Cerpen #1: “Beginikah, Bumi 100 Tahun Lagi?”

Aku Risa, remaja berusia 17 tahun dalam tiga bulan ke depan, seorang siswi sekolah menengah atas yang hari ini hendak menikmati waktu liburnya. Pukul 7 pagi ini, aku masih memerhatikan penampilanku pada pantulan cermin setinggi tubuh. Rok berwarna cokelat sepanjang lutut dan kaos putih dengan gambar sketsa wajah perempuan tersenyum di bagian depan. Rambut sebahu kuikat seperti ekor kuda agar tidak merasa gerah, karena dalam kamar saja suhu sudah terasa panas, apalagi setelah keluar nanti. Terhitung sudah yang keempat kali kegiatan ini kuulangi, jadi kuputuskan kali ini menjadi yang terakhir sebelum menyemprotkan parfum dan keluar dari kamar.

Aku menghampiri Ibu di ruang keluarga, sedang menonton televisi kecil yang tertempel pada dinding, bersama adikku yang masih berumur 5 tahun. Sedangkan Ayah sudah berangkat ke kantor satu jam yang lalu ketika aku masih tidur, begitu menurut informasi dari Ibu ketika aku sedang sarapan.

“Sepagi ini?” tanya Ibu ketika aku mengatakan akan pergi ke perpustakaan kota bersama Anna, temanku.

“Iya, Anna sudah memesan tiketnya,” jawabku. Tiket yang kumaksud adalah tiket kereta bawah tanah. Kami berencana akan bertemu di stasiun sebelum berangkat ke perpustakaan bersama.

Ibu mengangguk paham, lalu beranjak mendekatiku. “Ya sudah, hati-hati!” pesannya, sambil mengusap lembut kepalaku.

Tersenyum, aku menerima pesan Ibu kemudian mencium punggung tangannya untuk berpamitan. Tidak lupa, aku mencium pipi kanan dan kiri adikku yang tetap fokus memerhatikan layar.

Setelah itu aku melangkah keluar rumah. Langsung kubentangkan payung yang baru kuambil di balik pintu begitu suhu panas langsung menyengat kulit menyambut satu langkahku dari pintu. Kalau tidak salah, aku sempat melirik alat pengukur suhu digital di dinding, bahwa suhu saat ini 37°C. Padahal dua hari lalu berturut-turut suhu mencapai 10°C atau lebih rendah lagi. Rasanya aku dan mungkin semua orang sudah biasa dengan perubahan suhu yang sangat sering dan jauh perbandingannya. 

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, banyak pohon-pohon pendek namun memiliki daun yang rimbun hampir di setiap rumah, termasuk rumahku. Bagus, kelihatannya. Namun, jika diperhatikan lagi, semua orang juga tahu bahwa semua yang ada di sana hanya pohon artifisial, tidak ada pohon yang sebenarnya. Menunduk, terlihat halaman semua rumah yang tidak begitu luas sudah dilapisi semen. Tidak ada tanah yang terlihat sedikit pun.

Menghela dan menghembuskan napas singkat, segera kupakai masker lalu bergegas menemui Anna yang mungkin sudah menungguku di stasiun. Karena jarak rumahnya lebih dekat dibanding rumahku. 

Sama sepertiku, orang-orang yang kutemui selama perjalanan terhitung lebih banyak yang berlalu-lalang melangkahkan kakinya menuju tempat tujuan dibanding yang memakai kendaraan, baik kendaraan pribadi seperti sepeda, sepeda motor, dan mobil, ataupun kendaraan umum. Di kotaku sendiri, tak banyak orang yang memiliki kendaraan pribadi. Walikota menegakkan peraturan untuk setiap rumah hanya boleh memiliki satu jenis kendaraan bermotor. Mungkin beberapa akan mengira hal tersebut merupakan upaya mencegah polusi udara, padahal yang sebenarnya adalah upaya untuk tidak menambah polusi udara. Karena nyatanya udara kami sudah rusak oleh polusi tersebut. Ah, bukan hanya udara, namun juga sumber air, tanah, dan yang jelas seluruh lingkungan.

Itu juga yang menyebabkan aku dan semua orang harus memakai masker jika keluar rumah. Udara sudah penuh dengan karbon dioksida, gas yang tidak baik untuk kami hirup banyak-banyak. Di setiap rumah pun harus memiliki setidaknya satu ruangan khusus untuk menghirup oksigen. Oksigen yang sudah dibeli di pusat kota. 

Dari kejauhan, terlihat Anna melambaikan tangan ke arahku lengkap dengan senyum lebar di balik masker transparan yang dipakainya. Aku ikut tersenyum dan melambaikan tangan, lalu berlari kecil ke arahnya.

“Sudah lama menunggu, ya?” tanyaku begitu sampai di hadapannya.

Anna menggeleng, lalu menyodorkan satu tiket kereta padaku. “Tidak, kok, keretanya pun baru akan sampai beberapa menit lagi,” ujarnya. Tangannya menarikku menuju gerbang masuk penumpang, untuk menunggu kedatangan kereta di sana.

Tak lama kereta datang. Ketika pintu terbuka, lagi-lagi Anna menarikku dengan cepat untuk mengamankan tempat duduk. Untungnya kami berhasil mendapatkan tempat itu, hingga tidak perlu pegal-pegal berdiri untuk sampai di perpustakaan yang jaraknya cukup jauh dari titik awal kami. Tepatnya di pusat kota. 

Kusimpan payung yang sudah dilipat di bawah tempat dudukku, lalu mulai mengisi perjalanan dengan obrolan-obrolan ringan bersama Anna, mulai dari membicarakan teman-teman kami yang lain, kegiatan sekolah, hingga rencana apa saja yang akan kami lakukan di pusat kota nanti, karena tidak mungkin kami hanya mengunjungi perpustakaan setelah jauh-jauh pergi ke sana.

Aku tidak menghitung berapa lama waktu yang telah berlalu, yang pasti mataku kini sudah menangkap dengan jelas pemandangan di pusat kota. Tidak jauh berbeda dengan lingkungan sekitar rumahku, yang berbeda hanya bangunan-bangunan yang lebih besar dan lebih banyak, dan orang-orang yang lebih ramai. Apalagi di satu titik tepat lurus dari pandanganku, orang-orang berkerumun mengambil foto atau hanya duduk santai, di sekitar pohon tinggi dan besar serta memiliki daun yang rimbun. Itu pohon yang sesungguhnya, pohon asli satu-satunya yang ada di kotaku. 

Sebenarnya dulu saat aku masih seusia adikku, ada beberapa pohon lain, walau banyaknya masih bisa dihitung dalam satu kota. Namun, begitu aku menginjak sekolah menengah pertama, entah bagaimana hanya tersisa satu pohon di sini, yang syukurnya tidak pernah mati seperti yang lain.

Anna menepuk pundakku, menghentikan fokusku pada pohon besar itu. Lalu kami mulai berjalan menuju perpustakaan yang sudah terlihat atapnya. Menunjukkan kartu identitas pada petugas, kemudian kami masuk dan disambut jajaran buku pada rak yang bertingkat-tingkat tinggi. Kami memutuskan untuk memisahkan diri, pergi ke bagian yang diinginkan masing-masing.

“Nanti bertemu di sini lagi, ya, Sa?” pesan Anna sebelum ia melangkah lebih dulu meninggalkanku.

Mengangguk, lalu aku melangkah ke arah berlawanan. Mengelilingi seluruh rak di bagian kanan, hingga akhirnya aku menemukan sebuah buku yang cukup menarik perhatianku terletak paling belakang. Aku tidak membaca judulnya, namun yang jelas gambar pada sampulnya mampu membuatku mengernyit bingung. Pada sampul buku tersebut terdapat gambar bumi berbentuk bulat penuh, padahal yang kutahu bumi tak sebulat itu. Segera kubuka lembar pertama, dengan teliti kubaca setiap kata. Beberapa lembar sudah dilewati, aku tersenyum miris membaca paragraf di sana.

Negara beriklim tropis memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Rata-rata suhu panas di negara ini lebih dari 20°C, sedangkan suhu terdingin hanya sekitar 18°C. Negara beriklim subtropis memiliki empat musim, yaitu musim semi, musim panas, musim gugur, musim dingin. Rata-rata suhu panas di negara ini mencapai lebih dari 30°C, sedangkan suhu dingin bisa mencapai -3°C.

Negaraku beriklim tropis, namun hari ini suhu panas mencapai 37°C dan dua hari lalu dingin mencapai 10°C, tidak sesuai dengan paragraf itu. Ya, aku tahu yang tertulis adalah fakta bertahun-tahun lalu. Saat ini tak sama lagi. Krisis iklim, aku tahu, semua orang tahu, itu penyebabnya. Sekarang tidak ada lagi yang namanya musim hujan atau musim kemarau, karena cuaca bisa berubah kapan saja dengan perbandingan yang jauh. Begitu pun negara beriklim subtropis sana. 

Terus kubuka lembar-lembar berikutnya, terdapat beberapa gambar hewan yang belum pernah ku lihat selain pada gambar seperti saat ini. Komodo, katanya adalah satu-satunya spesies dinosaurus yang masih hidup di bumi hanya ada di negaraku. Itu dulu, karena sekarang yang ada hanya satu fosil tanpa ekor yang disimpan di museum negara, satu-satunya museum yang terletak di ibu kota. Sedangkan spesies dinosaurus lainnya, aku tak pernah melihat walau berupa fosil, karena memang tidak ada. Lalu, penyu, yang pernah kulihat dengan mataku langsung hanya bagian cangkangnya, yang lagi-lagi disimpan di museum negara.

Ah, semakin kulihat-lihat gambarnya, semakin aku penasaran dengan wujud aslinya yang masih utuh. Maka, kututup buku itu, lalu melangkah ke bagian perpustakaan yang lain. 

Anna menoleh ketika aku menghampirinya, gadis itu sedang memindai jajaran novel. Tangan kirinya sudah memegang satu buku, yang kutebak akan ia pinjam untuk dibawa ke rumah. Lalu minggu depan ia akan merengek padaku agar diantar ke sini lagi, mengembalikan buku.

“Mau pinjam, Na?” tanyaku, menunjuk buku di tangan Anna dengan dagu.

Anna mengangguk antusias. “Iya, tebal banget, kalau dibaca di sini kayaknya kelamaan, deh. Kamu belum dapat buku untuk dibaca, Sa?”

“Sudah, tadi hanya dibaca sedikit. Aku kok tidak minat begini, ya? Aku tunggu kamu saja, ya, Na?”

Mendapat anggukan tanda setuju dari Anna, aku segera menuju kursi baca. Puluhan menit berlalu, Anna menghampiriku, mengajak untuk segera keluar dari perpustakaan. Sepertinya dia juga sudah mengurus izin pinjam sebelum ke sini. Aku beranjak, mengikuti Anna melangkah keluar.

“Sesuai rencana, kan, setelah ini kita akan melihat proses pembuatan pohon artifisial?” tanya Anna memastikan.

“Iya, dong!” sahutku antusias.

Namun, keantusiasanku tidak berlangsung lama, karena setelah keluar dari pintu perpustakaan aku mengeluh kecewa melihat hujan sedang ramai-ramai membasahi kota. Anna mengusap bahuku, bermaksud menenangkan. “Tidak apa-apa, kita tunggu reda, ya? Yuk, di situ!” ajaknya, menunjuk satu tempat berteduh di dekat bangunan perpustakaan, lalu menuntunku ke sana.

Ternyata hujan berlangsung lama walau disertai suhu panas yang tidak berkurang sama sekali. Rasa bosan semakin menyerangku, kuputuskan untuk bersandar pada bahu Anna. Tanpa sadar aku tertidur di sana. 

Tidak tahu sudah berapa lama, aku mulai mengejapkan mata sebelum membukanya sempurna. Kutatap sekeliling, ternyata aku ada di kamar. Suhu tidak begitu panas, malah sedikit dingin. Kubuka jendela kamar dan memandang ke luar, sepertinya hujan belum lama reda, karena tanah masih basah. Tanah, ya, masih ada luas hamparan tanah di halaman rumahku dan tetanggaku yang lain. Aku segera beranjak ke luar kamar dan mencari keberadaan Ibu. Ternyata Ibu ada belakang rumah, sedang merapikan letak tanaman bunganya pada pot. Ketika Ibu berpaling, dengan cepat aku menyentuh bunganya. Asli. Aku bergegas ke teras, masih ada pohon mangga menjulang tinggi di depan rumahku. 

Lalu, apakah tadi aku bermimpi?

Apakah itu gambaran tentang bagaimana kehidupan nanti? 10 tahun lagi? 20, 30, 50, atau 100 tahun lagi? Ah, kuharap lebih baik aku tidak sampai pada saat itu saja. Aku yakin tidak akan kuat jika setiap hari suhu mencapai 37°C atau bahkan lebih.

Tidak sengaja melirik jam, sekarang sudah jam 8. Aku meringis pelan, melupakan janji dengan Anna untuk pergi ke perpustakaan. Pasti gadis itu sudah memanaskan sepeda motornya dan segera menjemputku.

Ah, sebaiknya kuajak Anna untuk naik bus saja, agar tidak terlalu banyak kendaraan bermotor yang mengeluarkan polusi hari ini.

3 thoughts on “Cerpen #1: “Beginikah, Bumi 100 Tahun Lagi?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *