada pengunjung.

“Audy, ayo kita main bola!” Rasya menarik tanganku berlari kearah taman bermain disana. Pasir pantai yang halus menutupi kaki kami yang bertelanjang kaki.

Saat kami sedang asik bermain bola, aku mendengar suara salah satu penduduk disana yang berbicara dengan nada marah. Kami pun berhenti memainkan bola dan melihat kearah ujung pantai dengan rumah penginapan keluarga Rasya.

“Bapak terlalu tamak! Semua itu akibat bapak mengizinkan pemerintah daerah untuk memotong bakau dan menjadikannya pelabuhan. Apa bapak tidak tau dampak yang sudah terjadi?” Salah satu penduduk pantai dengan baju putih lengan pendek dengan balutan sarung dipinggangnya terlihat marah dan air mukanya seram.

“Bapak tenang dulu! Kita bisa bicarakan baik-baik!”

Terlihat salah satu penduduk yang mengenakan pakaian bewarna hijau mencoba untuk menenangkan.

“Bagaimana saya bisa tenang? Mereka asik menikmati uang sedangkan penduduk disini berpotensi untuk gulung tikar! Terlebih lagi rumah-rumah disini bisa-bisa hancur terkena sapuan ombak yang semakin tinggi.” Nada suara penduduk berbaju putih itu mulai meninggi oktaf demi oktaf, sehingga membuat penduduk yang tadinya sedang berdiam diri mulai menghampiri tempat kejadian.

Baru saja aku dan Rasya ingin mendekati kerumunan, bu Tia, ibunya Rasya, menarik kami berdua untuk pulang kerumah. Kami dilarang untuk ketempat itu, katanya itu urusan orang dewasa dan anak kecil seperti kami tidak diperbolehkan untuk ikut-ikutan. Dengan enggan kami pun menuruti bu Tia untuk pulang. Sesaat sebelum aku masuk rumah, aku melihat ada mobil bewarna putih yang sangat cantik datang dan dibelakannga terdapat mobil yang terdapat orang-orang dengan seragam yang keren berhenti didepan kerumunan penduduk yang sedang emosi tadi.

Dua minggu setelah kejadian itu, aku melihat dari kejauhan bapak penduduk berpakaian baju putih waktu itu dan beberapa penduduk lainnya pergi membawa tas yang sangat banyak. Mereka menaiki sebuah bus yang tidak terlalu besar. Aku yang penasaran pun mulai bertanya kepada ibu yang sedang menjemur ikan asin di depan rumah.

“Ibu, kenapa banyak yang naik bus? Kenapa banyak sekali barang bawaan mereka?” Aku pun melihat air muka ibu yang sedikit gelisah.

“Sepertinya mereka mau pindah ke kota.”

Hanya itu jawaban ibu kepadaku. Sebenarnya, banyak hal yang masih ingin ku tanyakan. Kenapa mereka ke kota? Waktu itu, kenapa mereka marah-marah? Mobil putih cantik punya siapa itu? Kenapa banyak orang berseragam yang datang ke sini? Apakah ini pertanda baik atau pertanda buruk? Namun, kuurungkan semua itu. Aku hanya diam dan kembali menatap kepergian bus yang membawa beberapa penduduk dan bapak berbaju putih waktu itu. Semoga mereka sampai tujuan dengan selamat.

Aku sedikit menundukkan kepalaku dan tersenyum kepada salah satu guru saat aku sampai didepan pintu sekolah. Dengan cepat aku berjalan kearah kelasku dan bel segera berbunyi. Beberapa menit kemudian, wali kelasku datang dan memperkenalkan seorang siswa baru yang baru pindah ke kota. Aku langsung mengenali siswa itu dengan cepat, anak baru itu adalah Rasya. Setelah Rasya memperkenalkan dirinya, dia dipersilahkan duduk di bangku nomor dua dari depan bersama dengan Reza. Pada saat jam istirahat aku langsung menghampiri Rasya yang juga sangat senang bisa bertemu lagi denganku setelah 1,5 tahun berpisah.

“Bagaimana kabar ibu dan ayah kamu, Audy?”

“Alhamdulillah baik. Oiya, bukannya kamu baru pindah ke kota besok?”

“Ayah menyuruhku untuk datang lebih cepat dan kebetulan pak Heri juga pindah ke daerah sini jadinya aku bareng sama pak Heri tiga hari lalu. Aku didaftarkan kesekolah ini juga dengan bantuan pak Heri karena ayah dan ibu masih akan ke kota tiga hari kemudian.” Rasya tersenyum kecil sambil sesekali memakan batagor yang ada di tangannya.

“Pak Heru pindah juga?” Aku tidak percaya orang yang sudah hampir 20 tahun tinggal didaerah sana juga ikut pindah ke kota.

“Iya, hampir semua penduduk pantai pindah ke kota. Bahkan ada yang keluar kota ini. Abrasi dipantai sangat mengkhawatirkan. Apa kamu tau? Bahkan hampir setengah dari pohon bakau disana sudah tumbang dan tidak terawatt lagi. Air laut sudah mulai meninggi dan wilayah pantai semakin lama semakin mengecil. Banyak rumah penduduk yang menjadi dampaknya.”

“Sayang sekali.” Aku prihatin setelah mendengar hal itu.

Aku kembali mengingat masa lalu, masa dimana keluarganya menjadi salah satu yang terkena dampak abrasi di pantai. Abrasi ini terjadi karena erosi pantai yang membuat ombak secara terus-menerus menerjang sehingga mengikis pinggiran pantai, karena hal ini rumah makan kami terkena dampaknya. Ayah kehilangan mata pencahariannya dan ibu harus mengutang kepada tetangga untuk bisa makan dan membayar uang sekolahku. Ayah sudah berusaha untuk meminta pekerjaan kepada penduduk sekitar, namun karena saat itu adalah masa-masa sulit yang berdampak kepada penduduk sekitar juga, ayah hanya mendapat upah yang sedikit sekali. Itupun tidak cukup untuk makan seminggu, mungkin hanya bisa beberapa hari saja.

Satu bulan kemudian, saat aku lulus SMP, ayah dan ibu memutuskan untuk pindah ke kota untuk mencari pekerjaan baru dan berkeinginan untuk menetap disana. Melihat tidak adanya potensi untuk bertahan hidup di pantai, selain itu karena lambatnya penanganan masalah abrasi maupun erosi dari pemerintah daerah ayah dengan mandiri bangkit dan melangkahkan kaki untuk melewati keterpurukan. Ayah dan ibu mulai mengemas barang-barang kami. Baju kami dimasukkan ke koper dan tas jinjing sedangkan barang penting lainnya dimasukkan kedalam kardus yang sudah disiapkan oleh ibu.

“Ibu, apakah kita harus pindah ke kota?” Tanya ku yang masih tidak sampai hati meninggalkan pantai yang menjadi tempat kelahiran ku.

“Iya, Audy. Kita tidak bisa terus tinggal disini. Air pantai yang dulunya tidak tersentuh sekarang sudah sampai kelutut kita. Jika saja masih tidak ada penanganan dari pemerintah maka rumah kita pasti juga akan terendam air laut.” Ibu mengelus rambutku dengan lembut dan kembali membantu ayah untuk memindahkan barang berharga lainnya.

“Ibu, kenapa pohon-pohon bakau pada tumbang? Apakah itu salah satu penyebab ayah tidak bisa lagi menangkap ikan?” Tanyaku lagi dengan begitu penasaran.

“Itu karena dari awal sudah banyak pohon bakau yang dipotong untuk membuat tempat-tempat yang mendatangkan pengunjung. Apa kamu ingat? Bapak baju putih yang kamu ceritakan dulu? Beliau sudah dari dulu mengatakan untuk tidak menebang bakau, namun pemerintah tidak mau mendengar dan hanya mementingkan keuntungan.” Ibu masih berusaha memasukkan baju-baju kami kedalam tas dan menutupnya. Aku mulai mengerti kenapa dulu bapak baju putih itu marah-marah, dan aku yakin mobil putih cantik itu pasti salah satu mobil pejabat pemerintah dan kalau aku tidak salah menebak, pasti orang-orang berseragam itu pengawal-pengawal pejabat bermobil putih cantik itu.

Ibu mulai menceritakan semua masalah yang menjadi pemicu ayah mengambil keputusan untuk pindah ke kota dan memulai hidup dari awal lagi disana. Kita tidak akan tau apa yang akan terjadi tahun-tahun kedepannya kalau saja masalah abrasi yang disebabkan oleh erosi ini tidak ditangani kedepannya. Besar kemungkinannya penduduk yang tinggal di pantai dan mencari mata pencaharian di sana akan berbondong-bondong menuju kota dan mencari pekerjaan baru disana.

Abrasi yang tidak ditangani dengan segera akan merusak tambak-tambak dan menenggelamkan pesisir pantai. Hal ini bukan saja menganggu ekosistem dan menghilangkan habibat ikan yang menjadi mata pencaharian penduduk, namun juga merusak perekonomian dan pemasukkan dari penduduk disekitarnya karena pengunjung enggan datang ke pantai yang mengalami abrasi yang berkelanjutan.

Aku dan Rasya kembali masuk kedalam kelas, kali ini ternyata guru kami mengatakan bahwa sekolah kami akan kedatangan tamu yang merupakan sebuah organisasi yang cukup terkenal. Organisasi tersebut adalah organisasi sukarelawan yang mengajak anggotanya untuk mencintai bakau dan pantai. Seketika aku langsung tertarik dan berminat untuk mendaftarkan diriku ke organisasi tersebut. Bukan hanya aku saja, Rasya dan lima temanku yang lain juga ikut mendaftarkan diri mereka. Saat tiba sesi tanya jawab, aku dengan cepat mengangkat tanganku.

“Iya, silahkan.” Kakak berjilbab coklat dan berompi hijau itu mempersilahkanku dengan ramah.

“Kak, saya ingin bertanya. Mengenai abrasi, apakah pemerintah tidak ada melakukan penanganan selama ini?” Aku menurunkan tanganku saat aku sudah melontarkan pertanyaanku. Kakak berjilbab coklat itu tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya kearah teman laki-laki disebelahnya.

“Baik, sebelumnya nama kamu siapa?” Tanya kakak berjilbab coklat itu.

“Audy.”

“Baik, Audy. Mungkin beberapa daerah pesisir pantai sudah ditangani oleh pemerintah dan penanganan yang dilakukan juga tidak mudah. Seperti adanya relokasi, namun harus kita ketahui penanganan relokasi ini tidak selalu berhasil. Karena apa? Saat dilakukan penanganan relokasi, maka yang dilakukan adalah memindah penduduk ke tempat yang lebih aman dari abrasi. Cukup bagus penanganannya, namun apakah sudah paling baik? Tentu tidak. Ada yang tau kenapa?” Kakak berjilbab coklat itu bertanya kepada kami.

Aku melihat kesekelilingku dan mendapatkan teman-temanku yang lain sepertinya tidak mengetahui alasan dibalik penanganan relokasi itu. Namun, aku melihat kearah Rasya yang berada tepat dua bangku didepanku mengangkat tangan.

“Karena kalua hanya merelokasi tempat, bisa membuat garik pantai akan semakin menjorok ke daratan. Itu sama saja mempersempit wilayah pemukiman penduduk pesisir pantai.” Jawab Rasya sesaat setelah dia menurunkan tangannya. Kakak berjilbab coklat itu menganggukkan kepalanya.

“Iya benar sekali. Selain itu, penanganan lainnya adalah adaptasi. Adaptasi ini mungkin cukup memakan banyak uang karena penduduk harus mengubah bentuk rumah mereka, misalnya seperti rumah panggung yang dibuat lebih tinggi dari kenaikan air yang disebabkan oleh abrasi. Namun, apakah hal tersebut efektif untuk menghentikan abrasi? Tentu saja tidak. Nah, apakah kalian tau penanganan apa yang paling baik untuk menangani masalah abrasi ini?”

Kakak berjilbab coklat itu kembali bertanya kepada kami dengan ramah dan berusaha menatap sekeliling kelas.

“Dengan menanam bakau?” Aku bersuara, namun tidak mengangkat tanganku. Seperti mendapat sinyal ternyata kakak itu mendengar suara ku.

“Iya benar sekali, Audy. Penanaman bakau adalah hal yang paling baik dan efektif untuk membantu menangani masalah abrasi ini. Bakau akan mengikat tanah di pantai agar tidak mudah dikikis oleh ombak.” Kali ini teman laki-laki kakak berjilbab coklat itu yang menanggapi.

Kami semua mulai memahami maksud dari organisasi ini secara keseluruhan. Organisasi ini dibentuk untuk melakukan salah satu penanganan terbaik dari masalah abrasi yang disebabkan oleh erosi di pantai. Penanaman bakau dan membuat hutan bakau adalah salah satu solusi paling efektif untuk menangani masalah kerusakan lingkungan terutama kerusakan pantai.

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku segera berjalan pulang kerumah. Dijalan aku melihat terdapat spanduk untuk menolak pembangunan ditepi pantai yang memicu terjadinya abrasi karena untuk membangun sebuah bangunan perlu mennebang pohon bakau besar-besaran. Dengan buru-buru aku berjalan cepat untuk sampai dirumah. Sesampainya dirumah aku mendengar ibu dan ayah sedang berbincang masalah spanduk yang sebelumnya aku lihat tadi. Ibu dan ayah sangat mengecam hal itu dilakukan, menebang bakau sama juga dengan menghancurkan kehidupan manusi, hewan dan juga alam.

Pada waktu makan malam, aku menceritakan keikutsertaanku pada organisasi penanaman bakau tersebut. Ibu dan ayah sangat setuju dengan keikutsertaanku, hal itu sangat baik untuk memperbaiki pantai dan dapat memperbaiki perekonomian, ekosistem dan alam untuk bumi yang lebih baik kedepannya.

“Minggu ini, Audy dan Rasya mau ikut penanaman perdana kami bu. Nanti akan ada bus yang menjemput kami di depan sekolah.”

Ibuku meraih piring kotor ayahku dan memindahkannya ke wastafel.

“Hati-hati ya, nak. Insyaallah semua kebaikan yang kita lakukan dapat menjadi berkah untuk generasi selanjutnya.”

“Benar. Audy, kalau menurut kamu ada hal-hal yang harus dilakukan untuk memperbaiki lingkungan dan bumi, lakukan saja. Itu adalah sebuah jalan untuk kesejahteraan kita kedepannya.” Ayah mengelus rambutku perlahan dan tersenyum pada ku. Aku mengangguk setuju dan bertekad untuk memperbaiki bumi dan lingkungan untuk kesejahteraan bumi 100 tahun yang akan datang. Semua hal yang baik harus kita lakukan untuk mewujudkan itu semua.

Bayangkan saja, jika saat ini tidak kita mengabaikan masalah yang terjadi seperti abrasi pantai. Apakah kita bisa membanyangkan apa yang terjadi pada bumi 100 tahun yang akan datang? Aku yakin hal-hal seperti menghilangnya pesisir pantai akan banyak terjadi, sehingga akan merusak ekosistem dan perekonomian penduduk sekitar pesisir pantai. Tentu hal seperti itu tidak ingin terjadi dan solusi yang harus kita lakukan adalah sebuah perbaikan untuk menjaga lingkungan kita.

Pada hari minggu tepatnya jam 9 pagi, aku, Rasya dan siswa yang mendaftar ke organisasi sukarelawan mulai menaiki bus yang akan membawa kami kedaerah pantai bagian timur. Kami semua mengenakan masker, topi dan juga rompi hijau yang sama seperti yang dipakai oleh kaka berjilbab coklat waktu itu. Sesampainya di pantai, kami semua turun dan duduk dibawah tenda yang sudah disediakan. Disana kami mendapatkan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga pantai, pentingnya menanam pohon bakau untuk mencegah erosi dan abrasi yang merusak pantai dan masih banyak lagi.

“Audy, kamu masuk ke kelompok apa?” Rasya sedikit berbisik disebalahku.

“Aku dapat kelompok Tulip. Kamu apa?”

“Yah, beda. Aku dapat kelompok Merpati sama kayak Eki.”

“Kita pisah kelompok berarti ya.”

“Iya. Tidak apa-apa, setelah selesai kita duduk sebelahan lagi di bus ya.”

“Oke aman.”

Kami dibagikan menjadi sepuluh kelompok yang mana setiap kelompoknya terdiri dari 4 orang pembina. Dikelompok ini, kami di ajarkan cara untuk menanam bakau dari bibit dan cara untuk melestarikannya. Selain diajarakan untuk menanam bakau, kami juga diajarkan untuk mencintai alam dan bumi. Setelah kami belajar menanam bibit bakau, kami memungut sampah-sampah yang dibuang sembarangan disekitaran pantai.

“Kak, kenapa banyak sekali sampah di pantai?” Tanya salah satu teman kelompokku kepada kakak pembina.

“Itulah kenapa penting menanamkan sikap cinta alam dan peduli lingkungan kepada masyarakat agar mereka tidak lagi membuang sampah sembarangan. Kita juga harus bisa mencontohkan kepada masyarakat, agar mereka bisa melihat dan melakukan hal yang sama seerti yang kita lakukan.” Jawab salah satu pembina dengan semangat dan terus memimpin kami untuk kembali memungut sampah dan sembari mengenalkan manfaat-manfaat penting dari adanya hutan bakau.

“Apa kalian bisa membayangkan apa yang terjadi 100 tahun mendatang jika kita tidak melakukan penanganan terhadap bumi kita?”

“Kalau untuk masalah abrasi, mungkin tidak akan ada pantai lagi kak.” Ucapku dengan cepat.

“Nah, benar. Apa kamu mau punya anak atau cucu yang tidak tau pantai itu seperti apa? Bisa-bisa mereka hanya dapat melihat semua keindahan ini hanya dari internet saja.”

“Mana seru, mereka gak bisa rekreasi ke pantai dong.”

“Maka untuk mencegah hal-hal tidak seru itu, kita perbaiki dari sekarang dan mencegah hal buruk terjadi dimasa yang akan datang. Bagaimana, setuju?” tanya kakak pembina kepada kami.

“Setuju!”

Kami menjawab kakak pembina dengan semangat dan penuh keyakinan bahwa bumi akan indah sampai 100 tahun yang akan datang. Pembinaku banyak memberi kami nasihat-nasihat penting kepada kami. Kita sebagai manusia harus bisa bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan kepada kita, sehingga penting untuk menjaga pemberiannya. Aku juga menyadari satu hal, setiap masyarakat memiliki peran penting dalam menangani masalah abrasi. Kita sebagai masyarakat tidak bisa selalu mengandalkan pemerintah. Kita sebagai masyarakat harus menjaga dan melindungi linkungan kita sendiri, karena semua hal-hal yang baik tergantung dengan pribadinya masing-masing. Untuk menjaga dan melestarikan bumi indah 100 tahun yang akan datang juga adalah peran penting yang terus melibatkan masyarakat. Namun, pemerintah juga harus mendukung setiap tindakan baik yang diinginkan oleh masyarakat dan lingkungan. Jika kita saling menjaga, maka akan berdampak baik untuk kehidupan selanjutnya juga.

Aku sangat bersyukur bisa ikut dalam organisasi yang penuh manfaat ini. Disini banyak hal yang bisa menjadi pembelajaran kedepannya. Setelah jam menunjukkan pukul 2 siang, kami kembali naik ke bus untuk pulang. Sesampainya di sekolah, aku mengajak Rasya untuk solat dzuhur dan bertemu dengan ibu dan ayah dirumah. Dengan senang hati Rasya ikut dan kami kembali kerumah ku.

“Eh, ada Rasya juga ternyata.” Ibu menyambut Rasya dan aku dengar senang.

“Iya bu, tadi diajak sama Audy. Sekalian mau main juga.” Jawab Rasya sambil menyalami tangan ibu dan ayahku.

Aku sempat mandi dan berganti pakaian dulu, kebetulan Rasya juga membawa baju tambahan di tasnya dan diapun juga izin menumpang mandi dirumah kami. Ibu dengan senang hati mempersilahkan Rasya untuk mandi dikamar mandi dekar dapur karena kamar mandi dekat ruang keluarga aku pakai. Setelah selesai mandi, kami pun duduk diruang keluarga bersama ibu dan ayah, sekaligus menceritakan kegiatan kami tadi di pantai.

“Tadi kami diajarkan untuk menanam bibit bakau dan memungut sampah-sampah di pantai timur, bu.” Ucapku yang sedang asik memakan cemilanku bersama dengan Rasya.

“Anak-anak muda seperti kalian ini lah yang akan menjadi bibit unggul untuk kesejahteraan bumi kedepannya.” Ayah menimpali dengan semangat dan bangga.

“Itulah pentingnya pemahanan cinta alam dan lingkungan terhadap anak-anak remaja dan orang dewasa.” Aku dan Rasya setuju dengan ucapan ibu. Kami pun mengangguk berbarengan.

Aku dan Rasya pun akhirnya memutuskan untuk terus mengikuti kegiatan sukarelawan yang dapat membantu memperbaiki bumi. Setelah hari itu, kami selalu rutin mengikuti kegiatan sukarelawan baik itu dalam skala kecil maupun dalam skala besar dan tentu saja harus dapat izin dari ibu dan ayah terlebih dahulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *